Pengaruh Media Terhadap Budaya (Bagian Pertama)

Font Size

Print

SHARE

Tweet it Digg it Google

Barat dengan berbagai cara dan propagandanya, khususnya melalui media, berupaya menarik perhatian masyarakat internasional terhadap budaya dan bahasa mereka. Sebagai contoh, media-media Eropa mengenalkan budaya dan bahasa Barat termasuk bahasa Inggis sedemikian rupa, sehingga tercipta opini bahwa budaya dan bahasa mereka lebih baik daripada budaya dan bahasa bangsa lain.

 

Dewasa ini, media dengan menggunakan berbagai teknologi canggih, seperti televisi, mampu mengantarkan pesan-pesannya kepada ratusan juta pemirsanya di seluruh penjuru dunia. Misalnya pada tahun 2010, sekitar satu miliar pemirsa dapat menyaksikan langsung pertandingan final sepakbola Piala Dunia. Jumlah itu melebihi jumlah penonton naskah-naskah pertunjukkan karya William Shakespeare sejak zaman penulisannya sekitar tahun 1600 hingga kini. Shakespeare adalah seorang penyair dan dramawan Inggris yang meninggal pada tanggal 23 April 1616.

 

Saat ini, film-film sinema terkenal dan terlaris memiliki puluhan juta penonton di seluruh penjuru dunia, maka tak aneh jika dilakukan riset dan pengkajian terhadap dampak media massa terhadap opini masyarakat.

 

Sebagian masyarakat memposisikan media massa sebagai alat hiburan. Mereka menghidupkan televisi terkadang hanya ingin menyaksikan pertandingan olahraga, serial komedi rutin tiap malam, atau hanya ingin mendapatkan informasi kondisi cuaca. Sebagian lain membeli koran hanya untuk membaca berbagai iklan dan berita olahraga atau ulasan terkait kehidupan para aktor sinema yang dimuat di dalamnya. Ada juga dari mereka yang memanfaatkan radio hanya untuk mendengarkan musik kesukaannya atau selama berjam-jam menggunakan komputer pribadi untuk bermain game. Biasanya, masyarakat seperti ini tidak mengkhawatirkan akan dampak negatif dari media terhadap perubahan prilaku dan budayanya. Jika mereka memprotes media, terkadang hanya karena tidak menemukan acara yang disukai di antara berbagai acara yang disajikan.

 

Namun, banyak pakar yang mengkhawatirkan akan dampak media massa terhadap opini dan budaya masyarakat. Mereka menilai banyak media yang merugikan dan dampak negatifnya lebih besar dibandingkan manfaat yang diperoleh, karena isi acara dan rubrik yang disajikan baik di media cetak, visual atau audio visual mempromosikan berbagai hal yang kontroversial atau membawa misi tertentu. Para ahli itu menggambarkan media sebagai aktor utama panggung politik dan budaya, dan menilainya sebagai ancaman terhadap budaya itu sendiri.

 

Adanya keragaman persepsi dan pendapat yang berbeda mungkin akan menyebabkan keraguan bagi masyarakat apakah benar media mempunyai dampak negatif sedemikian parahnya? Untuk menjawab keraguan ini, kita perlu merujuk kembali ke berbagai peristiwa di masa lalu. Sekitar 2000 generasi sebelumnya, yaitu pada masa ketika nenek moyang kita belum menggunakan bahasa seperti saat ini, mereka hanya mampu berucap dan tahap demi tahap mulai menciptakan bahasa. Terciptanya bahasa merupakan perubahan besar pertama dalam hal komunikasi. Langkah selanjutnya adalah penyimpanan dan penyebaran informasi melalui bahasa itu, sehingga muncul apa yang disebut "media". Terciptanya huruf Abjad, penulisan, penerbitan, pembuatan film, komputer dan internet merupakan tahap-tahap penting terkait hal itu.

 

Hubungan masyarakat antara satu dan lainnya dengan fasilitas tersebut semakin meningkat dan bervariasi. Para kritikus media meyakini bahwa dunia media saat ini tidak lagi menjaga standar dan aturan dalam membangun komunikasi dan hanya bersandar pada kerangka agenda, penulisan dan ucapan, serta tidak memperhatikan isinya. Hal ini menyebabkan munculnya ide-ide semisal "Global Village" atau "Integrasi Budaya", di mana media digunakan untuk membantu menghapus keanekaragaman budaya di tingkat internasional.

 

Pada dekade 1920-an muncul protes terhadap media, yaitu ketika lembaga "Payne" mengkaji masalah dampak sinema terhadap anak-anak dan mempublikasikannya. Riset tersebut berkembang luas, bahkan telah meneliti pengaruh sinema dan televisi terhadap perubahan budaya.

