Penolakan Iran Atas Senjata Nuklir Dalam Perspektif Agama

Font Size

Print

SHARE

Tweet it Digg it Google

Teknologi nuklir damai merupakan salah satu kemajuan terbesar yang dicapai umat manusia hingga kini. Teknologi ini terbukti memberikan kontribusi besar kepada manusia. Teknologi ini telah menyumbangkan andilnya yang besar di berbagai sektor seperti kedokteran, pertanian, farmasi dan industri. Mengingat perannya yang cukup besar dikehidupan manusia, maka tak heran saat ini berbagai negara dunia mulai melirik teknologi ini untuk memenuhi kebutuhan yang kian mendesak.

 

Dalam hal ini Republik Islam Iran juga tak ketinggalan. Negara yang dijatuhi sanksi Barat ini sejak sebelum kemenangan Revolusi Islam telah memulai program nuklir damainya. Namun lagi-lagi konspirasi musuh Islam terus merongrong negara ini. Meski dijatuhi sanksi bertubi-tubi, Republik Islam ternyata mampu memanfaatkan sanksi ini menjadi peluang untuk meraih kemajuan di berbagai bidang, khususnya teknologi nuklir damai.

 

Iran sendiri lebih condong memanfaatkan teknologi nuklir untuk kepentingan damai ketimbang membuat senjata pemusnah massal. Hal ini juga ditegaskan Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei, atau Rahbar. Beliau  menyatakan bahwa dunia telah membuktikan bahwa kepemilikan senjata nuklir bukan mendatangkan kekuatan. Kekuatan tidak datang dari senjata nuklir, karena kekuatan yang bangkit dari senjata nuklir juga dapat dikalahkan, dan bangsa Iran akan mengalahkannya. 

 

Ketika bertemu  dengan ketua dan para pejabat Badan Energi Atom Iran serta para ahli nuklir Iran. Beliau menilai puncak keberhasilan para ahli Iran di bidang ilmu pengetahuan nuklir adalah menciptakan kemuliaan dan kepercayaan diri bangsa, serta teladan bagi bangsa-bangsa regional dan dunia bahwa setiap bangsa mampu melawan tekanan dan menggapai independensi serta mematahkan semua monopoli ilmiah kekuatan imperialis.

 

Ditegaskan beliau, "Bangsa Iran tidak sedang mengejar senjata nuklir dan tidak akan mengejarnya karena senjata nuklir tidak mendatangkan kekuatan, akan tetapi sebuah bangsa yang mengandalkan pada kemampuan dan kapasitas tinggi sumber daya manusia dan alamnya, dapat mengalahkan kekuatan yang mengandalkan senjata nuklir."

 

Menurut Rahbar, "Sumber daya manusia yang efektif, cerdas, ahli, berpikiran terbuka, dan bersemangat, merupakan nikmat dari Allah Swt dan meski kemajuan para ilmuwan muda Iran di bidang nuklir memiliki banyak dimensi, akan tetapi dimensi yang paling penting adalah mampu menciptakan kemuliaan pada diri bangsa Iran." "Berbeda dengan propaganda yang menyatakan bahwa bangsa Iran dan pemuda negara ini tidak mampu, akan tetapi setiap perkembangan dan kemajuan ilmiah yang dicapai membuktikan bahwa bangsa ini mampu."

 

Beliau menilai perkembangan ilmiah dan teknologi nuklir berkaitan dengan kepentingan nasional serta masa depan negara dan mengatakan, "Sejumlah negara yang dengan memonopoli ilmu pengetahuan secara ilegal, mereka menguasai dunia dan menyebut diri mereka sebagai masyarakat internasional, khawatir atas bocornya ilmu pengetahuan ke [tangan] bangsa-bangsa dan oleh karena itu mereka menggelar agitasi dan kontroversi anti-bangsa Iran."

 

Rahbar menyebut penggunaan ilmu pengetahuan untuk aksi-aksi premanisme sebagai kejahatan terbesar anti-kemanusiaan seraya menegaskan, "Jika bangsa-bangsa dapat secara independen mencapai perkembangan bidang-bidang nuklir, antariksa, teknologi, ilmiah, dan industri, maka tidak ada lagi celah bagi premanisme kekuatan arogan dunia." Menyinggung terbobolnya monopoli iptek kekuatan imperialis oleh Iran, Rahbar mengatakan, "Jalan kemajuan ilmiah di berbagai bidang khususnya teknologi nuklir harus dilanjutkan dengan kekuatan penuh dan keseriusan, dengan bersandar pada [pertolongan] Allah Swt dan tanpa memperhatikan propaganda kaum imperialis."

