Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Rabu, 28 Agustus 2013 14:48

Catatan Shariatmadari: Hari yang Dijanjikan Hampir Tiba!

Catatan Shariatmadari: Hari yang Dijanjikan Hampir Tiba!

1. Hari Kamis, 27 Maret 2003 saat militer Amerika tujuh hari pasca agresi ke Irak dan menguasainya, George W. Bush, Presiden Amerika waktu itu muncul di halaman luar Gedung Putih yang telah dipenuhi oleh wartawan. Dengan gaya sombong yang menunjukkan kekuatan tanpa tanding Amerika, Bush berkata kepada para wartawan, "Iraq is over!". Ia menyampaikannya dengan gaya mencibir. Beberapa jam setelahnya, ucapannya itu berubah menjadi judul pertama media-media. 9 tahun kemudian, pada Desember 2011, ketika tentara terakhir Amerika lewat perintah Obama meninggalkan Irak, majalah Amerika Forbes dalam tajuknya bertanya kepada Bush dan Obama, "Apa yang kita raih sejak mengagresi Irak dan mendudukinya selama 9 tahun?! Lebih dari 2500 tentara Amerika tewas, pembiayaan perang yang mencapai lebih dari 5 triliun dolar yang diambil dari pajak rakyat Amerika, kita telah menghapus musuh utama Amerika di Timur Tengah, Amerika menjadi negara agresor, dan akhirnya kita menyerahkan Irak ke tangan teman dan sekutunya Iran. Di hari-hari itu Saud al-Faisal, Menteri Luar Negeri Arab Saudi dalam wawancaranya dengan Washington Post mengatakan, ?Amerika pasca 9 tahun menyerahkan Irak kepada Iran dengan talam dari emas!"

2. Pasca kegagalan Amerika mengagresi militer Irak dan memahami bahwa hasil serangan ini justru terbalik dari yang diinginkan, Jenderal Paneta, Menteri Peperangan Amerika waktu itu dan mantan Kepala Dinas Rahasia CIA dengan bersandarkan pada dokumen hasil riset sejumlah lembaga strategis menilai setiap aksi intervensif langsung Amerika di Timur Tengah tidak akan berhasil dan justru berbahaya. Surat kabar Amerika USA Today mengutip Dewan Atlantik menegaskan pentingnya menggantikan agresi militer langsung dengan Proxy War...

3. Proxy War dimulai dengan "penyebaran fitnah" di Suriah sebagai satu dari lingkaran utama poros muqawama dan sekutu strategis Iran. Negara-negara Turki, Arab Saudi, Qatar, Yordania dan kemudian Mesir bergabung di masa Mursi menggantikan posisi Amerika dan sekutunya dalam kerangka Proxy War. Tapi berbeda dengan prediksi pertama, sekalipun telah ada dukungan luas militer, politik dan dana terhadap para teroris, proyek Proxy War ini, sekalipun menjadi tragedi bagi rakyat Suriah, mengalami kekalahan dan tidak mampu menggulingkan pemerintahan Suriah. Sebaliknya, yang terjadi adalah babak baru dari strategi muqawama dengan hasil baru dan sangat menentukan, dimana sekarang terbentuk "Pertahanan Semesta" (Difa' al-Wathani). Pertahanan Semesta ini mirip dengan pasukan Basiji di Iran dan memiliki keanggotaan lebih dari puluhan ribu orang. Partisipasi warga dalam "Pertahanan Semesta" ini di medan pertempuran sebenarnya, bukan ikut dalam latihan perang membuat anggotanya muncul menjadi unit terlatih di medan perang. Muqawama luar biasa rakyat Suriah menunjukkan anggota poros muqawama berbeda dengan yang terjadi di Mesir, Yaman, Libya dan Tunisia. Dalam kontak senjata mereka bukannya kalah, tapi justru meraih posisi baru dan mampu mengubah konstelasi politik dan militer Timur Tengah. Dewan Keamanan Nasional Amerika dalam sebuah  laporan tentang masalah ini menyebutkan bahwa Perang 33 Hari bukan saja tidak berhasil menghancurkan Hizbullah, tapi radiasi kehadiran dan pengaruh Hizbullah di Lebanon menjadi lebih luas dan sekarang negara ini yang sebelumnya lemah telah menjadi satu negara berpengaruh dalam perimbangan politik dan militer regional.

