Syahadah Imam Hasan as Menurut Imam Shadiq as

Font Size

Print

SHARE

Tweet it Digg it Google

Beberapa hari setelah Imam Hasan as menyepakati perjanjian damai dengan Muawiyah dan ternyata Muawiyah melanggar perjanjian, Imam Hasan as kemudian pergi ke kota Madinah. Beliau menghabiskan waktu kepemimpinannya selama 10 tahun di sana dan hidup dalam kondisi tertekan, bahkan tidak ada jaminan keamanan. Di rumahnya sendiri tidak ada ketenangan dan akhirnya akibat provokasi Muawiyah, beliau diracun oleh istrinya Ja'dah. Imam Hasan as gugur syahid pada hari Kamis 28 Shafar 50 Hijriah dalam usia 48 tahun.

 

Menurut Muhammad bin Jarir at-Thabari, Muawiyah telah berusaha sebanyak 70 kali untuk meracuni Imam Hasan as, akan tetapi pengaruh racun tidak begitu kuat, sehingga racun yang dikirimkannya kepada  Ja'dah binti Muhammad bin Asy'ats bin Qais al-Kindi. Muawiyah memberikan racun itu disertai uang 20 ribu dinar dan memberikan 10 kebun di Kufah untuknya. Muawiyah juga menjanjikan bila berhasil menjalankan misinya, ia akan dikawinkan dengan anaknya Yazid bin Muawiyah. Ja'dah akhirnya mendapat kesempatan untuk memberikan racun itu kepada Imam Hasan as dan meracuninya.

 

Ja'dah binti Asy'ats bin Qais berasal dari keluarga miskin, hina dan selalu mencari kesempatan. Ia punya kebencian tersendiri kepada Imam Hasan as. Kemungkinan kebenciannya itu berasal dari ketidakmampuannya memberikan anak kepada Imam Hasan. Itulah mengapa ketika racun disampaikan oleh Marwan ke tangannya dan mendengar janji-janji yang dibisikkan serta melihat uang yang banyak, ia akhirnya menerima melakukan kejahatan itu. Hari itu sangat panas dan Imam Hasan as dalam kondisi puasa. Ketika berbuka, Ja'dah menuangkan racun itu ke dalam bejana yang berisi susu dan memberikannya kepada Imam Hasan as untuk diminum.

 

Ibnu Abi al-Hadid menulis, Muawiyah ingin agar semua berbaiat kepada anaknya Yazid, ia memilih untuk meracuni Imam Hasan as. Karena hanya Imam Hasan as yang menjadi penghalang terbesar untuk mengambil baiat dari semua orang untuk anaknya Yazid dan mewariskan pemerintahan kepadanya. Untuk itu Muawiyah melakukan konspirasi untuk meracuni Imam Hasan as.

 

Dalam menjalankan rencana itu, Marwan bin Hakam adalah orang yang paling banyak berjasa. Karena waktu itu menjabat sebagai gubernur Madinah. Ketika Muawiyah memutuskan untuk melakukan kejahatan ini, dalam sebuah surat yang dilayangkan kepada Marwan, ia meminta agar upaya meracuni Imam Hasan as dilakukan lebih cepat dan menjadikannya sebagai prioritasnya.

 

Marwan kemudian menghubungi Ja'dah binti Asy'ats, istri Imam Hasan as. Dalam suratnya, Muawiyah menulis bahwa Ja'dah merupakan orang yang tidak puas dan dari sisi kejiwaan dan ia adalah orang yang paling siap melakuan tugas ini. Untuk itu, Muawiyah menjanjikan akan menjadikan Ja'dah sebagai istri anaknya Yazid bila berhasil melakukan tugasnya. Muawiyah juga mewanti-wanti Marwan untuk memberikannya uang sebesar 100 ribu dirham bila berhasil menyelesaikan tugasnya.