 

Beliau juga menekankan kembali bahwa "Tidak diragukan pihak-pihak pengambil keputusan di negara-negara di hadapan kita mengetahui bahwa Iran tidak mengejar senjata nuklir, karena dari sisi keyakinan, pemikiran, dan hukum fiqih, kepemilikan senjata nuklir adalah dosa besar dan berkeyakinan bahwa menyimpan senjata tersebut merupakan aksi sia-sia, merugikan, dan sangat berbahaya." Ayatullah Khamenei kembali menegaskan bahwa Republik Islam Iran ingin membuktikan kepada dunia bahwa kepemilikan senjata nuklir tidak mendatangkan kekuatan, bahkan kekuatan yang mengandalkan senjata nuklir dapat dikalahkan dan bangsa Iran akan melakukannya.

 

Sikap tegas Rahbar yang mengharamkan senjata nuklir sesuai dengan fikih Islam. Islam sangat menekankan untuk menjaga hak asasi manusia. Bahkan sikap manusiawi terhadap musuh sekalipun di medan perang juga ditekankan dalam ajaran Islam. Agama ini melarang umatnya ketika berperang membunuh warga sipil dari musuh, tawanan atau merusak lingkungan serta hewan ternak. Disebutkan dalam riwayat bahwa ketika akan melapas muslimin untuk berperang, Rasul Saw, bersabda, janganlah kalian membunuh orang tua, mereka yang bisu atau tuli dan wanita, jangan pula menebangi tumbuhan. Imam Ali as di kitab Nahjul Balaghah berkata, Jika musuh telah kalah, jangan sampai kalian membunuh mereka yang melarikan diri atau terluka. Para wanita mereka juga jangan dilecehkan.

 

Sementara itu, dalam pemerintahan Islam menjaga negara merupakan sebuah kewajiban. Allah Swt dalam al-Quran juga memerintahkan umat Islam untuk memperkuat diri menghadapi musuh. Allah juga mengharuskan muslimin memanfaatkan strategi dan sistem pertahanan terbaik dalam hal ini. Dengan mempelajari ajaran Islam dan sejarah pemuka agama kita dapat menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan sistem pertahanan ini adalah sebuah sistem konvensional.

 

Berdasarkan sunnah Rasul dan Imam Ali, memerangi musuh bukannya tidak ada batasannya. Dalam hal ini terdapat garis merah yang harus dipatuhi umat Islam. Misalnya saja di perang Siffin, tentara Muawiyah merupakan pihak pertama yang memblokir dan menguasai sumber air serta melarang tentara Imam Ali mengambil air minum dari sumber tersebut. Namun ketika pihak Imam Ali berhasil merebut sumber air itu, beliau tetap mengijinkan tentara Muawiyah untuk mengambil air dan tidak memanfaatkannya untuk mengalahkan musuh. Dengan demikian menurut ajaran Islam memerangi musuh bukan berarti dengan menghalalkan segala cara.

 

Sikap Iran yang tidak berniat memproduksi senjata pemusnah massal berulangkali ditekankan baik oleh Rahbar maupun petinggi negara lainnya. Ayatullah Khamenei secara transparan merilis fatwa haram produksi senjata nuklir. Fatwa ini bagi mereka yang mengerti walau sedikit atas dasar-dasar fiqih yang melandasi fatwa ulama merupakan hal yang wajar dan dapat diterima. Fatwa ulama Islam khususnya Syiah, ketika dirilis oleh seorang Vali Faqih merupakan hal yang mutlak dan tidak boleh dibantah. Karena itulah, beberapa waktu lalu, Perdana Menteri Turki Recep Tayyib Erdogan kepada Menlu AS, Hillary Clinton menegaskan bahwa ia harus menerima fatwa Ayatullah Khamenei terkait pengharaman senjata nuklir, karena fatwa ini dirilis oleh Vali Faqih dan hukum seperti ini tidak dapat diganggu gugat.

 

Iran memandang senjata nuklir tidak akan membawa kemenangan bagi pemiliknya. Negara ini menekankan akan menang melawan musuh tanpa mempergunakan senjata pemusnah massal. Ayatullah Khamenei menekankan,"Bangsa Iran tidak sedang mengejar senjata nuklir dan tidak akan mengejarnya karena senjata nuklir tidak mendatangkan kekuatan, akan tetapi sebuah bangsa yang mengandalkan pada kemampuan dan kapasitas tinggi sumber daya manusia dan alamnya, dapat mengalahkan kekuatan yang mengandalkan senjata nuklir."

 

Petinggi Iran mulai dari Presiden Mahmoud Ahmadinejad sampai menteri, anggota parlemen serta tokoh-tokoh lainnya juga mengapresiasi fatwa Ayatullah Khamenei dan menekankan bahwa Tehran tidak sedang mengejar senjata nuklir. Program nuklir Iran sepenuhnya damai dan berada di bawah pengawasan Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Lagi pula, Iran adalah penandatangan Traktat Non Proliferasi Nuklir (NPT) yang melarang penyebaran senjata inkonvensional ini di dunia. Klaim-klaim palsu Amerika Serikat dan sekutunya terkait program nuklir sipil Iran sepenuhnya tak berdasar dan sekedar propaganda untuk menekan serta memojokkan Republik Islam Iran.(IRIB Indonesia)

Tags:

Comments

Name
Mail Address
Description