Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Sabtu, 03 Januari 2015 09:41

Kaleidoskop Pasar Minyak Dunia Tahun 2014 (Bagian-2 habis)

Kaleidoskop Pasar Minyak Dunia Tahun 2014 (Bagian-2 habis)

Harga minyak dunia menurun tajam di penghujung tahun 2014 dan fenomena ini telah menyita perhatian para analis dan pengamat internasional. Konsumen minyak dan produk olahan minyak gembira dengan peristiwa tersebut, sementara para produsen justru merasa prihatin dan terpukul. Sejumlah ekonom juga menyatakan kekhawatiran terhadap dampak-dampak anjloknya harga minyak. Pada musim panas lalu, harga minyak mentah di pasar dunia dipatok 107 dolar per barel. Harga minyak sekarang bahkan lebih rendah dari harga emas hitam itu pada periode resesi ekonomi Amerika Serikat di tahun 2009.

 

 

Namun apa yang sebenarnya sedang terjadi? Mengapa keseimbangan dalam penawaran dan permintaan minyak bisa sedemikian buruk? Ada banyak alasan yang dikemukakan untuk menjawab pertanyaan tersebut dan di antaranya adalah; peningkatan produksi Shale Oil di Amerika Utara, penambahan kapasitas produksi Arab Saudi yang melebihi kuota OPEC, kembalinya beberapa negara produsen minyak ke pasar seperti, Libya dan Irak, dan juga penurunan konsumsi minyak pada tingkat global akibat melambatnya pertumbuhan ekonomi Cina dan krisis ekonomi Eropa.

 

Terdapat juga hipotesa lain yang berhubungan dengan perang harga dan pukulan ekonomi, di mana negara tertentu sedang berupaya untuk mempersulit posisi negara-negara produsen minyak. Sejumlah media menurunkan analisa yang berbicara tentang ambisi AS untuk terlibat dalam "perang minyak" terhadap Republik Islam Iran. Menurut media, Saudi sudah melancarkan perang seperti itu terhadap Iran dan AS sebagai sekutu Saudi juga mulai memasuki medan perang.

 

Koran Gulf News dalam satu laporannya pada 14 Desember 2014 menulis, "Presiden Barack Obama kemungkinan akan memudahkan pembatasan ekspor minyak AS pada tahun 2015 dalam upaya untuk mencapai kesepakatan dengan Partai Republik menyangkut program nuklir Iran." Menurut Bruce Bueno de Mesquita, seorang profesor politik dan direktur Pusat Ekonomi Politik Alexander Hamilton di New York University, Obama akan menggunakan perubahan kebijakan minyak sebagai mekanisme untuk memajukan kepentingan keamanan Amerika dan untuk mencapai kesepakatan dengan Partai Republik.

 

Saat ini, industri minyak AS tunduk pada pembatasan ekspor yang kembali pada masa embargo minyak tahun 1970-an. Larangan ekspor ini bertujuan untuk meredakan kekhawatiran tentang pasokan minyak AS dan mencegah para produsen Amerika lari dari kebijakan kontrol harga lewat penjualan minyak dengan harga yang tinggi di pasar global. Selama empat dekade lalu, produksi dalam negeri Amerika belum mencapai batas yang menuntut sebuah perubahan dan pelonggaran aturan tersebut, namun munculnya revolusi Shale Oil telah mengundang banyak pihak, termasuk Partai Republik untuk melakukan penyesuaian.

 

Skenario Washington bisa menjadi petunjuk bahwa AS sedang berupaya untuk terlibat "perang minyak" besar-besaran terhadap Iran, dan tentu saja juga menyasar beberapa negara lain seperti, Rusia. Padahal, sejumlah pengamat pasar minyak menekankan perlunya untuk mengurangi kapasitas produksi mengingat penawaran yang berlimpah di pasar. Dengan skenario itu, AS tampaknya ingin terlibat langsung dalam perang tersebut dan meningkatkan pengiriman minyak ke pasar global dengan cara menghapus aturan pembatasan ekspor. Tindakan ini akan memperpanjang proses penurunan harga minyak dan sekaligus menekan perekonomian Iran.

 

Peran Riyadh sangat signifikan dalam skenario tersebut, sebab Saudi – sebagai produsen terbesar minyak dan anggota kunci OPEC – memiliki kelonggaran fiskal yang lebih besar dibanding negara-negara lain. Sejumlah analis percaya bahwa AS – meski tergolong sebagai produsen penting Shale Oil – memperoleh keuntungan dari anjloknya harga minyak. Penurunan harga bensin bagi Amerika – sebagai konsumen terbesar minyak dunia – akan meningkatkan daya beli masyarakat dan memacu pertumbuhan ekonomi. Saat ini, harga bensin di Amerika menyentuh titik terendah dalam lima tahun terakhir.