4. Di hari-hari ini, Amerika dan sekutu Eropa dan regionalnya yang tidak ada perjanjian Proxy War untuk beberapa tahun secara transparan menyusun formasi militernya untuk menghadapi poros muqawama Suriah dan kemungkinan serangan militer kolektif Amerika dan sebagian negara Eropa dan Arab terhadap Suriah berubah menjadi berita utama dunia. Alasan di balik perang yang mungkin terjadi ini oleh sebagian pengamat politik yang menilai pasti terjadi adalah tuduhan penggunaan senjata kimia oleh pemerintah Suriah terhadap para teroris. Sebuah alasan yang sama persis dengan alasan yang digunakan saat menyerang Irak bahwa di negara ini ada senjata kimia dan destruktif massal. Tapi pada akhirnya pemerintah Bush terpaksa mengakui bahwa sebenarnya tidakada senjata kimia dan pembunuh massal di Irak. Pada hari Ahad pekan ini, majalah Foreign Policy mengungkap bahwa dalam perang Iran dan Irak, Amerika memberikan senjata kimia kepada rezim Saddam untuk dipakai membantai para pejuang Islam dan warga sipil di Halabcheh.

Tuduhan penggunaan senjata kimia di sekitar Damaskus oleh militer Suriah disampaikan saat tim pencari fakta PBB yang diundang pemerintah Suriah dalam penyidikan pertamanya mengatakan para teroris yang menggunakan senjata kimia yang mengakibatkan lebih dari 630 warga sipil tewas di sekitar Damaskus. Dari sisi lain, gambar satelit yang diberikan kepada tim pencari fakta PBB yang menjadi dokumen penting menunjukkan para teroris yang menggunakan senjata kimia. Selain itu, menurut pernyataan menteri luar negeri Suriah, militer negara ini sedang berada dalam puncak kemenangan menghadapi para teroris. Dengan demikian, mereka tidak membutuhkan senjata kimia, khususnya pemboman itu terjadi di kawasan yang menjadi pendukung pemerintah Suriah, bukan daerah yang diduduki para teroris.

5. Berita terkait formasi militer Amerika dan sekutunya untuk melakukan serangan ke Suriah telah dianalisa secara detil dan luas oleh Kayhan edisi hari ini, bahkan menjadi judul utama koran ini. Di sini, saya akan mengulas dampak apa saja yang akan muncul dari serangan Amerika dan sekutunya ini. Sekalipun kemungkinan agresi militer ini juga serius, tapi jangan lupa bahwa gencarnya pemberitaan ini merupakan perang urat syaraf untuk mendapatkan poin dari Suriah dalam sidang Jenewa II. Karena harus diakui bahwa Amerika saat ini lebih lemah bila dibandingkan dengan Maret 2003 ketika mengagresi Irak. Serangan terhadap Suriah menurut banyak pakar dan media Amerika dan Eropa sendiri dinilai dengan kata "Kebodohan". Tapi sesuai dengan ucapan Bertrand Russel, Filsuf Inggris "Bagi seseorang yang telah melakukan beberapa kali kebodohan, maka tidak sulit baginya untuk melakukan kebodohan yang lain" maka saya menyebutkan:

a. Amerika bisa menjadi pemicu perang, tapi akhir dari perang tidak berada pada Amerika dan sekutunya. Mereka berbicara tentang serangan rudal selama dua atau tiga hari ke Suriah, seperti yang diucapkan John Kerry, Menteri Luar Negeri Amerika. Hal itu hanya untuk menarik perhatian warga Amerika yang menolak perang di sana. Menurut analisa surat kabar Jerman Neues Deutschland, "Pasca keluarnya Amerika dari Irak, negara ini sudah tidak punya kemampuan untuk menggelar perang luas. Sama seperti Zionis Israel pada tahun 1982 yang pada awalnya ingin menduduki Lebanon hanya dalam 48 jam, tapi yang terjadi perang berlanjut hingga 18 tahun, sehingga mereka harus keluar dengan terhina dari negara itu."