 

Pada dekade 1960-an, Marshall McLuhan, seorang pakar media massa dari Kanada, mengatakan bahwa komunikasi yang mudah dan cepat telah menghubungkan manusia antara satu dan lainnya, bahkan hubungan internasional telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Sebenarnya, tema perkataan McLuhan didasarkan pada penghapusan keragaman budaya dan penyatuan masyarakat berlandaskan pada satu budaya tertentu. Mungkin pada awalnya, pandangan McLuhan dinilai positif, namun ternyata sebaliknya, perluasan pandangan itu telah merugikan budaya masyarakat.

 

Albert Bandura, seorang psikolog yang lahir pada tanggal 4 Desember 1925, di Mundare, Alberta, Kanada dan dikenal sebagai pencetus teori pembelajaran sosial dan teori self-efficacy. Bandura memamaparkan terorinya yang dikenal dengan "Social Learning Theory". Tahap awal penelitian Bandura menganalisa dasar-dasar belajar manusia dan kecenderungan anak-anak dan orang dewasa meniru perilaku yang diamati pada orang lain, khususnya agresi.

 

Teori pembelajaran sosial adalah teori perilaku paling relevan dengan kriminologi. Albert Bandura percaya bahwa agresi dipelajari melalui proses yang disebut pemodelan perilaku. Bandura berpendapat bahwa individu, terutama anak-anak belajar merespon secara agresif ketika mengamati orang lain, baik secara pribadi atau melalui media dan lingkungan. Pada percobaan boneka Bobo, anak-anak meniru agresi orang dewasa karena mendapat penghargaan. Bandura berpendapat bahwa agresi pada anak-anak dipengaruhi oleh penguatan anggota keluarga, media, dan lingkungan.

 

Berdasarkan teori Bandura, masyarakat cenderung mengambil contoh dan model dari apa yang disajikan di media, sehinga akan terjadi perubahan besar di tingkat sosial dan budaya mereka. Perilaku dan cara berbicara, berpakaian, berjalan dan segala bentuk perbuatan lainnya biasanya ditiru dari media audio visual seperti televisi dan sinema. Pemodelan semacam ini terkadang sangat halus sehingga pelaku tidak sadar bahwa apa yang dilakukannya bukan sikap dirinya yang sesungguhnya.

 

Tentu saja, kajian terkait dampak media terhadap budaya masyarakat tidak terbatas pada pandangan-pandangan di atas. Setiap manusia dari awal lahir berada di bawah pendidikan keluarga, orang-orang sekitar dan sahabat-sahabatnya. Tetapi peran media dewasa ini sangat penting. Pendidikan masyarakat, khususnya generasi muda dan anak-anak yang didapat melalui media akan menentukan sikap mereka dalam menjalani kehidupan sosial. Sebagai contoh, sebuah drama keluarga yang menceritakan tentang seseorang yang sedang menghadapi masalah serius akan berdampak langsung terhadap pemirsa dalam menyikapi masa depannya.

 

Riset membuktikan bahwa media mampu menarik audien untuk mengikuti pendidikan yang diinginkan dan dengan halus menyeret mereka ke suatu bentuk kehidupan masyarakat yang dikehendaki. Oleh karena itu, pendidikan secara langsung melalui media adalah salah satu cara media mengubah budaya tertentu. Selain itu, untuk menarik audien, media juga menggunakan berbagai cara seperti penggunaan kata-kata yang menarik, musik, warna dan ratusan hal lainnya yang dapat memperkuat strategi media untuk mengubah budaya.

 

Namun, topik terpenting masalah ini adalah terancamanya budaya dan bahasa lokal yang semakin terkikis, di mana hanya dipraktekkan oleh komunitas kecil dan ada di sejumlah titik di dunia saja. Media-media Eropa dengan berbagai cara mengenalkan budaya dan bahasa Barat, seperti bahasa Inggris kepada masyarakat internasional dan menggiring mereka supaya ber-opini bahwa budaya dan bahasa Barat lebih baik daripada budaya dan bahasa mereka.

 

Pengembangan pendidikan bahasa asing meski ada nilai positifnya, namun penyampaian informasi hanya dengan sejumlah bahasa yang terbatas akan menyebabkan hilangnya bahasa dan budaya lainnya. Pemaparan negatif terkait suatu budaya dan pengenalan serta pendekatan terhadap budaya lain termasuk langkah media yang tidak mengidahkan hak-hak orang lain. Di sisi lain, langkah itu merupakan upaya integrasi budaya. Sebagai contoh, pada masa perang dingin, diproduksi flm-film yang menggambarkan orang-orang Rusia sebagai manusia yang kasar dan tak seorang pun memahami bahasa mereka, bahkan budaya dan seni mereka telah ditinggalkan. Kondisi itu serupa dengan apa yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir, di mana media-media Barat menggambarkan Islam sebagai agama yang mengajarkan kekerasan dan teror, serta pemeluknya adalah teroris. (IRIB Indonesia/RA/NA)

Tags:


6Comments

Comments

Name
Mail Address
Description