Risalah Huquq; Hak Perut (Bagian Kedua, Habis)
Pekan lalu kita telah berbicara tentang perut, hak-haknya dan bahaya pola makan yang berlebihan. Terkadang orang berlebihan dalam menyantap makanan karena dirasa nikmat, sehingga ia lupa untuk tujuan apa ia datang ke dunia ini. Imam Sajjad as dalam penjelasannya menegaskan bahwa manusia seharusnya tidak berlebih-lebihan dalam urusan makanan. Karena, hal itu akan membuat orang malas, kesehatannya terganggu dan kegesitannya melemah. Imam Sajjad as menekankan untuk menjaga keseimbangan dalam semua hal.
Keseimbangan dalam segala hal, terutama dalam soal makanan adalah perkara yang terpuji. Sebab, hal itu akan menjamin kesehatan fisik, kegairahan jiwa dan membantu orang untuk memanfaatkan peluang yang ada dengan lebih baik. Orang dengan pola makan yang sedikit dan tidak pasrah kepada tuntutan hawa nafsunya cenderung punya kepedulian kepada orang lain. Menjaga keseimbangan pola makan akan membuat perasaan orang menjadi peka dan kian menghidupkan daya pikir dan nalarnya.
Penyair Iran, Syeikh Musliuddin Sa'di Shirazi dalam buku Golestan, menulis, "Salah seorang raja mengutus seorang tabib yang mahir untuk mengabdi kepada Rasulullah Saw. Setahun lamanya ia hidup di negeri Arab dan selama itu jarang ada orang yang datang mengeluhkan penyakit kepadanya. Tabib tersebut akhirnya mendatangi Nabi dan mengeluhkan keadaannya. Dia berkata, "Aku diutus kemari untuk membantu mengobati masyarakat yang sakit. Tapi tidak ada orang yang datang kepadaku untuk berobat." Nabi Saw bersabda, "Kabilah yang engkau hadapi adalah orang-orang yang tidak makan kecuali bila nafsu makan sudah menguasai mereka. Dan mereka berhenti makan ketika nafsu makan masih ada." Mendengar jawaban itu, sang tabib berkata, "Memang itulah kunci menjaga kesehatan.""
Jelas yang dimaksud dengan makan sedikit bukan berarti kita menahan lapar hingga jatuh lemah. Namun kita tidak boleh makan secara berlebihan hingga terserang berbagai jenis penyakit. Para ulama juga senantiasa menyarankan kita untuk makan secukupnya sehingga kita mendapatkan kejernihan kalbu dan kesucian jiwa.
Poin lain yang ditekankan Imam Sajjad as adalah tidak memenuhi perut dengan makanan yang diperoleh dengan cara tidak benar dan jalan haram. Imam Sajjad as berkata, "Tidak pantas menggunakan perutmu sebagai wadah untuk barang haram baik sedikit atau banyak." Anjuran ini akan terlihat lebih penting ketika kita mempelajari ayat-ayat al-Quran. Surat ‘Abasa ayat 24, Allah Swt berfirman, "Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya."
Makanan punya pengaruh kuat terhadap kepribadian dan jiwa manusia. Seseorang yang selalu mengkonsumsi makanan haram, maka akan berdampak negatif terhadap tingkah dan perilakunya. Menurut keyakinan sejumlah pakar, penyebab dan akar kebodohan dan menurunnya daya pikir terletak pada pola konsumsi seseorang.
Pada dasarnya, peringatan Imam Sajjad as untuk tidak mengkonsumsi makanan haram, secara tidak langsung juga menyinggung pada bentuk pekerjaan dan cara seseorang mencari nafkah. Perbedaan mendasar antara ekonomi Islam dengan teori-teori ekonomi lain adalah adanya hubungan erat antara kegiatan ekonomi seorang muslim dengan masalah-masalah kemanusiaan dan moral. Sebenarnya bentuk pekerjaan menunjukkan kepribadian seseorang.
Pada masa sekarang, tujuan bekerja adalah meraup keuntungan sebesar-besarnya. Namun seorang muslim tidak boleh merampas atau menistakan hak-hak orang lain demi kepentingannya. Ia harus menjauhi transaksi yang merugikan orang lain atau mengancam keselamatan masyarakat. Transaksi sesuatu yang berbahaya seperti narkotika, perdagangan manusia dan menjual sesuatu yang dapat memperkuat orang-orang zalim, termasuk jual-beli yang dilarang oleh Islam. Islam juga menetapkan hukuman di dunia dan akhirat terhadap para pelaku kriminal seperti mencuri dan menerima suap.
Orang-orang yang memutar roda kehidupannya dengan transaksi-transaksi haram, maka masyarakat tidak memperoleh sesuatu kecuali kerugian. Rasul Saw bersabda: "Ada empat hal yang jika kalian memilikinya, maka jangan bersedih karena tidak memiliki hal lain yaitu, kejujuran, amanah, akhlak mulia, dan kesucian dalam makanan." Oleh karena itu, mereka yang menghalalkan segala cara untuk memperoleh ambisinya dan merampas harta orang lain, maka mereka senantiasa berada di jurang kehancuran dan kebinasaan. Menurut Imam Sajjad as, makanan yang sehat, suci dan halal dapat menyehatkan seseorang, menjernihkan akal dan mensucikan jiwa. (IRIB Indonesia)