Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Selasa, 12 Januari 2016 06:35

Kejahatan Baru Saudi di Yaman

Kejahatan Baru Saudi di Yaman

Sekjen PBB, Ban Ki-moon mengecam serangan jet tempur Arab Saudi ke rumah sakit Dokter Lintas Batas (MSF) di Yaman baru-baru ini. Ban Ki-moon dalam statemennya mengkhawatirkan serangan  terhadap rumah sakit di provinsi Saada utara dan pembatasan akses rakyat Yaman terhadap layanan medis. Sekjen PBB kembali mendesak dicapainya gencatan senjata di Yaman dan penyelesaian krisis di negara itu melalui dialog dan perundingan damai.

 

Uni Eropa juga menyatakan solidaritas terhadap Dokter Lintas Batas, dan mengecam serangan roket Saudi ke rumah sakit MSF. Dalam statemennya, Uni Eropa menilai serangan tersebut sebagai aksi yang tidak bisa diterima, dan harus dikecam. Uni Eropa mengatakan, serangan seperti ini menargetkan operasi kemanusiaan dan non-militer, yang dilarang keras oleh aturan kemanusiaan internasional.

 

Dokter Lintas Batas dalam statemennya menyatakan bahwa rumah sakit yang dibangun organisasi internasional ini di wilayah Razah, provinsi Saada Utara menjadi sasaran roket jet tempur Saudi hari Minggu (10/1). Serangan tersebut menewaskan empat orang dan menciderai 10 orang lainnya. MSF menegaskan, tiga orang petugas rumah sakit  termasuk di antara yang cidera akibat serangan tersebut, dan dua orang dalam kondisi luka parah.

 

Selain itu, Dokter Lintas Batas mengingatkan jumlah korban akibat serangan jet tempur Saudi, sebab hingga kini masih ada orang-orang yang berada di bawah puing-puing bangunan yang hancur. Seluruh pasein dan personil rumah sakit korban serangan ini dipindahkan ke rumah sakit al-Jumhouri di provinsi Saada, yang berada di bawah pengawasan Dokter Lintas Batas.

 

MSF dalam statemennya menyatakan, kami mengecam serangan ini, yang menjadi contoh agresi Saudi terhadap pusat layanan medis Yaman. Serangan jet tempur Saudi ke rumah sakit Dokter Lintas Batas hari Minggu (10/1) merupakan yang ketiga kalinya selama tiga bulan terakhir. Sebelumnya, pada Oktober 2015 lalu, jet tempur Saudi membombardir rumah sakit Hidan. Kemudian, pada tiga desember 2015 menyerang rumah sakit MSF di Taiz.

 

Menyikapi penyerangan tersebut, juru bicara Ansarullah Yaman berkata, “Kami tidak bersedia memasuki perundingan baru tanpa penghentian agresi Saudi ke wilayah Yaman. Muhammad Abdul Salam dalam wawancara dengan televisi al-Masirah Minggu malam menegaskan, dalam perundingan Desember 2015 di Swiss, tim yang dikirim dari Riyadh hanya siap untuk dua masalah yaitu pembebasan lima tawanan dan pencabutan blokade Taiz.

 

 

Menurut jubir Ansarullah, Saudi bahkan tidak memiliki kemampuan untuk memegang kendali agresi, sebab agresi militer terhadap Yaman dikontrol oleh duta besar AS. Ansarullah menilai al-Qaeda dan ISIS adalah buatan AS. Pasalnya, bendera ISIS berkibar di bank dan pusat pemerintahan kota al-Mukalla, hadramaut, tapi tidak dibombardir oleh jet tempur AS. Selain itu, Abdul Salam menegaskan tranparansi dalam perundingan, bukan pertemuan tertutup.

 

Arab Saudi bersama sembilan negara Arab kecuali Oman, dengan dukungan AS sejak 26 Maret 2015 lalu melancarkan agresi militer ke Yaman dengan tujuan mengembalikan Abd Rabbuh  Mansur Hadi menjadi presiden Yaman, padahal tidak dikehendaki rakyatnya sendiri, lalu melarikan diri.(IRIB Indonesia/PH)

 

 

 

Add comment


Security code
Refresh