Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Minggu, 03 November 2013 00:14

Pentingnya Acara Ratapan Imam Husein as

Pentingnya Acara Ratapan Imam Husein as

Ayat dan Riwayat

Allah Swt berfirman, "Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi'ar-syi'ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati."[1]

1. Dari Imam Shadiq as, "Imam Husein as mendatangi Rasulullah Saw dan beliau segera menjemputnya dengan membentangkan kedua tangannya lalu mendekapnya. Setelah itu beliau mendudukkan Husein as di atas pangkuannya dan bersabda, ?Sesungguhnya pembunuhan Husein memunculkan bara dalam hati orang-orang Mukmin yang tidak akan pernah menjadi dingin."

Setelah itu Imam Shadiq as menambahkan, "Ayahku sebagai tebusannya orang yang terbunuh setiap air mata yang bercucuran."

Ada yang bertanya, "Wahai Ibnu Rasulillah! Apa maksudnya terbunuh setiap air mata yang bercucuran?"

Beliau menjawab, "Setiap kali seorang mukmin mengingatnya, niscaya ia meneteskan air mata."[2]

2. Imam Shadiq berkata, "... Tidak ada mata dan air mata yang lebih dicintai oleh Allah dari mata yang menangis untuk Husein as. Setiap orang yang menangis untuk Husein as berarti telah mendekatkan diri dengan Fathimah Zahra as dan membuatnya gembira. Perbuatan itu membuatnya juga dekat dengan Rasulullah Saw dan telah melaksanakan hak kami yang menjadi tanggungannya. Setiap hamba yang dibangkitkan di Hari Kiamat akan menangis, kecuali mereka yang telah menangisi kakekku, Husein as. Ketika dibangkitkan, mata mereka berbinar-binar dan datang kabar gembira yang membuat wajah mereka terlihat gembira. Sementara selain mereka tampak sedih menghadapi perhitungan amal. Orang-orang yang menangis untuk Husein as di dunia dalam keadaan aman di bawah naungan dan berbicara dengan Imam Husein as. Mereka tidak tampak khawatir menghadapi perhitungan amal perbuatannya.

Dikatakan kepada mereka agar segera memasuki surga, tapi mereka masih enggan dan memilih untuk tetap bersama Husein as. Setelah itu dikirim bidadari surga kepada mereka yang menyatakan telah rindu untuk bertemu mereka, tapi mereka tidak bergeming, bahkan tidak mengangkat kepalanya untuk melihat para bidadari itu. Hal itu dikarenakan kegembiraan yang mereka rasakan berdekatan dengan Husein as.[3]

3. Imam Shadiq as berkata, "Wahai Abdullah bin Shinan! Amal paling utama yang dilakukan di hari ini (Asyura) adalah engkau memakai pakaian bersih, membuka kancingnya, tangan baju dinaikkan, kepala tidak tertutup dan kaki tidak memakai alas sama seperti orang yang terkena musibah."[4]

4. Orang mukmin paling sempurna dari sisi iman adalah orang yang akhlaknya paling baik, hatinya paling lembut, tangisannya atas kami Ahlul Bait lebih banyak, kecintaannya kepada kami Ahlul Bait lebih kokoh dan hatinya lebih tersentuh dengan musibah kami,"[5]

5. Diriwayatkan ketika Nabi Muhammad Saw menceritakan kepada putrinya, Fathimah as tentang syahadah putranya, Husein as dan musibah yang menimpanya, Fathimah as menangis dan berkata, "Wahai ayah! Kapan terjadinya?" Nabi Saw berkata, "Itu terjadi ketika aku, engkau dan Ali sudah tiada." Mendengar itu, tangisan Fathimah as semakin keras lalu berkata, "Wahai ayah! Lalu siapa yang menangisinya? Siapa yang menyelenggarakan acara ratapan duka untuknya?"

