Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Rabu, 07 Januari 2015 13:58

Uni Ekonomi Eurasia, Prospek dan Tantangan

Uni Ekonomi Eurasia, Prospek dan Tantangan

Uni Ekonomi Eurasia (Eurasian Economic Union/EEU) secara resmi memulai aktivitasnya pada 1 Januari 2015. Pada tahap awal, operasi EEU untuk menciptakan pasar besar bersama di kawasan negara-negara independen persemakmuran uni tersebut. Tujuan utama pembentukan Uni Ekonomi Eurasia adalah untuk memfasilitasi dan memudahkan perdagangan di antara negara-negara yang telah memisahkan diri dari Uni Soviet.

 

 

Pada 2 Januari 2015,Armenia telah sepenuhnya menjadi anggota Uni Ekonomi Eurasia, sementara kesepakatan bergabungnya Kyrgyzstan dengan uni ini telah ditandatangani pada 23 Desember 2014. Anggota EEU saat ini terdiri dari Rusia, Belarus, Kazakhstan, Kyrgystan dan Armenia. Total luas wilayah negara-negara anggota EEU lebih dari 20 juta kilometer persegi dengan jumlah penduduk melebihi 180 juta orang. Sementara Produk Domestik Bruto (PDB) negara-negara itu pada tahun 2013 sekitar empat triliun dolar (yang didasarkan pada kriteria kesetaraan daya beli masyarakat).

 

Dengan dimulainya aktivitas Uni Ekonomi Eurasia, maka terciptalah sebuah pasar besar dalam konteks peraturan Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization/WTO), dan perdagangan di antara anggota uni ini juga mengalami peningkatan. Selain itu, negara-negara anggota EEU juga dapat memanfaatkan banyaknya fasilitas yang tersedia bagi mereka. Dalam kerangka Uni Ekonomi Eurasia, para anggota uni ini telah menyatakan kesepakatannya atas pergerakan bebasbarang-barang dan komoditi, modal, tenaga kerjadan jasadi wilayahEurasia.

 

Negara-negara anggota Uni Ekonomi Eurasia juga menyatakan bahwa mereka akan memiliki kebijakan umum di sektor energi, industri, pertanian dan transportasi. Sebelumnya, Rusia, Belarus, dan Kazakhstan yang merupakan tiga negara pendiri Pakta Ekonomi Eurasia, telah mendirikan Uni Bea Cukai Eurasia pada tahun 2010. Pengoperasian Uni Ekonomi Eurasia akan meningkatkan pertukaran perdagangan di antara negara-negara anggotanya dengan lebih mudah.

 

Tujuan-tujuan paling penting dari Uni Ekonomi Eurasia adalah penghapusan secara bertahap atas aturan Bea Cukai internal di negara-negara uni ini, dan menempatkan tarif luar negeri umum di antara negara-negara angota EEU, serta menyelaraskan prosedur bea cukai di negara-negara anggota.Para kepala negara dan perdana menteri Rusia, Belarusdan Kazakhstan akan menjadi anggota Dewan Eurasia dan menentukan agenda-agenda Uni Ekonomi Eurasia.

 

Dimulainya aktivitas Uni Ekonomi Eurasia sangat penting bagi Vladimir Putin, Presiden Rusia.Selama Konferensi Tingkat Tinggi EEU yang digelar beberapa waktu lalu di Moskow, Putin menyinggung bahwa prinsip dasar EEU meliputi hubungan kesamaan, realisme dan saling menghormati. Ia menyatakan kesiapan EEU untuk bekerjasama dengan negara-negara tetangga dalam konteks masyarakat negara-negara persemakmuran dan mitra-mitra lainnya di timur dan barat.

 

Presiden Rusia juga menegaskan pentingnya perluasan kerjasama ekonomi di antara negara-negara anggota Uni Ekonomi Eurasia dan arus barang tanpa hambatan-hambatan birokrasi, di mana penyediaan fasilitas khusus dalam konteks ini sangat penting untuk menarik lebih banyak anggota.

