Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Senin, 02 November 2015 15:14

Hollywood, Diskriminasi dan Kekerasan Polisi

Hollywood,  Diskriminasi dan Kekerasan Polisi

Sikap protes warga kulit hitam Amerika dan aksi kekerasan pemerintah menumpas mereka sering dibahas dalam tema politik dan sosial. Namun bagaimana dengan media? Pembunuhan warga kulit hitam tidak bersenjata oleh polisi yang diikuti dengan aksi demo di pelbagai kota negara ini tetap menjadi satu masalah politik dan fenomena sosial. Satu ujian bagi media di negara ini. Karena mempertanyakan bagaimana televisi, radio dan dunia internet menyampaikan berita dan fakta kepada masyarakat.

 

 

Melanie Franklin adalah warga kulit hitam Amerika yang setelah memeluk Islam mengganti namanya Mardhiah Hashemi. Selama bertahun-tahun ia tinggal di Iran dan bekerja di Press TV. Sekaitan dengan masalah ini, ia mengatakan, “Sebagian masyarakat, khususnya yang dipengaruhi media Barat, tidak dapat menerima masalah kezaliman terhadap warga kulit hitam di Amerika.

 

Menurut mereka, berita-berita seperti ini bertujuan memburukkan Amerika. Tapi kenyataannya, di Amerika terjadi diskriminasi antara warga kulit putih dan hitam. Ketika kita membandingkan pria kulit hitam dengan kulit putih, dan menyaksikan kondisi wanita kulit hitam, ada friksi yang dalam di antara mereka.”

 

Ia menambahkan, “Kebijakan media-media di Amerika searah dengan pemerintah. Mareka hanya memublikasikan demonstrasi warga kulit hitam yang berujung pada kekerasan. Yang ditayangkan hanya bagaimana mereka membakar mobil dan bangunan. Padahal para demonstran membentuk kelompok untuk melindungi fasilitas umum. Tapi media Amerika justru memutarbalikkan fakta.

 

Selain itu, semua orang yang terlibat dalam aktivitas sosial tahu di setiap gerakan pasti ada yang menyusup. Biasanya para penyusup inilah yang melakukan perusakan pada fasilitas umum. Anehnya, mereka yang pekerjaannya merampas dan menjarah kekayaan bangsa-bangsa di dunia di media-media mereka menuduh warga kulit hitam yang membakar toko-toko.”

 

Pekan lalu Tehran menjadi tuan rumah Konferensi Internasional New Horizon. Konferensi ke-3 ini secara serius membahas aksi kekerasan polisi Amerika terhadap warga kulit hitam. Konferensi internasional ini dihadiri 30 pakar internasional, dosen, ahli hukum, cendikiawan, seniman dan sutradara film dokumenter warga Amerika keturunan Afrika. Para peserta konferensi mengritisi pembunuhan warga kulit hitam dan pelanggaran hak asasi manusia di Amerika, baik di dalam negeri maupun internasional.

 

Mardhiah Hashemi dalam pidatonya di konferensi ini mengatakan, “Kini rasisme dan diskriminasi yang dilakukan para pezalim merupakan masalah utama masyarakat Amerika dan harus ada satu kata untuk itu “lawan”. Sekalipun Obama berasal dari kulit hitam, tapi ia tidak melakukan langkah penting untuk memperbaiki kondisi warga kulit hitam. Di Amerika banyak tahanan politik dan harus berjuang untuk mencapai kebebasan dan melenyapkan diskriminasi dengan mengorbankan jiwa.”

 

Sejumlah aktivis perdamaian dari seluruh dunia juga hadir dalam Konferensi Internasional New Horizon. Namun sebagaimana berita-berita tentang protes para aktivis perdamaian di Iran dan di negara-negara biasanya disensor oleh media-media AS, aksi protes sipil di negara ini juga tidak mendapat perhatian yang cukup. Sebagai contoh, Quentin Tarantino, sutradara AS pada 24 Oktober ikut hadir dalam aksi demo memrotes kekerasan polisi di New York. Ia berteriak menyebut para petugas polisi sebagai pembunuh.

