Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Senin, 08 Juni 2015 15:50

OPEC dan Harga Minyak Global

OPEC dan Harga Minyak Global

Pertemuan tingkat menteri perminyakan negara anggota OPEC ke-67 dibayangi rumor kemungkinan penurunan kuota minyak. Tapi akhirnya OPEC memutuskan tetap mempertahankan kuota sebelumnya. Keputusan OPEC tersebut memicu pertanyaan besar, apakah keputusan tersebut didukung oleh seluruh anggota OPEC ? Apakah OPEC tidak melihat peningkatan jumlah produksi yang dilakukan sejumlah anggotanya, ataukah mengesampingkan anggota seperti Venezuela, terhadap keputusan yang bermakna berlanjutnya harga minyak yang rendah di pasar global ini. Ataukah OPEC akan memilih jalan lain ?

 

 

Sebuah tesis meyakini OPEC mempertahankan kuota produksi minyak anggotanya dalam beberapa bulan terakhir untuk mempertahankan sahamnya di pasar global sekaligus tekanan terhadap produksi minyak serpih (Shale oil) yang berbiaya besar. Akibatnya, OPEC memutuskan mempertahankan kuota pasokan minyaknya dalam beberapa bulan mendatang.

 

Menteri Perminyakan dan Sumber Daya Mineral Arab Saudi menyinggung terjadinya penurunan harga minyak di pasar global selama beberapa hari belakangan ini. Ali Al-Naimi menilai faktor penyebabnya melampaui masalah kelebihan produksi OPEC. Menurut menteri perminyakan Arab Saudi, keputusan sidang tingkat menteri negara anggota OPEC ke-67 yang mempertahankan pasokan minyak OPEC di pasar dunia saat ni berdasarkan prediksi sebelumnya dan situasi pasar global. Ali Al-Naimi dalam statemennya juga menegaskan kebebasan setiap negara untuk bertindak.

 

Tidak diragukan lagi, anjloknya harga minyak yang dimulai sekitar setahun lalu dipengaruhi oleh menurunnya permintaan global dan krisis ekonomi yang mendera perekonomian dunia. Tapi tidak bisa dipungkiri pengaruh besar produksi minyak serpih yang dilakukan perusahaan-perusahaan Amerika terhadap anjloknya harga minyak global.

 

Pasalnya, Amerika Serikat menggenjot produksi minyak serpihnya dari nol menjadi lima juta barel per hari dalam waktu hanya sekitar lima tahun terakhir. Kini minyak serpih mengisi setengah dari produksi minyak AS yang mencapai 9,5 juta barel perhari. Meskipun demikian, AS masih tetap menjadi negara pengimpor minyak terbesar di dunia. Sebab setiap hari, AS mengkonsumsi 20 juta barel minyak perhari. Dari 94 juta barel yang diproduksi di berbagai negara dunia setiap hari, 92 juta barel dikonsumsi di AS. Kondisi tersebut berlangsung di saat sejumlah sumur minyak sejumlah negara anggota OPEC ditutup.

 

Tampaknya, "perang yang tidak diumumkan" telah mulai dilancarkan negara-negara anggota OPEC sejak Desember 2014 lalu. Sejumlah analis menilai strategi OPEC mengalami kegagalan. Mereka memandang kebijakan OPEC mempertahankan kuota minyak anggotanya tidak berpengaruh melawan minyak serpih AS. Sejumlah analis sejak setahun lalu memprediksi harga minyak serpih dengan teknologi eskplorasi yang rumit dan mahal, di kisaran di bawah 60 hingga 55 dolar perbarel, sebagai harga yang tidak efektif.

 

Setelah keputusan OPEC November lalu untuk mempertahankan produksi minyaknya di level 30 juta barel perhari, para analis memandang keputusan tersebut diambil OPEC untuk menghadapi produsen minyak AS yang menggenjot produksi minyak serpih secara besar-besaran selama beberapa tahun terakhir. Terkait hal ini koran Prancis, Liberation menurunkan liputan yang ditulis Vittorio de Filippis berjudul, "Perang Minyak akan Terjadi". Filippis menulis, "Organisasi negara pengekspor minyak (OPEC) untuk pertama kalinya menyatakan kesiapannya menerima minyak serpih AS demi menjaga keseimbangan di pasar. Tapi kini menghindar untuk menerima saingan barunya itu,".

 

Sejak enam bulan lalu OPEC mengeluarkan keputusan untuk menpertahankan kuota minyaknya. Tujuannya untuk menyeimbangkan produksi negara-negara non-OPEC, terutama minyak non-konvensional seperti minyak serpih yang diproduksi besar-besaran di AS. Keputusan tersebut menyebabkan harga minyak terus mengalami penurunan sejak musim panas 2014 lalu, dan produksi minyak serpih di AS pun berkurang.

