Ghadir, Hari Kesempurnaan Agama

Font Size

Print

SHARE

Tweet it Digg it Google

 

Setiap bangsa dan umat pasti memiliki hari-hari khusus yang diagungkan dan dihormati, dalam tradisi maupun ajaran yang mereka anut. Lewat peringatan hari-hari besar itulah mereka mengikat kembali janji setia atau mengenang sebuah peristiwa yang sangat penting. Tanggal 18 Dzulhijjah tahun 10 Hijriah, sepulangnya dari haji Wada Nabi Saw di hadapan puluhan ribu sahabatnya, mengumumkan bahwa sepeninggal beliau Ali bin Abi Thalib adalah penerus beliau untuk memimpin umat. Pengumuman itu diikuti oleh suka cita mendalam dan wajah Nabi Saw nampak berseri-seri. Nabi, bahkan meminta para sahabat untuk memberikan ucapan selamat kepada beliau. Tak ada ungkapan seperti itu yang keluar dari lisan Nabi pada momen-momen yang lain bahkan setelah kemenangan perang yang menentukan sekalipun. Suasana kegembiraan memenuhi gurun yang dikenal dengan nama Ghadir Khum, tempat terjadinya peristiwa tersebut.

 

Para sahabat satu persatu bergegas menyampaikan ucapan selamat kepada Ali dan membaiatnya. Hassan bin Tsabit, yang dikenal dengan gelar Penyair Nabi, meminta izin dari Sang Rasul untuk membacakan beberapa bait syairnya tentang peristiwa tanggal 18 Dzulhijjah itu. Tak hanya Hassan, Muslim bin Ubadah al-Anshari juga membacakan bait-bait syairnya. Sejak saat itu, tanggal 18 Dzulhijjah diperingati sebagai hari raya Ghadir Khum. Puji ke hadirat Allah karena telah menjadikan kita sebagai orang-orang yang menerima wilayah kepemimpinan Ali bin Abi Thalib as.

 

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Imam Jakfar Shadiq as menyampaikan salam kepada para sahabat dan pengikutnya serta memohon kepada Allah Swt untuk melimpahkan rahmat-Nya kepada setiap hamba Allah yang berkumpul dengan orang-orang lain di hari Ghadir untuk membincangkan sirah keteladanan Ahlul Bait as.

 

Eid yang biasanya diartikan dengan makna hari raya sebenarnya mengandung arti kembali. Di hari pertama bulan Syawal, setelah merampungkan puasa dan ibadah-ibadah lainnya, umat Islam merayakan hari itu dan menyebutnya sebagai Eidul Fithr, yang berarti kembali ke fitrah. Peristiwa Ghadir Khum juga mengandung makna kembalinya kehidupan kepada umat Islam. Sebab, dengan bertambahnya usia Rasulullah, muncul kekhawatiran akan masa depan Islam dan kaum Muslimin. Namun kekhawatiran itu sirna setelah Nabi mengumumkan siapakah yang bakal menjadi pengganti beliau. Pengumuman itu terjadi pada hari Ghadir. Karena itu, sudah semestinya hari ini dirayakan sebagai hari besar bagi umat Islam. Imam Hasan as, cucu Nabi Saw ketika berada di Kufah merayakan peringatan hari raya Ghadir setiap tahun dengan membuka jamuan umum. Imam Ali as dan keluarga serta para pengikut setia beliau ikut serta dalam jamuan itu.

 

Sejak menjejakkan kaki di bumi ini, manusia yang memikul tanggung jawab bernama taklif, memerlukan bimbingan dari Allah untuk bisa selamat dalam mengarungi kehidupan. Adam sebagai manusia pertama mendapat mandat ilahi untuk memimpin dan membimbing umat manusia. Satu persatu nabi utusan Allah muncul ke tengah umat manusia sampai akhirnya Allah Swt mengutus Nabi-Nya yang terakhir dengan risalah yang sempurna dan relevan sepanjang masa, Baginda Nabi Muhammad Saw.

 

Setelah wafatnya Rasulullah, risalah kenabian terputus dan tidak ada lagi wahyu yang turun. Namun itu tidak berarti bahwa umat manusia sudah tidak lagi memerlukan figur pemimpin dan pembawa hidayah. Sebelum wafat, Nabi Saw sudah mengumumkan siapa yang bakal menjadi pengganti beliau sebagai pemimpin umat dan pembimbing mereka ke jalan kebenaran. Ali bin Abi Thalib dalam sebuah prosesi istimewa yang terjadi tanggal18 Dzulhijjah tahun 10 hijriyah resmi ditetapkan sebagai Imam dan maula bagi umat Islam. Ali as adalah imam pertama dari silsilah 12 imam yang telah disebutkan Nabi dalam sejumlah hadis. Mereka itulah yang menjadi figur-figur pemimpin bagi umat manusia setelah berakhirnya masa kenabian.

 

Hari raya Ghadir adalah hari raya yang mengagungkan Imam Ali as. Beliau adalah figur insan suci yang sejak awal risalah Islam selalu menyertai Nabi Saw dalam suka dan duka. Dalam satu peperangan, ketika pasukan Islam terkepung dari semua arah dan sebagian besar sahabat Nabi Saw berlari menyelamatkan diri meninggalkan Rasulullah Saw seorang diri. Keringat nampak mengucur membasahi dahi dan kening Rasul di tengah gelora api pertempuran.

