Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Selasa, 06 Agustus 2013 16:10

Ramadhan, Musim Semi Penghambaan (28)

Ramadhan, Musim Semi Penghambaan (28)

Puasa adalah perisai yang kokoh untuk melawan godaan-godaan hawa nafsu. Orang yang berpuasa berkewajiban menahan nafsunya dari segala tuntutan yang tidak patut dan membersihkan diri dari semua hal yang menyebabkan noda dan kelalaian.

Imam Ali Zainal Abidin as-Sajjad as di bagian lain doa Makarim al-Akhlaq, berkata, "Ya Allah, anugerahkan kepadaku sebuah ilmu yang akan aku amalkan." Islam adalah agama ilmu dan pengetahuan serta agama berpikir dan bernalar. Islam adalah pembimbing manusia ke jalan yang luhur dan kesempurnaan. Rasul Saw diutus di tengah masyarakat buta huruf di masa jahiliyah, sebuah masyarakat yang tidak mengerti budaya baca tulis selain berbangga dengan hal-hal yang konyol dan fanatisme buta. Di tengah lingkungan seperti itu, ayat pertama yang diturunkan Allah Swt kepada Nabi Saw membawa pesan pendidikan.

Rasul Saw mendorong para orang tua untuk mengajarkan anak-anak mereka sedini mungkin dan bersabda kepada mereka, "Di antara hak-hak anak atas kalian adalah mengajarkan mereka menulis." Menurut catatan sejarah, ketika umat Islam menang terhadap kaum musyrik di Perang Badr dan beberapa dari mereka menjadi tawanan perang, kaum Muslim menetapkan uang tebusan sebagai syarat pembebasan mereka. Dalam kondisi seperti itu, Rasul Saw bersabda, "Perlakukanlah para tawanan dengan baik dan jangan meminta uang tebusan dari orang miskin. Setiap tawanan yang memiliki pengetahuan dan mengajar sepuluh anak, maka ia akan bebas."

Tidak ada dalam sejarah dunia bahwa pasukan yang menang perang hanya menuntut pendidikan dari pasukan yang kalah sebagai kompensasi, lalu membebaskan para tawanan musuh. Islam sejak 14 abad silam telah menyadarkan kaum Muslim tentang pentingnya pendidikan. Faktor lain kesuksesan Rasul Saw dalam berdakwah adalah mengamalkan apa yang disampaikan kepada masyarakat. Dengan begitu, ucapan Rasul Saw senantiasa menembus dan membekas di hati mereka. Para Imam Maksum as juga berperilaku seperti Rasul Saw, mereka mengamalkan apa yang diketahui dan kemudian diajarkan kepada masyarakat.

Oleh karena itu, Imam Sajjad as meminta kepada Allah Swt sebuah ilmu yang akan diamalkan. Imam Ali as berkata, "Ilmu tanpa amal sama seperti pohon tanpa buah." Sebenarnya, mengamalkan ilmu akan bermanfaat bagi pemilik ilmu dan masyarakat. Ilmu dan amal merupakan salah satu ciri khas orang-orang yang ikhlas. Ilmu harus selalu dibarengi amal dan tanpa itu manusia tidak memiliki apa-apa. Islam menilai ilmu sebagai pelita akal, perhiasan orang-orang kaya, keindahan orang-orang miskin, dan sebaik-baiknya petunjuk serta tidak ada harta pusaka yang lebih bernilai dari ilmu.

Dikisahkan bahwa seorang pemilik kebun kurma mempunyai pohon yang mayangnya menjulur ke rumah tetangganya seorang fakir yang memiliki banyak anak. Tiap kali pemilik kebun kurma itu memetik buahnya ia memetiknya dari halaman rumah tetangganya, dan apabila ada kurma yang jatuh dan dipungut oleh anak-anak itu, ia segera turun dan merampasnya dari tangan anak-anak tersebut, bahkan yang sudah masuk ke mulut anak-anak itupun dipaksa dikeluarkannya. Orang fakir itu mengadukan perkara tersebut kepada Rasul Saw dan beliau berjanji akan menyelesaikannya. Kemudian Rasulullah Saw bertemu dengan pemilik kebun kurma itu dan bersabda, "Berikanlah kepadaku pohon kurma yang mayangnya menjulur ke rumah tetanggamu, dan sebagai gantinya Tuhan akan memberikan pohon kurma di surga untukmu."

