Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Senin, 20 Juli 2015 10:49

Shalat dan Munajat di Hari Raya Idul Fitri

Shalat dan Munajat di Hari Raya Idul Fitri

Suatu hari Rasulullah Saw berkata kepada para sahabat; Berjalan-jalanlah di kebun surga! Sahabat bertanya; Apa itu taman surga? Beliau menjawab: acara zikir. Pergilah pagi dan petang serta berzikirlah kepada Allah. Mereka yang ingin mengetahui derajatnya di sisi Allah, akan melihat maqam dan kedudukan Allah pada dirinya. Karena Allah akan menempatkan seorang hamba pada satu kedudukan, sesuai dengan sikap hamba tersebut menempatkan Allah pada dirinya. Ketahuilah! Amal terbaik dan paling bersih di sisi Allah dan derajat tertinggi kalian serta paling baiknya sesuatu yang disinari mentari adalah zikir kepada Allah.

 

 

Salah satu manifestasi istimewa dan agung zikir kepada Allah adalah shalat Idul Fitri. Shalat yang membuka mata-mata manusia untuk menyaksikan nilai-nilai sejati dan lurus serta membantu manusia mendapatkan hakikat (kebenaran) dan keindahan abadi. Di shalat Idul Fitri, hamba mukmin tenggelam dalam keindahan Ilahi melalui munajat penuh keikhlasan mereka. Daya tarik ini sedemikian besar di dalam diri mereka, sampai-sampai saat melakukan kontak dengan Allah, ia merasa tenang dan gembira.

 

Shalat Ied dua rakaat dan di khutbahnya membahas nasib umat Islam dan berbagai peristiwa penting dunia islam. Shalat ini memiliki pesan spiritual, ketauhidan dan mengikuti Mohammad beserta Ahlul Baitnya dalam kehidupan. Di shalat Idul Fitri kita memohon kepada Allah untuk dimasukkan ke dalam kebaikan seperti yang dimiliki Nabi beserta keluarganya dan dijauhkan dari segala keburukan.

 

Doa shalat Ied menunjukkan ideologi kasih sayang dan  bimbingan oleh Islam di dunia. Pesan ini yang diulang beberapa kali di setiap qunut dengan indah termanifestasi di shalat Idul Fitri. Di shalat ini, spiritual, inspirasi, jamaah shalat yang besar bersama-sama memanjatkan doa; “Ya Allah, wahai Pemilik kebesaran dan keagungan, wahai Pemilik kedermawanan dan jabarut, wahai Pemilik pengampunan dan kasih sayang, wahai Pemilik takwa dan maghfirah. Aku memohon kepada-Mu dengan hak hari ini, yang Kau jadikan hari besar bagi kaum muslimin, dan dengan keagungan dan kemuliaan Muhammad dan keluarganya, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan Keluarga Muhammad, masukkan aku pada setiap kebaikan yang Kau masukkan ke dalamnya Muhammad dan keluarganya, keluarkan aku dari setiap keburukan yang Kau keluarkan dariya Muhammad dan keluarganya. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu yang terbaik dari apa yang dimohon oleh hamba-hamba-Mu yang shaleh. Aku memohon perlindungan kepada-Mu dari segala apa yang perlindungannya dimohon oleh hamba-hamba-Mu yang shaleh.”

 

Di sebuah riwayat disebutkan, ketika hamba Tuhan memuji-Nya dengan penuh keagungan dan penghormatan, Allah berbangga di depan para malaikatnya dan berkata, “Inilah hamba-Ku yang sejati...Bukankah sebelumnya telah Aku katakan bahwa Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui?

 

Sementara itu, di budaya Islam, Ied semakin meriah dan agung, di mana kegembiraan di hari ini melampaui sekat-sekat individu dan berbaur dengan kegembiraan bersama serta berpengaruh pada nasib orang lain. Keagungan Idul Fitri termanifestasikan dengan pembayaran zakat dan shalat Ied. Zakat fitrah adalah hadiah yang diberikan seorang mukmin sebagai bukti ketaatan kepada Allah dan ungkapan syukur atas nikmat-Nya kepada orang-orang yang tidak mampu. Zakat memiliki arti tumbuh dan berkembang, kebaikan dan kesucian. Oleh karena itu, zakat seperti shalat, faktor yang memperkokoh jiwa, membersihkan ruh serta memperkokoh hubungan persaudaraan dengan sesama manusia.

 

Sejatinya, termasuk ajaran penting Idul Fitri adalah memperhatikan kerabat dan memperkokoh Muslim di komunitas Islam serta menjadikan Islam sebagai parameter. Shalat Idul Fitri yang digelar secara serentak di seluruh negara Islam merupakan simbol solidaritas dan persatuan Islam. Khususnya di kondisi saat ini, ketika negara-negara kuat dunia memerangi umat Islam dan menjadikan mereka sebagai target.

 

Kekuatan hegemoni dunia melalui media propagandanya setiap hari gencar berusaha merusak citra Islam dan menguasai berbagai bangsa. Di saat seperti ini, dunia Islam membutuhkan peluang tepat untuk menunjukkan keagungan dan kekuatan mereka. Saat shalat Idul Fitri, lautan manusia, baik pria maupun wanita dengan tekad bulat dan penuh keimanan, menunjukkan kekuatan sejati umat Muslim.

