Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Rabu, 31 Desember 2014 14:58

Kaleidoskop Pasar Minyak Dunia Tahun 2014 (Bagian-1)

Kaleidoskop Pasar Minyak Dunia Tahun 2014 (Bagian-1)

Harga minyak di pasar global mencapai angka 50 dolar Amerika per barel menjelang berakhirnya tahun 2014. Sebuah fenomena yang mengundang keprihatinan sejumlah lembaga ekonomi dan perusahaan besar yang bergantung pada minyak. Harga minyak dunia dalam beberapa bulan terakhir terpuruk ke level terendah. Penurunan harga minyak kali ini terbilang luar biasa sejak Mei 2009 sampai sekarang dan mungkin tidak ada yang memprediksi penurunan tajam harga emas hitam tersebut. Kini tampaknya tidak ada satupun yang mampu memulihkan kondisi itu.

 

 

Lalu, faktor-faktor apa saja yang telah membuat harga minyak dunia terjun bebas? Negara mana saja yang akan menjadi pemenang dan pecundang di balik anjloknya harga minyak? Dan bagaimana prediksi harga minyak di tahun 2015? Para analis mengatakan bahwa penurunan harga minyak dipicu oleh kelebihan persediaan di pasar dunia dan pasar minyak di tahun 2015 akan mengalami fluktuasi. Mereka menambahkan bahwa para produsen utama minyak mentah di dunia akan terlibat dalam perseteruan geopolitik migas.

 

Harga minyak dunia sejak Juni sampai sekarang kehilangan setengah dari nilainya akibat jumlah produksi yang tidak terkontrol, penguatan harga dolar, dan rendahnya permintaan karena perekonomian dunia yang sedang lesu. Tren penurunan harga minyak pada akhir November bergerak lebih cepat setelah Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) memutuskan untuk mempertahankan kuota produksi. OPEC pada pertemuan November 2014 memilih untuk menjaga tingkat produksinya sebesar 30 juta barel per hari. Dalam pertemuan itu, Arab Saudi dan negara-negara Arab di Teluk Persia menentang pengurangan kuota produksi OPEC.

 

Sekjen OPEC, Abdullah el-Badri dua pekan setelah pertemuan tersebut membela keputusan aneh OPEC sebagai sebuah strategi untuk menjaga saham organisasi di pasar. Dia menegaskan bahwa selisih antara penawaran dan permintaan tidak menjadi alasan anjloknya harga minyak. Sementara itu, Menteri Perminyakan Uni Emirat Arab, Suhail al-Mazrouei percaya bahwa tidak ada yang bisa mengatasi penurunan harga minyak bahkan jika tergerus ke tingkat 40 dolar per barel. Dia mengatakan, "OPEC bukan satu-satunya produsen dan tidak adil jika hanya meminta negara-negara anggota OPEC dengan sendirinya mengatasi kondisi pasar untuk pihak lain." Menurut al-Mazrouei, masalah itu hanya tergantung pada waktu.

 

Akan tetapi, OPEC dalam kondisi sekarang sampai berapa lama mampu bertahan? Beberapa analis percaya bahwa meskipun harga saat ini tidak menguntungkan semua anggota, tapi perbaikan pasar menjadi tanggung jawab semua produsen minyak dan OPEC dengan sendirinya tidak bisa mengurangi produksinya, sementara beberapa pihak lain justru menambah kuota produksi. Namun, keputusan untuk lari dari fakta sekarang juga sangat membebani para produsen minyak di OPEC dan di luar organisasi tersebut. Aksi ini tentu saja memiliki risiko yang sangat tinggi.

 

Menurut laporan Press TV, tren penurunan harga minyak telah merontokkan indeks harga saham di sejumlah negara Arab di Teluk Persia pada akhir tahun 2014. Pada Desember ini, pasar keuangan Dubai mengalami penurunan ke level terendah dalam lima tahun terakhir. Sejak OPEC memutuskan mempertahankan output produksi pada 27 November dan harga minyak mulai melemah, Bursa Saham Dubai turun 31,5 persen dan indeks Arab Saudi turun 19,2 persen. Indeks harga saham di beberapa negara Arab juga mengalami penurunan tajam. Indeks QE Qatar turun 5,3 persen dalam beberapa hari terakhir; indeks SE Price Kuwait turun 3,7 persen, dan indeks MSM 30 Oman melorot 7,1 persen pada periode yang sama.