 

Awalnya, Uni Ekonomi Eurasia terdiri dari Rusia, Belarus dan Kazakhstan. Ketika menyinggung bergabungnya Armenia dan Kyrgystan dengan EEU, presiden Rusia menegaskan bahwa bergabungnya kedua negara itu akan mendorong kemajuan dan peningkatan dalam uni ini. Putin mengatakan, sebagai hasil dimulainya aktivitas Uni Ekonomi Eurasia adalah terciptanya pasar besar dalam kerangka prinsip-prinsip WTO. Ia juga menyebut jumlah penduduk 180 juta jiwa di negara-negara anggota EEU sebagai keuntungan penting lainnya bagi aliansi ekonomi tersebut.

 

Moskow pastinya akan melakukan upaya besar termasuk melalui pembentukan Uni Ekonomi Eurasia supaya semua negara di wilayah luar dekat Rusia khususnya negara-negara penting seperti Kazakhstan, Belarus dan Ukraina tetap berada di bawah pengaruhnya. Banyak bukti menunjukkan bahwa untuk mencapai tujuan tersebut, Rusia siap memberikan sumber-sumber finansial dan banyak keistimewaan lainnya kepada negara-negara tersebut walaupun negara seperti Ukrainamasih memiliki kecenderungan ke Barat.

 

Pada akhir September 2014, Duma Rusia menyetujui pakta pembentuan Uni Ekonomi Eurasiadengan 441 suara setuju dan 226 suara menentang dari anggota-anggota Duma. Pakta tersebut ditandatangani oleh para pemimpin negara-negara Rusia, Belarus dan Kazakhstan pada bulan Mei 2014. Perjanjian pembentukan EEU sebagai dokumen dasar bagi tiga negara tersebut diperkirakan akan menjadi prospek ekonomi baru bagi Rusia, Belarus dan Kazakhstan.

 

Sebelum perjanjian pembentukan Uni Ekonomi Eurasia, tiga negara pendiri perjanjian ini telah mendirikan Uni Bea Cukai Eurasia. Beberapa waktu lalu, pemerintah Rusia telah mengumumkan tentang kesiapan EEU untuk menerima anggota-anggota baru.Pada 27 Desember,Kementerian Luar Negeri Rusia mengabarkankesiapan 40 negara untuk menandatangani kesepakatan kawasan perdagangan bebas (Free Trade Area) dengan EEU, dan mengumumkan bahwa uni ini juga siap untuk menandatangani perjanjian dengan anggota-anggota baru.

 

Terkait pernyataan tersebut, sejumlah laporan menyebutkan bahwa Tajikistan dan Uzbekistan kemungkinan akan bergabung dengan Uni Ekonomi Eurasia pada tahun 2015.Menurut para pejabat EEU, Tajikistan merupakan salah satu dari negara-negara yang aktif di Organisasi Traktat Keamanan Kolektif (CSTO) dan beroperasi penuh dalam zona perdagangan bebas. Oleh karena itu, kemungkinan keikutsertaan negara itu dengan EEU sangat besar.

 

Uzbekistan kemungkinan juga akan bergabung dengan Uni Ekonomi Eurasia pada tahun 2015. Mengingat EEU akan mendorong pertumbuhan ekonomi Rusia dan negara-negara anggotanya, maka ruang ekonomi tunggal yang tercipta dalam kerangka aliansi ekonomi ini juga sangat menarik bagi negara-negara lain yang tidak memiliki perbatasan bersama dengan Rusia. Sebelumnya, Putin juga telah mengumumkan bahwa anggaran dasar EEU ditetapkan sedemikian rupa sehingga menciptakan kemungkinan bagi negara-negara seperti Turki dan India untuk bergabung dengan uni tersebut.

 

Para pengamat meyakini bahwa aktivitas Uni Ekonomi Eurasia sangat penting dan menguntungkan sekali khususnya bagi Rusia. Sejak lama, Moskow telah berusaha mendorong negara-negara tetangga Rusia untuk bergabung dengan sebuah uni alternatif untuk menandingi Uni Eropa. Ke depan, EEU diharapkan akan berubah menjadi sebuah uni ekonomi yang berbobot di hadapan Uni Eropa, Cina dan Amerika Serikat.

 

Sebenarnya salah satu alasan inisiatif Rusia untuk membentuk Uni Ekonomi Eurasia adalah untuk menghadapi langkah-langkah Uni Eropa yang ingin menggabungkan sejumlah negara persemakmuran seperti Ukraina ke uni ini. Untuk menggabungkan negara-negara yang terpisah dari Uni Soviet ke EEU, Rusia terpaksa memberikan banyak keistimewaan kepada negara-negara itu. Presiden Rusia pada awal 2014 mengumumkan bahwa negaranya akan memberikan pinjaman sebesar dua miliar dolar kepada Belarus.

