Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Selasa, 12 Agustus 2014 15:08

Menelisik Paket Reformasi Ekonomi Rohani

Menelisik Paket Reformasi Ekonomi Rohani

Kini, pemerintah Iran di bawah pemerintahan Hassan Rohani sedang menyusun paket reformasi ekonomi untuk memulihkan perekonomian negara itu. Paket kebijakan tersebut menyita perhatian berbagai kalangan, terutama para ekonom dan pelaku ekonomi Iran. Di tahun 2012 hingga 2013 perekonomian Iran menghadapi masalah terjadinya stagnasi pertumbuhan ekonomi. Para ekonom mengkhawatirkan berlanjutnya kondisi tersebut yang akan menimbulkan fenomena "stagflasi".

 

Sekitar setahun berlalu, kabinet sebelas Iran telah menjalankan pemerintahannya. Salah satu prioritas pemerintah Iran saat ini adalah memulihkan perekonomian yang sedang stagnan. Untuk mewujudkan tujuan itu, tim ekonomi Rohani memiliki dua target penting yang saling terkait. Pertama, menyiapkan sarana strategis untuk mencabut seluruh sanksi ekonomi dalam kerangka kesepakatan nuklir. Kedua, mengenjot gairah ekonomi dengan bertumpu pada industri dalam negeri.

 

 

Jawatan diplomasi kabinet Rohani untuk pertama kalinya melakukan terobosan  penting untuk mengatasi masalah sanksi ekonomi melalui perundingan konstruktif. Tahun lalu tercapai kesepakatan interim antara Iran dan kelompok 5+1 di Jenewa. Dampaknya terjadi perubahan signifikan terhadap perekonomian Iran. Setidaknya, mampu mencegah kenaikan inflasi.

 

Saat ini paket reformasi ekonomi Iran yang berpijak dari dua asumsi tersebut berada di atas meja pemerintah dan parlemen Iran. Paket ini meliputi empat bagian yang mencakup sejumlah masalah penting di bidang ekonomi seperti kebijakan ekonomi makro, pemulihan kondisi lapangan kerja dan peluang usaha, pemenuhan kebutuhan sumber finansial dan aktivitas penggerak untuk keluar dari resesi ekonomi.

 

Sejumlah ekonom menilai paket ekonomi pemerintah sangat optimistis, meski terkesan utopis.Tapi sebagian ahli ekonomi lainnya memandang kebijakan strategis yang disusun kabinet sebelas merupakan perubahan dalam literatur ekonomi yang berpijak pada kebijakan yang tersusun secara akademis, dan para analis ekonomi menilai pemerintah Rohani bisa mewujudkan target ekonomi tersebut.

 

Paket ekonomi pemerintah Rohani disusun dalam rangka mewujudkan kebijakan ekonomi makro, pemulihan lapangan kerja dan peluang usaha, sumber finansial dan aktivitas pendukungnya. Setiap bagian merupakan saluran untuk keluar dari masalah ekonomi yang membelit Iran. Tampaknya, paket reformasi ekonomi Rohani memberikan perhatian terhadap masalah ekonomi makro. Lalu, apa alasannya dan mengapa pemerintah Iran memusatkannya terhadap masalah tersebut?

 

Jawaban terhadap masalah ini tampaknya harus dilacak dari faktor-faktor yang menjadi penyebab stagnasi ekonomi yang disertai inflasi yang tinggi dalam perekonomian Iran. Faktor tersebut berkaitan dengan kebijakan sebelumnya. Untuk melacaknya perlu melihat ke belakang mengenai fenomena ekonomi yang terjadi di Iran selama periode 2001 hingga 2010.

 

Selama periode tersebut, perekonomian Iran menikmati lonjakan harga minyak yang tinggi di pasar internasional. Akibatnya, pendapatan negara pun meningkat dan ketergantungan anggaran negara terhadap minyak pun kian tinggi. Fenomena ini memicu tingginya likuiditas dan konsumsi. Tapi, pendapatan negara tersebut merosot akibat menurunnya investasi di sektor minyak dan anjloknya penjualan minyak akibat sanksi. Pada saat yang sama nilai tukar mata uang asing menguat dibandingkan dengan mata uang Rial. Kejutan tiba-tiba ini terjadi bersamaan dengan menurunnya produksi nasional yang memicu membengkaknya biaya produksi dalam negeri. Pada saat yang sama, produsen dalam negeri tidak memiliki kemampuan untuk bersaing dengan produk luar negeri. Berlanjutnya kondisi tersebut memukul perekonomian nasional.

 

Di tengah terjadinya lonjakan harga minyak dunia, ekonomi Iran menghadapi gelombang baru sanksi di sektor minyak dan perbankan yang semakin deras. Dampaknya, terjadi fluktuasi nilai tukar mata uang asing yang bergerak semakin tinggi dan berpengaruh langsung memicu stagnasi perekonomian Iran dan pertumbuhan negatif. Maka, upaya keluar dari stagnasi ekonomi membutuhkan perubahan fundamental di bidang infrastruktur ekonomi dengan kinerja ekonomi politik muqawama yang menjadi pijakan bagi reformasi struktural ekonomi Iran. Bagian paling penting dari program tersebut adalah reformasi sistem moneter, perbankan, fiskal, pajak, administrasi dan bea cukai. Selain itu masalah penting lainnya adalah program mendukung produk dalam negeri dalam bentuk paket stimulus pemerintah terhadap sektor swasta untuk berproduksi.

