Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Selasa, 08 September 2015 12:38

Kepribadian Luhur Sayidah Maryam as

Kepribadian Luhur Sayidah Maryam as

Dunia terjebak dalam berbagai krisis, terutama menyangkut urusan perempuan dan ia membutuhkan sebuah teladan luhur untuk membebaskan diri dari krisis tersebut. Dunia memerlukan para teladan yang bergerak di jalan tanggung jawab ilahi-sejarah dan menjadi sosok sukses dengan peran-peran besarnya. Selain itu, mereka juga harus memiliki kapabilitas, daya tarik, dan wibawa bagi masyarakat dunia khususnya kalangan perempuan. Agama langit dengan ajaran-ajarannya memberi posisi dan tempat istimewa kepada perempuan dan dalam hal ini,juga mempersembahkan teladan mulia kepada masyarakat dunia.

 

 

Salah satu teladan langit yang menjadi panduan kesucian, kehormatan, kesabaran, keluhuran, dan keberanian adalah Sayidah Maryam Muqaddas as, ibunda Nabi Isa as. Ia adalah sosok wanita yang sepenuhnya tunduk pada perintah Allah Swt dan tidak memikirkan perkara lain kecuali untuk meraih keridhaan-Nya. Untuk itu, Sayidah Maryam as dinobatkan sebagai wanita paling utama di zamannya. Ia memiliki kedudukan yang tinggi dan malaikat datang bercengkrama dengannya. Pada satu kesempatan, malaikat memberi kabar gembira kepada Sayidah Maryam bahwa Allah Swt telah memilihnya sebagai wanita yang paling utama di antara perempuan dunia.

 

Rasulullah Saw bersabda, “Wanita pilihan penghuni surga ada empat; Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, Maryam binti Imran, dan Asiah binti Muzahim.” Kitab suci al-Quran menyebut nama Maryam sebanyak 34 kali danterdapat sebuah surat atas namannya, di mana dengan indah menjelaskan tentang detail peristiwa kelahiran wanita mulia itu dan Isa al-Masih. Maryam dilahirkan di Kota Nasirah (Nasaret), 16 tahun sebelum kelahiran al-Masih atau 5570 tahun setelah diturunkan Adam as ke bumi. Ibunya, Hannah bernazar bahwa jika Tuhan memberinya seorang anak,ia akan diserahkan kekuil untuk mengabdi.

 

Setelah Maryam lahir dan ketika sudah tiba waktunya, Hannah membungkus putrinya dengan sepotong kain dan membawanya ke kuil. Dia menitipkan putrinya kepada para rahib dan pemuka agama Bani Israil sembari berkata, “Bayi ini sudah dinazarkan untuk mengabdi di Baitul Maqdis, maka ambillah tanggung jawab untuk mengasuhnya.” Mengingat Maryam adalah putri Imran dan berasal dari keluarga terpandang, para rahib berebut untuk menjadi waliyang bertanggungjawab atas pengasuhan dan pemeliharaan Maryam. Karena tidak ada yang mengalah, akhirnya dilakukan undian dan undian itupun keluar atas nama Zakariya.

 

Maryam akhirnya berada di bawah pengasuhan dan pendidikan spiritual Nabi Zakariya as.Ia tinggal di Baitul Maqdis dan tumbuh besar di bawah bimbingan utusan Allah Swt.

 

Al-Quran menyebut Maryam sebagai wanita suci dan terhormat, ia memiliki hati yang bersih dan bercahaya. Ia adalah wanita pilihan Allah untuk sebuah kedudukan dan peranan besar di kemudian hari.Kebesaran pribadi dan keluhuran jiwa Sayidah Maryam semakin tampak seiring usianya yang beranjak dewasa. Ia adalah pribadi yang paling bertakwa dan mencapai puncak makrifatullah, dan ia bahkan menyalip kedudukan para rahib dan ulama Bani Israil. Maryam mencapai sebuah kedudukan yang membuat Nabi Zakariya takjub.

 

Allah Swt dalam surat Ali Imran ayat 37 berfirman, “… Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata, ‘Hai Maryam! Dari mana engkau memperoleh (makanan) ini?’ Maryam menjawab, ‘Makanan ini dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.”Allah juga memuji Maryam dengan ungkapan yang indah seperti tertuang dalam ayat 42 surat Ali Imran, “Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata, Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu).”

 

Maryam mencapai derajat yang tinggi di bawah pengasuhan Zakariya. Ketika sudah menginjak usia sembilan tahun, ia menghabiskan hari-harinya dengan puasa dan melewatkan malam-malamnya dengan ibadah. Ia senantiasa larut dalam ibadah dan berdiam diri di mihrab sehingga Tuhan menyebutnya sebagai orang-orang yang taat. Dalam surat at-Tahrim ayat 12, Allah berfirman, “Dan (ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat Rabbnya dan kitab-kitab-Nya, dan dia adalah termasuk orang-orang yang taat.”