b. Israel merupakan puzzle terakhir Amerika dan sekutu Eropanya. Tanpa perlu diragukan lagi, dengan dimulainya seranganke Suriah, maka setiap harinya Palestina pendudukan akan menyaksikan ribuan rudal yang akan ditembakkan ke kota-kotanya dan menghancurkan segala istalasi vitalnya. Khususnya dalam Perang 33 Hari, 22 Hari dan 7 Hari semua menjadi nyata bahwa rudal patriot dan Iron Dome tidak mampu mencegah serangan roket yang menghantam Tel Aviv.

c. Dunia Islam semakin terjepit dengan penyebaran fitnah yang dilakukan oleh Amerika, Israel dan sebagian negara-negara Arab. Untuk mereka sedang menghitung hari untuk menghadapi langsung rezim Zionis Israel, ketimbang harus berhadap-hadapan dengan para bonekanya. Serangan ke Suriah menjadi kesempatan emas bagi umat Islam untuk memblokade Zionis Israel.

d. Ketika negara-negara Arab Saudi, Yordania, Turki dan lain-lain secara resmi menyatakan kesiapannya ikut dalam serangan militer ke Suriah, segalanya menjadi jelas bahwa negara-negara pemicu perang menjadi negara musuh dan menjadi sasaran balasan Suriah. Sementara negara-negara yang telah disebutkan ini selama beberapa tahun terakhir ini menyaksikan demonstrasi warganya. Artinya, bila mereka juga terlibat dalam perang yang kemungkinan terjadi ini, maka itu akan menjadi kondisi yang mempercepat lengsernya negara-negara itu dan akan dikuasai oleh rakyat negaranya. Tentu saja Qatar lebih tepat bila diserupakan dengan kamar dagang dan kondisinya lebih lemah dari yang lain.

e. Bila perang terjadi, kelompok-kelompok yang dibiayai seperti Takfiri dan Salafi yang melakukan operasi teroris di Suriah dengan berbohong atas nama agama demi keuntungan Amerika dan Israel sudah tidak lagi bisa berlindung di balik slogan bohongnya. Bila mereka tidak menyerang Israel dan kepentingan Amerika di Timur Tengah, maka rencana bohong mereka akan terkuak dan yang terjadi adalah rakyat akan bangkit melawan mereka.

f. Serangan militer ke Suriah dengan mencermati substansi negara-negara agresor dengan sendirinya akan menghancurkan garis demarkasi penyebaran fitnah "Syiah-Sunnia dan Arab-Ajam". Bila semuanya menjadi terang benderang, maka yang akan terjadi adalah mobilisasi dunia Islam melawan Amerika, Israel dan para penguasa Arab. Itu berarti kehancuran proyek bersama Amerika-Israel di Mesir akan menjadi satu kepastian.

g. Tinggal satu pertanyaan, mengapa kita tidak menjadikan serangan (baca: kebodohan) Amerika dan sekutunya sebagai satu keberuntungan? Mengapa kita tidak menjadi yakin bahwa musuh-musuh lama Islam dan Muslimin akan meletakkan kakinya sendiri di jurang kehancuran, dimana umat Islam telah menantinya selama bertahun-tahun? Semua bukti menunjukkan bahwa bila  keriuhan ini bukan perang urat syaraf, maka itu berarti "hari yang dijanjikan" semakin dekat dan penantian bertahun-tahun untuk membalas segala kezaliman ini akan berakhir. (IRIB Indonesia / Saleh Lapadi)

Sumber: Kayhan

Add comment


Security code
Refresh