Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Minggu, 15 Juni 2014 16:14

Ekonomi Muqawama: Urgensitas Pemanfaatan Kapasitas Internal

Ekonomi Muqawama: Urgensitas Pemanfaatan Kapasitas Internal

Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei dalam pesan tahun baru kalender Iran menamakan tahun baru kali ini dengan "Tahun Tekad Nasional dan Manajemen Jihadi". Selama lima seri pembahasan ekonomi muqawama, kami senantiasa berupaya membongkar ekonomi muqawama dari berbagai sisi, mulai dari ketahanan ekonomi, urgensitas ekonomi berbasis sains dan posisi minyak dalam ekonomi muqawama. Di akhir seri ekonomi muqawama ini, kami berupaya menyoroti pemanfaatan kapasitas dalam negeri dan perannya bagi ekonomi muqawama.

Republik Islam Iran memiliki kapasitas besar infrastruktur untuk sebuah ekonomi kokoh. Selama enam bulan lalu, berdasarkan data yang dirilis Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia, Iran dengan kesuksesannya mengendalikan inflasi mampu menekan defisit laju ekonomi dari 5,8 persen ke arah yang mendekati titik positif. Kini diprediksikan ekonomi Iran untuk tahun ini akan mengalami laju positif dan keluar dari stagflasi yang menderanya.

Ketua Dana Moneter Internasional (IMF), Christine Lagarde di sela-sela sidang IMF dan Bank Dunia bertemu dengan Valiollah Seif, gubernur Bank Sentral Republik Islam Iran di Washington menyebut proses ekonomi Iran sangat menjanjikan. Ia mengatakan, kebijakan yang saat ini diterapkan di Iran jika terus dilanjutkan maka dapat membentuk transformasi ekonomi yang bermanfaat dan menguntungkan bagi negara ini.

Apa dasar dari perubahan ini dan kapasitas apa yang dimiliki Iran sehingga mampu menggerakkan ekonominya meski menghadapi berbagai rintangan? Modernisasi ekonomi adalah sebuah keniscayaan dan sesuatu yang wajar. Namun yang terpenting adalah bagaimana kondisi sulit ini harus ditanggung dan memodernisasi serta menyesuaikan diri dalam setiap kondisi. Krisis ekonomi di Amerika Serikat pada tahun 2007 dan Eropa dengan baik menunjukkan bahwa ekonomi negara-negara ini sangat rentan terhadap fluktuasi serta tidak mampu memodernisasi dirinya.

Oleh karena itu, Barat memilih untuk menerapkan kebijakan penghematan ekonomi. Maka tak heran kita menyaksikan maraknya gerakan seperti Wall Street di Amerika dan eskalasi ketidakpuasan rakyat di negara-negara seperti Yunani, Italia dan Spanyol. Seymour Martin Lipset, pakar sosiolog Amerika yang memiliki kecondongan pembangunan ekonomi harus didahulukan ketimbang pengembangan politik. Ia meyakini untuk mencapai sebuah politik yang maju terlebih dahulu pembangunan ekonomi harus dicapai. Namun demikian, keberhasilan sebuah pemerintah dalam masalah ini tergantung pada kadar solidaritas, kesempurnaan dan kekuatan institusi sipil di sektor sosial, ekonomi dan politik dalam sebuah masyarakat.

Pengalaman berbagai negara seakan-akan menetapkan bahwa kekuatan, fleksibilitas sebuah negara dan model ekonomi merupakan peluang bagi resistensi menghadapi krisis ekonomi dan finansial. Sejatinya fleksibilitas dan resistensi ekonomi sebuah negara menjadi peluang bagi terbentuknya pembangunan yang seimbang dan kokoh. Hal ini merupakan bagian dari prinsip dasar dan rasional ekonomi makro.

Oleh karena itu, di sektor ekonomi muqawama, sebuah negara akan lebih berhasil ketika mampu memanfaatkan semaksimal mungkin posisinya dan kapasitas internal yang dimilikinya serta di saat berinteraksi dengan ekonomi lain. Namun wajar jika pencapaian model ekonomi muqawama yang sukses mengingat sejumlah keharusan adalah sebuah hal yang membutuhkan waktu dan metode yang tepat.   

Hal ini juga tak boleh dilupakan bahwa mayoritas raksasa ekonomi dan negara maju dunia bukan sehari mereka mampu menjadi model ekonomi dunia, namun mereka membutuhkan program terencana  dan bergerak dengan penuh ketenangan serta menanggung resiko dari penerapan kebijakan penghematan ekonomi serta dibarengi dengan dukungan dari berbagai sektor lain.

Dengan demikian membangun kapasitas merupakan pondasi dari ekonomi muqawama serta berperan penting dalam penentuan target ekonomi hilir. Oleh karena itu, pemerintahan Iran kesebelas selaku penanggung jawab pelaksanaan ekonomi muqawama bertekad meningkatkan kapasitas internalnya serta perlahan-lahan menyelesaikan kendala nasional.