 

Pekan lalu, Sekjen OPEC, Abdallah el-Badri dalam seminar yang digelar di sela-sela pertemuan tingkat menteri perminyakan OPEC ke-67, kepada wartawan berkata, "Minyak serpih merupakan masalah yang tidak bisa dihilangkan. Kita harus berdampingan dan mencapai sebuah keseimbangan,".Tampaknya, Abdallah el-Badri bukan orang pertama yang berbicara tentang pentingnya duduk bersama menerima kehadiran minyak serpih AS. Senada dengan pernyataan Sekjen OPEC, Menteri Energi Uni Emirat Arab, Suhail Mohammed Faraj Al Mazroui mengungkapkan,"Kita tidak percaya dan tidak bermimpi bahwa produksi minyak serpih menjadi fenomenal". Ditegaskannya, "Kita menghendaki mereka diam, tapi mereka menciptakan keseimbangan di pasar. Kita menghendaki dua pihak (OPEC dan produsen minyak serpih) berkontribusi dalam menciptakan kembali keseimbangan di pasar".

 

Eric Lee, analis dari Citigroup AS mengungkapkan, meskipun sejumlah kalangan menilai OPEC menjadi pemenang dalam perang menghadapi minyak serpih, tapi ini kemenangan getir. Sebab harga minyak mentah di pasar dunia anjlok dari 115 dolar perbarel pada Juni 2014 lalu menjadi hanya 64 dolar. Menurut analis Citigroup ini, minyak serpih menjadi kompetitor besar bagi OPEC. Pada akhirnya, OPEC terpaksa membuka jalan bagi minyak serpih dan harus puas dengan harga minyak terpelanting di pasar global.

 

Alexander Valentinovich Novak, Menteri Energi Rusia menyatakan kebijakan konservatif berpengaruh dalam enam bulan lalu. Barangkali, negara produsen minyak terbesar di dunia seperti Arab Saudi tidak terlalu terpengaruh oleh penurunan harga minyak sekitar 10 hingga 15 dolar perbarel, tapi menghadapi defisit anggaran yang ditutupi dengan besarnya cadangan valuta asingnya.

 

Namun lihatlah negara lain seperti Aljazair yang berbeda dengan Arab Saudi. Kondisi yang sama terjadi menimpa anggota OPEC lainnya seperti Irak, Libya dan Venezuela. Kebanyakan negara ini menghadapi masalah finansial untuk menutupi defisit anggarannya yang membengkak. Data statistik menunjukkan realitas bahwa kebanyakan negara-negara anggota OPEC tidak bisa menjamin kebutuhan finansialnya dengan harga minyak mentah saat ini yang berada di kisaran 61 dolar per barel.

 

Berdasarkan teori penawaran dan permintaan, ketika penawaran minyak semakin meningkat melebihi permintaan, maka harga minyak di pasar pun akan menurun. Semakin besar penawaran tersebut, maka semakin rendah harga di pasar global. Di luar itu ada faktor lain yang mempengaruhi harga minyak di pasar dunia seperti resiko geopolitik.  Dibandingkan sebelumnya, resiko saat ini relatif lebih rendah. Sebagaimana dijelaskan oleh menteri perminyakan Arab Saudi dan pimpinan OPEC bahwa masalah resiko geopolitik ada, tapi relatif kecil. Meskipun demikian, muncul kemungkinan meningkatkan resiko tersebut. Berbagai faktor tersebut memberikan pengaruh terhadap stabilitas harga minyak di pasar global.

 

Sebuah kalkulasi umum menunjukkan bahwa penawaran minyak melampaui penawaran. Jika OPEC selama enam bulan kedua melanjutkan produksinya sebagaimana saat ini, maka terjadi kelebihan produksi melampui permintaan berkisar 1,3 juta barel. Kini, OPEC terpaksa mengontrol produksi minyak Iran sebelum dimulainya sanksi dan tekad Iran untuk meningkatkan produksi minyaknya dari 3,5 juta barel menjadi enam juta barel perhari.

 

Pekan lalu, Menteri Perminyakan Iran dalam surat yang dilayangkan kepada OPEC menyatakan Iran akan meningkatkan produksi minyaknya setelah pencabutan sanksi dalam waktu singkat yaitu berkisar satu hingga dua bulan pada tingkat sebelum sanksi dijatuhkan. Bijan Namdar Zangeneh meminta OPEC untuk mempertimbangkan usulan Iran tersebut.

 

Tampaknya, pengaruh strategi OPEC terhadap harga minyak dunia akan terlihat secara jelas dalam enam bulan mendatang. Yang jelas, sejumlah negara anggota OPEC, terutama Venezuela, Irak, Libya dan Nigeria akan menghadapi masalah finansial. Sekjen OPEC mengklaim kebijakan menjaga kuota minyak sebesar 30 juta barel per hari sebagai keputusan tepat. Kini,  tingkat permintaan minyak di pasar dunia saat ini sebesar 96 juta barel perhari. Pada saat yang sama, penawaran berkurang, sebab negara-negara non-OPEC mengurangi pasokannya padahal saat ini permintaan pembelian minyak dunia semakin bertambah. Dengan pertimbangan ini, keputusan OPEC untuk mempertahankan pasokan di level 30 juta barel perhari sebagai keputusan yang tepat, meski dibarengi resiko tinggi. (IRIB Indonesia/PH)

Add comment


Security code
Refresh