Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Rabu, 28 Oktober 2015 15:11

Zionis, Sinema dan Iranphobia

Zionis, Sinema dan Iranphobia

Rezim Zionis Israel sejak dibentuk hingga kini memiliki pandangan istimewa terhadap dunia sinema sebagai salah satu tantangan bagi kelanggengannya. Rezim Zionis terus mencoba beragam metode dalam hal ini. Di tahun-tahun pertama, unit budaya Israel dan pendirinya fokus pada sinema Amerika, khususnya produksi film di Hollywood. Maka tak heran jika Zionis sangat aktif di Hollywood dan memiliki pengaruh luas. Melalui industri perfileman ini, Israel memperkokoh ideologi Zionisnya.

 

 

Zionis di Hollywood melalui berbagai unsur seperti drama, sejarah dan tragedi mematrikan pembantaian massal jutaan Yahudi oleh Hitler di benak generasi muda di seluruh dunia, atau menurut istilah mereka, mendiktekan isu ini kepada audiens. Dengan demikian melalui penggelontoran dana besar-besaran serta produksi beragam film, sinema  selain mampu memberikan gambaran Yahudi yang terzalimi, juga memaksa Barat untuk mendukung pendudukan Palestina dan pengusiran bangsa tertindas ini. Barat juga dipaksa untuk mendukung rezim Zionis.

 

Manifestasi pertama hegemoni Zionis terhadap industri sinema Hollywood  adalah penggabungan tujuh perusahaan besar perfileman yang didirikan oleh Yahudi. Perusahaan ini menfokuskan upayanya memberi gambar empati atas Yahudi dan Zionis. Selanjutnya industri perfileman Hollywood menjadi benteng seni dan budaya bagi Zionisme.

 

Namun secara bertahap dan di tahun-tahun paruh kedua abad 20, sinema di bumi Palestina pendudukan mendapat perhatian dari pemukim Zionis. Sinema ini mengalami laju cukup tinggi mulai dekade 1970 dan pasca perang tahun 1967 bertepatan dengan klaim rezim Zionis sebagai pulau stabil.  Sejak saat itu, mayoritas film yang diproduksi Zionis berdasarkan kriteria Arab bangsa biadab dan ganas, Israel tempat paling aman dan maju, dan Yahudi harus diyakinkan untuk berimigrasi ke Palestina pendudukan.

 

Sejak dekade 1980 dan selanjutnya, mengingat arogansi dan kebijakan ekspansif Zionis, isu Mossad dan militeralisasi menjadi tajuk film dan bahkan film-film Amerika fokus pada masalah ini. Pasca pembuatan film anti Iran, Not without my daughter di Hollywood, rezim ini di berbagai filmnya mencitrakan Iran sebagai musuh asingnya dan berupaya menipu imigran Yahudi melalui cerita palsunya tersebut.

 

Proses ini terus berlanjut pasca meletusnya intifada bangsa Palestina dan film-film Zionis di era tersebut menekankan hidup damai dan berdampingan antara Arab, Muslim dan Yahudi. Namun demikian mereka mempropagandakan bahwa yang menghalangi terciptanya hidup rukun antara Muslim, Arab dan Yahudi adalah kelompok muqawama Islam serta ideologi yang bersumber pada Revolusi Islam serta Revolusi Islam Iran.

 

Misalnya di film Ajami produksi sinema utama Israel dan salah satu dari lima kandidat peraih hadiah Oscar ke 82. Saat itu, film tersebut membangkitkan keheranan berbagai media sinema dan kritikus film. Hal ini karena ia merupakan film pertama Israel berbahasa Arab yang memiliki tema dan konsep baru. Ajami termasuk kategori film yang membela identitas sosial Zionis dan menyerang Arab Muslim Palestina. Film ini menuding warga Palestina sebagai pemicu instabilitas sosial dan kerusuhan di bumi Palestina pendudukan. Dan dari sudut pandang sosial, kehidupan bangsa Arab menyulitkan kehidupan penjajah Zionis. Film ini mencitrakan kebuasan dan kekerasan yang terjadi di bumi Palestina pendudukan dilakukan oleh bangsa Arab baik Muslim mau pun Kristen. Sementara pembantaian yang dilakukan oleh Zionis disebut sebagai keadilan dan tuntutan keadilan.

 

Film Ajami memaparkan kondisi yang saat ini terjadi dan distrik baru dicitrakan sedemikian rupa sepertinya para pemukimnya pemicu masalah sosial di kawasan, namun demikian penyakit sosial ini bukan dampak dari penjajahan. Film Ajami sepertinya bukan karya politik dan bentrokan yang digambarkan pun bukan isu politik, namun lebih condong ke arah etnis dan kesukuan, keluarga dan pada akhirnya sosial serta berkaitan dengan tradisi bangsa Arab sendiri ketimbang sengketa mereka dengan Zionis.

