Posisi dan Peran Perempuan: Antara Barat dan Islam

Font Size

Print

SHARE

Tweet it Digg it Google

 

Kemajuan sains dan teknologi yang begitu pesat dewasa ini ternyata tidak dibarengi dengan peningkatan moralitas dan spiritualitas. Fenomena ini dipicu oleh meningkatnya ketidakperdulian dunia, terutama di Barat terhadap ajaran agama dan spiritualitas yang menyebabkan manusia menghadapi berbagai masalah besar dan komplek, salah satu korban utamanya adalah perempuan. Padahal, perempuan sepanjang sejarah menjadi salah satu pilar paling penting bagi berdirinya tonggak keluarga dan masyarakat. Namun lembaran sejarah menunjukkan realitas pahit yang menyesakkan dada tentang kondisi perempuan di era modern.

 

Kini, perempuan menjadi komoditas industri, di saat kaum Feminis dengan lantang menyuarakan kesetaraan gender. Semua itu akibat tidak adanya perhatian terhadap posisi dan kedudukan perempuan, terutama di dunia Barat. Sebab posisi perempuan acapkali diturunkan hanya sebagai komoditas Kapitalisme maupun pemenuhan kebutuhan biologis laki-laki. Dewasa ini hampir setiap produk dari rumah mewah hingga permen memanfaatkan perempuan sebagai alat propaganda media supaya konsumen tertarik dan membelinya. Menurut pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Udzma Sayid Ali Khamenei, kesalahan paradigma Barat mengenai posisi dan kedudukan perempuan dalam masyarakat karena melihat manusia dalam dua kategori ekstrim; perempuan dan laki-laki. Dunia Barat melihat hubungan laki-laki dan perempuan secara diametral yang saling bertentangan, bukan sebuah posisi yang saling melengkapi dan menyempurnakan.

 

Dewasa ini krisis perempuan di dunia telah menyebar dari dimensi pribadi, keluarga hingga masyarakat. Dan sayangnya pengaruh buruk tersebut mulai merambah ke dunia Islam dan Timur, terutama setelah menyebarkan pemikiran Feminisme  dengan prinsipnya yang merusak pilar keluarga berupa "Pertentangan permanen antara Pria dan Wanita". Dalam pandangan kaum Feminis ekstrim, laki-laki adalah musuh yang tidak bisa berdamai dengan perempuan. Untuk keluar dari cengkeraman laki-laki, perempuan harus independen. Mereka meyakini institusi keluarga dibentuk berdasarkan kepentingan laki-laki. Perempuan menjadi korban terbesar dari institusi sosial yang dianggap kaum Feminis bias gender itu.

 

Feminis radikal berkeyakinan bahwa semua wanita memiliki kepentingan kolektif untuk keluar dari penindasan laki-laki. Sebab, bagi mereka perempuan merupakan lapisan sosial yang bertentangan dengan laki-laki. Bahkan sejumlah Feminis ekstrim mengusulkan kehidupan perempuan yang terpisah dari laki-laki. Pandangan Feminis yang menempatkan perempuan berseberangan dengan laki-laki memunculkan dampak buruk dalam masyarakat.

 

Pada saat yang sama berbagai laporan yang dikeluarkan lembaga terpercaya di Barat sendiri mengungkapkan ketertindasan perempuan. Misalnya, sebuah pusat studi perempuan di AS mengungkapkan laporan terbaru yang menunjukkan bahwa 50 persen perempuan yang bekerja diperlakukan secara tidak layak dan mengalami pelecehan seksual. Laporan lainnya membeberkan setiap tahunnya terjadi 60 ribu kasus perkosaan di Afrika Selatan, dan 40 persen korbannya di bawah usia 18 tahun. Laporan lain di Inggris juga mengungkapkan setiap 8 dari 10 wanita yang bekerja di negara itu mengalami pelecehan seksual.