 

Ketertarikan banyak negara yang menurut Kemenlu Rusia jumlahnya mencapai sekitar 40 negara, untuk bergabung dengan Uni Ekonomi Eurasia menunjukkan adanya kemampuan signifikan dan potensi besar dalam uni tersebut. Prioritas Rusia saat ini adalah untuk menggabungkan negara-negara persemakmuran ke EEU.

 

Sekarang ini banyak negara ingin bergabung dengan Uni Ekonomi Eurasia setelah mengetahui potensi yang ada dalam uni ini, baik dari sisi pasar penjualan maupun dari peningkatan kerjasama ekonomi.Bergabungnya negara seperti Kyrgystan ke EEU, di mana negara ini telah menjadi anggota Organisasi Perdagangan Dunia membuktikan keyakinan negara-negara persemakmuran atas pentingnya EEU. Berdasarkan pernyataan presiden Rusia, EEU akan dapat menjadi seperti Uni Soviet modern.

 

Meski perkembangan ke depan bagus, namun Uni Ekonomi Eurasia saat ini menghadapi tantangan-tantangan besar termasuk upaya Barat untuk menarik sejumlah negara di wilayah luar dekat Rusia seperti Ukraina untuk bergabung dengan Uni Eropa dan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO),dan berlanjutnya agenda"Kemitraan (kerjasama) Timur" untuk menarik negara-negara bekas Soviet seperti Armenia, Azerbaijan, Moldova, Georgia, Belarus dan Ukraina bergabung dengan lembaga-lembaga Eropa.

 

Masalah Ukraina dan apakah negara ini akan bergabung dengan Uni Ekonomi Eurasia atau Uni Eropa, menjadi hal yang sangat sensitif. Upaya presiden Rusia selama beberapa tahun terakhir untuk menarik Ukraina bergabung dengan EEU selalu gagal. Tanpa Ukraina, EEU berarti tidak memiliki satu anggota kunci, dan ini akan menjadi pukulan besar bagi integrasi ekonomi timur yang sedang dikejar oleh Putin. Menurut keyakinan presiden Rusia, keanggotaan Kiev di EEU akan sangat menguntungkan ekonomiUkraina dan mendorong pertumbuhan PDB nasional negara itu.

 

Sementara itu, para pejabat Uni Eropa berulangkali memperingatkan bahwa keanggotaan Ukraina di Uni Ekonomi Eurasia adalah garis invaliditas terhadap kesepakatan perdagangan bebas dan pada akhirnya keanggotaan negara itu di Uni Eropa akan dicabut. Sejak lama Ukraina telah ditekan supaya bergabung dengan Uni Ekonomi Eurasia. Di periode Viktor Yanukovych, mantan Presiden Ukraina, negara itu akhirnya menerima untuk menjadi anggota pemantau di EEU setelah terjadi tarik menarik selama beberapa tahun.

 

Alasan Rusia menekan Ukraina untuk bergabung dengan Uni Ekonomi Eurasia adalah kekhawatiran Moskow atas konsekuensi ekonomi dan perdagangan jika Kiev bergabung dengan Uni Eropa. Rusia menyatakan khawatir bahwa pasar Ukraina akan diserbu oleh produk-produkkompetitif dari Uni Eropa yang masuk ke negara itu tanpa biaya bea cukai. Barang-barang komoditi tersebut mungkin akan masuk ke Ukraina melalui perbatasan panjang kedua negara itu.

 

Mungkin alasan tersebut yang menyebabkan presiden Putin memperingatkan Petro Poroshenko, Presiden Ukraina bahwa jika Kiev melaksanakan setiap perjanjian perdagangan yang baru-baru ini ditandatangani dengan Uni Eropa, maka Moskow akan membatasi Ukraina untuk mencapai pasar Rusia. Bahkan Putin memperingatkan Poroshenko bahwa Rusia akan segera mereaksi jika Ukraina mengubah undang-undang nasional untuk melaksanakan perjanjian perdagangan dengan Uni Eropa. (IRIB Indonesia/RA)

 

Add comment


Security code
Refresh