Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Kamis, 16 Juli 2015 17:24

Idul Fitri; Hari Kelahiran Kembali Manusia

Idul Fitri; Hari Kelahiran Kembali Manusia

Hari ini adalah hari yang sangat berbagia, pasalnya setelah berpuasa selama satu bulan penuh di bulan Ramadhan, menahan lapar dan dahaga serta dosa, hari ini Allah Swt menjadikan hari raya bagi kaum mukminin. Hari Raya Idul Fitri, tak ubahnya hari kelahiran kembali manusia setelah dosa-dosanya terampuni.

 

 

Ya Allah! Sampaikan shalawat serta salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad berserta keluarganya dan tutupilah musibah kami di bulan ini serta jadikan Hari Idul Fitri sebagai Hari Raya yang penuh berkah serta tetapkanlah hari tersebut sebagai hari terbaik bagi kami. Ampunilah dosa-dosa kami di hari penuh berkah ini. Ya Allah! Jadikan hari ini sebagai hari raya dan kegembiraan bagi mukminin dan hari berkumpul bagi umat Muslim..Kami bertaubat kepada-Mu dari setiap dosa dan perbuatan buruk yang kami lakukan serta dari segala bentuk niat tak pantas yang memenuhi kalbu kami. Ya Allah! Jadikan hari ini sebagai hari penuh berkah bagi seluruh umat Mukmin dan berikan kami kesempatan untuk kembali kepada-Mu dan bertaubat atas segala dosa yang kami perbuat.

 

Hari raya Idul Fitri adalah hari terlahirnya kembali manusia dan mereka menjadi manusia baru. Hari perubahan dalam diri manusia, baik dari sisi kejiwaan, mental dan kehidupan sosial mereka. Manusia telah membakar jiwanya yang kotor di selama bulan Ramadhan dan kini muncul dengan ideologi dan jiwa yang baru. Nafas-nafas baru pun bermunculan setelah berpuasa selama satu bulan penuh di bulan suci dan penuh berkah Ramadhan.

 

Idul Fitri termasuk hari besar Islam dan banyak hadis serta riwayat yang membicarakan keutamaannya. Muslim yang berpuasa selama bulan Ramadhan menahan diri dari makan dan minum serta perbuatan mubah lainnya. Dan kini setelah lewat satu bulan, di hari pertama bulan Syawal mereka mengharapkan pahala dan balasan dari Allah Swt. Hari pertama bulan Syawal dinamakan Hari Raya Idul Fitri karena di hari ini, larangan makan dan minum dicabut serta orang mukmin diperbolehkan makan di siang hari serta membatalkan puasanya. Fitr dan futur berarti makan dan minum serta juga memiliki arti dimulainya makan dan minum. Oleh karena itu, setelah habis waktu siang dan waktu Maghrib tiba di bulan Ramadhan, orang yang berpuasa diperbolehkan iftar atau berbuka puasa.

 

Pagi hari di hari Raya Idul Fitri, kumandang tasbih dan pujian kepada Allah menggelegar dan wajah-wajah ceria memenuhi setiap kota. Kecil dan besar berdiri berbaris dengan rapi. Mereka mengangkat tangannya ke langit sambil melantungkan doa “Allahumma Ahlul Kibriyai wal Adzama, Wa Ahlul Judi wal Karama”. Saat itu, kalian akan merasakan kaki-kaki terpisah dari bumi dan melayang di suasana yang lain, suasana penuh ikhlas, penyerahan diri dan takwa. Perasaan ini adalah pahala satu bulan penuh puasa di bulan Ramadhan yang menjadi bagian orang mukmin sejati. Saat itu, jiwa manusia dipenuhi harapan bahwa sisa waktunya selama satu tahun tidak akan dipolusi oleh dosa.

 

Ketika kehidupan kita berubah menjadi sebuah kebiasaan, wajar bahwa kita tidak akan melampaui manifestasi kehidupan yang wajar dan kita akan berhenti pada titik serta waktu tertentu. Namun bulan Ramadhan dan Idul Fitri, dengan karakteristiknya yang istimewa, menyapu bersih perilaku dangkal dan kebiasaan sehari-hari serta mengeluarkannya dari batasan waktu.

 

Sejatinya tujuan dari ibadah selama satu bulan di bulan suci Ramadhan akan muncul setelah hari raya. Islam menghendaki kita membentuk manusia yang berperilaku di luar sisi fisik dan materi. Manusia yang memandang ibadah kepada Tuhan sebagai sarana untuk membantu dan mengabdi kepada sesamanya serta mereka yang membutuhkan. Dengan kata lain, arah dan perilaku manusia setelah hari Raya Idul Fitri adalah upaya serta perbuatan yang sesuai dengan perintah Tuhan serta ditujukan untuk membangun masyarakat lebih baik serta membantu kebutuhan mereka yang membutuhkan.

 

Dimensi eksistensi manusia seperti ini berbeda dengan manusia yang lalu. Ia hidup dengan pandangan yang lebih luas. Dengan ketaatan dan penghambaannya, ia memiliki sifat yang lebih lembut. Puasa telah memberi pelajaran kepadanya akan arti dari penderitaan. Ia akan bergerak dengan pandangan yang lebih terarah yang diperolehnya dari latihan Ilahi selama puasa. Oleh karena itu, komitmen dan stabilitasnya semakin meningkat dan kesabaran serta keseimbangannya maju dengan pesat.

