Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Sabtu, 17 Mei 2014 16:20

Ekonomi Muqawama: Strategi Realisasikan Ketahanan Ekonomi

Ekonomi Muqawama: Strategi Realisasikan Ketahanan Ekonomi

Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei dalam berbagai pesannya bertepatan dengan setiap tahun baru khususnya dalam beberapa tahun terakhir berulangkali menekankan isu ekonomi dan urgensitas memperhatikan isu ini berdasarkan strategi jangka pendek dan panjang. Dalam pesannya dalam penamaan setiap tahun, Rahbar sangat memperhatikan masalah ini. Tahun Teladan Pola Konsumsi, Tahun Tekad Ganda dan kerja Ekstra, Tahun Jihad Ekonomi, merupakan nama tahun-tahun yang ditentukan Rahbar secara sistematis untuk membentuk teladan ekonomi muqawama yang dibarengi dengan laju ekonomi. Penamaan ini bukan sekedar slogan, namun sebuah motor penggerak bagi bagan-bagan ekonomi seperti tenaga kerja, peningkatan produk nasional dan mendukung tenaga kerja serta investasi dalam negeri.

Rahbar dalam pertemuannya dengan pejabat pemerintah beberapa tahun lalu menyebut tujuan dari pemilihan slogan dan penamaan setiap tahun adalah penyempurna dari rangkaian masalah ekonomi yang tercakup dalam program ekonomi jangka panjang. Rahbar menjelaskan bahwa penamaan setiap tahun bukan sekedar slogan yang cepat dilupakan, namun bagian dari proses yang mampu mengkoordinasi infrastruktur kemajuan ekonomi permanen dan sebuah langkah menggapai kemajuan.

Rahbar dengan baik menyadari perang ekonomi yang dilancarkan musuh berserta tujuannya untuk menekan lebih besar Republik Islam Iran. Oleh karena itu, beliau berulangkali mengingatkan bahwa salah satu solusi untuk melewati fase sensitif dan menentukan saat ini adalah mencapai keamanan serta ketahanan ekonomi. Hal ini dapat ditempuh dengan menseriusi ekonomi muqawama. Namun demikian apa maksud sejati dari keamanan dan ketahanan ekonomi dan bagaimana cara penerapannya dalam sistem ekonomi nasional

Keamanan merupakan infrastruktur nasib setiap bangsa. Menurut definisi klasik, istilah ini tak berbeda dengan melawan ancaman militer yang mencakup sisi riil di dalam perbatasan sebuah negara. Untuk menghadapi ancaman seperti ini diperlukan langkah-langkah pencegahan seperti pembentukan militer dan pasukan pertahanan di dalam negeri.

Dewasa ini, bentuk ancaman semakin lebar  dan beragam, mulai ancaman keras hingga lunak. Misalnya perang ekonomi bisa berupa penjatuhan nilai mata uang nasional terhadap mata uang asing, melumpuhkan bursa, memanfaatkan sarana sanksi untuk mengobarkan instabilitas ekonomi atau merusak kemajuan ekonomi sebuah negara melalui penghambatan teknologi lokal.

Oleh karena itu, ancaman tidak terbatas pada serangan militer, namun mencakup beragam bentuknya baik berupa ancaman politik, ekonomi, sosial dan budaya. Antara ancaman militer dan ekonomi memiliki perbedaan dan juga kesamaan. Sisi kesamaannya adalah keduanya sama-sama merupakan ancaman. Maka dari itu, pemahaman dari keamanan dan ketahanan juga akan semakin luas seiring dengan kian rumitnya bentuk ancaman itu sendiri. Hal ini biasanya juga dibarengi dengan peningkatan keamanan nasional sebuah negara.

Dengan demikian, penjelasan dari arti keamanan kerap didengungkan pandangan kuno dan modern. Pembahasannya pun semakin melebar dari keamanan nasional, regional hingga internasional. Secara umum ketahanan dan keamanan ekonomi yang ada memiliki tiga pilar utama mencakup ?Resistensi terhadap sengatan mendadak', ?fleksebilitas dalam kondisi sulit seperti represi akibat kelangkaan barang baik itu disebabkan sanksi ataupun tidak adanya produksi serta pemasaran di sejumlah sektor ekonomi', serta ?Bersandar pada teknologi lokal dan bergerak maju dengan dibarengi dukungan produk serta kebutuhan pokok'.

Tiga pilar ini memperjelas arah strategi keamanan ekonomi. Ketiga pilar ini mencakup sisi lebih luas dari indek keamanan ekonomi yang berbeda dengan keamanan militer. Ancaman di sektor ekonomi biasanya muncul dalam bentuk perang lunak dan mayoritasnya tampak setengah tersembunyi seperti mempertahankan sebuah negara untuk tetap tergantung ekonominya. Strategi ini kerap berubah seiring dengan transformasi dan perkembangan ekonomi global  serta sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Misalnya, jika di masa lalu negara-negara memenuhi kebutuhannya melalui produk dalam negeri yang masih diolah secara tradisional, namun seiring dengan bertambahnya populasi penduduk serta bertambahnya ragam kebutuhan masyarakat, maka ketergantungan terhadap ekonomi industri semakin besar pula. Kondisi ini dimulai pasca perang dunia kedua dan pembagian dunia menjadi dua blok, Timur dan Barat.