 

Imam Shadiq as berkata, "Ja'dah kemudian mengambil racun itu dan membawanya ke rumah. Hari-hari itu Imam Hasan as berpuasa dan hari sangat sangat panas. Ketika akan berbuka dan meminta sedikit susu untuk diminum, Ja'dah menuangkan racun ke dalam susu itu. Bebeberapa detik setelah Imam Hasan as meminum susu itu, beliau kemudian berteriak, ‘Wahai musuh Allah! Engkau telah membunuhku. Allah akan membinasakanmu! Demi Allah! Sepeninggalku engkau tidak akan mendapatkan keuntungan apa-apa. Mereka telah menipumu dan memanfaatkanmu dengan cuma-Cuma. Demi Allah! Muawiyah telah membuat sengsara dan telah menghinakanmu."

 

Imam Shadiq as kemudian melanjutkan, "Imam Hasan as hidup tidak lebih dari dua hari setelah diracun oleh Ja'dah dan setelah itu meninggal dunia. Muawiyah juga tidak melaksanakan janji yang telah disampaikan kepada Ja'dah."

 

Wasiat Imam Hasan as di akhir umur

 

Syeikh Thusi menukil dari Ibnu Abbas, di akhir-akhir umur Imam Hasan as, saudaranya Imam Husein as memasuki rumah beliau. Ketika itu ada sejumlah sahabat Imam Hasan as di sekitart beliau. Imam Husein as bertanya, "Wahai saudaraku! Bagaimana kabarmu?" Imam Hasan as menjawab, "Aku tengah berada di akhir umur duniaku dan hari pertama dari dunia akhiratku. Saya hanya merasa harus berpisah denganmu sebagai saudara."

 

Imam Hasan as kemudian berkata, "Saya memohon ampun dan rahmat dari Allah Swt. Karena ada masalah yang kusukai seperti bertemu dengan Rasulullah Saw, Imam Ali as, Fathimah as, Jakfar dan Hamzah as."

 

Setelah itu beliau memberikan Ism A'zham, dan apa saja yang berasal dari para nabi sebelumnya dan dari ayahnya kepada Imam Husein as. Pada waktu itu beliau berkata:

 

"Tulislah! Ini adalah apa yang diwasiatkan Hasan bin Ali as kepada saudaranya Husein bin Ali as bahwa  tidak ada sesembahan yang patut disembah kecuali Allah yang Maha Esa. Hanya Allah yang layak untuk disembah, tidak ada sekutu dalam kekuasaan. Sesungguhnya Allah menciptakan segala sesuatu dalam ukuran yang sempurna. Allah Swt adalah sesembahan paling layak dan orang yang paling layak adalah orang yang memuji-Nya dan siapa yang menjalankan perintah-Nya ia telah menemukan jalan yang benar. Siapa saja yang menentang-Nya akan terjatuh ke dalam kesesatan dan siapa yang kembali kepada-Nya akan mendapat bimbingan.

 

Wahai Husein! Saya mewasiatkan kepadamu agar memperhatikan keluarga dan anak-anakku sebagai keluargamu sendiri. Maafkan bila mereka berbuat salah dan terima perbuatan baik mereka. Jadilah seorang ayah yang lembut bagi mereka. Selain itu, makamkan aku dekat dengan Rasulullah. Karena saya lebih dekat dari beliau dan rumah beliau dari orang lain...

 

Bila ada yang berusaha mencegah agar saya tidak dikuburkan dekat dengan Rasulullah Saw, maka demi kedekatan dan kekeluargaan yang dianugerakan Allah Swt kepadamu dan hubungan kekeluargaan yang engkau miliki dengan Rasulullah Saw, jangan biarkan terjadi pertumpahan darah sekalipun hanya seukuran darah hijamat dikarenakan diri saya, sampai kita bertemu dengan Rasulullah Saw dan mengadukan masalah ini kepadanya. Kita harus melaporkan kepada Rasulullah Saw apa yang dilakukan oleh umat beliau kepada kita."

 

Imam Hasan as mengucapkan semua ini dan kemudian meninggal dunia.