 

Sementara itu, laporan UNICEF menyebutkan sejumlah kota di AS seperti Oackland menjadi pusat sindikat perdagangan manusia, terutama perempuan. Di Israel, perempuan menjadi alat utama untuk mengeruk keuntungan di sektor pariwisata rezim Zionis. Tel Aviv menempati urusan keempat di dunia dari sisi jumlah prostitusi. Para pejabat rezim Zionis mendapatkan keuntungan besar dari industri prostitusi dan homoseksual. Di kawasan lain seperti Eropa juga terjadi masalah serupa dengan jumlah kasus yang tidak kecil.

 

Berbeda dengan kaum Feminis, Islam memandang laki-laki dan perempuan saling membutuhkan dan menyempurnakan. Laki-laki sebagai pelindung keluarga sekaligus memenuhi kebutuhan anggotanya. Perempuan bertanggung jawab menjaga atmosfir kasih sayang dan cinta kasih dalam keluarga. Islam memandang perempuan memainkan peran penting dalam membina rumah tangga. Laki-laki dan perempuan seperti pakaian yang saling menutupi dan memperindah. Setiap kesalahan dan keburukan diperbaiki oleh yang lain dengan kasih sayang. Saling mendukung dalam kebaikan dengan cita dan kasih sayang menyebabkan berbagai masalah yang menimpa kehidupan rumah tangga bisa diatasi bersama dengan baik.

 

Islam memberikan perhatian khusus mengenai kedudukan perempuan. Agama ilahi ini mempertimbangkan berbagai faktor mulai dari struktur fisik, emosi dan naluri, hukum dan aspek perempuan lainnya. Meski perempuan pada dasarnya memiliki fisik yang lemah dan lembut, namun ia dikaruniai perasaan dan naluri yang kuat, yang diciptakan oleh Allah swt guna mengemban tugas pendidikan dan pengajaran masyarakat untuk menghantarkan umat manusia kepada kesempurnaan. Terkait hal ini, Pemimpin besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Udzma Sayid Ali Khemenei mengatakan, "Islam memandang laki-laki sebagai pilar keluarga dan perempuan sebagai bunga yang semerbak. Ini bukan penghinaan bagi perempuan, juga bukan bagi laki-laki. Ini bukan menyepelekan hak perempuan, juga bukan laki-laki. Tapi seperti memandang panorama alam. Neraca mereka seimbang..."

 

Republik Islam Iran sejak berdiri menetapkan Sayidah Fatimah sebagai model bagi Muslimah. Pasca kemenangan Revolusi Islam Iran, masalah hak perempuan menjadi perhatian utama yang ditegaskan dalam undang-undang negara itu. Salah satunya yang termaktub dalam UUD Iran pasal 21 mengenai dukungan negara terhadap hak-hak perempuan, dan juga ratifikasi piagam hak dan tanggung jawab perempuan pada tahun 2004. Ayatullah Khamenei mengungkapkan, "Republik Islam Iran berhasil mencapai puncaknya, salah satunya membina perempuan cemerlang yang memiliki pemikiran yang tajam dan solutif terhadap masalah yang paling sensitif sekalipun di tengah masyarakat." Selain itu, Iran sebagai sebuah sistem yang berpijak pada ajaran Islam berkomitmen untuk menghilangkan aturan yang mengabaikan hak-hak perempuan maupun merugikannya.

 

Dewasa ini perempuan menjadi isu sentral di dunia, tapi seringkali kajian di Barat terutama melupakan potensi dalam diri perempuan berupa suara hati yang menghendaki perannya sebagai ibu dan istri. Inilah peran yang telah dicontohkan oleh Sayidah Fatimah sebagai model perempuan terbaik yang memainkan peran sebagai istri, ibu dalam keluarga, dan juga kontribusinya di tengah masyarakat. Imam Ali as menukil hadis dari Rasulullah Saw mengatakan, "Seseorang tidak akan menghormati kaum perempuan, kecuali jika orang tersebut berjiwa besar dan mulia. Dan seseorang tidak akan merendahkan kaum perempuan, kecuali jika orang itu berjiwa rendah dan hina."(IRIBIndonesia)

Tags:


6Comments

Comments

Name
Mail Address
Description