                                     

Kekuatan ini terbentuk dari bulan Ramadhan. Jamaah shalat dengan wajah serius dan tekad kokoh serta hati bersih menunjukkan penghambaan yang tulus di hadapan Tuhan Yang Esa dan menolak segala bentuk thagut serta hegemoni. Takbir jamaah shalat Idul Fitri juga menunjukkan semangat anti imperialis umat Muslim. Sejarah menyebutkan, ketika Imam Ridha as akan memimpin shalat Idul Fitri, keagungan dan kebesaran umat Islam inilah yang membuat Khalifah Makmun Abbasi ketakutan.

 

Shahid Muthahari menjelaskan makna indah dari shalat Idul Fitri yang dipimpin Imam Ridha as. Beliau menulis, Makmun yang memaksa Imam Ridha menerima jabatan putra mahkota juga memaksa beliau untuk memimpin shalat Idul Fitri. Imam Ridha menolak permintaan tersebut, namun Makmun memaksanya. Imam berkata, Aku bersedia memimpin shalat Idul Fitri, namun sesuai dengan tuntunan ayah serta kakek-kakekku, bukan seperti tuntunan kalian. Makmun dengan gembira menerima kesediaan Imam, karena ia kembali berhasil memaksa Imam Ridha untuk melakukan suatu pekerjaan di pemerintahannya.

 

Di hari Idul Fitri, Imam Ridha kepada orang-orang disekitarnya berkata, pakailah pakaian biasa, lepaskan sepatu dan sandal kalian, singsingkan lengan baju kalian serta ulangilah zikir yang aku ucapkan. Imam kemudian memakai imamah dan pakaian seperti yang dipakai Rasulullah. Tongkatnya pun dibawa seperti saat Rasulullah membawanya. Dengan kaki telanjang, Imam keluar dari rumah dan dengan suara yang menggelegar mulai mengucapkan takbir Idul Fitri.

«اللَّهُ اکبَرُ، اللَّهُ اکبَرُ، لا اله الاالله و اللَّهُ اکبَرُ، الله اکبرو لله الحمد، الحمدلله عَلى‌ ما هَدانا، وَ لَهُ الشُّکرُ عَلى‌ ما اوْلانا».

 

Telah bertahun-tahun masyarakat tidak mendengar zikir seperti ini. Masyarakat ketika menyaksikan kondisi Imam berubah dan air mata mengalir dari mata beliau, dengan spirit penuh mereka mengulangi zikir yang dilantunkan Imam Ridha. Makmun juga mengirim pada komandan militer dan pemimpin kabilah untuk menunaikan shalat Idul Fitri bersama Imam. Mereka sesuai dengan kebiasaan para khalifah, memakai pakaian yang indah dan mahal, menaiki kuda yang mahal serta menggantungkan pedang keemasan di pinggang.

 

Para pembesar ini menunggu kedatangan Imam dan akan mengiringi beliau dengan penuh kebesaran. Namun ketika mereka menyaksikan kesederhanaan dan kekhusyuaan Imam Ridha, tanpa disadari mereka turun dari kuda-kuda mereka. Di sejarah disebutkan, karena Imam dengan kaki telanjang berjalan menuju lokasi shalat Ied, maka para pembesar kerajaan ini sibuk mencari pisau untuk memotong sepatu mereka sehingga mengejar Imam dengan kaki telanjang pula. Sedikit demi sedikit suara takbir menggema di kota Marv.

 

Belum lagi iring-iringan jamaah shalat Ied keluar dari pintu kota, mata-mata kerajaan memberitahu Makmun bahwa jika kondisi ini dilanjutkan, maka Makmun tidak akan dapat melanjutkan kekuasaannya. Saat itulah Makmun memerintahkan prajuritnya menemui Imam Ridha as dan memulangkannya ke rumah.

 

Setelah menceritakan kisah tersebut, Shahid Muthahari menyebutkan poin bahwa ketika shalat dikerjakan sesuai dengan sirah dan tuntutan Nabi dan Ahlul Baitnya, maka ibadah tersebut keluar dari kondisi sia-sia serta akan memberikan pengaruhnya yang hakiki. Sejatinya shalat seperti itu adalah penghancur musuh dan dampaknya terlihat nyata dalam mencerabut kefasadan dan dosa di tengah masyarakat.

 

Di sebagian riwayat, awal Syawal mengingatkan peristiwa dihancurkannya kaum Aad. Kaum ini memilih jalan kesesatan ketimbang taat kepada Allah serta bersikeras menyekutukan Allah. Oleh karena itu, kemudian Allah memusnahkan kaum ini. Di zaman kita hidup saat ini, otoriterisme sejumlah kelompok kecil telah melukai dunia dan di sebagian dunia Islam, rakyat Palestina, Yaman, Bahrain, Irak dan...menjadi korban ketamakan mereka.

 

Hari ini menunjukkan terealisasinya janji Allah dan mereka yang mengacaukan dunia akan nasibnya akan berakhir buruk. Yang penting di sini adalah umat Muslim menjauhi syaitan dengan solidaritas dan persatuan maknawi serta mereka benar-benar bersatu.(IRIB Indonesia)

Add comment


Security code
Refresh