Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Senin, 09 Juni 2014 22:31

Ekonomi Muqawama: Minyak, Penggerak Ekonomi Produktif

Ekonomi Muqawama: Minyak, Penggerak Ekonomi Produktif

Republik Islam Iran selama tiga dekade lalu terus bergerak maju meski menghadapi banyak kendala separti perang yang dipaksakan selama delapan tahun, sanksi ekonomi dan tekanan ekonomi. Namun demikian seperti yang diarahkan Rahbar atau Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei di awal tahun 1393 dalam kalender Iran, isu ekonomi masih tetap menjadi prioritas. Dalam pesannya bertepatan dengan tahun baru Iran, Rahbar menjelaskan bahwa tahun ini harus menjadi tahun ekonomi muqawama sehingga sektor ekonomi sama seperti upaya dalam perang politik dan berujung pada terciptanya epik ekonomi.

Penekanan terhadap ekonomi muqawama oleh Rahbar mengindikasikan peran strategis program ini dalam memajukan tujuan dan kepentingan nasional dalam koridor ekonomi yang kokoh serta maju. Dalam pandangan pengamat, untuk menggapai indek makro yang ditentukan dalam ekonomi muqawama dapat berujung pada kenaikan ketahanan di berbagai sektor lain. Teladan ini bukan saja tidak bertentangan dengan keterkaitan ekonomi Iran dengan negara lain, namun merupakan sebuah upaya untuk menciptakan interaksi ilmiah antara lingkaran utama di sektor produksi. Dalam hal ini, minyak tercatat sebagai salah satu pondasi utama dan infrastruktur ekonomi Republik Islam Iran.

Industri minyak jika dimanfaatkan secara tepat dapat memperkokoh sendi-sendi ekonomi muqawama. Minyak juga tercatat penyumbang devisa negara paling besar melalui eksplorasi dan penjualan minyak mentah. Minyak juga menjadi bahan dasar bagi lebih dari 80 produk olahan minyak dan motor penggerak produksi di berbagai sektor ekonomi lainnya.

Industri minyak ketika masuk dalam berbagai ranah produksi di sektor ekonomi telah membuka peluang besar untuk perputaran penuh produksi, yakni tenaga kerja, investasi dan bahan baku dasar produksi. Dengan kata lain, peran minyak dalam pengokohan ekonomi dan produk dalam negeri ditujukan untuk meningkatkan pemasukan dan investasi. Maka tujuan ini dapat dimasukkan dalam bagian dari strategi ekonomi muqawama.

Sementara di antara negara-negara tetangga Iran, industri minyak dan perannya dalam ekonomi produktif sebagai infrastruktur ekonomi muqawama sangat menonjol.  Dapat juga dikatakan bahwa suplai bahan baku produksi dan perdagangan komoditas minyak Iran dengan bersandar pada teknologi dalam negeri lebih maju ketimbang negara-negara kaya minyak di kawasan. Iran di sektor industri minyak mampu menjalankan proyek pengilangan, melaksanakan proyek pertrokimia dan produk gas serta memproduksi olahan minyak termasuk mengimpornya.

Tak hanya itu, Iran juga memberi peluang sektor swasta untuk andil dalam proyek perminyakan dengan sistem investasi bersama. Meski demikian ekonomi Iran dalam beberapa tahun terakhir membutuhkan reformasi. Sesuai dengan kebutuhan ini maka diberlakukanlah program subsidi terarah di sektor energi untuk menerapkan teladan konsumsi serta memanfaatkan pemasukan dari penjualan minyak bagi pembangunan di berbagai sektor ekonomi serta meningkatkan tingkat kesehatan dan keselamatan masyarakat.

Tahap pertama ini mulai diterapkan oleh pemerintah Iran kesepuluh. Dan kini di pemerintahan kesebelas, tahap kedua subsidi terarah juga mulai dilaksanakan dengan perubahan harga di produk energi. Sejatinya program ini menjadi persiapan bagi ekonomi muqawama yang salah satu butirnya menekankan urgensitas pemanfaatan tepat minyak bagi pengembangan ekonomi.  

Peran minyak dan gas dalam menggenjot produk bruto nasional melalui pemanfaatan lebih baik penghematan konsumsi sangat penting untuk ditindaklanjuti. Selain itu, peningkatan investasi dan kemajuan teknologi di sektor industri minyak yang memainkan peran penting dalam produksi komoditas akan memperbaiki kualitas dan kuantitas seluruh elemen produksi di sektor ekonomi. Iran di tingkat kawasan, meski tercatat negara pengimpor sejumlah produk konsumtif. Namun demikian Iran di sektor energi dan industri hulu dari minyak serta gas yang menjadi kebutuhan primer negara-negara industri, memiliki posisi unggul.

