Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Sabtu, 24 Mei 2014 17:02

Ekonomi Muqawama: Integrasi Regional dan Keragaman Sektor

Ekonomi Muqawama: Integrasi Regional dan Keragaman Sektor

Salah satu butir pelaksanaan strategi ekonomi muqawama yang dijabarkan oleh Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei kepada pejabat pemerintah tahun lalu adalah penekanan terhadap peningkatan pelayanan perdagangan asing, transit dan infrastruktur yang dibutuhkan sektor ekonomi Iran.

Saat ini Republik Islam memiliki hubungan perdagangan dan ekonomi dengan lebih dari 170 negara. Iran juga memanfaatkan seni diplomasi, pengaruhnya di tingkat regional dan internasional untuk memperluas transaksi perdagangan ekonominya. Dalam beberapa bulan terakhir, Iran aktif meningkatkan diplomasi ekonominya dengan Uni Eropa. Hal ini terlihat dengan sikap Iran membuka peluang lebar-lebar investasi asing dan menggelar berbagai pertemuan ekonomi bersama termasuk dengan Perancis, Jerman, Italia, Lithuania, Rusia, Cina, India, Pakistan, Korea Selatan, Turki, Oman dan negara-negara pantai Kaspia. Berbagai pertemuan ini ditujukan untuk meningkatkan kapasitas perdagangan, investasi bersama, menghapus biaya cukai dan menggapai kesamaan visi baru ekonomi.

Menurut keyakinan para pengamat, salah satu mekanisme menjamin stabilitas dan keamanan serta laju ekonomi adalah memperluas perimbangan hubungan di berbagai sektor dan memperkokoh interaksi ekonomi di tingkat regional. Menggenjot aktivitas ekonomi membutuhkan kebijakan luar negeri serta memanfaatkan diplomasi ekonomi guna menciptakan peluang kerjasama baru. Saat ini Iran memiliki dua kapasitas dalam hubungannya dengan negara-negara tetangga, pertama tingkat bilateral dan kedua tingkat regional. Namun pemanfaatan sektor ini dalam ekonomi muqawama akan semakin meningkat ketika terbuka peluang baru bagi kebijakan luar negeri.

Oleh karena itu, diperlukan upaya lebih keras untuk meningkatkan aktivitas ekonomi dalam hubungan tingkat regional. Aktivitas ini mencakup banyak sektor seperti menciptakan zona perdagangan bebas, menjaga lingkungan hidup, keamanan perbatasan, perang melawan terorisme dan memerangi segala bentuk penyelundupan. Menurut keyakinan para pakar ekonomi, kerjasama ekonomi regional dapat meminimalkan dampak krisis finansial dan resesi ekonomi yang pernah melanda kawasan Asia Tenggara pada tahun 1997. Oleh karena itu, di berbagai kawasan ekonomi seperti Amerika Selatan, kecenderungan untuk membentuk blok perdagangan dan  ekonomi seperti  Mercosur dan ALBA.

Mercosur adalah sebuah organisasi yang terdiri dari negara-negara Amerika Selatan. Organisasi ini didirikan pada 1985 oleh 5 negara. Piagamnya menyatakan bahwa Mercosur bertugas mengkoordinasikan kegiatan ekonomi, termasuk hubungan niaga; komunikasi; kegiatan kebudayaan; kewarganegaraan, paspor, dan visa; kegiatan sosial; dan kegiatan kesehatan. Markas Mercosur berada di Montevideo. Sementara ALBA (Aliansi Bolivarian untuk Rakyat Amerika Kita - Trade Treaty Rakyat) adalah sebuah organisasi antar pemerintah yang didasarkan pada gagasan sosial, integrasi politik dan ekonomi dari negara-negara Amerika Latin dan Karibia. Nama " Bolivarian " mengacu pada ideologi Sim?n Bol?var , pemimpin kemerdekaan abad ke-19 Amerika Selatan lahir di Caracas yang ingin benua untuk bersatu sebagai satu " Bangsa Besar".

Dalam proses globalisasi secara umum negara-negara yang kondisi ekonominya tidak kuat paling banyak menderita dan terkena dampak dari raksasa ekonomi global. Hal ini memicu ketidakpuasan publik, inflasi, pengangguran, resesi dan pada akhirnya menjadi sebuah ancaman. Oleh karena itu, salah satu mekanisme tepat untuk meningkatkan keamanan adalah memperkokoh kesamaan visi ekonomi. Kecenderungan kerjasama regonomi sejak lama berlaku di dunia, namun proses transformasi global, khususnya pasca perang dunia kedua membuat kecenderungan ini semakin kuat.

Kerjasama regional ini memiliki ragam yang banyak, di semua lini politik, ekonomi, keamanan dan sosial. Meski pengalaman bertahun-tahun pasca perang dunia kedua menunjukkan maraknya pengaruh Timur dan Barat dalam pembentukan berbagai pakta dan kerjasama regional seperti Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), namun seiring dengan berlalunya waktu dan transformasi mendalam seperti runtuhnya Uni Soviet, kepentingan politik secara bertahap mewarnai gagalnya pembentukan organisasi regional. Organisasi seperti ini diambil alih oleh aliansi untuk peningkatan ekonomi.

Menurut pandangan pengamat, kerjasama ekonomi merupakan bentuk terbaik kerjasama regional yang dapat membantu pengokohan struktur internal ekonomi sebuah negara. Hal ini disebabkan negara-negara dunia tanpa bantuan yang lain tidak memiliki berbagai faktor dan bahan produksi komoditas. Dalam hal ini, mereka menghadapi keterbatasan. Di sisi lain, kerjasama ekonomi dapat membantu kesejahteraan, kekayaan dan kekuasaan. Selain itu, kerjasama tersebut juga sangat membantu sebuah pemerintahan untuk menggapai tujuan politik dan keamanan yang menjadi bagian dari cita-cita serta kepentingan nasional.