Nabi Saw berkata, "Wahai Fathimah! Sesungguhnya para perempuan umatku akan menangisi perempuan dari Ahlul Baitku dan prianya menangisi para pria dari Ahlul Baitku. Setiap tahun dari generasi ke generasi akan memperbarui ratapan dukanya dan terus menghidupkannya. Nanti di Hari Kiamat, engkau memberi syafaat yang perempuan dan aku yang pria. Saya akan memegang tangan orang yang menangisi musibah yang menimpa Husein as dan membawanya ke dalam surga. Wahai Fathimah! Setiap mata akan menangis di Hari Kiamat, kecuali mata yang menangisi musibah Husein as. Pemilik mata ini akan gembira di Hari Kiamat dan diberi kabar gembira akan nikmat-nikmat surga."[6]

6. Dalam hadis munajat, Nabi Musa as berkata, "Ya Allah! Apa yang menyebabkan umat Muhammad lebih mulia dari umat yang lain?" Allah Swt berfirman, "Mereka lebih mulia dengan 10 hal." Musa as berkata, "Dari 10 hal itu, mana yang diamalkan oleh mereka? Ajari aku agar dapat kusampaikan kepada Bani Israil dan mereka mengamalkannya." Allah Swt berfirman, "Shalat, zakat, puasa, haji, jihad, shalat Jumat, shalat jamaah, al-Quran, ilmu dan Asyura." Musa berkata, "Ya Allah! Apa itu Asyura?" Allah berfirman, "menangisi cucu dari anak perempuan Muhammad Saw dan ratapan duka atas musibah yang menimpa anak-anak Musthafa Saw. Wahai Musa! Setiap hamba-Ku yang waktu itu menangisi anak-anak Musthafa Saw atau membuat orang lain menangis dan memperingati acara ratapan duka, niscaya surga menjadi tempatnya dan tinggal selama-lamanya di sana. Barangsiapa memberi makan orang lain atau berinfak dengan satu dirham dikarenakan cinta kepada anak putri Nabi Saw, maka selama di dunia Aku akan memberi berkah 70 dirham untuk setiap dirham yang dikeluarkannya. Ia akan dimasukkan ke surga dan diampuni dosa-dosanya."[7]

Pendapat Imam Khomeini dan Khamenei

Imam Khomeini:Kita menyelenggarakan acara ratapan duka sejak Imam Shadiq as memerintahkan kita melakukannya."[8]

Imam Khomeini: Bangsa Iran harus memahami nilai penyelenggaraan acara ratapan duka ini. Acara yang dapat melindungi bangsa ini, baik di hari Asyura yang lebih semarak diselenggarakan dan selain hari penuh berkah ini. Gerakan harus seperti ini. Bila mereka memahami dimensi politik dari acara ratapan duka Imam Husein as, maka mereka yang terbaratkan itu juga akan menyelenggarakannya dan meratapi duka Imam Husein as, sebagaimana bangsa ini melakukannya dan mereka juga melakukannya. Saya berharap majlis ratapan duka ini diselenggarakan lebih baik lagi. Karena mulai dari pidato hingga pembacaan kidung duka semua memiliki pengaruh besar. Baik itu berupa seseorang berdiri di atas mimbar dan membacakan syair puisinya, hingga seorang khatib. Keduanya punya pengaruh besar. Pengaruhnya sangat alami. Pengaruhnya tetap ada sekalipun sebagian orang tidak tahu apa yang tengan dilakukan. Pengaruhnya tetap ada tanpa mereka sadari.[9]

Imam Khomeini: Kidung duka Imam Husein as demi melindungi pemikiran Imam Husein as. Mereka yang mengatakan jangan membaca kidung duka Imam Husein as pada dasarnya ia tidak tahu apa itu pemikiran Imam Husein as. Ia tidak tahu apa yang terjadi. Tangisan dan pembacaan kidung duka Imam Husein as yang telah melindungi pemikiran Imam Husein as. Sekarang 1400 tahun berlalu, pidato di atas mimbar, pembacaan kidung duka, pembacaan musibah dan dengan memukul dada ini yang berhasil menyelamatkan kita. Dengan ini Islam dibawa. Ini peran yang mampu menghidupkan Islam. Sama seperti bunga yang senantiasa diberi air agar tetap hidup, segala tangisan ini untuk mempertahankan pemikiran Imam Husein as. Pembacaan musibah ini juga yang berhasil menghidupkan pemikiran Imam Husein as.[10]

Imam Khomeini: Imam Husein as dengan jumlah yang sedikit telah mengorbankan segala yang dimilikinya. Beliau tegar menghadapi sebuah imperium besar dan tetap mengatakan "tidak". Setiap hari dan di segala tempat sikap "tidak" ini harus terjaga. Dan acara-acara ratapan duka ini ini yang tetap mempertahankan kelanjutan sikap ini, sehingga "tidak" tetap terjaga.[11]

