Mengapa Berdoa Mengangkat Tangan ke Langit?

Font Size

Print

SHARE

Tweet it Digg it Google

Mungkin akan terlintas pertanyaan di benak kita bahwa mengapa ketika berdoa kita harus mengangkat tangan, bukankah wujud Allah Swt meliputi segala sesuatu? Lalu mengapa kita harus mengangkat tangan berharap sesuatu dari langit? Jawaban pertanyaan ini ada pada riwayat dari imam maksum berikut.

 

Sampai seluruh persyaratan terpenuhi maka rejeki manusia tidak akan terwujud dan al-Quran telah menekankan hal ini dan menjelaskan sebab-sebab diturunkannya rejeki. Masalah rejeki adalah urusan Allah Swt dan hanya Dia yang memberi. Dalam ayat 22-23 surat Dzariat Allah Swt berfirman:

 

«وَفِی السَّمَاء رِزْقُکُمْ وَمَا تُوعَدُونَ، فَوَرَبِّ السَّمَاء وَالْأَرْضِ إِنَّهُ لَحَقٌّ مِّثْلَ مَا أَنَّکُمْ تَنطِقُونَ»

 

Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu. Maka demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya yang dijanjikan itu adalah benar-benar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan.

 

Allah Swt dalam ayat ini menjelaskan rejeki manusia di langit yang telah ditetapkan dan tidak ada keraguan dalam pelaksanaannya, karena sesungguhnya tidak ada

keraguan dalam janji Allah Swt.

 

Diriwayatkan dari Abi Said Khudri bahwa Rasulullah Saw bersabda:

 

«لو أن احدکم فرّ من رزقه لتبعه کما یتعبد الموت»

 

Jika seseorang di antara kalian lari dari rejekinya, maka rejeki akan mengikutinya sama seperti kematian [yang mengikuti manusia] 1

 

Oleh karena itu, rejeki adalah urusan Allah Swt yang telah ditetapkan-Nya dan akan terwujud pada waktunya sesuai dengan batasan yang telah ditentukan untuk penerimanya. Atau jika rejeki manusia berada di langit, maka Allah Swt telah menyiapkan tangga untuk memudahkan manusia mencapai rejekinya yang telah ditetapkan, dan jika tetap tidak tercapai maka dalam waktu dekat akan tercapai.

 

Diriwayatkan Rasulullah Saw bersabda:

 

«إن الرزق لایجرّه حرص حریص و لایصرفه کره کاره»

 

Rejeki manusia yang ditetapkan oleh Allah Swt tidak akan menggiurkan orang-orang yang serakah dan tidak akan mencegah orang-orang yang tidak menginginkannya. 2

 

Sebab-sebab bertambahnya rejeki

 

Imam Ja'far as-Shadiq as berkata:

 

«کف الاذی و قلة ‌الصخب یزیدان فی الرزق»

 

Tidak mengganggu dan tidak ribut akan menambah rejeki.3

 

Juga dari diriwayatkan dari Ali bin Husein as: Aku mendengar Imam Ja'far Shadiq as berkata,

 

«ان‌الله عزوجل جعل ارزاق المؤمنین من حیث لایحتسبون و ذلک أن العبد اذا لم یعرف وجه رزقه کثر دعائه»

 

Allah Swt menetapkan rejeki seseorang dari sisi yang tidak pernah disangka dan ini disebabkan karena ketika hamba tidak mengetahui dari mana rejekinya datang, maka dia akan banyak berdoa.4

 

Abi Bashir meriwayatkan dari Imam Shadiq as yang menukil pernyataan Imam Ali as dan mengatakan,

 

«اذا فرغ أحدکم من الصلوة فلیرفع یدیه الی‌السماء و لینصب فی‌الدعاء»

 

Ketika kalian selesai menunaikan shalat maka angkatlah tangan ke langit dan berdoa.

 

Sang perawi mengatakan "Wahai amirul mukminin, bukankah Allah Swt ada di semua tempat? Imam menjawab: Benar Dia ada di semua tempat. Perawi kembali bertanya: lalu mengapa kita harus mengangkat tangan ke langit? Imam menjawab: Apakah kau tidak membaca:

 

«وَفِی السَّمَاء رِزْقُکُمْ وَمَا تُوعَدُونَ»؟

 

Maka kemana kalian meminta rejeki? Kecuali dari tempat yang seharusnya kalian memintanya! Yang telah dijanjikan di langit.

 

Menjauhi yang diharamkan

 

Almarhum Ayatullah Behjat mengatakan bahwa untuk mendapatkan rejeki yang halal, hendaknya setiap orang tidak terjebak hal-hal yang diharamkan. Allah Swt dalam ayat 118 surat Taha berfirman:

 

«إِنَّ لَکَ أَلَّا تَجُوعَ فِیهَا وَلَا تَعْرَى»

 

Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang.

 

Ini berarti bahwa jika tidak memakan yang diharamkan, maka di sorga dia tidak akan

kelaparan dan kehausan.

 

Betapa urusan dan perilaku manusia menyerupai burung-burung. Telah disiapkan jebakan untuk burung-burung dan ditebar biji-bijian dalam jebakan tersebut. Kemudian burung akan terpancing untuk melahapnya dan akhirnya dia terperangkap dalam jebakan tersebut.

 

1- Tafsir Qutubi, jilid 17, hal 42-43.

2- Nur al-Tsaqalain, jilid 5, hal 126.

3- Ibid.

4- Ibid, hal 125.

(IRIB Indonesia/MZ)

Tags:

Comments

Name
Mail Address
Description