 

Kabinet kesebelas menyinggung tahap kedua dari penerapan program "Subsidi Terarah" sebagai langkah lanjutan keluar dari perekonomian yang bersifat "non-inflasi" dan "permanen".Tapi keberhasilan penerapan program tersebut membutuhkan keselarasan dan koordinasi serta dukungan parlemen Iran. Untuk mendukung program tersebut, parlemen harus mengesahkan undang-undang baru mengenai masalah tersebut.

 

Paket reformasi ekonomi pemerintah Rohani meliputi 173 butir. Dari jumlah tersebut 141 butir memerlukan dukungan dari pemerintah dan parlemen. Sedangkan 65 butir lainnya mencakup wewenang institusi independen yang harus mengambil keputusan terkait. Salah satu bagian yang membutuhkan pengesahan parlemen mengenai ketentuan, "Setiap pengambilan anggaran dari Dana Pembangunan Nasional tidak boleh menyebabkan kenaikan fundamental fiskal", "penambahan modal perbankan dari pendapatan anggaran tambahan", "Penurunan utang sektor pemerintah dari bank" dan "Dibukanya dana pensiun swasta".

 

Poin penting lainnya mengenai solusi untuk mengeluarkan perekonomian Iran dari stagnasi melalui program penguatan usaha kecil dan menengah (UKM). Oleh karena itu, salah satu alat utama adalah reformasi kebijakan perbankan dan finansial, realisasi pajak langsung dan memberikan stimulus dalam bentuk paket bantuan berupa jaminan kebutuhan finansial bagi UKM dan mengarahkan usaha besar menuju pasar modal untuk menjalankan proyek-proyek besar ekonomi. Kebijakan tersebut selain menyelamatkan perekonomian Iran dari stagnasi juga mendorong perbaikan lapangan kerja dan peluang usaha baru.

 

Para ekonom menilai stabilitas sistem finansial dan upaya keluar dari inflasi negatif sebagai faktor kunci bagi pertumbuhan ekonomi Iran. Oleh karena itu, tujuan terpenting dari bank sentral adalah kebijakan moneter untuk menjamin sistem finansial. kedua, mengontrol inflasi dan mendorong gairah ekonomi.

Dengan pertimbangan tersebut paket ekonomi pemerintah Rohani tampaknya berpusat pada kebijakan moneter, disiplin fiskal dan kontrol terhadap fundamental keuangan dengan tujuan untuk memperkokoh stabilitas ekonomi makro, laju penurunan inflasi dan dinamika perekonomian ke depan yang terkendali. Sejumlah analis ekonomi berkeyakinan bahwa tujuan dari paket reformasi ekonomi tersebut adalah menentukan limit utang pemerintah terhadap sistem perbankan dan transparansinya. Selain itu, tingkat bagi hasil bank sesuai dengan inflasi, dan menyiapkan sarana penyetaraan tingkat kompetensi antarbank.

 

Masalah lain peta jalan keluar dari stagnasi ekonomi adalah kontrol likuiditas yang bisa dilakukan bersamaan dengan meningkatnya utang pemerintah terhadap bank sentral. Fenomena tersebut bisa dilihat dari contoh dalam beberapa tahun terakhir yang terjadi di AS dan sejumlah negara Eropa yang menaikkan utang pemerintah kepada bank sentral yang mendorong naiknya fundamental fiskal. Tapi likuiditas dan inflasi mengalami kenaikan yang tidak signifikan dan masih dalam tahap wajar. Untuk itulah, para ekonom memandang tujuan pemerintah saat ini adalah mengontrol inflasi. Dalam kondisi perekonomian Iran saat ini, kontrol inflasi tersebut membutuhkan dukungan lebih besar dan kuat dari berbagai pihak, terutama parlemen.

 

Para ekonomi meyakini kontrol "pertumbuhan rasio likuiditas" di butir tiga paket reformasi ekonomi bertujuan untuk mereformasi sistem perbankan. Di butir 7 disebutkan bahwa permulihan kinerja bank sentral merupakan sebuah keharusan untuk mengontrol inflasi sekaligus memperkuat sistem finansial. Untuk itulah para ekonom menekankan bahwa solusi terbaik bagi reformasi kebijakan moneter adalah memberikan otoritas independen secara resmi dan tidak resmi kepada bank sentral dan gubernurnya.

 

Paket reformasi ekonomi kabinet sebelas secara umum menunjukkan bahwa tim ekonomi Iran saat ini mengambil pelajaran dari pengalaman sebelumnya. Salah satunya, menghindari terulangnya pengalaman "Membelanjakan Pendapatan Dolar dari Penjualan Minyak Mentah Demi Mewujudkan Pembangunan" dan "Penggunaan valuta asing sebagai alat kontrol inflasi". Sebab, kebijakan tersebut mengakibatkan terjadinya stagnasi di sektor industri dan perdagangan yang menimpa perekonomian Iran.

 

Oleh karena itu, pemerintah Rohani dalam paket reformasi ekonominya berupaya untuk memenuhi kebutuhan investasi domestik dari sumber pendapatan minyak dan dana cadangan devisa pembangunan dan menarik investasi asing untuk memperkuat infrastruktur produksi di sektor industri strategisnya.(IRIB Indonesia/PH)

Add comment


Security code
Refresh