 

Mendadak mata Nabi tertuju kepada sosok pemuda yang dengan gagah berani menerjang musuh dan sesekali kembali merapatkan diri ke arah Nabi. Dialah Ali bin Abi Thalib as. Nabi menghela nafas lega melihat Ali dan bersabda, "Wahai Ali, mengapa engkau tidak berlari bersama orang-orang itu?" Ali menjawab, "Ya Rasulullah, apakah setelah Islam dan mengimanimu, aku mesti menjadi kafir? Aku adalah pengikutmu."

 

Jawaban Ali yang mantap, pengorbanannya yang tulus dan keksatriaannya yang tanpa tanding dipuji oleh Nabi. Ali bertempur dengan gigih dan menangkis semua serangan kaum Kafir yang terarah kepada Rasulullah. Pasukan Kafir memang mengerahkan segenap tenaga dengan memanfaatkan kondisi yang ada untuk membunuh Nabi. Tetapi kepiawaian dan keberanian Ali yang tanpa tanding menggagalkan usaha mereka. Dalam keadaan seperti itu, malaikat Jibril datang dan berkata, "Hai Muhammad! Inilah pengorbanan sejati." Nabi dengan bangga bersabda, "Ali dariku dan aku darinya." Jibrilpun menjawab, "Dan aku dari kalian berdua."

 

18 Dzulhijjah, sepulang dari Haji Wada, Rasulullah memerintahkan rombongan kaum muslimin dari berbagai negeri untuk berhenti di sebuah padang sahara yang dikenal dengan nama Ghadir Khum. Ada satu pesan sangat penting yang ingin disampaikan Nabi Saw. Setelah semua berkumpul dan terik matahari terasa menyengat, Nabi berdiri di atas gundukan yang sengaja dibuat sebagai mimbar darurat oleh para sahabat. Dalam sabdanya yang bersejarah, dengan suara lantang berkata, "Siapakah yang lebih layak untuk memimpin setiap insan mukmin dan mengelola urusannya?"

 

Para sahabat menjawab, "Allah dan Rasulnya lebih mengetahui." Beliau bertanya lagi, "Bukankah aku yang lebih layak atas diri kaum mukmin dibanding diri mereka sendiri? Sahabat menjawab, "Benar ya Rasulullah." Beliau bersabda, "Wahai umatku! Tak lama lagi aku akan segera memenuhi panggilan Tuhanku. Ketahuilah bahwa aku meninggalkan untuk kalian dua pusaka berharga, yaitu kitabullah dan keluargaku, Ahlu Baitku. Jangan kalian mendahului mereka dan jangan pula menjauh." Nabi Saw lantas mengangkat tangan Ali bin Abi Thalib as dan bersabda, "Wahai umatku! Barang siapa menjadikanku sebagai maula dan pemimpinnya maka Ali adalah maula dan pemimpinnya juga." Beliau kemudian mengulang doa ini sebanyak tiga kali, "Ya Allah! Pimpinlah orang yang menjadikan Ali pemimpinnya dan musuhilah yang memusuhinya."

 

Peristiwa Ghadir Khum bukan peristiwa pertama yang menunjukkan pengukuhan Nabi Saw akan keutamaan Ali. Tapi peristiwa ini lebih menunjuk kepada peresmiannya di hadapan lautan manusia yang ditaksir berjumlah 120 ribu orang. Saat itulah, Allah Swt menurunkan wahyuNya yang menurut para ulama adalah wahyu al-Quran terakhir, "Hari ini telah Aku sempurnakan bagimu agamamu dan aku sempurnakan bagimu nikmatKu dan Aku merelakan Islam sebagai agama untukmu." (Q.S. al-Maidah: 3)

 

Nabi Saw di Ghadir Khum menyatakan bahwa telah melaksanakan apa yang telah dibebankan kepada beliau sehingga sempurnalah hujjah atas umat. Beliau juga memerintahkan mereka yang hadir untuk menyampaikan peristiwa yang mereka saksikan di hari itu kepada mereka yang tidak hadir. Hal itu menunjukkan bahwa sabda Nabi Saw di Ghadir bukan hanya ditujukan kepada umat Islam di zaman itu tetapi juga kita yang hidup 14 abad setelah Nabi. Ghadir bukan sekedar peristiwa sejarah tetapi sebuah keyakinan yang mendalam dan lahir dari Islam itu sendiri.

 

Ali adalah figur yang paling layak menjadi penerus Nabi Saw. Seluruh kemuliaan dan keutamaan Ali mengungguli semua orang. Ilmunya yang luas bukan rahasia bagi siapapun. Karena itu pantas jika Nabi menyebutnya sebagai pintu kota ilmu. Jiwanya yang suci menjadikannya manusia yang jauh dari semua dosa dan segala bentuk ketertarikan kepada hawa nafsu dan gemerlap dunia. Sampai-sampai salah seorang sahabat dekatnya menceritakan bahwa di mata Ali, nilai kekuasaan tak lebih dari tali sepatunya yang sudah kumal.

 

Ghadir membawa pesan bahwa kekuasaan dan kepemimpinan seharusnya berada di tangan manusia-manusia saleh yang punya kecakapan dalam memimpin dan mengatur masyarakat. Ketika Allah lewat RasulNya menobatkan Ali sebagai pemimpin atas umat, tentunya yang mengemuka pertama kali adalah karakter figur itu yang menjadikannya layak menerima kedudukan tersebut. Jika Ali adalah insan yang saleh, taat, pandai, cakap memimpin, berakhlak baik, terpercaya, zuhud, dan jujur, maka dalam memilih pemimpin bagi sebuah masyarakat kriteria-kriteria itulah yang harus diperhatikan, sehingga keadilan dan kesejahteraan bisa terwujud, dan kaum zalim tak lagi mendapat tempat. (IRIB Indonesia)

Tags:

Comments

Name
Mail Address
Description