Mengolok dan Mengejek; Wajah Buruk dari Penyakit Jiwa

Font Size

Print

SHARE

Tweet it Digg it Google

 

Mengolok dan mengejek orang lain merupakan penyakit jiwa yang berdampak buruk bagi setiap orang dan bahkan untuk masyarakat. Bahaya yang tersembunyi di balik perbuatan buruk ini membuat Maksumin as melarang umatnya mengolok dan mengejek orang lain.

 

Sebagaimana manusia dapat terserang penyakit jasmani, ia juga dapat terkena penyakit yang menyerang sisi kejiwaannya. Tapi harus diketahui bahwa penyakit kejiwaan dan akhlak lebih sulit dan komplek, bahkan terapinya lebih sulit lagi. Salah satu penyakit kejiwaan itu adalah pamer diri.

 

Penyakit suka pamer diri ini terkait dengan seseorang yang berusaha menarik perhatian orang lain di satu tempat, majlis, acara, keluarga dan teman dengan cara mengejek orang lain atau mengganggu orang lain dengan lisannya. Ia melakukan perbuatan ini hanya dengan tujuan menarik perhatian orang lain dan disambut oleh orang lain.

 

Mengejek dan mengolok orang lain biasanya muncul dari hasud, dengki, permusuhan, menutupi kekurangan atau ingin menunjukkan kelebihan. Sifat buruk ini akan merusak hubungan sosial dan menumbuhkan bibit permusuhan. Karena tidak ada orang yang senang diejek oleh orang lain. Setiap orang merasa memiliki kepribadian. Ejekan terhadap dirinya akan dinilai sebagai penghinaan atas kepribadiannya. Tidak beda apakah ejekan itu lewat lisan, raut wajah dan bahasa tubuh lainnya.

 

Secara kejiwaan, orang yang mengejek orang lain memiliki kekurangan dalam kepribadiannya. Dengan mengecilkan orang lain, ia berusaha untuk menutupi kekurangan yang ada dalam dirinya. Itulah mengapa mereka yang tidak memiliki kekurangan dalam kepribadiannya tidak pernah melakukan perbuatan buruk ini dan merasa terganggu menyaksikan perilaku buruk ini.

 

Mengejek orang lain mungkin saja berdampak untuk sementara waktu, di tempat kejadian. Tapi mereka yang mengejek orang lain harus mengetahui bahwa akibat dari perbuatan mereka itu punya dampak abadi; di dunia dan di akhirat. Kehormatan seorang mukmin sangat bernilai di sisi Allah Swt. Tidak ada orang yang berhak untuk mengejek orang lain. Dalam al-Quran, Allah Swt berfirman, "Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata." (QS. al-Ahzab: 58)

 

Mengolok dan mengejek orang lain dalam bentuk apapun terhitung haram dan perbuatan tidak berakhlak, baik itu dilakukan lewat lisan, tulisan, suara dan gambar atau dengan tertawa. Al-Quran menyebutkan, "Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila orang-orang yang beriman lalu di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya. Dan apabila orang-orang yang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira. Dan apabila mereka melihat orang-orang mukmin, mereka mengatakan: "Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat", padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk penjaga bagi orang-orang mukmin. Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir." (QS. al-Muthaffifin: 29-34)

 

Cara pandang menghina dan mengejek kepada seorang muslim adalah perbuatan buruk. Rasulullah Saw bersabda, "Barangsiapa yang mengganggu seorang mukmin berarti telah menggangguku dan orang yang menggangguku itu telah mengganggu Allah. Orang yang seperti ini mendapat laknat Allah Swt, malaikat dan seluruh manusia."

 

Ada satu poin penting yang patut dicermati dalam sepanjang sejarah manusia. Orang-orang Kafir dan penyembah berhala senantiasa mengejek para nabi. Dengan cara ini mereka berusaha mengecilkan para nabi di hadapan masyarakat dan mencegah mereka meyakini risalah para nabi. Tidak hanya itu, mereka juga menyampaikan tuduhan, memberi sebutan yang buruk dan lain-lain. Semua ini merupakan contoh bagaimana para nabi diperlakukan. Tapi apa akibatnya? Sejarah melaknat orang-orang Kafir dan lebih memperhatikan apa yang dilakukan para nabi selama ini.

 

Harus dikatakan bahwa tidak boleh ada, dengan alasan apapun, baik lewat ucapan, pandangan, perilaku dan sikap yang mengejek dan menghina dalam interaksi antarmuslimin. Perbuatan buruk ini harus diganti dengan saling menghormati. (IRIB Indonesia / Saleh Lapadi)

 

Catatan:

1. Ayatullah Jafar Sobhani, Nezam Akhlaqi Eslami.

2. Jami as-Sa'adat, jilid 1.

 

Sumber: Mehr News

Tags:

Comments

Name
Mail Address
Description