Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Selasa, 10 November 2015 09:02

Antisipasi Perusakan Lingkungan Hidup Akibat Perang

Antisipasi Perusakan Lingkungan Hidup Akibat Perang

Biasanya dalam peperangan, korban jiwa dan luka serta kerusakan kota menjadi perhatian masyarakat sebagai dampak perang, akan tetapi salah satu korban utama perang dan konflik bersenjata yang dilupakan manusia adalah lingkungan hidup. Di setiap perang, sumur-sumur air tercemar, produk-produk pertanian terbakar, hutan-hutan hancur, tanah-tanah tercemari dan hewan-hewan terbunuh. Contoh nyata dari fakta tersebut adalah dalam peperangan yang terjadi selama beberapa dekade terakhir.

 

Mengingat pentingnya masalah ini, Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 2011 menetapkan tanggal 6 November sebagai Hari Pencegahan Penyalahgunaan Lingkungan Hidup dalam Perang dan Konflik Bersenjata Sedunia. Melalui peringatan ini, PBB ingin menggalang perhatian opini publik dan internasional tentang dampak destruktif jangka lama perang terhadap lingkungan hidup, ekosistem dan sumber-sumber alam. Dampak yang melampaui perbatasan pemerintah-pemerintah yang bertikai dalam perang serta berdampak bukan hanya pada generasi sekarang melainkan pula beberapa generasi mendatang.

 

Kata perang diikuti berderet bayangan dan dampak yang sangat mengerikan. Dalam perang, rasa terpukul, kemenangan atau keinginan untuk membalas dendam dua pihak yang terlibat, membuat mereka melupakan prinsip-prinsip untuk tetap menjaga hak asasi kemanusiaan, sehingga kehidupan dan nyawa manusia yang tidak berdosa menjadi korban. Tidak hanya itu, sikap tersebut juga menimbulkan kerusakan pada lingkungan hidup. Khususnya sekarang, ketika perang sudah berbeda dengan masa lalu serta kerusakan dan dampak-dampaknya jauh lebih besar.

 

Bersamaan munculnya teknologi baru, dampak-dampak potensial akibat teknologi yang digunakan dalam perperangan juga berubah bahkan lebih luas. Senjata-senjata kimia, nuklir dan biologi modern, memiliki kapasitas perusakan lingkungan hidup yang sangat luas. Berbagai pertempuran dan peperangan di akhir abad ke-20 dan tahun-tahun pertama memasuki abad 21, telah dengan jelas membuktikan fakta tersebut. Betapa peperangan di akhir abad 20 dan awal abad 21, telah menimbulkan dampak serius pada kehidupan umat manusia, lingkungan hidup dan sumber alam. Sebagai contoh, musnahnya ekosistem akibat  perang Vietnam.

 

Pada 4 Agustus 1964, Amerika Serikat memulai perang dengan alasan ambigu yang bertujuan menjamin kontrolnya di kawasan serta menghadang independensi Vietnam. Akan tetapi prosesnya membuat perang itu sebagai bencana yang merenggut nyawa empat juta orang dan menimbulkan, kerusakan hebat. Amerika Serikat juga menggunakan bahan kimia bom oranye di Vietnam yang dampaknya telah mempengaruhi lahirnya bayi-bayi cacat.

 

Dalam perang tersebut, militer Amerika Serikat menggunakan zat-zat pembunuh rumput serta menyemprotkannya ke hutan dan semak-semak belukar. Sekitar dua juta galon bahan itu yang telah digunakan dalam perang Vietnam oleh Amerika Serikat. Akibatnya, meski perang telah bertahun-tahun berlalu, akan tetapi hingga kini banyak wilayah yang tidak dapat ditanami apapun. Sedemikian rusak wilayah tersebut sehingga seorang penulis di Le Monde pada 2002, menilai perang Vietnam sebagai “Perang Ekologi terbesar dalam sejarah.”

