Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Rabu, 18 Maret 2015 10:00

Nasionalisasi Minyak Iran

Nasionalisasi Minyak Iran

Lembaran sejarah Iran penuh dengan peristiwa besar dan abadi, mulai dari Revolusi Konstitusi, Nasionalisasi Industri Minyak, Revolusi Islam, Perang Suci 8 Tahun dan kemampuan menguasai energi nuklir sipil. Tanggal 20 Maret (29 Isfand) bertepatan dengan terjadinya sebuah peristiwa besar di Iran. Tepat pada hari ini Iran memperingati tahun ke-64 Nasionalisasi Industri Minyaknya. Peristiwa ini menjadi satu fondasi penting dalam sejarah resistensi bangsa ini menghadapi sistem arogan. Hari Nasionalisasi Industri Minyak Iran menjadi teladan bagi gerakan mencapai puncak kemajuan dan kemandirian.

 

 

Nasionalisasi Industri Minyak Iran menyatu dengan sejarah perjuangan bangsa Iran melawan kekuatan asing. Peristiwa ini membuat Iran mampu merebut kembali kemandirian politik dan ekonomi dari kekuasaan asing. Pada tanggal 20 Maret 1951, setelah melewati satu periode politik penuh intrik dan ketegangan dalam hubungannya dengan Inggris, akhirnya Iran berhasil memutuskan pengaruh Inggris di negara ini. Di hari ini, para wakil rakyat Iran di parlemen meratifikasi rancangan undang-undang Nasionalisasi Industri Minyak Iran.

 

Dalam butir pertama RUU Nasionalisasi Industri Minyak Iran disebutkan, “Atas nama kesejahteraan bangsa Iran dan dalam rangka mewujudkan perdamaian dunia, kami para penandatangan di bawah ini mengusulkan nasionalisasi minyak Iran di seluruh kawasan tanpa pengecualian, yakni seluruh operasi eksplorasi, penambangan, dan pemanfaatan harus ditangani pemerintah.”

 

Nasionalisasi Industri Minyak Iran bukan hanya menjadi pemantik dalam sejarah perjuangan bangsa Iran melawan kekuatan arogan dunia, tapi juga menjadi teladan bagi sejarah transformasi politik di Timur Tengah. Jamal Abdul Nasser, mantan Presiden Mesir mencontoh Nasionalisasi Industri Minyak Iran dengan berupaya menasionalisasikan terusan Suez di Mesir.

 

Dengan mencermati pengaruh regional dan internasional Nasionalisasi Industri Minyak Iran, gerakan revolusioner ini sangat merugikan dan melukai para pemimpin kolonialisme Inggris. Para pejabat Inggris telah melakukan pelbagai upaya dan intrik untuk mencegah upaya Iran menasionalisasikan industri minyaknya. Setelah gagal mencegah gerakan revolusioner ini, mereka kemudian fokus untuk menghambat pelaksanaannya. Karena peristiwa ini sangat mempengaruhi posisi Inggris di Timur Tengah dan menjadi pemicu keluarnya Inggris dari kawasan ini.

 

Penemuan minyak menciptakan revolusi industri dan sesuai dengan urgensinya turut mempengaruhi transformasi politik, sosial dan perubahan struktur ekonomi negara-negara yang memiliki cadangan yang disebut emas hitam ini. Sebelum penemuan minyak, Iran telah memiliki posisi strategis baik dari sisi politik maupun geografi. Kondisi ini membuat negara-negara imperialis menjadi tamak dan ingin menguasainya. Rusia masuk dari utara dan Inggris dari selatan. Sebelumnya, Portugal dan Belanda berusaha menancapkan pengaruhnya atas penguasa Iran dan bila dimungkinkan mereka ingin menjajah negara ini.

 

Iran tidak pernah dijajah secara langsung oleh bangsa lain. Tapi ketidakmampuan para raja Iran dan kebijakan negara-negara imperialis membuat Iran tetap terkebelakang. Penemuan minyak menambah urgensi politik dan geografi Iran dan menjadi motivasi bagi intervensi politik dan militer secara langsung mulai dari Uni Soviet, Inggris dan setelah itu Amerika. Rusia mengaku telah mendapat konsesi untuk melakukan ekploitasi dan mengekspor cadangan minyak Iran di bagian utara. Sementara Inggris melakukan hal yang sama di kawasan selatan Iran.

