Hari Raya Nouruz Dalam Perspektif Rahbar

Font Size

Print

SHARE

Tweet it Digg it Google

(Cuplikan Pidato Rahbar di Makam Imam Ridha as Tentang Nouruz 1-1-1377 HS)

 

Menurut saya, yang dilakukan rakyat Iran di hari raya Nouruz adalah salah satu tindakan terbaik yang bisa dilakukan terhadap suatu ritual tradisional dan bersejarah. Hari pertama tahun hijriah syamsiyah kita, yaitu awal musim semi, adalah hari raya Nouruz. Bangsa Iran bangga karena kalender matahari mereka juga merupakan kalender hijriah. Sebagaimana kalender hijriah qamariyah, yakni tahun 1418, diawali dari hijrahnya Nabi Saw, kalender matahari kita juga diawali dari hijrahnya beliau. Bangsa-bangsa muslim yang lain menggunakan kalender masehi untuk tahun matahari mereka. Tapi kita, bangsa Iran, menjadikan hijrahnya Nabi Saw sebagai awal kalender bulan dan juga kalender matahari.

 

Bagi saya, hal ini mencerminkan kecintaan bangsa Iran kepada ajaran suci Islam dan warisan nabawi. Selain itu, kita memilih awal musim semi sebagai awal tahun, sedangkan orang-orang Kristen menjadikan awal musim dingin sebagai awal tahun. Tentu ini karena tanggal kelahiran Nabi Isa tidak jelas dan hanya bersifat dugaan, sementara tanggal hijrahnya Nabi Saw adalah sesuatu yang jelas dan pasti. Alhasil, dijadikannya awal musim semi sebagai awal tahun kita adalah sebuah kreatifitas khas Iran. Awal musim semi adalah awal tumbuhnya alam; awal bangunnya kebun dan taman, juga awal bangkitnya semua makhluk hidup. Ini tentu lebih baik dari musim dingin yang merupakan waktu kematian dan kebekuan alam serta tumbuhan.

 

Ada sebuah poin dalam ajaran Islam yang perlu diperhatikan. Islam menyikapi tradisi-tradisi pra-Islam dengan dua cara. Yang pertama, ia membabat habis tradisi-tradisi sesat. Contohnya, tradisi Arab pra-Islam membunuhi anak-anak perempuan mereka. Atau, tradisi pelecehan bangsa-bangsa nonmuslim terhadap wanita. Tradisi-tradisi ini dimusnahkan Islam, karena jelas-jelas salah.

 

Yang kedua, Islam tidak melenyapkan sebagian tradisi. Ia menjaga kulitnya, tapi mengganti isinya. Contohnya adalah amalan-amalan haji. Tawaf adalah ritual yang juga ada di zaman pra-Islam. Hanya saja, isinya adalah syirik. Islam datang dan mengosongkannya dari syirik, lalu mengisinya dengan tauhid. Di masa itu, tawaf adalah simbol kecondongan manusia kepada tuhan-tuhan buatan. Tapi Islam merubahnya menjadi simbol pemujaan manusia terhadap Allah.

 

Islam kerap memperlakukan tradisi-tradisi seperti ini. Bangsa kita melakukan hal serupa terhadap Nouruz. Mereka menjaga kulitnya dan merubah isinya. Dahulu, Nouruz di Iran adalah perayaan yang diperuntukkan bagi kerajaan-kerajaan tiran pra-Islam. Oleh karena itu, Nouruz model dahulu disebut "Nouruz Kuno." Nouruz-nya baik, tapi Kuno-nya buruk. "Kuno" dalam arti bahwa semua perayaan di sepanjang tahun, seperti Nouruz, Mehregan, Khordadegan, Mordadegan, dan sebagainya diperuntukkan bagi para penguasa zaman jahiliyah Persia. Kandungan Nouruz Kuno tak memiliki nuansa ketuhanan dan kemanusiaan; tak ada perhatian dan penghormatan terhadap Tuhan di dalamnya. Tapi kini, rakyat Iran telah menjaga kulit Nouruz dan mengubah isinya. Kandungan Nouruz masa kini jauh berbeda dengan kandungan Nouruz masa lalu.

 

Saat ini, Nouruz bagi rakyat kita memiliki arti berikut: Pertama, perhatian terhadap Allah. Saat tahun baru tiba, mereka berdoa "Ya muhawwilal hauli wal ahwal (wahai Zat yang mengubah kuasa dan keadaan)." Mereka mengawali tahun dengan mengingat Allah dan memperbanyak zikir. Ini adalah sebuah nilai. Kedua, Nouruz dijadikan dalih untuk saling mengunjungi dan membuang segala permusuhan. Ini adalah persaudaraan dan silaturahmi yang diajarkan Islam. Jelas ini sesuatu yang baik. Selain itu, Nouruz juga dijadikan alasan untuk menziarahi tempat-tempat suci seperti Mashhad. Awal tahun selalu merupakan salah satu waktu ramainya peziarah datang ke Mashhad.

