Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Kamis, 31 Desember 2015 15:12

Proyek TAPI, Antara Rencana dan Realitas

Proyek TAPI, Antara Rencana dan Realitas

Para pejabat tinggi dari Turkmenistan, Afghanistan, Pakistan, dan India pada Ahad (13/12/2015) meresmikan pembangunan jaringan pipa gas yang akan menghubungkan keempat negara itu.

 

Dalam upacara yang digelar di dekat ladang gas raksasa Galkynysh di timur Turkmenistan, Presiden Gurbanguly Berdymukhamedov, Presiden Afghanistan Mohammad Ashraf Ghani, Perdana Menteri Pakistan Nawaz Sharif, dan Wakil Presiden India Mohammad Hamid Ansari, menghadiri peresmian proyek yang disebut TAPI itu.

 

Presiden Gurbanguly mengatakan, proyek transfer gas dari Turkmenistan-Afghanistan-Pakistan-India (TAPI) direncanakan beroperasi pada Desember 2019 dan memiliki kapasitas tahunan 33 miliar meter kubik. Kontrak transfer gas Turkmenistan ke Pakistan dan India melalui wilayah Afghanistan, ditandatangani pada akhir tahun 2010 oleh pemimpin negara-negara tersebut. Proyek ini memiliki panjang 1.814 kilometer dan akan menelan biaya sekitar 8 miliar dolar.

 

Mega proyek TAPI akan mentransfer gas dari ladang gas Daulatabad di Turkmenistan menuju daerah Fazilka di India. Pada dasarnya, proyek ini akan menghubungkan kawasan Asia Tengah yang kaya energi dengan wilayah Asia Selatan yang membutuhkan banyak energi.

 

Jelas bahwa pelaksanaan setiap proyek ekonomi khususnya proyek-proyek yang melibatkan banyak negara, akan membawa dampak-dampak positif bagi perdamaian dan stabilitas regional. Jaringan transfer gas Turkmenistan ke India juga dibangun untuk tujuan tersebut. Proyek TAPI bukan hanya akan memenuhi kebutuhan gas negara-negara seperti Afghanistan, Pakistan, dan India, namun juga mendorong penguatan kerjasama di antara mereka dan menciptakan stabilitas regional. Oleh sebab itu, semua negara mitra menetapkan target tertentu dalam proyek ini.

 

Pada dasarnya, ekonomi Turkmenistan mengandalkan ekspor gas dan minyak bumi, dan untuk memperkuat posisinya di pasar internasional, negara itu aktif menarik mitra-mitra baru dan meningkatkan ekspor gasnya. Oleh karena itu, Presiden Gurbanguly mengatakan bahwa diversifikasi produk-produk energi Turkmenistan ke pasar global merupakan program perioritas kebijakan energi pemerintah.

 

Kebanyakan gas dari ladang Galkynysh, Turkmenistan saat ini dikirim ke Rusia dan salah satu tujuan pemerintah Ashgabat dari pengerjaan proyek TAPI adalah mengurangi ketergantungan negara itu pada ekspor gas. Pemerintah Kabul juga ingin memenuhi kebutuhan gasnya melalui proyek tersebut dan berharap ia akan berdampak pada transformasi di Afghanistan, terutama untuk pembangunan perdamaian dan keamanan serta pertumbuhan ekonomi.

 

Jaringan pipa gas TAPI merupakan salah satu proyek raksasa di kawasan yang melewati wilayah Afghanistan. Dapat dikatakan bahwa tantangan utama pengerjaan proyek ini berada di wilayah Afghanistan. Jaringan pipa gas TAPI akan memasuki Afghanistan setelah rampungnya pembangunan di timur laut Turkmenistan sepanjang 147 kilometer. Jalur pipa ini melewati daerah Herat sampai Kandahar sepanjang 735 kilometer, dan kemudian melalui Quetta dan Multan di Pakistan. Fazilka di India akan menjadi destinasi terakhir jaringan pipa TAPI.

 

Setelah proyek itu rampung, Afghanistan akan memperoleh keuntungan 400-500 juta dolar per tahun sebagai hak transit. Sekitar 12 ribu tenaga kerja juga akan terserap dan menyediakan lapangan kerja bagi perusahaan-perusahaan kecil dan besar Afghanistan. Proyek TAPI pada satu dekade pertama akan memenuhi 500 juta meter kubik kebutuhan gas Afghanistan per tahun, dan 1 miliar meter kubik pada dekade berikutnya, dan pada dekade ketiga akan meningkat menjadi 1,5 miliar meter kubik.

