Surat Wasiat Rahbar di Masa Perjuangan Revolusi Islam

Font Size

Print

SHARE

Tweet it Digg it Google

"Saya diminta Imam Khomeini pergi ke Mashhad untuk menyampaikan pesan kepada Tuan Milani dan Tuan Qomi, juga pesan lain untuk ulama Mashhad. Dalam pesan untuk ulama Mashhad disebutkan, bersiaplah untuk berjuang. Zionis sedang berusaha menguasai negara. Politik dan ekonomi Iran ada dalam genggamannya."

 

Menjelang peringatan tahunan kemenangan Revolusi Islam Iran, biasanya banyak kisah-kisah yang dinukil dari tokoh-tokoh yang terlibat dalam Revolusi. Namun, karena banyak kisah-kisah Revolusi dikutip dari figur-figur yang "itu-itu saja," tersirat kesan eksklusif dari riwayat tentang Revolusi. Di tengah semua ini, hal yang menarik perhatian adalah kerendahan hati Ayatullah Khamenei dalam menukil kenangan tentang Imam dan Revolusi. Beliau tidak seperti sejumlah tokoh politik lain yang memanfaatkan nama Imam untuk menjustifikasi tindakan mereka, atau bahkan menisbatkan kepada Imam hal-hal yang jelas bertentangan dengan garis beliau dalam bentuk kenangan-kenangan pribadi. Rahbar bukan hanya tak pernah berbuat seperti ini, bahkan beliau tak pernah mengulang-ulang kenangan yang jelas nyata dan telah dinukil orang lain terkait dengan pribadinya. Kenangan-kenangan berikut ini adalah sebagian dari kisah-kisah Rahbar dari awal hingga akhir Revolusi Islam:

 

Masa muda saya penuh dengan gejolak dan semangat. Baik sebelum dimulainya Revolusi, yang berkaitan dengan aktivitas kesastraan dan kesenian, atau setelah dimulainya Revolusi di tahun 1341 Hs. Saat itu, saya berusia 23 tahun. Tentu saja kami terlibat dalam pusat gejolak politik masa itu. Di tahun 1342, saya dua kali masuk penjara; ditangkap, dikurung, dan diinterogasi. Anda tentu tahu bahwa semua ini membuat orang bersemangat. Ketika dia keluar dan menyaksikan masyarakat turun ke jalan di bawah komando seorang pemimpin seperti Imam Khomeini, maka semangatnya kian bergelora. Oleh karena itu, hidup orang-orang seperti saya penuh dengan gejolak dan semangat. Tapi tidak semua orang seperti ini. Waktu itu, orang-orang yang lebih tua dari kami berbicara begitu rupa, hingga kami heran bagaimana mereka bisa berpikir semacam itu? Sekarang saya melihat bahwa ternyata mereka berbicara bukan tanpa alasan. Tentu saat ini saya belum meninggalkan gejolak muda. Saya masih merasakan sesuatu dari masa muda saya tersebut. Tapi orang-orang yang terlanjur tenggelam dalam masa tua, tak bisa merasakan kenikmatan yang dicicipi pemuda dari hidup. Begitulah kondisi saat itu.

 

Saat itu, yang mendominasi adalah situasi kelalaian dan tanpa identitas. Saya dan mereka yang berpikir tentang perjuangan seperti saya, berusaha semaksimal mungkin melindungi kawula muda dari pengaruh budaya rezim. Contohnya, saya sering pergi ke masjid untuk mengajar tafsir dan berceramah. Kadang saya juga pergi berdakwah ke daerah-daerah. Fokus saya adalah mengeluarkan generasi muda dari perangkap budaya rezim. Saat itu, saya menyebutnya "jala tak kasat mata." Saya selalu mengatakan, ada jala tak kasat mata yang menarik semua orang ke arah tertentu. Sebisa mungkin saya berupaya merobek jala ini dan mengeluarkan para pemuda yang terperangkap di dalamnya. Siapa pun yang bebas dari jala itu–yang diindikasikan dengan perhatian terhadap agama dan kecenderungan kepada pemikiran Imam Khomeini–berarti dia telah mendapat semacam imunitas. Belakangan, generasi itulah yang menjadi asas utama Revolusi. Kini, saat melihat masyarakat kita, saya bisa mengenali banyak figur dari generasi itu, baik yang dulu berhubungan dengan saya atau tidak.

