Kebudayaan dan Peradaban Islam; Agama dan Moral

Font Size

Print

SHARE

Tweet it Digg it Google

 

Salah satu aspek penting dalam peradaban Islam adalah peran utama akhlak dan spiritual. George Zaidan, penulis Kristen asal Lebanon menulis, "Langkah pertama yang dilakukan Rasulullah Saw setelah tiba di Madinah adalah menciptakan persaudaraan antara Mekah dan Madinah. Persaudaraan antara kaum Muhajirin dan Anshar merupakan bentuk persatuan Islam yang dicanangkan Rasulullah." Menurut Zaidan, Islam dari awal menekankan moral dan spiritual.

 

Kategori agama dan moral adalah dua hal yang berhubungan erat dengan kebudayaan dan peradaban. Kedua hal itu juga berperan penting dalam mengagungkan kebudayaan dan peradaban. Sebagian besar pemikir kontemporer sepakat bahwa meski Barat sukses di bidang teknologi dan sains, tapi terpuruk dari sisi moral. Dengan ungkapan lain, Barat dari sisi peradaban, sama sekali tidak berkembang, bahkan malah terjebak dalam dekadensi. Sebagian besar pemikir juga meyakini bahwa peradaban Barat terpuruk karena tidak perhatian pada moral dan spritual.

 

Penulis asal AS,Patrick J. Buchanan , dalam bukunya, Death of the West, melontarkan sebuah pertanyaan,"Mengapa masyarakat yang berkembang dari sisi sains dan teknologi, berada dalam kondisi sekarat?"

 

Parapakar dalam mengamati keterpurukan peradaban Barat mempunyai berbagai pendapat. Pemikiran yang berkuasa di Barat setelah Renaissance, berlandaskan pada tiga ideologi, yakni humanisme, liberalisme dan sekularisme. Dalam pandangan humanisme, manusia dipahami sebagai eksistensi independen yang tidak membutuhkan peran ilahi dan hidayah Tuhan. Selain itu, kebudayaan Barat yang berlandaskan liberalisme dan individualisme, menolak nilai-nilai dan prinsip akhlak dan spritual. Penolakan terhadap nilai-nilai moral itu tentunya berakibat buruk pada kebudayaan Barat. Tak diragukan lagi, perilaku amoral adalah imbas menyampingkan moral dan spritual.

 

Selain itu, Barat juga berlandaskan pada ideologi sekuler yang menegaskan kecendurungan pada dunia. Salah satu dampak penting sekularisme adalah penolakan peran agama dalam bidang pemerintahan dan sosial. Humanisme, sekularisme dan liberalisme adalah pemikiran-pemikiran yang berkembang di Barat yang tentunya berpengaruh pada kondisi masyarakat.

 

Buchanan dalam menjawab pertanyaan yang dilontarkan terkait keterpurukan peradaban Barat di tengah kemajuan sains dan teknologi, mengatakan, "Peradaban ini terpuruk karena berlawanan dengan moral dan spiritual. Barat bahkan mengutuk semua hal yang berhubungan dengan nilai-nilai agama dan tradisi. Pada dasarnya, ideologi Barat bertentangan dengan karakter manusia dan natural."

 

Menurut Buchanan, penyimpangan moral dan penghapusan agama di dunia kehidupan manusia dapat disebut sebagai faktor utama dekadensi peradaban Barat. Ia dalam tulisannya menyebutkan, "Pada tahun 1983 ada pembahasan terkait krisis kedokteran di Gedung Putih. 600 warga AS tewas karena AIDS. Kelompok homoseksual menyatakan perang terhadap alam, dan alam juga menghukum mereka dengan hukuman terburuk. Hingga kini terdapat ratusan ribu penyandang HIV dan mereka hanya bisa bertahan hidup dengan konsumsi Green cocktail (GC). Revolusi seks telah dimulai untuk memusnahkan generasi manusia. Aborsi, perceraian, penurunan tingkat kelahiran, bunuh diri di kalangan para pemuda, konsumsi narkotika dan kekerasan atas perempuan dan kaum lanjut sia, seks bebas dan puluhan masalah lainnya. Semua itu menunjukkan keterpurukan peradaban Barat."

