Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Kamis, 16 Juli 2015 16:24

Bersama Kafilah Ramadhan (30)

Bersama Kafilah Ramadhan (30)

Bulan suci dan penuh berkah Ramadhan akan segera berlalu. Kini kita berada di penghujung bulan suci ini. Hari terakhir bulan Ramadhan termasuk hari-hari khusus bagi seorang muslim yang berpuasa. Imam Ali as di khutbah shalat Idul Fitri terkait hari terakhir bulan Ramadhan berkata, “Wahai hamba Allah! Ketahuilah yang paling dekat dan paling sedikit yang disiapkan bagi lelaki dan perempuan yang berpuasa adalah malaikat di hari terakhir bulan Ramadhan menyeru mereka dan berkata, wahai hamba Allah! Kabar gembira bagi kalian bahwa dosa-dosa di masa lalu kalian telah diampuni dan perhatikanlah di masa mendatang, apa yang akan kalian lakukan.” (Raudhah al-Waidhin/2)

 

 

Adab dan tata cara paling penting meninggalkan jamuan Ilahi di bulan suci Ramadhan adalah orang mukmin melihat dirinya sendiri dan di akhir bulan penuh berkah ini, ia mulai melakukan muhasabah atau penilaian pada dirinya, seberapa dekat ia dengan tujuan dari jamuan tersebut? Apakah ia merasakan perubahan spiritual pada dirinya, ataukah sama seperti ketika memasuki bulan Ramadhan? Sayid Ibnu Thawus, salah satu ulama di abad keenam hijriah menjelaskan amalan apa saja yang bisa dilakukan oleh orang mukmin di penghujung bulan penuh rahmat Ramadhan.

 

Sayid Ibnu Thawus berkata, “...Orang mukmin harus mengamati bagaimana kondisinya ketika memasuki jamuan Ilahi dan menghadap kepada-Nya. Ia juga harus menimbang makrifatnya terhadap Tuhan, Rasulullah dan Ahlul Baitnya serta amalan duniawi dan ukhrawinya. Ia harus melihat apakah makrifat, kecenderungan dan kecintaannya terhadap hal-hal di atas serta keceriaannya kepada mereka bertambah atau ia sama seperti ketika memasuki bulan Ramadhan? Jika ia menyaksikan penyakit dan niat buruk masih ada di dalam dirinya dan pengobatan penyakit tersebut di bulan ini tidak membuahkan hasil, maka ketahuilah bahwa dosa dan bala’ muncul dari dirinya sendiri. Oleh karena itu, ia harus segera memohon kepada Allah dan melalui rahmat-Nya meminta pertolongan-Nya supaya penyakit tersebut dihapus dan disembuhkan.”

 

Salah satu raja menderita penyakit mengerikan. Sekelompok hakim dan tabib Yunani sepakat mengatakan bahwa penyakit seperti ini tidak ada obatnya, kecuali raja makan hati manusia yang memiliki kriteria tertentu. Raja kemudian mengutus prajuritnya untuk mencari orang yang memiliki kriteria seperti yang disebutkan para tabib serta membawanya ke hadapannya.

 

Para prajurit raja kemudian melaksanakan perintah tersebut dan sibuk mencari orang yang diperintahkan. Akhirnya mereka menemukan seorang remaja yang memiliki kriteria seperti yang diminta raja dan membawanya ke hadapan raja. Raja kemudian memanggil kedua orang tua remaja tersebut dan menjelaskan kejadian yang sebenarnya dan memberikan kepada mereka harta dan ternak yang banyak, supaya mereka rela anaknya dibunuh. Saat itu, hakim kerajaan juga mengeluarkan fatwa bahwa diperbolehkan membunuh seorang rakyat demi menjaga keselamatan raja.

 

Algojo sudah siap untuk membantai remaja dan mengorek hatinya untuk kesembuhan raja. Di kondisi seperti ini, remaja menengadahkan wajahnya ke langit sambil tersenyum. Raja bertanya kepadanya, di saat kematian menjelang, mengapa kamu tertawa? Ini bukan tempatnya tertawa. Remaja menjawab, di saat seperti ini, kedua orang tua pasti membela anak-anaknya yang lucu dan pergi ke hadapan hakim memohon kepadanya untuk menyelamatkan anaknya serta menuntut raja. Namun kini terhadapku, kedua orang tuaku, dikarenakan harta yang tak berharga, malah rela aku dibunuh dan hakim mengeluarkan fatwa membolehkan pembunuhan terhadapku, serta raja mengedepankan kepentingannya dari pada keselamatanku. Aku hanya memiliki Tuhan sebagai tempat berlindung, oleh karena itu, aku berlindung kepada-Nya.

 

Ucapan remaja tersebut membuat wajah raja berubah dan hatinya terenyuh dengan kondisi anak tersebut. Air mata raja pun mengalir deras. Kemudian ia berkata, kehancuran bagiku yang rela menumpahkan darah orang tak berdosa. Ia pun mencium kepala dan mata remaja tersebut dan memeluknya. Raja juga memberi berbagai kesenangan dan nikmat yang banyak kepadanya dan kemudian membebaskannya. Anehnya setelah melakukan amal perbuatan baik tersebut, penyakit raja dengan sendirinya sembuh.