 

Pakistan yang berjuang dengan krisis energi juga sangat membutuhkan pasokan gas dari negara-negara di kawasan, termasuk Turkmenistan. Dengan populasi 180 juta jiwa, Pakistan menghadapi peningkatan konsumsi energi antara 8-10 persen per tahun dan diperkirakan negara itu akan tetap membutuhkan pasokan gas 70 juta meter kubik per hari pada tahun 2020. Jika Pakistan mengalami pertumbuhan ekonomi yang rasional, maka kebutuhan konsumsi gas negara itu akan mencapai sekitar 290 juta meter kubik pada tahun 2025.

 

Pakistan juga menerima biaya transit melalui pengiriman gas ke India. Selain sektor ekonomi dan energi, pemerintah Islamabad juga mengincar kepentingan politik dalam proyek TAPI. Tidak diragukan lagi bahwa Pakistan memandang Afghanistan sebagai halaman belakangnya. Kelompok Taliban menjadi salah satu senjata efektif Islamabad untuk mempengaruhi transformasi di Afghanistan.

 

Masalah pengamanan jalur pipa gas TAPI dinilai sangat penting karena mega proyek ini akan melintasi Provinsi Helmand dan Kandahar, di mana Taliban memiliki pengaruh besar di wilayah tersebut. Untu itu, Pakistan ingin menyerahkan urusan keamanan proyek TAPI di wilayah itu kepada Taliban. Dengan cara ini, pemerintah Islamabad bisa memperkuat posisi Taliban di Afghanistan sekaligus memperoleh uang jasa pengamanan proyek.

 

Menteri Pertahanan Pakistan Khwaja Mohammad Asif baru-baru ini mengatakan mereka akan menggunakan pengaruhnya pada Taliban untuk keamanan pipa gas TAPI. Ketika ditanya tentang rencana Pakistan menggunakan pengaruhnya terhadap kelompok-kelompok militan Afghanistan, terutama Taliban untuk keamanan proyek pipa gas, Mohammad Asif menegaskan, "Tentu saja, kami akan menggunakannya. Untuk kepentingan kita, kita akan mengambil langkah positif.”

 

Komentar itu sontak mengundang penentangan luas di Kabul dan mereka menyebutnya sebagai intvervensi dalam urusan Afghanistan. Pemerintah Kabul menegaskan bahwa militer dan aparat keamanan Afghanistan bertanggung jawab untuk keamanan jaringan pipa gas TAPI, dan rencana Islamabad untuk merekrut pasukan Taliban merupakan sebuah penghinaan kepada rakyat Afghanistan.

 

India juga sedang menghadapi pertumbuhan ekonomi dan peningkatan konsumsi energi. India merupakan negara keempat dengan konsumsi energi terbesar di dunia dan tingkat konsumsi gas alam di negara itu sekitar 37,24 persen dari total kebutuhan energi India. Menurut keterangan menteri perminyakan India, tingkat produksi gas alam India dari tahun 2016-2017 mencapai 112 juta meter kubik. Selain itu, permintaan gas alam India dari tahun 2018-2019 juga meningkat sebesar 30 persen.

 

Pemerintah India sangat membutuhkan pasokan gas. Oleh sebab itu, India dalam beberapa tahun terakhir berusaha memenuhi kebutuhan gasnya dari negara-negara seperti, Republik Islam Iran dan Turkmenistan.

 

Proyek pipa gas TAPI dianggap sangat urgen dengan memperhatikan kebutuhan dan harapan masing-masing negara mitra. Meskipun Turkmenistan tidak memiliki masalah dengan mitra-mitranya dalam proyek TAPI dan menjalin hubungan baik dengan mereka, namun tiga negara Afghanistan, Pakistan, dan India sama-sama menyimpan masalah dan terlibat perseteruan. Hubungan ekonomi yang terjalin melalui proyek ini diharapkan bisa mengakhiri konflik dan ketegangan mereka.

 

Energi merupakan tantangan kolektif Afghanistan, Pakistan, dan India, dan mereka membutuhkan kerjasama untuk memenuhi pasokan energi. Jadi, tidak heran jika proyek pipa gas TAPI mendapat sambutan dari New Delhi, Kabul, dan Islamabad.

 

Menyangkut masalah keamanan mega proyek itu, Amerika Serikat disebut telah meminta Pakistan untuk berunding dengan Taliban terkait pengamanan proyek TAPI. Sementara itu, Dewan Pusat Taliban Afghanistan menyatakan bahwa pejabat Islamabad sama sekali belum mengontak mereka untuk membicakan masalah keamanan. Pemerintah Kabul juga menentang keras keputusan tersebut.

 

India tampaknya mengkhawatirkan dampak kendali Taliban atas sebagian jalur pipa gas TAPI selama perdamaian belum tercipta di Afghanistan. Karena, New Delhi masih terlibat perang dengan Taliban dan India juga menganggap Taliban sebagai lengan pemerintah Pakistan. (IRIB Indonesia/RM)

Add comment


Security code
Refresh