 

Penulis asal AS menilai heroin sebagai hal yang berpengaruh pada peradaban Barat. Heroin pada awalnya dapat menenangkan seseorang, tapi setelah mengendap di tubuh manusia akan menghancurkannya. Penulis asal AS, Kenneth R. Minogue, dalam salah satu bukunya menulis, "Karena jauh dari moral, kami tidak dapat mengklaim bahwa peradaban Eropa dan Barat terbaik."

 

Pada prinsipnya, ketika moralitas dipertahankan di tengah masyarakat dan semua nilai akhlak dihargai, maka kesejahteraan dan kelestarian masyarakat itu akan terjamin. Dr Velayati dalam bukunya, Pouya-e Farhang va Tamadun-e Islam va Iran, mengatakan, "Jika masyarakat mencapai pada peradaban yang dapat diterima, tapi tidak menghormati undang-undang, maka peradaban itu akan lemah yang kemudian berujung pada instabilitas. Saat itu, masyarakat akan kehilangan pilar-pilar peradaban."

 

Segala fenomena sosial dan segala hal yang berhubunagn dengan manusia, termasuk peradaban, mempunyai kondisi pasang surut. Sejumlah pakar meyakini bahwa setiap peradaban di sepanjang perjalanannya melewati masa-masa yang terkadang pasang dan surut. Sebagaimana yang disinggung sebelumnya, moral dan spritual dapat menjadi penyebab perkembangan peradaban dan kebudayaan. Sebaliknya, masyarakat yang mengabaikan moralitas, tak akan bertahan lama. Masyarakat itu akan dihadapkan pada keterpurukan yang serius.

 

Salah satu contoh yang jelas adalah nasib buruk yang dialami umat Islam di Andalusia. Menurut sejumlah pengamat, penyimpangan terhadap akhlak dan nilai-nilai Islam adalah salah satu faktor keterpurukan kekuatan umat Islam di Andalusia. Padahal agama Islam selalu menekankan nilai-nilai mulia dan moralitas. Dalam sejarah nabi disebutkan bahwa salah satu alasan hijrahnya Rasulullah Saw dari Mekkah ke Madinah adalah upaya menjaga jarak Rasulullah Saw dari tradisi Jahiliah.

 

Masih mengenai faktor bobroknya sebuah peradaban, pakar sejarah asal AS, Will Durant menyebut konfrontasi antara ilmu dan nilai sebagai penyebab keterpurukan peradaban. Pernyataan serupa juga ditegaskan pakar sejarah muslim Ibnu Khaldun.

 

Penyebab lainnya keterpurukan peradaban adalah tidak adanya persatuan dan solidaritas masyarakat. Penulis sejarah asal Iran, Abdolhossein Zarrin Koub menyebut tidak adanya persatuan dan solidaritas sebagai penyebab hancurnya peradaban. Ia juga berpendapat bahwa sikap toleransi malah dapat mengokohkan peradaban masyarakat.

 

Menurut penulis asal Iran itu, peradaban Islam mulai terpuruk sejak periode Dinasti Bani Umayah yang menekankan konsep rasis bahwa bangsa Arab lebih unggul dari bangsa non Arab. Selain itu, kerusakan dan hedonisme menurut Zarrin, juga menjadi penyebab lain keterpurukan peradaban. Praktik kerusakan dan hedonisme mulai mengemuka dan menonjol di masa Dinasti Bani Umayah yang juga menjadi faktor kehancuran peradaban Islam yang dibangun oleh Nabi Muhammad Saw.

 

Serangan budaya asing juga dapat dikatakan faktor lain keterpurukan kebudayaan dan peradaban. Budaya Barat terus menyerang negara-negara yang mempunyai peradaban Islam. Serangan bangsa Mongol ke negara-negara Islam dan perang-perang besar seperti Perang Salib disebut-sebut sebagai contoh jelas serangan budaya terhadap negara-negara Islam. Akan tetapi umat Islam dalam perang-perang semacam ini tidak mudah tunduk. Meski pada awalnya dikuasai, tapi umat Islam setelah beberapa waktu, dapat mempertahankan budaya Islam. Jika memperhatikan sejarah, kita akan menyaksikan bahwa umat Islam benar-benar berusaha keras mempertahankan kebudayaaan dan peradaban Islam. Ini menunjukkan bahwa budaya yang ditanamkan Islam tidak mudah sirna. (IRIB Indonesia)

Tags:


13Comments

Comments

Name
Mail Address
Description