Karisma dan Kepemimpinan Handal Imam Khamenei
Sikap tegas, transparan, ikhlas dan kejujuran Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei membuat berbagai bangsa optimis atas keberadaan seorang manusia suci yang memimpin sebuah masyarakat. Salah satu kekhawatiran setiap revolusi adalah masa pasca kemenangan kebangkitan tersebut. Oleh karena itu, musuh pun membidik pemimpin revolusi untuk merusak revolusi itu sendiri. Revolusi Islam Iran pun tidak terlepas dari kondisi ini.
Kondisi pasca kepemimpinan Imam Khomeini merupakan saat yang sangat sensitif baik bagi sahabat maupun musuh revolusi di dekade pertama kemenangan revolusi Islam. Wafatnya pendiri Republik Islam Iran di 3 June 1989 bertepatan dengan kondisi paling sensitif di negara yang baru berhasil menumbangkan rezim despotik ini. Anggapan dan analisa musuh mengatakan bahwa akhir dari usia Imam Khomeini juga berarti akhir dari revolusi Islam Iran.
Musuh dengan bersandar pada angan-angan dan prediksi mereka membayangkan akan terjadi perebutan kekuasaan di Iran dan runtuhnya pemerintahan Republik Islam Iran. Namun lagi-lagi mereka lalai bahwa Revolusi Islam dibentuk dan menang berkat nilai-nilai Islam serta dukungan penuh rakyat. Dan faktor ini juga menjadi landasan bagi berlangsungnya Revolusi Islam meski musuh gencar melancarkan konspirasi busuknya. Ini merupakan poin yang gencar ditekankan Imam Khomeini selama memimpin Iran kepada para pecinta revolusi.
Sejatinya sikap Imam Khomeini ini ditujukan untuk mempersiapkan Iran setelah kepergian beliau nanti, sehingga di negara ini tidak terjadi kekosongan kepemimpinan. Tak lama setelah wafatnya Imam Khomeini, Dewan Ahli Kepemimpinan (Majles-e Khobregan) menunjuk Imam Khamenei sebagai pengganti Imam dan hal ini membuyarkan angan-angan musuh pasalnya Rahbar Iran yang baru ini langsung mendapat dukungan penuh rakyat. Musuh pun langsung kebingungan. Kini setelah lebih dari dua dekade, pemimpin Revolusi Islam ini mampu menyelamatkan revolusi meski menghadapi gelombang krisis politik di dalam negeri, regional dan internasional. Kecerdikan beliau dan kekuatan Revolusi Islam dalam hal ini sangat berpengaruh bagi eksistensi perjuangan bangsa Iran.
Kepemimpinan (Rahbari) di Islam bersandar pada ideologi Islam dan kini posisi khusus rahbari di sistem manajemen baru semakin kokoh. Syahid Murtada Mutahhari menulis, "Rahbari dan manajemen yang beredar saat ini dengan berbagai kemajuannya jika kita ingin menemukan sinonimnya di Islam, maka harus dikatakan bahwa rahbari juga berarti mencerahkan dan membimbing. Kekuatan rahbari tak berbeda dengan kekuatan hidayah dan petunjuk. Arti dari kematangan adalah kematangan jiwa, kelayakan dan potensi pribadi untuk memanfaatkan dan menjaga dengan benar sarana serta modal kehidupan."
Di bagian lain Syahid Murtada Mutahhari menulis, " Salah satu modal terpenting adalah sumber daya manusia dan memanej modal, menjaga, tidak mensia-siakan serta pemanfaatan benar dari sumber daya tersebut adalah kematangan dan kemajuan itu sendiri." Sejatinya memelihara dan mengelola potensi merupakan kata lain dari kematangan yang dewasa ini disebut rahbari atau sistem manajemen.