 

Para penguasa Iran yang lemah akhirnya menandatangani kontrak minyak dengan negara-negara imperialis. Inggris dengan kelicikannya mendapat konsesi lebih banyak dan berada pada posisi yang lebih baik. Apa lagi konsentrasi cadangan utama minyak Iran berada di selatan Iran. Selain itu, akses ke Teluk Persia dan laut bebas menjadikan posisi Inggris sangat mudah untuk menjarah kekayaan bangsa Iran. Di sini, minyak yang semestinya menjadi pemicu pertumbuhan, pembangunan, kemajuan dan kemandirian Iran, hanya menjadi alat penindasan bagi penguasa dalam negeri dan penjajahan asing.

 

Inggris yang mendapat konsesi besar untuk mengeksploitasi dan mengekspor minyak Iran ternyata hanya memberikan sedikit keuntungannya kepada pemerintah Iran. Pada Perang Dunia II, posisi geografi Iran sangat penting bagi tentara Sekutu untuk membantu Uni Soviet melawan tentara NAZI. Oleh karenanya, Iran menjadi jembatan kemenangan Sekutu. Iran di tahun-tahun itu menjadi negara produsen terbesar minyak mentah di Timur Tengah. Masalah ini menunjukkan peran penting Iran dalam kemenangan tentara Sekutu di Perang Dunia II.

 

Kemenangan tentara Sekutu harus dibayar dengan kehancuran infrastruktur Iran dan penjarahan cadangan kekayaan Iran. Pasca Perang Dunia II, mulai muncul keseriusan perjuangan rakyat untuk mengusir para penjajah dari industri minyak Iran. Dua tokoh politik yang memiliki peran penting dalam peristiwa Nasionalisasi Industri Minyak Iran. Pertama Doktor Mosaddegh yang berasal dari kalangan nasionalisme dan Ayatullah Kashani yang memiliki pengalaman dalam perjuangan melawan penjajah Inggris di Irak. Beliau melanjutkan perjuangannya di Iran hingga industri minyak Iran berhasil dinasionalisasi.

 

Perjuangan ini berakhir pada terbentuknya pemerintahan rakyat yang dipimpin Doktor Mosaddegh. Inggris waktu itu berusaha keras untuk mencegah dilaksanakannya UU Nasionalisasi Industri Minyak Iran, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Pemerintah Inggris menarik para pakar asingnya dari industri minyak Iran dan memboikot pembelian minyak. Hal ini dilakukannya untuk tetap dapat menjarah kekayaan bangtsa Iran. Inggris juga mengirimkan pengaduannya ke pengadilan Den Haag, Belanda untuk menunjukkan bahwa nasionalisasi yang dilakukan Iran bertentangan dengan kontrak minyak antara Iran dan Inggris. Tapi semua usahanya menemui kegagalan.

 

Di dalam negeri, para pakar Iran berhasil melanjutkan eksploitasi dan ekspor minyak, setelah para pakar asing keluar dari negeri ini. Dengan demikian, untuk selamanya pemerintah Inggris sudah tidak dapat mengintervensi lagi industri minyak Iran. Selain itu, kebijakan memberikan diskon kepada para pembeli minyak Iran, mampu menggagalkan upaya Inggris memboikot pembelian minyak Iran. Di kancah internasional, para hakim pengadilan Den Haag memenangkan Iran setelah pembelaan yang dilakukan oleh Doktor Mosaddegh yang menjadi perdana menteri waktu itu.

 

Dalam perubahan yang terjadi, perlahan-lahan dimulailah intervensi Amerika di Iran. Sebagian partai politik di Iran beranggapan bahwa dengan mendekati Amerika, mereka dapat mengakhiri politik arogan Inggris dan ancaman Uni Soviet. Namun tidak lama kemudian terbongkar juga substansi imperialisme Amerika. Sementara Inggris yang melihat kehadirannya secara langsung dalam politik Iran telah berakhir, mulai menjalankan politik pecah belah dengan bersembunyi di balik Amerika. Para tokoh yang memperjuangkan Nasionalisasi Industri Minyak Iran mulai diadu.

 

Sebagaimana Nasionalisasi Industri Minyak Iran merupakan titik tolak dalam sejarah perjuangan melawan imperialis bangsa Iran, kudeta bulan Agustus 1953 juga merupakan noktah hitam dalam sejarah intervensi Amerika dan Inggris di dunia. Dua negara yang mengaku pelopor kebebasan dan demokrasi melakukan kudeta dan mengembalikan Mohammad Reza Pahlevi ke Iran dan berkuasa di negara ini. Hal ini membuat bangsa Iran semakin bersatu bukan saja untuk mengusir Amerika dari Iran, tapi juga menghapus sistem kerajaan di Iran dan memulai periode baru dalam sejarah Iran. (IRIB Indonesia)

Add comment


Security code
Refresh