 

Demikianlah, ketika manusia berlindung kepada-Nya dan tidak memiliki jalan selamat lain, maka Allah akan menyelamatkannya. Kami berharap semoga seluruh umat Muslim di satu  bulan penuh meningkatkan penghambaan dan berlindung kepada kemurahan Allah Swt, akan mendapat ampunan dan maghfirah-Nya. Serta menerima pahala ibadah dan puasanya selama satu bulan penuh di bulan Ramadhan pada waktu Idul Fitri.

 

Semoga amal ibadah kita di bulan suci Ramadhan diterima oleh Allah Swt dan kini di penghujung bulan rahmat ini, kita memohon kepada Allah supaya puasa kita selama satu bulan penuh ini diterima oleh-Nya. Ramadhan adalah bulan kembali kepada alam dan suasana fitrah serta latihan kebebasan dari makan, minum, tidur, kemarahan dan syahwat. Bulan Ramadhan merupakan kesempatan bagi kita untuk meraih pengalaman spiritual baru di luar hiruk pikuknya kehidupan sehari-hari.

 

Di kelas Ramadhan, kita belajar penghambaan terindah. Bulan ini merupakan peluang untuk membersihkan debu-debu kebodohan dan kelalaian dari fitrah suci manusiawi, sehingga kita dapat menyaksikan manifestasi nur Ilahi. Di bulan ini kita telah berusaha menggapai sebuah kehidupan baru di bawah naungan amal ibadah kita selama bulan Ramadhan. Setelah bulan ini, tepatnya di awal bulan Syawal di hari raya Idul Fitri, kita seakan-akan terlahir kembali sebagai manusia.

 

Imam Ali as berkata, “Orang yang berpuasa di malam hari raya Idul Fitri bersih dari segala polusi dan keburukan. Pahala paling minim bagi orang yang berpuasa di bulan Ramadhan adalah diampuninya segala dosa-dosanya.”

 

Bulan suci Ramadhan adalah peluang untuk bangkit dan sadar. Peluang untuk menyadari diri dan kesadaran ini membawa kita kepada makrifat lebih tinggi terhadap Tuhan dan alam semesta. Jika manusia memanfaatkan kesempatan ini dengan baik, seakan-akan ia telah mengambil bekal untuk satu tahun kedepan. Sungguh sangat beruntung orang-orang yang berpuasa di bulan penuh rahmat ini. Mereka selamat dari badai hawa nafsu dan sampai ke pantai maghfirah Ilahi.

 

Kini di jam dan detik-detik terakhir bulan Ramadhan, mari kita baca bersama doa perpisahan Imam Sajjad as dengan bulan suci ini. “Wahai Bulan Allah yang agung. Wahai hari raya kekasih Tuhan. Asalamu alaika, wahai waktu-waktu yang menyertai kami dengan penuh kemuliaan. Wahai bulan, detik, jam dan hari-hari kebaikan. Assalamu alaika, wahai bulan yang ketika harapan didekat kan dan amal dihamparkan.”

 

“Salam bagimu wahai Ramadhan, shahabat yang datang membawa kebahagian dan kepergiannya meninggalkan kepedihan. Salam bagimu wahai teman, yang membuat hati menjadi lembut dan dosa berguguran.”

 

“Salam bagimu wahai bulan penolong yang membantu kami melawan setan dan memudahkan menapak jalan kebaikan. Assalamu alaika ya Ramadhan. Betapa panjangnya Engkau bagi para pendurhaka. Betapa mulianya Engkau bagi hati orang-orang yang yakin. Salam bagimu wahai Ramadhan, Engkau datang pada kami membawa keberkahan dan membersihkan kami dari kesalahan.”

 

“Salam bagimu wahai Ramadhan, yang dirindukan sebelum kedatangannya dan disedihkan sebelum kepergiannya. Salam bagimu wahai Ramadhan karenamu betapa banyaknya kejelekan dipalingkan dari kami. Karena engkau betapa banyak kebaikan dilimpahkan pada kami.”

 

“Semoga sebelum Ramadhan meninggalkan kita dan berpisah dengannya, kita mampu menyembelih nafsu kebinatangan kita, menutup pintu masuknya setan, menutup pintu neraka, dan membuka pintu surga.”

 

Mari kita berdoa dan bermunajat dengan doa perpisahan bulan Ramadhan seperti yang diungkapkan oleh Imam Zainal Abidin al-Sajjad cicit Rasulullah SAW yaitu, “Ya Allah, janganlah Engkau jadikan puasa kami saat ini sebagai puasa yang terakhir dalam hidup. Sekiranya Engkau jadikan puasa ini sebagai puasa yang terakhir dalam hidupku, maka jadikanlah sebagai puasa yang dirahmati, dan janganlah Engkau jadikan sebagai puasa yang hampa (ditolak). Amin ya rabbal Alamin.(IRIB Indonesia)

Add comment


Security code
Refresh