Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Selasa, 24 September 2013 19:36

Kejahatan Takfiri dan Standar Ganda Barat

Kejahatan Takfiri dan Standar Ganda Barat

Kebijakan standar ganda Barat semakin tampak jelas di dunia seiring berlanjutnya krisis berdarah di Suriah. Barat menuding pemerintah Suriah menggunakan senjata kimia dan menciptakan kegaduhan politik dan propaganda media untuk mengotorisasi serangan militer ke negara Arab itu. Namun, Barat ? yang mengaku mencintai nilai-nilai kemanusiaan dan HAM ? menutup mata dari kejahatan yang dilakukan oleh kelompok Salafi yang berafiliasi dengan Al Qaeda di Suriah. Jika kejahatan teroris Takfiri itu menimpa salah seorang dari masyarakat Barat, maka pemberitaan besar-besaran tentang kejahatan itu akan menghiasi media-media dunia.

Masyarakat dunia mungkin masih ingat peristiwa yang menimpa beberapa masyarakat Barat selama pendudukan Irak. Pada waktu itu, kelompok Salafi menyandera beberapa warga Barat dan membunuh mereka secara keji. Menyusul peristiwa itu, Amerika Serikat melakukan propaganda luas untuk membenarkan berlanjutnya pendudukan Irak. Sekarang, Takfiri di Suriah terlibat kejahatan yang puluhan kali lipat lebih besar dari Irak, tapi kejahatan itu hanya mendapat sorotan minim dari media-media Barat.

Ada dua alasan utama terkait kebijakan standar ganda Barat dalam membela hak asasi manusia dan demokrasi di dunia. Alasan pertama, pemerintah-pemerintah Barat terutama AS selama dua dekade lalu melakukan intervensi di sejumlah negara dunia di bawah kedok bantuan kemanusiaan. Dan alasan kedua, negara-negara Barat seperti Inggris dan Perancis berusaha menjustifikasi kebijakan gila perang mereka melalui program tersebut. Mereka dengan alasan perang kontra-terorisme, menyerang Afghanistan dari udara dan darat, sementara Irak diduduki dengan dalih kepemilikan senjata pemusnah massal.

Warga sipil di Afghanistan, Pakistan dan Yaman dibantai dengan alasan menghancurkan basis-basis kelompok teroris dengan pesawat tanpa awak. Akan tetapi rakyat Suriah telah menjadi korban dari dua arah, mereka menjadi korban kejahatan kelompok Takfiri dan juga korban pemerintah-pemerintah Barat. Barat dari satu sisi mengaku ingin menegakkan demokrasi dan melindungi rakyat Suriah dari pemerintahan Bashar al-Assad, tapi dari sisi lain menutup mata mereka dari kejahatan-kejahatan kelompok Takfiri.

Barat selain tidak mereaksi kekejaman yang dilakukan oleh kelompok Takfiri di Suriah, tapi sebaliknya, mereka memberikan dukungan politik, finansial dan militer kepada anasir teroris tersebut. Takfiri tidak memiliki kekuatan untuk menghadapi tentara Suriah dalam dua tahun terakhir jika tanpa dukungan Barat dan sekutu regionalnya seperti Turki, Arab Saudi dan Qatar. Sebagian besar militan di Suriah didatangkan dari negara-negara lain dan mereka mendapat pelatihan di kamp-kamp militer di Turki dan Yordania. Dan kemudian mereka dikirim ke Suriah dalam kelompok-kelompok yang terorganisir.

Pada dasarnya, pemerintah-pemerintah Barat terlibat langsung dalam pelatihan kelompok Takfiri untuk membantai warga sipil Suriah. Barat mengesankan dirinya sebagai pembela rakyat Suriah dan ingin mendapatkan mandat untuk menyerang negara itu dengan mengangkat isu-isu seperti penggunaan senjata kimia oleh pemerintah Damaskus. Padahal, mereka sendiri berperan dalam membunuh rakyat Suriah melalui anasir-anasir Takfiri.

Tentu saja, perilaku keji dan pemikiran kaku para ekstrimis dan militan Takfiri tidak ada hubungannya dengan Islam. Islam adalah agama kasih sayang, perdamaian dan kemanusiaan. Nabi Muhammad Saw senantiasa mengajak umat Islam untuk berakhlak mulia dan bersikap penuh kasih sayang bahkan kepada non-Muslim. Beliau Saw dalam berbagai kesempatan, mewasiatkan umat Islam untuk berlaku adil dan baik dengan para tawanan. Imam Ali as di penghujung hayatnya, juga mewasiatkan putra-putranya untuk bertindak adil terhadap orang yang telah menghunuskan pedang atasnya.