Pemilik kebun kurma itu berkata, "Hanya sekian tawaran tuan? Aku mempunyai banyak pohon kurma dan pohon kurma yang diminta itu paling baik buahnya." Setelah berkata demikian, pemilik kebun kurma itu kemudian beranjak pergi. Pembicaraan dengan Nabi Saw itu terdengar oleh seorang dermawan yang langsung menghadap Rasul Saw dan berkata, "Wahai Rasul, jika engkau mengizinkan, aku akan membeli pohon kurma itu dari pemiliknya." Rasulullah Saw menjawab, "Ya."

Maka pergilah orang dermawan itu menemui pemilik kebun kurma. Pemilik kebun kurma itu berkata, "Apakah engkau tahu bahwa Muhammad menjanjikan pohon kurma di surga sebagai ganti pohon kurma yang mayangnya menjulur ke rumah tetanggaku? Akan tetapi buahnya sangat lebat, padahal aku memiliki banyak pohon kurma, dan tidak ada satupun pohon yang selebat itu." Maka berkata orang dermawan itu, "Apakah engkau mau menjualnya." Ia menjawab, "Tidak, kecuali apabila ada orang yang sanggup memenuhi keinginanku, akan tetapi pasti tidak akan ada yang sanggup." Dermawan itu berkata lagi, "Berapa yang engkau inginkan?" Ia menjawab, "Aku inginkan empat puluh pohon kurma."

Dermawan itu pun terdiam kemudian berkata lagi, "Engkau minta yang bukan-bukan, baik aku berikan empat puluh pohon kurma kepadamu, dan aku minta saksi jika engkau benar mau menukarnya." Ia memanggil sahabat-sahabatnya untuk menyaksikan penukaran itu. Dermawan itu pun menghadap Rasul Saw dan berkata, "Ya Rasulullah, pohon kurma itu telah menjadi milikku dan akan aku serahkan kepada tuan." Rasul Saw bersabda, "Semoga Tuhan ridha atasmu dan membuatkan rumah untukmu di taman surga." Setelah itu, maka berangkatlah Rasul Saw menemui orang fakir tersebut dan bersabda, "Sekarang ambillah pohon kurma itu untukmu dan keluargamu."

Kisah inilah yang melatarbelakangi turunnya surat al-Lail. Maka turunlah ayat ini yang membedakan kedudukan dan akibat orang yang bakhil dengan orang dermawan. "Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), dan siang apabila terang benderang, dan penciptaan laki-laki dan perempuan, sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda. Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga),  maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa."

Pada segmenini kembali kami nukilkan penggalan wasiat Imam Imam Ali as kepada putranya Imam Hasan as. Imam Ali as berkata, "Wahai putraku, jauhkanlah dari dirimu serangan kecemasan dengan keteguhan sabar dan kekuatan yakin. Orang yang meninggalkan kesederhanaan (berarti) melakukan kelebih-lebihan. Seorang sahabat adalah seperti kerabat. Sahabat adalah orang yang ketidakhadirannya juga membuktikan persahabatan itu."

Imam Ali as ingin menunjukkan sebuah fakta bahwa kehidupan adalah kumpulan dari peristiwa manis dan pahit, dan setiap saat kecemasan dan kegundahan akan menyergap manusia, kadang dalam masalah sosial, urusan politik, masalah ekonomi, dan kadang pula dalam urusan keluarga. Jika seseorang patah semangat dan terpuruk dalam menghadapi cobaan-cobaan itu, maka ia dapat menghadapinya dengan dua kekuatan; pertama dengan kekuatan sabar. Jika manusia bersabar dan memiliki keteguhan hati, ia akan menerima pahala dari sisi Tuhan, tapi jika ia meninggalkan kesabaran, cobaan itu akan mengujinya tanpa ia pernah mendapat pahala.

Kedua adalah bersandar pada kekuatan yakin dalam menghadapi segala cobaan hidup. Manusia perlu mengetahui bahwa ketetapan Tuhan sarat dengan hikmah, baik mereka menyadarinya ataupun tidak. Dalam surat Ash-Shura ayat 43, Allah Swt berfirman, "Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan."

Imam Ali as menilai teman yang baik sebagai kerabat, karena ikatan persahabatan terkadang sangat kuat dan menggantikan jalinan kekerabatan. Dalam sebuah pepatah, seseorang bertanya, "Teman lebih baik atau saudara?" Dijawab, "Saudara yang menjadi teman adalah lebih baik." (IRIB Indonesia)

Add comment


Security code
Refresh