 

Film ini berupaya menunjukkan wajah baik polisi dan dinas keamanan Israel. Militer dan kehadiran mereka di berbagai wilayah Muslim tidak ditunjukkan, dan mereka hanya muncul ketika salah satu tentara Zionis hilang. Selama beberapa dekade terakhir sinema Zionis bukan saja sebatas mempertahankan eksistensi rezim ilegal ini, dan Zionis juga memanfaatkan industri ini untuk menjustifikasi kebuasan mereka serta kejahatannya terhadap bangsa Palestina.

 

Maka tak heran jika sinema Zionis penuh dengan konsep rasisme, kezaliman dan kosong dari nilai-nilai kemanusiaan. Selain itu, Zionis di karya filmnya juga aktif mempropagandakan akar imigrasi Yahudi dan berusaha memisahkannya dari masa lalu. Baru-baru ini insan perfileman Israel mempulikasikan film berjudul Baba Joon, film pertama berbahasa Persia dan menjadikannya wakil rezim ini diajang Oscar 2016 untuk kategori film berbahasa asing.

 

Film Baba Joon disutradarai oleh Yuval Delshad, warga Iran keturunan Israel. Saat diwawancarai ia mengatakan bahwa film ini merupakan pengalamannya masa kecil, ketika keluarganya berimigrasi dari Iran ke bumi Palestina pendudukan. Sang sutradara film Baba Joon mengatakan, dirinya tumbuh besar di sebuah desa yang serupa dengan filmnya tersebut. Alur cerita film Baba Joon mencakup beragam masalah, mulai dari tradisi, patriarki dan daya tarik gaya hidup Amerika. Dampak dan pesan dari film ini adalah kalian berontaklah atas tradisi layak kalian, karena tradisi ini tidak layak untuk diikuti.

 

Rezim Zionis mengejar sejumlah ambisi di film ini. Pertama tak diragukan lagi bahwa mayoritas Yahudi Iran yang dibujuk rezim ini untuk berimigrasi ke Palestina pendudukan dan kini tinggal di sana menjadi audiens utama film ini. Orang-orang yang masih rindu pada tanah air mereka dan hal ini sangat berbahaya bagi pemerintah penjajah Israel. Oleh karena itu, rezim Zionis memproduksi film yang berusaha memutus jalinan antara ayah, kakek dan tanah air mereka.

 

Hal serupa pun pernah diterapkan terhadap Yahudi asal Eropa dan Amerika yang berimigrasi ke Israel. Oleh karena itu, jelas bahwa rezim yang tidak memiliki sebuah bangsa yang mengakar dan meyakini tanah airnya tidak akan mampu menciptakan konsep kecintaan kepada bangsa dan negara. Yang mungkin dapat dilakukan rezim seperti ini adalah berbalik dan melupakan konsep tersebut.

 

Tujuan lain dari film ini adalah mereka menginginkan etnis berbahasa Persia di seluruh dunia memutus hubungan mereka dengan nenek moyangnya dan melupakan identitas aslinya. Oleh karena itu, alur cerita film Baba Joon berkaitan dengan isu sejarah dan tradisi kuno dan film ini disutradarai serta diaktori oleh pemain Iran serta berbahasa Persia, sehingga pesan-pesannya dapat dirasakan dengan mudah oleh para audiens.

 

Majalah film Variety cetakan Amerika Serikat mengaku kaget dengan pemilihan film Baba Joon sebagai wakil Israel di ajang Oscar. Majalah ini menulis, “Di era ketika tensi nuklir semakin tajam, siapa yang berpikir bahwa wakil Israel di Oscar justru film berbahasa Persia? Bahwa Israel bersikeras menjadikan film berbahasa Persia dan isu imigran Iran sebagai wakilnya di Oscar, telah menimbulkan banyak pertanyaan. Apakah di saat tensi nuklir antara Israel dan Iran memuncak, insan perfileman Zionis menghendaki untuk mencitrakan diri mereka cinta perdamaian dan demokrasi, atau apakah film justru di balik layar memukul budaya Iran?”

 

Yang nyata dan tampak di permukaan adalah Zionis untuk sejenak menfokuskan dirinya pada sinema Iran dan Persia. Tak hanya itu, mereka juga menunjuk Mohsen Makhmalbaf, sutradara yang dibenci bangsa Iran sebagai ketua dewan juri di film berdurasi panjang pada festival film Haifa ke 31. Mohsen Makhmalbaf adalah sosok yang selama beberapa tahun dikenal dekat dengan Zionis dan ia pun mensutradarai sebuah film dengan bantuan langsung Tel Aviv.

 

Patut digarisbawahi bahwa hingga kini, rezim penjajah al-Quds telah menyertakan 10 film di ajang piala Oscar, namun tidak satu pun yang berhasil terpilih sebagai juara. Sementara film Baba Joon menurut para pengamat juga tidak memiliki peluang untuk meraih predikat juara di event bergengsi tersebut.(IRIB Indonesia)

Add comment


Security code
Refresh