 

Berkat taufik dari Allah, saya terlibat dalam kebangkitan Imam sejak awal. Partisipasi awal kami dalam perjuangan masih dalam bentuk sederhana, seperti mencetak selebaran dan menyebarkannya. Kami juga berdiskusi dengan mereka yang masih belum memahami inti kebangkitan. Kami membawa selebaran dari Qom ke Teheran dan sebaliknya, lalu menyebarkannya kepada rakyat. Di awal kebangkitan, masih belum ada pertemuan. Secara bertahap, diadakanlah pertemuan-pertemuan yang diprakarsai Jameeh Modarresin. Saya sempat hadir dalam salah satu pertemuan yang diadakan di rumah Ayatullah Meshkini.

 

Waktu itu, kami masih belum menemui masalah. Tak ada orang yang merasa takut. Ketika Imam berkata di atas mimbar bahwa rakyat akan diundang ke gurun panas Qom (untuk menentukan keputusan), kami begitu bersemangat dan tak pernah menduga bakal ada masalah. Para pedagang Qom datang ke kelas Imam dan berkata, "Karena pemerintah tak menjawab tuntutan ulama, kami akan mogok. Anda juga harus meliburkan pelajaran dan menentukan tugas rakyat." Rakyat benar-benar khawatir, demikian pula ulama. Akhirnya, setelah dua bulan berlalu, pemerintah menghapus draf Anjoman-haye Velayati (Negara Federal Iran). Penghapusannya diumumkan di koran-koran. Rakyat gembira menyambut berita ini. Para pemuda Qom memberi kami ucapan selamat kepada kami saat bertemu di jalanan. Kami seperti tak akan mendapat masalah lagi. Tapi tiba-tiba Shah mengadakan referendum terkait Enam Pasal. Saat itu, saya ada di Mashhad karena bulan Ramadan telah menjelang. Ayatullah Milani menulis surat untuk Imam. Saya bersama Sayid Mohammad dan Syaikh Ali Agha membawa surat itu ke Qom. Kami sampai di Teheran tanggal 6 Bahman. Sehari sebelumnya, Shah berpidato di Qom. Tanggal 6 Bahman, Teheran sunyi dan mencekam. Saya melihat sejumlah orang yang mengisi kotak suara. Entah mereka rakyat atau dari kalangan pemerintah. Kami langsung berangkat menuju Qom dan segera menemui Imam.

 

Di Qom, tanda-tanda adanya teror dari rezim Shah begitu jelas. Itu kali pertama kami menyaksikan intimidasi rezim dari dekat. Dalam kurun waktu beberapa hari, Imam mengeluarkan sejumlah selebaran. Hasilnya, rakyat memboikot referendum Shah. Kotak-kotak suara tak dihiraukan sama sekali. Begitu pula di Mashhad. Rakyat Teheran berunjuk rasa menentang Enam Pasal tersebut.

 

Surat Wasiat Bersejarah

Mengingat kami dalam situasi genting dan ancaman bahaya, esok harinya saya menulis surat wasiat. Hingga beberapa minggu lalu, saya tidak tahu keberadaan surat wasiat ini. Tapi Sayid Jakfar membawanya kepada saya. Dia berkata, putranya menemukan surat wasiat itu di antara kertas-kertas lama. Ini adalah teks asli surat wasiat tersebut. Di bagian awalnya saya menulis, "Surat wasiat Sayid Ali Khamenei, ditulis malam Ahad 27 Syawal 1382." Jadi, tepat semalam setelah peristiwa penyerangan di Madrasah Faizeyeh. Berikut isi surat wasiat tersebut:

 

"Hamba Allah, Ali bin Javad Hosseini Khamenei, bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba, utusan-Nya, dan nabi terakhir; bahwa saudara misannya, Ali bin Abi Thalib, adalah washinya; bahwa sebelas putra maksumnya, Hasan, Husein, Ali, Muhammad, Jakfar, Musa, Ali, Muhammad, Ali, Hasan, dan al-Hujjah, adalah para washinya dan wali Allah; bahwa kematian, hari kebangkitan, shirath, surga dan neraka, serta semua ajaran Nabi Daw adalah benar. Ya Allah, ini adalah imanku yang kutitipkan kepada-Mu. Aku memohon agar Engkau mengembalikannya kepadaku saat kubutuhkan.