 

Manusia seperti ini, melalui perubahan mendalam yang ia rasakan dalam dirinya, memiliki semagat untuk terbang ke arah puncak kesempurnaan. Di pagi hari Idul Fitri, ketika manusia mengeluarkan zakatnya dan mengingat Allah Swt serta menunaikan shalat ied, sejatinya ia telah berjanji untuk mengesampingkan masalah pribadi dan membebaskan jiwanya dari kungkungan egonya. Allah Swt di kisah Bal’am Baura (ulama yang condong kepada taghut) mengingatkan poin ini bahwa Kami menginginkan ia terbang ke langit, namun ternyata ia memilih bumi dan selamanya ia tenggelam dalam kemaksiatan. Di ayat 176 surat al-A’raf Allah berfirman yang artinya, “Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah...”

 

Sejak awal Allah Swt memberikan kepada semua manusia nikmat untuk berkembang dan meniti kesempurnaan, namun manusia sendiri yang mengabaikan nikmat ini dengan perilaku dan amal perbuatannya. Dalam pandangan Imam Sadiq as, dosa seperti beban berat sehingga terbang (berkembang) akan sangat sulit dilakukan. Beliau bersabda, “Allah tidak akan memberikan nikmat kepada hamba-Nya, kemudian Ia cabut kembali, kecuali hamba tersebut melakukan dosa yang mengakibatkan nikmatnya dicabut.”

 

Oleh karena itu, Imam Ali as menyebut hari ketika seorang hamba tidak bermaksiat sebagai hari raya. Idul Fitri dari sisi ini juga memiliki urgensitas dan termasuk dalam hari-hari besar Ilahi (Syi’ar Ilahi). Allah berfirman di surat al-Hajj ayat 32 yang artinya, “Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi'ar-syi'ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” Mengagungkan syi’ar Ilahi merupakan karakteristik hari raya Idul Fitri. Syiar takbir dan pujian serta penyucian Allah termasuk amal yang memberi warna khusus bagi hari besar ini.

 

Tugas utama seorang muslim adalah dengan berbagai cara menyampaikan seruan tauhid kepada dunia. Salah satu caranya melalui syi’ar-syi’ar agama. Rasulullah Saw bersabda, “Hiasilah hari raya kalian dengan takbir.” Di hadis lain disebutkan, “Hiasilah hari Idul Fitri dan Idul Adha dengan syiar La Ila Ha Illa Allah, takbir Allahu Akbar dan Subhana Allah.”

 

Rasulullah Saw sendiri melakukan hal ini. Ketika beliau keluar dari rumah di hari Idul Fitri hingga ke masjid, beliau melantunkan kalimat La Ila Ha Ila Allah dan Allahu Akbar dengan suara yang keras. Bahkan di antara khutbah dan sebelum serta sesudahnya, beliau kembali mengulang syiar tersebut. Imam Ridha as saat menjelaskan sebab takbir yang banyak di hari Idul Fitri mengatakan, “Takbir, takzim dan mengagungkan Allah Swt adalah bentuk rasa syukur atas hidayah dan nikmat Tuhan kepada manusia.”

 

Dewasa ini setiap negara Islam dengan budaya khususnya merayakan hari besar ini dengan semeriah mungkin. Pelaksanaan shalat ied sebagai ungkapan rasa syukur atas taufiq Ilahi, menyediakan beragam makanan khusus, berhias dan memakai wangi-wangian, membersihkan diri, saling silaturahmi dan suara gembira anak-anak ketika mendapatkan hadiah, merupakan karakteristik kolektif hari Raya Idul Fitri di negara-negara Islam. Kegembiraan dan optimisme akan pengampunan dosa serta rahmat kian mendekatkan hati-hati umat Muslim.

 

Ayatullah Javadi Amoli menyebut gerakan massal masyarakat dan berkumpulnya umat Muslim di hari Raya Idul Fitri sebagai manifestasi dari Ma’ad (Hari Akhir). Beliau berkata, “Mereka yang berpuasa di bulan suci Ramadhan dan diberi kesempatan untuk menjalankan kewajibannya, ada tiga kelompok yang kembali dan menerima pahala Ilahi. Oleh karena itu, malam dan siang hari Raya Idul Fitri juga disebut sebagai hari penerimaan hadiah.”

 

Mereka yang mendapat inayah untuk menjalankan kewajibannya di bulan Ramadhan dan menghidupkan malam-malam penuh berkah bulan ini mendapat hadiah yang dibawah para malaikat berupa kebebasan dari api neraka. Mereka yang mengerjakan kewajibat di bulan Ramadhan untuk meraih surga, maka pahala yang mereka terima dari malaikat rahmat adalah masuk ke surga. Sementara kelompok ketiga adalah mereka yang beribadah karena kecintaanya kepada Tuhan dan bersyukur kepada-Nya, maka pahala mereka langsung diberikan oleh Allah Swt berupa kecintaan kepada-Nya dan terbebas dari neraka.

 

Imam Baqir as di doa sebelum shalat Ied berkata, “Ya Allah! Setiap orang di hari ini bersiap dan mempersiapkan diri untuk menerima pahala, ampunan dan anugerah. Namun  Ya Allah! Aku saat ini mempersiapkan diriku untuk semakin dekat dengan-Mu.”(IRIB Indonesia)

Add comment


Security code
Refresh