Perang Lunak Ekonomi dalam Perspektif Rahbar

Font Size

Print

SHARE

Tweet it Digg it Google

 

Selama 34 tahun, gelombang serangan musuh terhadap Revolusi Islam tidak pernah surut, apalagi berhenti. Bentuknya pun semakin beragam dan kompleks, mulai dari serangan militer hingga embargo ekonomi. Menghadapi derasnya serangan dan tekanan tersebut pemerintah Iran telah menyiapkan dan menerapkan sejumlah strategi sebagaimana arahan Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei.

 

Di bidang ekonomi, Rahbar mencanangkan beberapa tahun belakangan ini sebagai tahun ekonomi di antaranya: Tahun Reformasi Pola Konsumsi, Tahun Kerja Ekstra, kemudian Tahun Jihad Ekonomi, dan tahun ini dinamai dengan Tahun Produksi Nasional: Mendukung Kerja dan Modal Iran. Dengan menyadari secara penuh perang ekonomi yang dilancarkan musuh dan tujuannya untuk menekan Iran, Ayatullah Khamenei menegaskan bahwa salah satu solusi menghadapi sanksi Barat adalah ekonomi muqawama.

 

Menyikapi hegemoni Barat di tengah laju perkembangan sains dan teknologi yang sangat pesat dewasa ini, Rahbar menyebut ilmu pengetahuan sebagai modal penting bagi bangsa-bangsa dunia, juga bagi Iran. Menurut beliau, ekonomi yang berlandaskan pada ilmu dan pengetahuan berperan besar dalam menjunjung tinggi martabat bangsa dan kedaulatan negara.

 

DI tengah derasnya represi politik, embargo ekonomi dan propaganda Barat yang membayangi langkah Iran mencapai cita-citanya, Rahbar menandaskan bahwa tekad baja bangsa Iran untuk menggapai cita-cita mereka tidak bisa dihalangi oleh kekuatan manapun di dunia.

 

Ayatullah Khamenei menilai salah satu cara untuk melewati kondisi sensitif dan menentukan saat ini adalah keseriusan semua elemen bangsa dan negara untuk mewujudkan agenda ekonomi muqawama. Beliau menekankan, resistensi ekonomi bukan sekedar slogan, namun target yang harus direalisasikan. Menurut Rahbar pertumbuhan ekonomi akan terwujud jika didukung produksi yang berlandaskan kemajuan sains dan teknologi.

 

Ayatullah Khamenei menilai produksi dan pendapatan nasional melalui sumber-sumber yang pasti habisnya seperti minyak adalah penipuan terhadap diri sendiri. "Menjual barang mentah adalah warisan tahun-tahun sebelum kemenangan revolusi Islam dan sangat disayangkan negara saat ini masih tetap terlena dan melakukannya. Harus ada upaya untuk menyelamatkan bangsa  Iran dari jebakan ini," tegas Rahbar. Beliau menilai sangat penting untuk menghentikan ekspor barang mentah dan menegaskan, untuk sampai pada kondisi ini hanya dapat diraih dengan mengandalkan kemampuan perusahaan nasional yang bergerak di bidang sains dan teknologi.

  

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran menilai ekonomi sebagai titik bidik target musuh. Tujuan musuh melancarkan sanksi terhadap Iran adalah memusatkan pada masalah ekonomi untuk menjegal kemajuan nasional, menghambat lapangan kerja, dan mengganggu kesejahteraan nasional, serta menimbulkan masalah bagi masyarakat. Semua itu dilakukan untuk memisahkan masyarakat dari Republik Islam. Untuk itu, mereka menempuh segala cara untuk memperlemah ekonomi Iran. Terkait hal ini Rahbar mengatakan, "Musuh hanya masuk melalui pintu ini dan mereka melakukan segala cara untuk mewujudkannya."

 

Di sisi lain, Rahbar menyatakan, Barat tidak menyadari bahwa mereka telah membuat bangsa Iran kebal menghadapi segala bentuk sanksi karena berbagai batasan yang diberlakukan selama tiga dekade terakhir. "Sekarang Barat menciptakan propaganda soal sanksi terhadap Iran akan tetapi mereka tidak menyadari bahwa mereka sendiri yang telah membuat bangsa ini kebal sanksi dengan berbagai batasan yang diberlakukan dalam 30 tahun terakhir," kata Rahbar, Rabu (11/7).

 

Ayatullah Khamenei menegaskan bahwa selama tiga dekade terakhir Iran telah melawan semua konspirasi dan sanksi dengan mengorbankan nyawa, kekayaan, dan orang-orang yang mereka sayangi. Menurut beliau, tujuan utama embargo yang dijatuhkan kubu arogan dunia adalah untuk menyusahkan kehidupan rakyat Iran. dengan target memisahkan rakyat dari pemerintahan Islam. Tapi berkat inayah Allah Swt konspirasi itu akan berakhir dengan kegagalan. Sampai saat ini mereka masih belum mengenal para pemimpin dan rakyat Iran dengan baik. Rahbar menegaskan bahwa tipuan dan makar musuh sudah dikenal dengan baik oleh rakyat Iran. Karena itu, rakyat hadir di semua kancah dengan semangat yang tinggi, dan para pejabat negara juga benar-benar bekerja keras.

 

Tidak diragukan lagi kekuatan hegemoni global tidak menghendaki kemajuan Iran yang berpijak pada demokrasi religius. Negara-negara arogan, yang tidak lain adalah para imperialis dahulu, berupaya menjegal Iran menjadi model bagi kawasan dan dunia.Sebab, jika hal itu terwujud maka akan terjadi perubahan besar meluasnya gelombang kebangkitan Islam. Barat khawatir Iran akan menjadi pijakan penting bagi nasib bangsa-bangsa regional dan global. Untuk itu sebagaimana dilakukan selama bertahun-tahun, mereka senantiasa melancarkan berbagai konspirasi dan perang lunak terhadap Republik Islam. Kini, dengan terbentuknya gerakan revolusi negara-negara kawasan dan menjadikan Revolusi Islam Iran sebagai model bagi negara lain, negara-negara arogan dunia berupaya mengucilkan Tehran di arena internasional dan menjegal kemajuannya dari berbagai sisi.

 

Menyinggung upaya keras Amerika Serikat untuk memblokade Iran dari segala penjuru, Rahbar mengatakan, "Justeru AS saat ini sedang dililit masalah yang serius dan tak terpecahkan. Sedangkan Iran, dengan inayah Allah, punya semua hal yang diperlukannya." Beliau menambahkan, "Iran saat ini memiliki kapasitas kekayaan negara yang besar, rakyat yang baik, sumber daya manusia yang berlimpah dan tidak terlilit utang dunia. Dalam kondisi seperti ini, musuh mengerahkan semua daya dan kemampuannya untuk menekan kemampuan Iran memanfaatkan semua potensi yang dimilikinya. Di sisi lain, para pejabat di negara ini berusaha keras untuk menggagalkan konspirasi musuh tersebut." Beliau mengingatkan bahwa janji Allah kepada siapa saja yang berjuang di jalan-Nya pasti akan terlaksana.

 

AS dan negara-negara Barat mengira sanksi bisa menghambat roda produksi industri Iran. Tapi mereka keliru, karena faktanya tidak demikian, bahkan bertolak belakang meski dilalui dengan penderitaan di bahawa sanksi. (IRIBIndonesia)

Tags:

Comments

Name
Mail Address
Description