 

Jadi, kalian telah menjaga kulit Nouruz dan mengganti isinya yang buruk dengan kandungan yang baik. Ini adalah suatu kreatifitas rakyat muslim Iran. Kita mendukung hari raya Nouruz dari sudut pandang orang yang menjunjung Islam. Nouruz adalah sarana untuk menggembirakan hati orang-orang dan mendekatkan mereka satu sama lain. Kita juga harus menjalin hubungan dengan teman seperti halnya kerabat. Ini adalah sesuatu yang positif dari Nouruz.

 

Ada sebuah poin penting dalam Nouruz yang disinggung dalam riwayat-riwayat. Saya ingin kalian yang hadir di sini, juga siapa pun yang mendengar ceramah ini, mencamkan poin tersebut.

 

Nouruz berarti "hari baru." Poin ini disinggung dalam riwayat-riwayat kita, khususnya riwayat terkenal Mu`alla bin Khunais. Dia adalah satu perawi terpercaya dan sahabat terkemuka Ahlulbait as. Ia menghabiskan hidupnya bersama Imam Shadiq as dan akhirnya meraih syahadah. Suatu hari, bertepatan dengan Nouruz, yang dalam bahasa Arab disebut "Niruz," dia menemui Imam Shadiq as. Beliau bertanya kepadanya,"Tahukah kau Niruz itu apa?"

 

Sebagian orang menyangka bahwa Imam as dalam riwayat ini sedang menjelaskan kejadian-kejadian bersejarah; bahwa Nouruz bertepatan dengan turunnya Adam as ke bumi, selamatnya Nuh as dari banjir, kelahiran Imam Ali as, dan sebagainya. Tapi, saya memiliki kesimpulan berbeda dari riwayat ini. Yang saya pahami, Imam as sedang menjelaskan makna "hari baru." Maksudnya, hari yang disebut Nouruz ini, adalah "hari baru." Apa makna "hari baru"? Bukankah hari-hari Allah sama? Hari apakah yang disebut "baru"?

 

Hari yang di situ terjadi suatu peristiwa besar, adalah hari baru. Hari yang saat itu kalian bisa melakukan sebuah pekerjaan besar, disebut hari baru. Imam Shadiq as lalu memberikan contoh. Beliau mengatakan, hari turunnya Adam as dan Hawa as ke bumi adalah hari baru; hari baru bagi manusia. Hari ketika bahtera Nuh as selamat dari banjir, adalah hari baru; dimulainya sebuah kisah hidup baru bagi manusia. Hari diturunkannya al-Quran kepada Nabi Saw, adalah sebuah periode baru dalam sejarah manusia. Begitu pula dengan hari diangkatnya Amirul Mukminin as sebagai washi.

 

Semua hari-hari ini adalah hari-hari baru, baik bertepatan dengan awal Farvardin (bulan pertama kalender Iran) atau tidak. Imam as bukan dalam rangka menjelaskan bahwa peristiwa-peristiwa itu terjadi di awal Farvardin. Sama sekali tidak! Maksud beliau, hari yang memiliki karakteristik-karakteristik ini adalah hari baru, baik itu awal Farvardin atau hari-hari lain. Sekarang, saya katakan kepada kalian, hari kemenangan revolusi adalah hari baru. Hari kembalinya Imam dari pengasingan adalah hari baru bagi kita. Hari kemenangan para pemuda beriman kita melawan musuh yang didukung Barat dan Timur juga merupakan hari baru.

 

Ada syarat jika kalian ingin menjadikan awal Farvardin ini sebagai hari baru untuk kalian. Syaratnya adalah kalian bergerak untuk membuat sebuah peristiwa besar. Di manakah itu? Dalam diri kalian sendiri! "Wahai Zat yang membolak-balik hati dan penglihatan, wahai yang mengatur siang dan malam, wahai yang mengubah kuasa dan keadaan, ubahlah keadaan kami menjadi yang terbaik." Jika kalian bisa membuat mutiara insani kalian lebih berkilau, berarti hari ini adalah hari baru bagi kalian. Bila kalian bisa menghayati pesan revolusi, para nabi, Imam Khomeini, dan para syuhada, berarti ini adalah "Nouruz" bagi kalian.

 

Saudara-saudaraku! Berusahalah menjadikan awal Farvardin ini sebagai hari baru kalian. Bagi sebagian orang, awal Farvardin bukan Nouruz. Bahkan bisa jadi hari ini adalah hari yang lebih sial bagi mereka daripada hari sial yang lain! Bagi mereka yang cenderung kepada kerusakan dan jauh dari Allah serta tujuan-tujuan revolusi, awal Farvardin bukanlah Nouruz dan hari raya. Tapi hari petaka bagi mereka. Inilah inti masalah yang terdapat dalam Nouruz.

 

Jadi, singkatnya, Nouruz adalah sesuatu yang baik. Hari baru, awal musim semi, awal kebangkitan alam, dan permulaan pancaran keindahan semesta. Jadikan hari ini awal kebangkitan dan keindahan diri kalian. Buatlah hari ini sebagai hari baru bagi kalian. (IRIB Indonesia)

Tags:

Comments

Name
Mail Address
Description