Kerjasama ekonomi juga berpengaruh pada terciptanya keamanan regional dan mampu memutus ketergantungan terhadap kekuatan trans-regional serta menciptakan kesejahteraan dan keamanan di kawasan. Saat ini, telah terbuka peluang tepat untuk menggalang kerjasama dan kesamaan visi terkait Republik Islam Iran bagi kawasan. Selain itu, kesempatan untuk meningkatkan kerjasama semua sektor dan penyatuan visi yang menjadi kebutuhan primer bagi laju ekonomi regional. Integrasi ekonomi akan mendorong terbentukan pasar bersama, menghapus sekat-sekat kerjasama ekonomi, menggapai peluang baru bagi investasi dan produksi bersama. Oleh karena itu, kerjasama dan integritas ekonomi sangat penting, apalagi mengingat kepentingan jangka panjang dan keamanan ekonomi.

Menurut teori fungsionalisme dalam integrasi adalah integritas dari satu sisi akan mengalir ke sisi lain, namun dengan syarat integritas tersebut didukung oleh tekad kuat bangsa-bangsa itu sendiri dan secara jujur bertindak demi meraih kesamaan visi tersebut. Salah satu pengalaman integritas ekonomi adalah integritas ekonomi di Eropa barat. Integrasi Ekonomi Eropa berawal dari keterpurukan bangsa Eropa sebagai dampak dari Perang Dunia I (PD I) dan Perang Dunia II (PD II). Kedua PD tersebut telah memporakporandakan kemajuan, peradaban Eropa yang telah dibangun selama berabad-abad. Dalam hal ini Eropa khususnya Eropa Barat tidak berdaya untuk membangun kembali perekonomiannya pasca PD II.

Pengalaman pahit ini telah membuka wawasan baru akan perlunya berintegrasi di antara negara bangsa di Eropa untuk mencegah perselisihan, untuk kemakmuran bersama dan untuk menjamin identitas masing-masing dan identitas bersama. Dengan kata lain pengalaman pahit di atas telah merangsang munculnya pemikiran-pemikiran atau ide-ide tentang integrasi Ekonomi Eropa untuk membangun Eropa kembali.

Perjanjian Roma 1957 merupakan dasar dan tanda dimulainya Integrasi Ekonomi Eropa secara luas, yang berlangsung secara efektif mulai 1 Januari 1958. Dalam hal ini perlu untuk diketahui bahwa sebelum perjanjian Roma 1957, di Eropa pada tanggal 5 Februari 1953 telah terjalin integrasi ekonomi dalam bentuk kerjasama perdagangan dalam bidang batu bara dan baja, yang dikenal dengan sebutan (European Coal and Steel Community) atau ECSC. Anggota dari ECSC ini adalah Prancis, Republik Federasi Jerman, Italia, dan Benelux (Belgia, Netherland dan Luxemburg). ECSC ini merupakan bentuk integrasi ekonomi pertama di Eropa, yang bersifat Supranasional dan masih bersifat terbatas dalam bidang batu bara dan baja.

Sementara di Asia Tenggara integritas ekonomi terbentuk dalam wadah ASEAN. ASEAN merupakan sebuah organisasi geo-politik dan ekonomi dari negara-negara di kawasan Asia Tenggara, yang didirikan di Bangkok, 8 Agustus 1967 berdasarkan Deklarasi Bangkok oleh Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand. Organisasi ini bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, kemajuan sosial, dan pengembangan kebudayaan negara-negara anggotanya, memajukan perdamaian dan stabilitas di tingkat regionalnya, serta meningkatkan kesempatan untuk membahas perbedaan di antara anggotanya dengan damai.

ASEAN meliputi wilayah daratan seluas 4.46 juta km? atau setara dengan 3% total luas daratan di Bumi, dan memiliki populasi yang mendekati angka 600 juta orang atau setara dengan 8.8% total populasi dunia. Luas wilayah laut ASEAN tiga kali lipat dari luas wilayah daratan. Pada tahun 2010, kombinasi nominal GDP ASEAN telah tumbuh hingga 1,8 Triliun Dolar AS. Jika ASEAN adalah sebuah entitas tunggal, maka ASEAN akan duduk sebagai ekonomi terbesar kesembilan setelah Amerika Serikat, Cina, Jepang, Jerman, Perancis, Brazil, Inggris, dan Italia.

Sementara di Asia Tengah muncul Organisasi Kerjasama Ekonomi (ECO) yang pada awalnya bernama RCD (Organisasi Kerjasama Sipil Kawasan) yang digagas oleh Iran, Turki  dan Pakistan. Organisasi ini ditujukan untuk perdagangan bebas, memperbaiki jalur transportasi, penyusunan dan pelaksanaan program bersama ekonomi serta merapatkan kerjasamadi antara anggota. Setelah berjalan 15 tahun dan tidak ada kemajuan, para pemimpin negara organisasi ini berkumpul di Azmir, Turki dan menekankan perluasan kerjasama industri, perdagangan, pariwisata dan transportasi.

Pasca kemenangan Revolusi Islam Iran, organisasi RCD kemudian diubah namanya menjadi ECO (Organisasi Kerjasama Ekonomi). Negara anggota sepakat memperluas cakupan aktivitas organisasi ini. Selanjutnya ECO menggelar sidang setiap tahun atau dua tahun sekali.(IRIB Indonesia)

Add comment


Security code
Refresh