 

Upaya mencegah pemakam Imam Hasan as di dekat Rasulullah Saw

 

Ketika Imam Hasan as wafat, Abbas bin Ali as, Abdurrahman bin Jakfar dan Muhammad bin Abdullah bin Abbas membantu Imam Husein as mengurusi jenazah Imam Hasan as. Dengan bantuan mereka, Imam Husein as memandikan jezanah kakaknya hingga proses pengafanan. Setelah itu jenazah beliau dibawa di sebuah tempat shalat dekat Masjid Nabawi. Tempat itu disebut Balathah. Di sana shalat mayit dilakukan dan kemudian dibawa mendekati kuburan Rasulullah Saw untuk dimakamkan.

 

Pada waktu itu, Marwan bin Hakam, Gubernur Madinah bersama para perusuh mendekat dan berteriak, "Apakah kalian ingin memakamkan Hasan bin Ali as di dekat kuburan Rasulullah Saw?"

 

Dari sisi lain, Aisyah dengan mengendarai qatir (hasil persilangan kuda dan keledai) bergabung dengan mereka dan berteriak, "Bagaimana bisa kalian memasukkan orang yang tidak saya sukai ke rumah saya?"

 

Marwan berkata, "Apakah layak Utsman dikuburkan di tempat yang jauh di Madinah dan Hasan bin Ali dikuburkan di samping Rasulullah Saw? Tidak. Ini tidak boleh terjadi. Saya akan menghunus pedang dan menyerang serta mencegah siapa saja yang akan melakukannya."

 

Sebagian Bani Umayah dan para perusuh terus mencari alasan untuk menciptakan fitnah. Tapi Imam Husein as dengan penuh kesabaran membawa jenazah suadaranya ke arah Baqi' sambil menenangkan Bani Hasyim. Beliau membawa jenazah saudaranya dan menguburkan beliau di dekan neneknya Fathimah binti Asad. Dengan demikian, beliau berhasil mencegah terjadinya pertumpahan darah, sesuai dengan yang diwasiatkan oleh Imam Hasan as.

 

Imam Husein as kemudian menghadap Marwan dan berkata, "Bila Saudaraku berwasiat agar dimakamkan di dekat kuburan kakeknya Rasulullah Saw, maka perlu kau tahu bahwa engkau terlalu kecil untuk dapat mencegah kami dan melarang penguburan jenazahnya di dekat Rasulullah Saw."

 

Ibnu Syahr Asyub mengatakan, "Ketika jenazah Imam Hasan as dibawa ke Baqi' beberapa orang jahat dan hina dengan bantuan Bani Umayah memanah jenazah Imam Hasan as, sehingga ketika dimakamkan ada 70 panah yang dikeluarkan dari badan beliau."

 

Ucapan Ibnu Abbas kepada Aisyah saat pengebumian

 

Ibnu Abbas berkata kepada Aisyah yang saat itu berada bersama 40 orang penunggang qatir, "Betapa buruknya nasib! Kali ini engkau mengendarai qatir dan sebelumnya pernah menaiki onta. Engkau ingin memadamkan cahaya Allah Swt dan berperang dengan para wali Allah. Kembalilah! Engkau telah melakukan apa yang orang lain inginkan dan engkau telah menyelesaikan tugasnya. Tapi Allah Swt akan membantu Ahli Bait as dengan berlalunya waktu."

 

Di satu bagian dari Ziaraat Jamiah, dinukil peristiwa syahadah Imam Hasan as untuk para Imam Maksus as dari lisan Imam Shadiq as, "Wahai para pemimpinku! Kalian adalah orang-orang yang sebagian dari jasad kalian terbelah dan syahid di antara mihrab tempat ibadah. Sebagian dari kalian syahid dan para musuh Islam memanah jasad kalian, sehingga kain kafan kalian sobek..."

 

یا موالى... انتم بین صریع فى المحراب قد فلق السیف هامته و شهید فوق الجنازة قد شکت‏بالسهام اکفانه [اکفانه بالسهام]

 

(IRIB Indonesia / Saleh Lapadi)

 

Sumber: Mehr News

Tags:

Comments

Name
Mail Address
Description