 

Contoh lain dari serangan sengaja terhadap ekosistem demi mencapai tujuan-tujuan politik dan militer adalah seperti yang terjadi dalam agresi Irak ke Iran. Dalam perang tersebut, Saddam, mantan diktator Irak, menginstruksikan pelaksanaan poltik “bumi hangus” di titik-titik pusat dan selatan wilayah  Bainun Nahrain. Menyusul instruksi Saddam, militer Irak membakar  wilayah Hur al-Adzim dan memusnahkan hutan bambu di wilayah tersebut. Akibat kerusakan ekosistem wilayah itu, tidak ada lagi migrasi burung ke danau-danau pinggiran dan selatan Irak.

 

Tidak hanya itu, dengan alasan menciptakan garis pertahanan dalam menghadapi Iran, rezim Saddam menghancurkan 15 juta pokok kurma di provinsi selatan Irak. Langkah tersebut bahkan diperluas hingga ke dataran tinggi dan di lahan pertanian musim panas Irak. Seluruh kebun kurma di provinsi Basrah dan di garis perbatasan dengan Iran dimusnahkan. Sebagai gantinya, rezim Saddam menanam ranjau dan berbagai macam jebakan bom. Proses itu diperburuk dengan pencemaran sungai di wilayah selatan dan tengah Irak.

 

Selama perang, berbagai zat kimia berbahaya, limbah pabrik-pabrik usang Irak, khususnya industri minyak serta limbah kota dan desa-desa negara ini, dialirkan ke sungai Furat dan Dajlah. Sedemikian para sehingga terlihat bercak-bercak besar limbah minyak, solar dan bensin di kota pesisir Basrah. Ini terjadi di saat  pencemaran itu berdampak langsung dan meluas bagi lingkungan, ekosistem dan warga. Tidak hanya di Irak, masalah lingkungan hidup itu juga dihadapi sebagian wilayah dan kota Iran dekat perbatasan Irak.

 

Dalam menganalisa dampak perang terhadap lingkungan hidup, tampaknya sulit untuk mengabaikan dampak perang di Kuwait. Karena tentu kita semua dapat membayangkan pencemaran yang diakibatkan terbakarnya sumur-sumur minyak yang mengakibatkan kepulan asap hitam. Pancaran sinar matahari terhalangi dan siang tampak seperti malam hari. Sepanjang perang Kuwait pada 1991, lebih dari 700 sumur minyak sengaja dibakar dan langsung mencemari sumber-sumber air dan laut, serta membuat udara menjadi berbahaya untuk dihirup.

 

Pasca peristiwa tersebut di Kuwait, angka kematian setiap tahunnya meningkat 10 persen. Satu-satunya kabar baik dari peristiwa tersebut adalah membumbungnya kepulan asap dan abu hingga ketinggian lima ribu meter. Karena jika tidak maka akan menimbulkan kerusakan dan pencemaran yang tidak dapat terbayangkan pada sumber air dan udara di kawasan bahkan dunia. Endapan minyak telah meliputi ratusan kilometer di pesisir Teluk Persia dan membinasakan 30.000 ekor burung.

 

Di lain pihak, serangan rezim Zionis Israel ke Lebanon pada tahun 2006 juga merupakan salah satu perang yang menimbulkan kerusakan besar pada sumber alam dan kekayaan lingkungan Lebanon. Serangan udara Israel ke pembangkit listrik di 20 kilometer arah selatan Beirut, telah mengakibatkan kebocoran minyak di bagian timur Mediterania. Sekitar empat juga galon minyak berat mengalir ke laut dan mencemari perairan hingga radius 150 kilometer dari pantai Suriah dan Lebanon.

 

Padahal berdasarkan ketetapan Perserikatan Bangsa-Bangsa, pihak-pihak yang bertikai dalam pertempuran harus mematuhi ketentuan internasional termasuk Konvensi Jenewa. Di antara ketentuan dan konvensi tersebut adalah larangan perusakan secara sengaja terhadap lahan-lahan pertanian. Namun dalam peperangan selama beberapa dekade terakhir, pencegahan perusakan lingkungan hidup tidak lagi diperhatikan.

 

Oleh sebab itu, para pejabat PBB menilai sekarang adalah saat yang tepat untuk menganalisa kembali kesepakatan internasional tentang perang, konflik bersenjata, perusakan lingkungan hidup secara disengaja maupun tidak terhada, serta berbagai langkah untuk menjamin keselamatan lingkungan hidup dalam setiap konflik.(IRIB Indonesia/MZ)

Add comment


Security code
Refresh