Imam Khamenei: Acara pembacaan musibah Imam Husein as adalah sumber mata air yang meluap-luap dan bermula dari Zuhur hari Asyura. Sejak Sayidah Zainab as, sebagaimana dinukil, berdiri di atas "Tel Zainabiyah" dan kepada Nabi Muhammad Saw, beliau berteriak, "Wahai Muhammad! Semoga salawat para malaikat senantiasa bersamamu. Ini adalah jasad Huseinmu yang terbungkus darah dan anggota badannya telah terpisah-pisah, sementara jubah dan sorbannya dijarah.[12] Setelah itu Sayidah Zainab as mulai membaca kidung duka Husein as dan menceritakan peristiwa Karbala dengan suara lantang. Padahal mereka ingin peristiwa ini tetap tersembunyi dan tidak diketahui oleh orang lain. Saudari Imam Husein as menjelaskan peristiwa yang sebenarnya terjadi dengan suara lantang baik di Karbala, Kufah, Syam dan Madinah. Sumbernya telah mendidih sejak awal terjadinya peristiwa ini dan itu berlanjut hingga kini. Itulah peristiwa Asyura.[13]

Imam Khamenei: Kini hendaknya menyelenggarakan acara peringatan ratapan duka dengan cara yang konvensional, sama seperti berabad-abad lalu, dimana umat Islam dan ulama ikut dalam acara ini. Yakni, dibentuknya majlis ratapan duka, iringan ratapan duka dan tempat-tempat ratapan duka yang memiliki kondisi sedih dan cinta kepada Ahlul Bait. Hendaknya diusahakan agar pembacaan musibah, syair, ratapan duka lebih berisi, memiliki kandungan yang benar dan berasal dari para Imam Maksum as atau ulama besar.[14]

Imam Khamenei: Saya benar-benar khawatir, semoga tidak demikian, di periode kemunculan Islam dan manisfestasi pemikiran Ahlul Bait dan kita belum mampu melaksanakan kewajiban. Sebagian pekerjaan yang bila dilakukan dapat mendekatkan masyarakat kepada Allah dan agama. Satu dari pekerjaan itu adalah acara ratapan duka klasik yang dapat menyebabkan masyarakat lebih dekat kepada agama. Imam Khomeini ra mengatakan, "Lakukan acara ratapan duka secara klasik!", dikarenakan fungsinya dapat mendekat masyarakat kepada agama. Dalam majlis ratapan duka ada yang duduk, membaca kidung duka, menangis, memukul kepala dan dada dan kelompok iringan ratapan duka. Semua ini meluapkan cinta masyarakat kepada Ahlul Bait dan ini sangat bagus.[15] (IRIB Indonesia / Saleh Lapadi)

Sumber: Dast-e Penhan; Negahi Beh Tarikhcheh, Mabani Feqhi va Baztabha-ye Qameh Zani dar Afkar-e Umumi va Resaneh-haye Bainul Melali, Qom, Sazman Owghaf va Umur-e Kheiriyeh Ostan-e Qom, 1387 HS.



[1]
. QS. al-Hajj: 32.

[2]. Mustadrak al-Wasail, jilid 10, hal 318.

[3]. Ibid, hal 314.

[4]. Bihar al-Anwar, jilid 98, hal 304.

[5]. Ayatullah Mir Jahani Thabathabai, al-Buka Lil Husein as, hal 68.

[6]. Bihar al-Anwar, jilid 44, hal 37.

[7]. Mustadrak al-Wasail, jilid 10, hal 319.

[8]. Sahifah Nour, jilid 10, 30/7/1358 HS.

[9]. Ibid, jilid 16, 30/3/1361 HS.

[10]. Ibid, jilid 15, 4/8/1360 HS.

[11]. Ibid, jilid 10, 30/7/1358 HS.

[12]. Al-Luhuf Ala Qatla at-Thufuf, hal 133.

[13]. Pidato di depan ulama provinsi Kahkiluyeh Bouyer Ahmad menjelang bulan Muharram. 17/3/1373 HS.

[14]. Jawaban surat Imam Jumat Ardebil, Hujjatul Islam Agha Moravvij, 23/3/1373 HS.

[15]. Pidato di depan ulama provinsi Kahkiluyeh Bouyer Ahmad menjelang bulan Muharram. 17/3/1373 HS.

Add comment


Security code
Refresh