 

Jika harga minyak terus turun, kondisi tersebut dapat menjadi risiko jangka panjang yang membuat ekonomi dunia kian terancam. Dalam jangka panjang, turunnya harga minyak dapat membuat semakin banyak produsen gagal mendulang untung tahun depan dan selanjutnya. Penurunan harga minyak juga dapat memicu protes dari masyarakat seperti Nigeria dan Venezuela, di mana pendapatan rakyat sangat bergantung pada penghasilan produksi minyak. Nigeria adalah negara penghasil minyak terbesar di Afrika, dan 70 persen penghasilan pemerintah berasal dari minyak. Jatuhnya harga minyak di dunia akibat bertambahnya produksi dan menurunnya permintaan telah menimbulkan keprihatinan.

 

Kementerian Keuangan Nigeria telah mengumumkan pengurangan pengeluaran negara dan mengenakan tarif baru pajak untuk barang-barang mewah. Bank Sentral Nigeria sudah menaikkan suku bunga dari 12 persen menjadi 13 persen, dan menaikkan tarif nilai tukar resmi mata uangnya, Naira menjadi 168 untuk satu dolar, dari 155 sebelumnya. Dua serikat pekerja utama Nigeria memulai mogok kerja nasional pada 15 Desember lalu. Serikat pekerja Pengassan dan Nupeng mengatakan mogok kerja akan berlanjut hingga pemerintah mengabulkan tuntutan mereka. Pekerja menuntut pengesahan Rancangan Undang-Undang Industri Minyak yang bertujuan merombak sektor dan pemeliharaan kilang minyak.

Sanksi Barat terhadap Rusia ditengarai menjadi akar permasalahan kolapsnya ekonomi negara Beruang Merah itu. Ditambah lagi, membanjirnya pasokan minyak mentah dari negara-negara OPEC telah memperparah kondisi Rusia yang juga adalah produsen minyak. Penurunan tajam harga minyak dunia akan membuat prospek ekonomi Rusia terkontraksi negatif pada tahun depan. Ini juga yang menyebabkan mata uang rubel Rusia turun dan Bank Sentral mencoba bertahan dengan menaikkan suku bunga.

 

Pemerintah Rusia memperkirakan ekonomi akan melambat karena dua hal utama. Pertama adalah pelemahan mata uang rubel, dan kedua anjloknya harga minyak sampai di bawah level 80 dolar per barel. Dalam anggaran awal, harga minyak diasumsikan 100 dolar per barel. Rusia memang sangat tergantung pada minyak. Separuh dari pendapatan negara berasal dari penjualan minyak dan gas. Ketika pendapatan dari migas berkurang, maka defisit anggaran tentu membengkak.

 

Venezuela juga telah meminta OPEC dan negara-negara non-OPEC bertemu untuk mengatasi penurunan harga minyak yang makin menyengsarakan pemerintah Presiden Nicolas Maduro. Dengan harga minyak mentah Brent kurang dari 80 dolar per barel, turun lebih dari 25 persen sejak Juni, Venezuela dan banyak produsen minyak utama lain terjepit. Venezuela bergantung pada ekspor minyak mentahnya dan krisis harga semakin membebani pemerintah yang sedang kesulitan menghentikan inflasi. Venezuela dan Ekuador telah secara terbuka menyeru OPEC untuk memangkas produksi guna menopang harga. Tetapi sikap negara-negara OPEC terpecah soal pengurangan produksi.

 

Venezuela telah mengurangi banyak cadangan finasial untuk mempertahankan pelemahan mata uangnya. Menurut Bank Dunia, dengan penurunan harga minyak, Venezuela mengalami defisit 11,5 persen dari Produk Domestik Bruto negara itu, sekitar 438 miliar dolar dan untuk sementara diatasi dengan meminjam miliaran dolar dari Cina. Penurunan harga minyak hampir pasti mendatangkan kesulitan ekonomi bagi Venezuela, dengan kekurangan kronis produk konsumen dasar.

 

Akan tetapi, Jepang sangat diuntungkan oleh tren penurunan harga minyak global. Jepang dengan penghematan pengeluaran untuk impor minyak kini memiliki 725 miliar dolar untuk merangsang ekspansi ekonomi. Untuk Jepang – sebagai importir minyak ketiga terbesar di dunia – harga minyak yang lebih rendah mampu mendorong tingkat perekonomiannya yang belakangan mengalami resesi. Gubernur Bank Sentral Jepang, Haruhiko Kuroda mengatakan bahwa penurunan harga minyak mentah dunia memberikan manfaat yang besar bagi perekonomian Jepang.

 

Beberapa analis percaya bahwa harga minyak dunia ditentukan oleh beberapa perusahaan mutlinasional di London dan New York. Mereka memonopoli sumber-sumber minyak dan instalasinya. Oleh karena itu, masalah penurunan tajam harga minyak dunia merupakan sebuah proses yang berada di luar keputusan OPEC dan kebijakan Saudi. Pasar keuangan Saudi juga menderita akibat kelesuan tersebut. (IRIB Indonesia/RM)

Add comment


Security code
Refresh