Dalam proses pembagian dunia menjadi dua blok ini, perampokan kekayaan negara-negara lemah semakin transparan, khususnya sumber energi minyak dan gas di Timur Tengah yang menjadi motor utama penggerak ekonomi negara-negara industri. Maraknya kekuatan negara industri ini ditandai dengan membanjirnya produk mereka ke negara-negara dunia ketiga yang memiliki perbedaan nyata dalam kwalitas maupun harga. Kondisi ini hanya membuat kaya negara industri dan memperkuat produk mereka.

Masuknya Barat secara sepihak ke pasar konsumsi di negara-negara yang mereka tuju, sejatinya berubah menjadi ancaman ketergantungan ekonomi negara tersebut kepada Barat. Seiring dengan berlalunya waktu dan keberagaman kebutuhan masyarakat serta ragam sosial, ancaman tersebut dari sisi kwalitas dan kwantitas juga mengalami peningkatan. Oleh karena itu, kondisi baru ini menuntut arti darikeamanan berarti menghapus ancaman dan dengan sendirinya cakupannya pun semakin luas, selain mencakup ancaman militer juga mencakup pula ancaman ekonomi khususnya ancaman di bidang kebutuhan pertanian dan keamanan pangan. 

Oleh karena itu, definisi terbaru dari keamanan harus diperhatikan dari beragam sisi dari bentuk keamanan itu sendiri sebagai jaminan bagi sebuah negara untuk menghadapi negara lain serta kemampuan mereka menjaga nilai dan kehormatan mereka terhadap ancaman dari pihak lain. Dalam pembahasan isu keamanan ekonomi sangat ditekankan untuk memanfaatkan semaksimal mungkin produk dalam negeri dan mendukung investasi lokal. Namun perhatian dan dukungan ini akan menampakkan pengaruhnya ketika produk lokal mampu menyaingi produk luar dari sisi kwalitas. Dan tujuan dari produksi dalam negeri adalah memperkuat teknologi lokal.

Sejatinya tujuan utama ekonomi muqawama adalah untuk mencapai ekonomi yang kokoh dan aktif, sehingga mampu menghadapi represi ekonomi dari pihak luar supaya proses kemajuan nasional tidak terganggu. Dengan demikian ekonomi muqawama adalah untuk menghancurkan berbagai kendala yang mencegah kemajuan negara dan upaya untuk semakin maju. Menurut pola pandang ini, ekonomi muqawama berbeda dengan penghematan ekonomi, karena dalam pandangan ekonomi muqawama tidak ada pembatasan sumber, namun yang ada adalah pemanfaatan kekayaan dan sumber yang ada dengan sistematis. Sementara dalam penghematan ekonomi sumber alam dan investasi sangat dibatasi, sehingga terpaksa diberlakukan pembagian dan penghematan dalam konsumsi.

Berbicara mengenai ekonomi muqawama, kebutuhan politik pun tidak bisa diabaikan. Atau kita berbicara mengenai ekonomi muqawama dan kebutuhan politik, namun kita lalai akan sosialisasi dan pembudayaan muqawama yang menjadi infrastruktur dari dua isu di atas. Ekonomi muqawama dapat diartikan sebagai perbaikan pola konsumsi, kerja keras dan pengokohan budaya konsumsi produk dalam negeri serta mendukung tenaga kerja dan investasi Iran. Namun poin penting lain di sini adalah selain pembudayaan ekonomi muqawama diperlukan mekanisme pelaksanaannya di tingkat nasional dan dalam pentas diplomasi demi menghadapi sanksi.

Ekonomi muqawama berarti indentifikasi dengan benar kebutuhan dan teladan konsumsi serta urgensitas produksi untuk mengontrol serta meminimalkan dampak represi sanksi dan kelangkaan barang. Oleh karena itu Rahbar seraya menekankan pentingnya pemanfaatan pengalaman dan pelajaran masa lalu dalam pengambilan keputusan, juga menjelaskan kepada pejabat pemerintah poin-poin strategi ekonomi muqawama. Beliau menilai poin-poin tersebut sebagai landasan pemikiran dan ideologi terealisasinya semangat ekonomi muqawama. Rahbar menyebut perealisasian tujuan ekonomi muqawama membutuhkan strategi mendasar baik jangka pendek, menengah maupun jangka panjang.

Dengan demikian ekonomi muqawama merupakan kebalikan dari ketergantungan ekonomi. Oleh karena itu, ekonomi muqawama bukan sekedar sikap pasif, namun sebaliknya merupakan bentuk perlawanan dari ekonomi kapital. Ekonomi muqawama merupakan upaya untuk mengubah struktur ekonomi yang ada dan nasionalisasi sistem ekonomi berdasarkan ideologi nasional. Oleh sebab itu, ekonomi muqawama tak ubahnya sebuah strategi terpadu dan program sistematis yang ditujukan untuk mencapai kemajuan dan pembangunan ekonomi yang permanen.(IRIB Indonesia)

Add comment


Security code
Refresh