 

Wasiat terpentingku adalah permohonanku agar siapapun yang pernah melewatkan hidup bersamaku, memaafkan segala kesalahanku dan membebaskanku dari beban hak sesama manusia. Mungkin aku tak bisa minta maaf kepada mereka yang pernah kugunjing atau digunjing di hadapanku. Hal penting ini harus dilaksanakan kawan-kawan untukku. Simpanan uangku sedikit, tapi cukup untuk melunasi hutang-hutangku. Aku telah mencatat rincian hutangku secara terpisah, yang bisa ditutupi dengan menjual kitab-kitabku yang tak seberapa. Aku juga minta mereka membayar hutang siapapun yang mengklaim punya piutang padaku, walau namanya tak tercatat. Hendaknya pula mereka menyedekahkan sejumlah uang kepada kaum fakir untuk mengantisipasi hutang-hutang yang kulupakan. Aku mohon agar semua ulama, marja`, pelajar agama, kenalan, kerabat, dan orang-orang yang berhubungan denganku untuk memaafkanku. Sebaiknya surat wasiatku dibaca di majlis umum yang dihadiri para kenalanku.Tentu ayah dan ibuku adalah orang yang paling akan berduka atas kematianku, tapi kuminta mereka mengingat hadis "jika kau menangisi sesuatu, maka tangisilah Husein." Dengan mengingat musibah datuk-datuk kami, mereka bisa melupakan kehilanganku, insya Allah. Ya Allah, jadikan kematian awal kegembiraanku dan akhir kesusahanku. Ampunilah dan rahmatilah aku demi hak Muhammad dan keluarganya."

 

Dewan Revolusi

Di Mashhad, kami bersama kawan-kawan sibuk mengerjakan tugas-tugas di kota tersebut. Kemudian Syahid Muthahhari beberapa kali memberitahu saya lewat telepon atau perantara agar saya pergi ke Teheran. Awalnya, saya menduga diminta pergi ke sana untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan ilmiah, politis, dan ideologis yang kami garap bersama. Saya tak menyangka bahwa pemanggilan itu berhubungan dengan Dewan Revolusi. Saya menyatakan siap datang. Hanya saja, karena saat itu saya punya banyak kesibukan di Mashhad, kepergian saya terus tertunda, hingga akhirnya beliau mengirim pesan bahwa Imam memerintahkan saya segera pergi ke Teheran.

 

Rapat-rapat awal Dewan Revolusi diadakan di rumah Syahid Muthahhari. Demi kepentingan situasi saat itu, ada sejumlah anggota Dewan Revolusi dari garis politik berbeda, yang wajah asli mereka tersingkap secara bertahap. Namun, kelompok yang menjadi fondasi utama Revolusi, mayoritas berasal dari kalangan agamawan yang juga anggota dewan. Mereka bersabar menanggung kesulitan bekerja dengan kelompok liberal dan orang seperti Bani Shadr demi kepentingan umat Islam. Mereka bekerja keras demi memuluskan proses Revolusi. Di saat-saat yang diperlukan, mereka juga menunjukkan perlawanan terhadap orang-orang liberal tersebut.

 

Saya Yang Membuat Teh!

Menjelang kepulangan Imam, kami melakukan unjuk rasa di Universitas Teheran. Saya duduk bersama sejumlah teman dekat yang berperan sepanjang revolusi, dan sebagian mereka telah syahid, seperti Syahid Beheshti, Syahid Muthahhari, Tuan Hashemi (Rafsanjani), mendiang Rabbani Shirazi, mendiang Rabbani Amlashi, dan selain mereka. Kami berbicara tentang beragam masalah. Mengingat Imam akan segera tiba, saya minta agar kami menertibkan segala urusan. Tak ada pembicaraan tentang pemerintahan sama sekali. Kami lalu bertemu dalam waktu yang telah ditentukan. Pembicaraan lalu mengarah kepada pembagian tugas. Di sana, saya berkata, "Saya bertugas membuat teh!" Semua heran mendengarnya. Saya bilang, "Saya mahir membuat teh." Dengan dilontarkannya usul ini, suasana rapat menjadi segar. Jelas bahwa orang bisa saja menerima segala tugas, bahkan resepsionis sekalipun. Yang penting tak ada persaingan dan benturan. Kita semua hendak bekerja bersama-sama. Jadi, apa pun tugas kita, selama kita bisa mengerjakannya, maka itu bagus. Ini adalah karakter saya. Tentu saya tahu bahwa saat itu, tak akan ada yang membiarkan saya membuat teh. Tapi andai tugas itu diberikan kepada saya, saya akan melepas jubah dan membuat teh. Usul saya bukan asal bicara, tapi memang saya siap melakukannya. Berulangkali saya berkata kepada kawan-kawan, saya bukan tipe orang yang ketika masuk ruangan, akan berkata bahwa kursi itu milikku. Jika kosong, aku akan mendudukinya. Dan jika sudah ditempati, aku akan keluar dengan marah. Sama sekali tidak! Saya tak punya kursi khusus di mana pun. Saat masuk ruangan, saya akan duduk di tempat mana pun yang masih kosong. Mengemukakan hal ini mungkin tidak begitu mudah dan bisa saja ditafsirkan bermacam-macam. Tapi saya benar-benar yakin bahwa ini sikap yang dibutuhkan untuk Revolusi. Jangan pernah menentukan bahwa kursi itu untuk kita. Jika kursi itu diberikan kepada kita, maka kita gembira dan berkata bahwa ini hak kita. Tapi jika kursi itu cacat atau rusak, kita merasa telah diabaikan dan keluar ruangan dengan jengkel. Sejak awal, saya tak punya watak seperti ini, dan berusaha untuk tidak memilikinya. Secara keseluruhan, seperti inilah kewajiban kita.