 

Dari sisi lain, OPEC menghadapi peningkatan produksi Shale Oil oleh AS dan sebuah kompetisi untuk menjatuhkan harga minyak. Para pengamat politik percaya bahwa harga minyak saat ini kemungkinan besar akan memperburuk perseteruan geopolitik migas di tahun depan dan banyak produsen minyak akan menanggung kesulitan akibat anjloknya harga. Menurut sejumlah pengamat, penurunan harga minyak mungkin saja akan mengubah persepsi para produsen dalam penanaman modal mereka di sektor produksi Shale Oil. Para pakar di Commerzbank mengatakan bahwa penurunan harga minyak secara jelas akan berpengaruh pada keuntungan sejumlah produsen AS.

 

Selama beberapa tahun lalu, peningkatan penawaran minyak di pasar dibarengi dengan harga yang tinggi. Pada akhirnya, perusahaan-perusahaan minyak di seluruh dunia berlomba untuk mencari sumber-sumber minyak baru. Sejak tahun 2008 dan setelahnya, perusahaan-perusahaan minyak di Amerika telah meningkatkan angka produksi mereka sebesar 70 persen. Jumlah itu setara dengan 3,5 juta barel per hari. Peningkatan jumlah produksi itu bahkan melebihi kemampuan semua anggota OPEC (kecuali Arab Saudi) untuk menambah kapasitas produksi minyak. Bersamaan dengan meningkatnya produksi minyak di AS, produksi emas hitam di Timur Tengah dan Afrika Utara terganggu oleh gejolak politik di wilayah itu dan ekspor minyak mereka menurun tajam.

 

Negara-negara anggota OPEC sudah memutuskan untuk memproduksi 30 juta barel per hari pada tahun 2015. Langkah itu ditempuh pada saat sejumlah laporan menunjukkan bahwa perekonomian Cina, Jepang, dan Eropa Barat – sebagai konsumen terbesar minyak setelah AS – sedang lesu dan stagnan. Ketika pertumbuhan ekonomi mulai melambat, maka tingkat permintaan untuk minyak juga akan menurun. Tren penurunan harga minyak tentu saja sangat menguntungkan perusahaan-perusahaan kapal kargo dan maskapai penerbangan. Nilai saham mereka juga turut tergerek naik di bursa saham dunia.

 

Penurunan harga minyak bagi para konsumen hampir sama seperti pembebasan pajak, di mana daya beli mereka akan meningkat. Meski demikian, sejumlah ekonom khawatir bahwa penurunan tajam harga minyak dapat menjadi indikator, di mana masalah perekonomian dunia jauh lebih besar dari yang diprediksi oleh para pakar. Kelesuan ekonomi global akan membawa dampak-dampak buruk bagi perekonomian AS dan berakibat pada penurunan ekspor, kehilangan kesempatan kerja, dan penurunan pendapatan pemerintah. Masalah ini akan mempengaruhi keuntungan yang diperoleh dari penurunan harga minyak dan produk olahan minyak. Oleh sebab itu, penurunan harga minyak selain dapat menjadi sebuah berita gembira bagi negara konsumen, tapi juga bisa membawa dampak yang mengerikan.

 

Perusahaan-perusahaan minyak akan kehilangan pendapatan akibat anjloknya harga minyak dan membuat mereka enggan untuk melakukan investasi di proyek-proyek pengoboran baru. Perusahaan minyak British Petroleum (BP) sudah mengumumkan bahwa jumlah pengeluaran mereka pada tahun 2015 berkurang sekitar satu miliar dolar. Di sisi lain, beberapa negara bagian di AS bergantung pada pendapatan pajak di sektor energi untuk memenuhi pundi-pundi keuangan mereka dan anggaran. Negara-negara bagian tersebut antara lain, Alaska, Dakota Utara, Oklahoma, dan Texas.

 

Namun keuntungan apa yang diperoleh Saudi dalam perang ini? Koran Financial Times dalam sebuah laporannya menyoroti tentang motivasi Saudi untuk menurunkan harga minyak. Menurun harian itu, kebijakan Saudi kemungkinan tidak akan membawa keuntungan politik yang berkelanjutan. Saudi kecil kemungkinan akan mampu menghadapi tekanan panjang akibat penurunan harga minyak. Dari perspektif politik, tidak mudah untuk menafsirkan sikap Saudi yang percaya bahwa penurunan harga minyak akan mengancam kepentingan negara-negara lain termasuk Iran. Padahal, ekonomi Iran dan rakyatnya sudah terbukti tahan terhadap tekanan dan sanksi. Oleh karena itu, tidak jelas bagaimana Saudi bisa berkesimpulan seperti itu bahwa anjloknya harga minyak akan berdampak signifikan bagi Iran.

 

Sejumlah analis percaya bahwa kebijakan AS dan Saudi tidak akan membawa hasil yang mereka inginkan dan mereka juga harus bersiap menghadapi dampak-dampak berbahaya dari permainan tersebut. (IRIB Indonesia/RM)

Add comment


Security code
Refresh