Tak perlu diragukan bahwa kesuksesan tujuan mulia ini sangat ditentukan oleh beragam faktor yang membutuhkan mekanisme tepat serta komponen yang konvergen. Dalam hal ini, pengakuan hak legal nuklir Iran oleh kekuatan besar Barat akan membuka peluang interaksi global dan peningkatan hubungan ekonomi serta perdagangan dengan dunia serta membuka pasar internasional bagi produk Republik Islam. Hal ini dengan sendirinya bakal memperluas aktivitas bisnisman Iran serta menarik investasi asing yang menjadi indikasi positif kian kokohnya ekonomi muqawama.

Tak diragukan lagi setiap negara membutuhkan solusi untuk keluar dari kendala internal, modernisasi struktur ekonomi serta menampilkan teladan baru guna meraih indek pembangunan ekonomi. Alvin Toffler, penulis Amerika Serikat menilai akar dari perubahan ini adalah teknologi dan pengetahuan. Toffler banyak menulis buku dan makalah ilmiah, namun ideologi dan filsafat yang diyakininya tertuang dalam tiga buku karyanya, Future Shock (1970), The Third Wave (1980) dan Powershift: Knowledge, Wealth and Violence at the Edge of the 21st Century (1990) atau yang dikenal dengan buku yang memuat perubahan. Ketiga karya ini menunjukkan ideologi Toffler yang meyakini perubahan sebagai gerakan yang tidak pernah berakhir.

Terkait tiga buku ini, Toffler menjelaskan, "Isu utama adalah perubahan, artinya apa yang terjadi pada individu dan apa-apa yang terjadi sepanjang waktu, di mana sebuah masyarakat bergerak ke arah hal-hal baru dan tak pernah mereka bayangkan." Buku ini berargumen bahwa perubahan cepat yang terjadi di sekitar kita bukan peristiwa kebetulan, namun ada sebab dan faktor internal yang mendorong kita untuk melawan perubahan dan menghindari dampak buruk dari perubahan yang terjadi.

Dalam bukunya yang berjudul Powershift, Toffler menjelaskan terbentuk revolusi industri di Eropa dalam gelombang kedua. Ia menulis, "Gelombang kedua adalah usia 300 tahun kehidupan umat manusia, di mana terjadi revolusi industri yang mempengaruhi pola hidup manusia serta memunculkan kondisi tertentu di dalam masyarakat."

Sejatinya banyak negara yang mampu tampil di dunia dan meraih posisi ekonomi penting dengan menyusun program dan bersandar pada sumber daya internal dan melaksakanan program jangka panjang. Gerakan ini mengarah pada dua sisi, salah satunya dalamkapasitas dalam negeri dan produk domestik di bidang ekonomi dan yang lainnya adalah kapasitas luar yang mengacu pada luar perbatasan. Misalnya di antara negara-negara anggota ASEAN, yakni 10 negara Asia Tenggara, Indonesia mengalami pertumbuhan cepat. Nilai ekspornegara ini di tahun 2012 sebesar 204 miliar dolar.

Sementara itu, pendapatan domestik bruto (PDB) negara anggota ASEAN sekitar 2,2 triliun dolar. Aktivitas ekonomi negara-negara ini setara dengan Brasil dan lebih tinggi dari Rusia. Anggota ASEAN menyusun program untuk menyamakan visi di antara mereka. ASEAN juga berencana selama satu dekade ke depan akan membangun jalan sepanjang 540 ribu mil dan 11.700 mil rel kereta api yang menghubungkan sesama anggota.

Contoh lain adalah Jepang. Negara ini memiliki produksi domestik bruto (PDB) kedua di dunia dan menempati posisi ketiga di dunia untuk daya beli masyarakat. Sektor ekonomi Jepang mengalami kerusakan besar di perang dunia kedua. Namun selanjutnya meski harus membayar ganti rugi ke berbagai negara, ekonomi Jepang mengalami kenaikan drastis setelah menfokuskan pada strategi produksi. Dengan strategi ini, Jepang mampu memperkokoh ekonomi dalam negeri dan mengembangkannya.

Sementara itu, Republik Islam Iran yang memiliki geopolitik strategis dan banyak musuh di tingkat dunia, pastinya lebih membutuhkan perencanaan baru dan program internal di berbagai sektor. Ekonomi muqawama sejatinya model baru dan fleksibel serta kokoh. Model ini dapat menjadi strategi serius Iran untuk saat ini, mengingat kondisi dunia internasional. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa dalam strategi ekonomi muqawama, salah satu prioritasnya adalah memajukan tujuan dan kepentingan nasional dalam koridor ekonomi kokoh sehingga akan tercipta keamanan di berbagai sektor. (IRIB Indonesia/MF)

Add comment


Security code
Refresh