 

Saat Kedatangan Imam

Pada hari kedatangan Imam, saat kami berada di universitas, semua orang gembira dan tertawa-tawa. Tapi saya menangis mencemaskan kemungkinan buruk yang bisa menimpa Imam, karena memang ada sejumlah ancaman. Saat pergi ke bandara, semua kecemasan kami sirna begitu melihat Imam. Ketenangan beliau menenteramkan saya dan mungkin banyak orang lain yang sempat khawatir. Setelah sekian lama tak bertemu beliau, sontak semua keletihan kami lenyap. Kami merasa semua harapan telah menjelma penuh kemenangan dalam diri Imam. Kami lalu masuk kota dengan semua gelora semangat yang disaksikan dan masih diingat banyak orang. Seperti yang diketahui, sore hari itu Imam meninggalkan Beheshte Zahra menuju tempat yang tak diketahui. Pada hakikatnya, Tuan Nateq Nuri ‘menculik' Imam dan membawanya ke tempat aman. Sebab semenjak berangkat dari Paris, beliau belum berisitirahat sama sekali.

 

Imam di Madrasah Refah

Dalam selang waktu itu, kami pergi ke Madrasah Refah dan mengerjakan tugas-tugas kami. Sebelum Imam tiba, kami telah membahas tempat tinggal beliau dan pekerjaan-pekerjaan yang harus dilakukan setelahnya. Saat itu, kami membuat media cetak berisi berita-berita di Madrasah Refah dan mencetak beberapa edisi.

 

Sekitar pukul sepuluh malam, saat saya sibuk menata berita-berita yang akan dimasukkan dalam media, tiba-tiba terdengar suara riuh dari halaman madrasah. Saya menengok dari jendela dan melihat Imam memasuki madrasah. Tak ada orang yang bersama beliau. Teman-teman dari Pasdaran yang begitu bersukacita melihat Imam, segera mengelilingi beliau. Meski amat letih, Imam berbincang ramah dengan mereka. Mereka, yang kira-kira berjumlah 10-15 orang, bergantian mencium tangan beliau. Imam lalu melintasi halaman dan sampai di tangga yang berujung pada tingkat pertama. Tangga itu bersebelahan dengan ruang tempat saya berada. Saya lalu keluar ke koridor untuk melihat beliau dari dekat. Saat Imam masuk koridor, ada sejumlah orang di sana. Mereka lalu menyongsong beliau dan mencium tangannya. Sekeras apapun usaha saya untuk mendekat dan mencium tangan Imam, saya tetap gagal dan beliau lewat dalam jarak dua meter dari saya. Imam lalu naik ke atas lewat tangga. Di bawah tangga ada sekitar 30-40 orang berkumpul. Tiba-tiba Imam berbalik ke arah mereka dan duduk di lantai. Beliau tidak ingin mengabaikan para pengikutnya. Seseorang menyampaikan sambutan selamat datang tanpa persiapan sebelumnya, karena memang tak ada yang menduga sama sekali. Imam berbicara sebentar, kemudian dibimbing ke ruang yang telah ditentukan baginya.

 

Sujud Syukur

Ketika untuk pertama kali mendengar penyiar radio berkata, "Ini radio Revolusi Islam," saya sedang mengendarai mobil menuju persinggahan Imam, sepulangnya dari pabrik tempat terjadi kerusuhan. Waktu itu, masih ada banyak masalah, dan sejumlah orang berbuat onar di pabrik. Kami pergi ke sana untuk menenangkan keadaan. Saya menghentikan mobil, kemudian turun dan bersujud syukur. Hal itu begitu tidak disangka dan sulit dipercaya oleh kami. Saat-saat itu, tentu kami semua terlibat dalam segala aktivitas. Semua kami dikuasai rasa tak percaya dan ketercengangan. Saya sendiri, beberapa lama pasca kemenangan Revolusi, selalu berpikir, apakah kami sedang tidur atau terjaga? Saya berusaha tidak terbangun agar tidak kehilangan mimpi indah ini. (IRIB Indonesia)

Tags:

Comments

Name
Mail Address
Description