 

Dalam demonstrasi itu Tarantino mengatakan, “Saya manusia. Memiliki hati nurani. Bila kalian percaya telah terjadi pembunuhan, maka hendaknya kalian bangkit dan melawan. Saya berada di sini untuk mengatakan bahwa saya membela mereka yang dibunuh.” Sutradara film Amerika ini menambahkan, “Bila segalanya sesuai dengan aturan, maka polisi yang membunuh harus dipenjarakan, atau setidaknya menjadi tersangka. Ketika menyaksikan pembunuhan, saya tidak bisa berdiam diri. Pembunuhan harus disebut pembunuhan dan pembunuh harus disebut pembunuh.”

 

Setelah Quentin Tarantino berbicara tentang sikap tidak berperikemanusiaan polisi di New York, banyak yang memrotes sikapnya. Patrick Colligan, pejabat polisi New Jersey menyebut ucapan Tarantino tanda tidak mengetahui kewajiban. Menurutnya, ucapan itu dapat menyebabkan terbunuhnya polisi di jalan. Tarantino harus memahami dirinya merupakan publik figur. Suaranya di dengar dan diikuti masyarakat. Ia punya tanggung jawab. Ini bukan film, tapi kenyataan.

 

Menyusul pernyataan itu, Asosiasi Nasional Organisasi Polisi Amerika mengeluarkan pernyataan yang dipublikasikan lewat situs mereka. Dalam pernyataan itu disebutkan, “Kami menghimbau petugas polisi untuk tidak mendukung proyek Tarantino. Baik itu terkait layanan khusus atau layanan di luar dari jam kerja seperti menjamin keamanan, mengontrol trafik atau konsultasi teknik. Kita harus menyampaikan pesan transparan dan menyatakan ucapan yang memprovokasi polisi tidak dapat diterima.”

 

Menarik untuk diketahui bahwa dalam demonstrasi ini, wakil-wakil dari demonstran menyatakan ingin melaksanakan keadilan terkait orang-orang yang terbunuh oleh polisi. Tarantino dalam aksi ini juga menyinggung peristiwa tewasnya seorang anak kulit hitam di tangan polisi. Ia mengatakan, “Pada 22 November 2014 seorang anak kulit hitam berusia 12 tahun tengah bermain dengan senjata mainan di sebuah taman. Ada seseorang yang menelpon polisi dan menekankan kemungkinan besar senjata itu bukan asli. Apa lagi yang memegangnya hanya seorang anak kecil.

 

Mendengar laporan itu, polisi dengan segera menuju tempat yang dilaporkan. Tapi polisi justru membunuh anak itu dan menahan saudarinya. Polisi bahkan tidak mengizinkan ibunya untuk mengambil jenazah anaknya yang tergeletak di jalan.” Tarantino dalam pembicaraannya menekankan bahwa dalam kasus ini tidak ada seorang polisi pun yang dianggap bersalah, apa lagi sampai dihukum akibat membunuh bocah 12 tahun.

 

Bila realistis membaca berita-berita yang ada, kita akan menyaksikan apa yang diucapkan Quentin Tarantino sangat dekat dengan kenyataan. Bahkan kekerasan yang dilakukan polisi justru meningkat. Beberapa waktu lalu, Guardian memublikasikan hasil penelitian tentang kemungkinan warga kulit hitam ditembak polisi bila dibandingkan warga kulit putih. Sesuai dengan angka yang dipublikasikan hingga bulan Oktober tahun ini disebutkan ada 929 orang tewas di tangan polisi.

 

Human Rights Wacth mengumumkan Amerika gagal menjalankan program tahun 2010 untuk memperbaiki kondisi hak asasi manusia di negara ini. Pada tahun itu diusulkan kepada Amerika untuk mengambil langkah serius menghentikan kekerasan polisi terhadap kalangan minoritas. Tapi bukan saja tidak melaksanakannya, justru aksi kekerasan polisi terhadap minoritas, khususnya warga kulit hitam semakin bertambah.(IRIB Indonesia)

Add comment


Security code
Refresh