Di sistem pemerintahan Republik Islam, rahbari memiliki posisi tertinggi dan kewenangan besar. Rahbari di Islam memiliki syarat yang berat. Syahid Murtada Mutahhari menilai cinta kepada rakyat termasuk salah satu syarat tersebut. Murtada Mutahhari menulis, "Kekuatan cinta dari segi sosial termasuk kekuatan besar dan berpengaruh. Masyarakat terbaik adalah masyarakat yang dipimpin berdasarkan cinta. Rasa cinta pemimpin merupakan faktor besar bagi stabilitas dan kelanjutan pemerintah. Selama tidak ada rasa cinta, seorang pemimpin tidak akan mampu mendidik rakyat yang berundang-undang dan disiplin meski di masyarakat tersebut keadilan berjalan dengan baik. Rakyat akan mentaati undang-undang ketika melihat pemimpinnya mencintai mereka. Sejatinya, kecintaan pemimpin yang mendorong rakyat untuk taat."
Imam Khamenei sebagai pemimpin tertinggi di Iran memiliki keistimewaan ini dalam memimpin negara dan merealisasikan cita-cita Revolusi Islam. Kepemimpinan beliau sangat berani dan tegas. Hal ini sangat menguntungkan Revolusi sehingga terjaga dari konspirasi musuh. Rahbar menilai kekuatan dan independensi politik dapat diraih dengan memperkokoh sendi-sendi sains serta ekonomi, budaya dan sosial. Oleh karena itu, tak heran Rahbar di setiap pidatonya senantiasa menekankan rakyat untuk aktif membangun infrastruktur negara.
Sebagai pemimpin tertinggi di Iran, Rahbar memiliki doktrin politik yang tegas di kebijakan luar negeri khususnya sikap tegas dan keras terhadap negara arogan dan imperialis dunia. Di berbagai kesempatan beliau mengatakan, "Dunia dewasa ini dikuasai imperialis dunia... Sistem imperialis yakni ketika sebuah negara dengan kekerasan dan tidak malu-malu menekan serta menguasai negara lain." Di ideologi Imam Khamenei, di manapun pemerintahan Islam terbentuk maka di sana pulalah muncul gelombang anti kezaliman dan penjajahan serta pelecehan rakyat.
Menurut Rahbar ketika sebuah bangsa menyerah pada kekuatan arogan dunia dan mengabaikan kemuliaan serta tekad rakyat banyak maka mereka akan terjebak di kubangan kehinaan yang tak terbatas. Adapun pemerintah yang tunduk dan mengikuti doktris kekuatan arogan dunia maka pemerintahan seperti ini sangat lemah dan mudah ditelan oleh imperialis dunia. Di sinilah sebuah bangsa akan kehilangan kehormatan dan kemuliaan mereka.
Rahbar menjelaskan bahwa bangsa Iran telah mengenalkan kepada bangsa-bangsa lain akan model sebuah negara dan bangsa yang maju dengan Islam dan tegar dalam melawan hegemoni kekuatan asing dan berhasil menggetarkan nyali adidaya dunia. Bangsa Iran akan terus melanjutkan langkahnya menuju puncak kejayaan. Tak diragukan bahwa masa depan bangsa-bangsa Muslim dan bangsa Iran akan lebih baik dari sebelumnya.
Sekali lagi karisma dan akhlak beliau senantiasa membuat orang-orang yang menemui beliau tunduk dan memujinya. Karisma seorang pemimpin ini bukan hanya dirasakan oleh rakyat Iran. Bahkan warga asing pun mengakuinya. Zainal Abidin Haidari seorang wartawan Irak mengatakan, "Kebanyakan keluargaku adalah ulama terkemuka Irak dan saya memiliki hubungan luas dengan ulama di negeriku, namun ketika saya melihat Imam Khamenei, saya sangat terpengaruh dengan akhlak beliau. Beliau adalah satu-satunya ulama yang ketika memandangnya saya langsung mengucurkan air mata. Pasca pemilu, beliau dengan tegar mampu mambawa Iran keluar dari krisis yang ada. Ketika proses pengayaan uranium Iran ditangguhkan untuk sementara, Rahbar langsung tampil dan menginstruksikan dilanjutkannya pengayaan uranium. Dan saat ini beliau juga mampu membuat Barat kebingungan dan menemui jalan buntu menghadapi program nuklir sipil Iran." (IRIB Indonesia)