Berbagai data statistik menunjukkan Timur Tengah tercatat sebagai daerah kaya minyak dan gas serta menjadi kutub penting energi dunia. Dalam hal ini Teluk Persia memiliki 63 persen cadangan minyak dan 30 persen gas dunia. Sementara Iran dalam hal ini memiliki saham energi terbesar di Timur Tengah dan Asia Tengah. Oleh karena itu, produk domestik bruto (PDB) yang didapat dari penjualan minyak dan gas tercatat sebagai indek pembangunan ekonomi negara-negara kaya minyak di kawasan. Jika pembangunan ini dibarengi dengan perlindungan terhadap produk dalam negeri maka akan mampu meningkatkan kesejahteraan dan pembangunan nasional.

Oleh karena itu, mengurangi ketergantungan terhadap industri minyak berulang kali diisyaratkan Rahbar saat menjelaskan ekonomi muqawama. Beliau mengatakan, "?Ketergantungan ini merupakan warisan buruk kita selama seratus tahun, sanksi yang diterapkan Barat merujuk pada masalah ini. Kesempatan saat ini harus dimanfaatkan dan diupayakan untuk mencari sumber alternatif selain minyak?" Beliau juga menyebut perhatian terhadap laju industri berbasis sains termasuk langkah yang dapat memenuhi kekosongan yang ada.

Dalam pandangan pengamat, keberadaan minyak dan gas sebagai sumber utama energi dunia, termasuk faktor berpengaruh dalam transformasi Timur Tengah. Sedikitnya dalam dua dekade terakhir, terjadi dua perang yang dipaksakan di kawasan disebabkan oleh minyak dan energi. Namun demikian hal ini bukan berarti menafikan keberadaan faktor lain dalam isu Timur Tengah. Dalam perspektif ekonomi, minyak dan gas serta pasar besarnya di kawasan tercatat sebagai faktor berlanjutnya krisis, penjajahan, dan perang di Timur Tengah.

Di sisi lain, tidak adanya kesamaan visi dalam kebijakan ekonomi di kawasan, kian menambah kendala keamanan. Hal ini biasanya disebabkan oleh ketergantungan negara produsen minyak terhadap penjualan minyak mentah. Ketergantungan ini menurut keterangan Rahbar adalah warisan buruk ratusan tahun Iran yang harus dibuang. Selama beberapa dekade lalu, salah satu infrastruktur ekonomi Iran yang paling sensitif, yakni industri dan ekspor minyak menjadi target sanksi. Upaya Amerika difokuskan pada pembatasan dan pengucilan industri ini serta menghapus pendapatan negara dari penjualan minyak atau investasi di sektor ini.

Sejumlah pengamat meyakini dampak dari sanksi terhadap ekonomi Iran sekitar 30 persen dan 70 persen lainnya berkaitan dengan kelemahan dalam memanfaatkan secara benar kapasitas ekonomi di dalam negeri. Namun demikian, hal ini senantiasa mencuat dan dinilai sebagai ancaman terbesar bagi Iran dan harus ditangani dengan meningkatkan kemampuan ekonomi nasional.

Oleh karena itu, Rahbar dengan memprediksi strategi musuh dalam menghadapi Republik Islam, serta dengan pandangan strategis terhadap infrastruktur ekonomi, menempatkan transformasi peran minyak dalam perekonomian Iran sebagai prioritas kebijakan makro ekonomi negara ini. Beliau menekankan, untuk mencapai ufuk pembangunan ekonomi harus disusun program dan strategi detail dan modern. Maka jelas hubungan erat ekonomi Iran dan minyak juga tidak menjadi pengecualian dalam prinsip ini.

Oleh karena itu, terlepas seberapa besar sanksi akan dicabut atau sebesar apa pula kondisi akan berubah, kondisi ini menjadi peluang bagi ekonomi Iran dan juga menjadi pengalaman. Iran serius memutuskan untuk melangkah dalam koridor ekonomi muqawama demi memperkokoh diri. Dalam hal ini, mengurangi ketergantungan terhadap industri minyak menjadi satu keharusan dalam pembahasan ekonomi muqawama yang sangat ditekankan oleh Rahbar. Mengingat kerugian besar dan merusak dari ketergantungan terhadap minyak, Rahbar menjelaskan, harus digalakkan upaya untuk mengganti posisi minyak dalam pendapatan negara.(IRIB Indonesia)

Add comment


Security code
Refresh