 

Dengan demikian, Maryam memiliki kedudukan dan tempat yang tinggi di sisi Zakariya. Ia benar-benar terperanjat dengan perkembangan dan kesempurnaan spiritual Maryam. Ibadah dan bait-bait doa yang mengalir dari lisan Maryam membuat Zakariya terteguk kagum.

 

Di antara karakteristik utama wanita langit ini adalah kesucian dan kehormatan.Kesucian jiwa dan raga merupakan hal yang dapat ditemukan pada diri perempuan dan laki-laki, namun mengingat penciptaan perempuan sangat teliti dan juga keberadaan sifat-sifat lain dalam dirinya, maka unsur kesucian dan kehormatan lebih banyak disoroti dalam diri perempuan. Untuk itu, pujian dan celaan selalu ditujukan kepada kaum hawa. Sayidah Maryam as sangat populer dengan kesucian dan kehormatan sehingga ia disebut al-Muthahharah. Kesucian ini bukan hanya ia dapatkan dari sisi Allah Swt, tapi juga dari keluarganya yang dikenal suci dan terhormat.

 

Dalam surat Maryam ayat 16-29, Allah Swt mengisahkan tentang kepribadian, kesucian, dan kehormatan sosok agung ini. Maryam senantiasa larut dalam doa dan munajat kepada Allah dan ia mencapai kesempurnaan spiritual lewat ibadah. Ia memilih tempat yang jauh dari khalayak sebagai tempat munajat. Suatu hari ketika ia sedang khusyuk beribadah, sosok asing tiba-tiba muncul di hadapannya. Dalam ayat 16 dan 17 surat Maryam disebutkan, “Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al Quran, yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur, maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus ruh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna.”

 

Para ulama tafsir percaya bahwa ruh dalam ayat tersebut adalah sosok Malaikat Jibril. Ia menjelma dalam bentuk manusia dan muncul di hadapan Maryam. Awalnya, Maryam gemetar ketakutan dan menundukkan kepalanya. Ia bertanya-tanya dalam dirinya, siapa gerangan orang yang berdiri di sana. Kemudian orang asing itu berkata,"Salam kepadamu wahai Maryam." Maryam dibuat terkejut mendengar suara manusia di depannya. Ia berkata sebelum menjawab salamnya,” "Sesungguhnya aku berlindung daripadamu kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa."(QS, Maryam: 18)

 

Maryam yang diliputi rasa takut berlindung kepada Allah Swt dan ia menunggu jawaban dari manusia asing tersebut. Kemudian orang itu tersenyum dan berkata, "Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci." (QS, Maryam: 19). Dalam surat al-Anbiya ayat 91 disebutkan, “Dan (ingatlah kisah) Maryam yang telah memelihara kehormatannya, lalu Kami tiupkan ke dalam (tubuh)nya ruh dari Kami dan Kami jadikan dia dan anaknya tanda (kekuasaan Allah) yang besar bagi semesta alam.”

 

Maryam adalah sosok yang terhormat dan suci sehingga Allah menjadikan rahimnya sebagai wadah untuk kelahiran seorang manusia yang membawa risalah langit.Dia adalah perempuan surga. Kejujuran, kehormatan, dan kesucian adalah di antara sifat utama Sayidah Maryam yang disebut al-Quran.Tuhan menobatkannya sebagai perempuan pilihan dan menjadikannya sebagai ibunda Nabi Isa as. Kesabaran dan sifat tawakkalmerupakan sifat utama lainnya yang disandangnya. Dalam kitab sucinya, Allah Swt telah menjelaskan karekter dan sifat-sifat terpuji Sayidah Maryam kepada seluruh umat manusia.

 

Kaum perempuan Iran juga menaruh perhatian khusus terhadap sifat-sifat dan kepribadian Sayidah Maryam. Beberapa organisasi non-pemerintah yang konsen pada isu perempuan di Iran – seperti Lembaga Budaya Mujtahidah Amin – menggelar acara khusus untuk menyambut kelahiran Sayidah Maryam dengan mengundang perempuan Muslim dan Kristen. Acara itu menghadirkan para pemikir Muslim dan Kristen untuk berbicara tentang kepribadian luhur Sayidah Maryam. Menurut sebuah riwayat, perempuan surga ini meninggal dunia pada usia 63 tahun dan dimakamkan di Yerusalem. (IRIB Indonesia/RM)

Add comment


Security code
Refresh