Para pemimpin agama Islam adalah simbol rahmat, kasih sayang, dan pemaaf. Oleh karena itu, mustahil Islam memerintahkan umatnya untuk menebarkan kekerasan dan memenggal kepala manusia lain atau membakar mereka karena perbedaan keyakinan. Islam juga mustahil mengizinkan umatnya untuk menyeret anak-anak dan remaja ke tiang gantung dengan alasan balas dendam.

Salah satu faktor tersiarnya Islam pada tahun-tahun pertama dakwah adalah akhlak mulia dan kasih sayang Rasul Saw dalam berinteraksi dengan masyarakat dan bahkan dengan musuh-musuh Islam. Rasul Saw pada tahun-tahun pertama pengutusan di Mekkah, mendapat pelecehan dan siksaan dari warga setempat. Dikisahkan bahwa seorang Yahudi Mekkah kerap meludahi wajah Nabi Saw setiap kali berpas-pasan di lorong kota. Pada suatu hari, Nabi Saw tidak mendapati lagi orang Yahudi tersebut. Setelah bertanya kesana-sini, akhirnya Nabi Saw tahu bahwa orang itu sedang jatuh sakit. Beliau pun memutuskan untuk menjeguk Yahudi itu. Keagungan akhlak Nabi Saw telah meluluhkan hatinya. Ia pun memeluk Nabi Saw dan menyatakan masuk Islam.

Islam yang diagung-agungkan oleh kelompok Takfiri dan sebagian Salafi adalah sebuah ajaran Islam yang telah diselewengkan. Islam hakiki sama sekali tidak mengizinkan umatnya untuk mengkafirkan kelompok lain dan menyakiti mereka apalagi sampai membunuh antar-sesama. Jihad dalam Islam hanya dibolehkan ketika ada kasus agresi terhadap agama, tanah air dan kehormatan kaum Muslimin.

Dakwah merupakan poros dasar dalam menyebarluaskan agama Islam. Rasul Saw memilih hijrah ke Madinah setelah mendapat tantangan yang hebat di Mekkah dan ancaman terhadap keselamatannya. Semua tantangan itu menghalangi dakwah beliau di kota tersebut. Namun delapan tahun kemudian, Rasul Saw dengan bala tentaranya kembali ke kota Mekkah, tapi berbeda dengan penantian semua orang, beliau malah menjamin keamanan warga Mekkah. Salah satu tempat yang dijamin keamanannya adalah rumah Abu Sufyan, pemimpin Musyrik Mekkah.

Perlu diketahui bahwa Abu Sufyan tak pernah berhenti menentang misi dakwah Nabi Saw dan ia juga telah memimpin beberapa perang terhadap umat Islam. Pada peristiwa perang Uhud, istri Abu Sufyan memakan jantung Hamzah, paman Nabi Saw. Akan tetapi, Rasul Saw menjadikan rumah orang tersebut sebagai tempat yang aman dalam penaklukan kota Mekkah.

Nabi Saw adalah sosok yang penuh kasih sayang, kelembutan, cinta kepada kemanusiaan dan pemaaf. Lalu, bagaimana kelompok Takfiri bisa melakukan kejahatan mengerikan dan membantai orang-orang tak berdosa di Suriah? Tak ada riwayat dan ayat al-Quran yang mengizinkan kejahatan seperti itu. Pada dasarnya, pemerintah-pemerintah Barat memanfaatkan kejahatan Takfiri untuk beberapa kepentingan. Mereka menggunakan beberapa kasus kejahatan Takfiri untuk mengesankan Islam sebagai agama kekerasan.

Barat juga berupaya menyeret rakyat Suriah dalam krisis berkepanjangan dengan memberi dukungan politik, finansial dan militer kepada kelompok Takfiri untuk melakukan kejahatan di Suriah. Namun setelah pemberontak Suriah tidak mampu menghadapi kekuatan militer Assad,  akhirnya Barat dengan berbagai alasan mengangkat wacana serangan militer ke Suriah. Dari sisi lain, AS memperkeruh suasana dengan memperuncing konflik Sunni-Syiah yang ditandai dengan meningkatnya serangan-serangan terhadap komunitas Syiah di Suriah. (IRIB Indonesia/RM)

Add comment


Security code
Refresh