Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Senin, 05 Agustus 2013 16:13

Ramadhan, Musim Semi Penghambaan (27)

Ramadhan, Musim Semi Penghambaan (27)

Imam Ali Zainal Abidin as-Sajjad as di bagian lain doa Makarim al-Akhlaq, berkata, "Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, dan cukupkanlah aku dari kesulitan dan kepayahan mencari rezeki." Usaha dan kerja keras dalam mencari rezeki dan memenuhi kebutuhan hidup merupakan sebuah perkara yang sangat ditekankan oleh agama Islam. Para nabi dan auliya Ilahi juga mendorong para pengikutnya untuk bersungguh-sungguh dalam mencari penghidupan. Selain menyemangati masyarakat, mereka sendiri juga berjuang untuk menghidupi keluarganya.

Semua orang harus bekerja keras untuk memperoleh penghasilan dan memenuhi kebutuhan hidupnya sehingga mereka hidup mulia dan terhormat di tengah masyarakat. Individu yang hidup mengharapkan dari pemberian orang, sebenarnya ia telah menggadaikan dirinya dan menjual harga dirinya. Manusia seperti itu tidak hanya hina di tengah masyarakat, tapi juga tidak mulia di hadapan Tuhan. Dalam sebuah hadis, Rasul Saw bersabda, "Individu yang menaruh beban hidupnya di pundak orang lain, maka ia akan dilaknat dan ditolak oleh Allah."

Di dunia modern, masalah kerja dan kemandirian ekonomi mendapat perhatian besar semua pihak. Dalam beberapa kasus, nasib sebuah bangsa secara signifikan ditentukan oleh kondisi ekonomi negara mereka. Independensi politik setiap negara juga bergantung pada independensi budaya, militer, dan ekonomi negara tersebut. Jika sebuah pemerintahan mandiri dalam tiga masalah tersebut, maka ia dapat membuat keputusan dan bertindak secara mandiri tanpa intervensi pihak lain. Jika tidak demikian, negara itu akan kehilangan kemandirian politik.

Pada 14 abad lalu, Rasul Saw telah berbicara tentang nilai kemandirian budaya, militer, dan ekonomi sebagai sumber kemuliaan sosial dan independensi politik. Dalam sebuah hadis, Rasul Saw secara simbolis menjelaskan, "Ada tiga cara untuk mencapai Allah. Pertama, suara pena ulama yang digoreskan di atas kertas. Kedua, suara derap langkah para mujahidin di jalan jihad. Dan ketiga, suara alat pemintal benang perempuan beriman."

Suara pena ulama merupakan simbol kemandirian budaya, sementara suara derap langkah para mujahidin adalah simbol kemandirian militer, dan suara alat pemintal benang sebagai simbol kemandirian ekonomi. Oleh karena itu, kerja keras bangsa Muslim untuk mencapai kemandirian ekonomi dan terbebas dari ketergantungan mendapat perhatian agama. Penggalan doa Imam Sajjad as juga berbicara tentang masalah pemenuhan kebutuhan hidup dan kemandirian ekonomi.

Sekitar abad kelima hijriyah, kota Naishabur Iran menjadi pusat pendidikan dan ilmu pengetahuan pada masa itu. Para pelajar datang berbondong-bondong ke kota tersebut untuk menimba ilmu, termasuk tokoh ilmuwan Muslim Iran, Muhammad al-Ghazali. Selama bertahun-tahun, al-Ghazali belajar dari berbagai guru hingga mencapai derajat keilmuwan yang tinggi. Ia juga mencatat apa yang dipelajarinya agar tidak hilang begitu saja. Setelah bertahun-tahun menimba ilmu, al-Ghazali akhirnya memutuskan kembali ke kampung halamannya di Thus.

Imam Ghazali menyusun dan mengumpulkan catatan-catatannya, lalu ikut sebuah kafilah yang akan pergi ke kampungnya. Di tengah jalan, kafilah itu dihadang oleh segerombolan perampok. Mereka mengambil setiap barang yang dijumpai. Sampai pada giliran barang-barang bawaan al-Ghazali, ia berkata kepada perampok tersebut, "Kalian boleh ambil semua barang-barangku, tapi jangan kalian ambil yang satu ini." Kawanan perampok tersebut menduga bahwa pasti itu adalah barang-barang yang berharga. Secepat kilat mereka merebut dan membukanya. Mereka tidak menemukan apa-apa kecuali setumpukan kertas yang hitam.

Apa ini? Untuk apa kau menyimpannya? tanya para perampok itu. Imam Ghazali menjawab, "Itulah barang-barang yang tidak akan berguna bagi kalian, tapi berguna bagiku." Apa gunanya? "Ini adalah hasil pelajaranku selama beberapa tahun," jawab al-Ghazali. "Jika kalian merampasnya dariku, maka ilmuku akan habis, dan usahaku yang bertahun-tahun itu akan sia-sia." Salah seorang perampok bertanya, "Hanya yang ada dalam lembaran-lembaran inikah ilmumu?" Ya, jawab Ghazali. Kemudian perampok itu berkata, "Ilmu yang disimpan dalam bungkusan dan dapat dicuri, sebenarnya itu bukanlah ilmu. Pikirkanlahnasib dirimu baik-baik."

Ucapan sederhana yang keluar dari perampok tersebut betul-betul mengguncang jiwa dan kesadaran Imam Ghazali. Ia yang sampai saat itu masih berpikir untuk sekedar mengikut gurunya dan mencatat ilmunya di buku-buku tulis saja, seketika berubah pikiran, yakni berusaha melatih otaknya lebih banyak, mengkaji dan menganalisa, lalu menyimpan ilmu-ilmu yang bermanfaat itu di "lembaran otaknya." Al-Ghazali berkata, "Sebaik-baiknya nasehat yang membimbing kehidupan intelektualitasku adalah nasehat yang kudengar dari mulut seorang perampok."

Pada segmenini kembali kami nukilkan penggalan wasiat Imam Imam Ali as kepada putranya Imam Hasan as. Imam Ali as berkata, "Kegelapan sedang sirna berangsur-angsur. Sekarang seakan-akan para musafir telah sampai (akhir usia) dan orang-orang yang bergegas akan segera bertemu (kematian). Ketahuilah, wahai anakku, bahwa penunggang kendaraan malam dan siang dibawa oleh (kendaraan siang dan malam) itu, sekalipun ia dalam keadaan berhenti, dan ia meliput jarak, sekalipun ia sedang menginap dan beristirahat."

Imam Ali as mengingatkan putranya tentang kematian dan akhir dari usia ini. Maksud dari kegelapan dalam wasiat tersebut adalah kebodohan terhadap dunia, di mana sebagian orang mengira dunia itu akan kekal. Tapi, hanya sebentar saja kematian akan datang menyapa setiap orang. Imam Ali as mengumpamakan penduduk dunia ini sebagai musafir yang sedang bergerak ke tempat tujuannya. Semua bergegas untuk mencapai tempat persinggahannya yaitu, akhir dari kehidupan.

Gerak menuju kematian adalah sebuah gerak yang keluar dari ikhtiyar dan kehendak manusia. Takdir Ilahi akan membawa dengan cepat semua manusia ke liang lahad, baik mereka bersedia atau tidak, sekalipun orang-orang yang lalai akan kematian. Ada dua hal yang pasti dalam perjalanan ini, pertama, di luar kehendak manusia, dan kedua akan berhenti pada satu titik.

Para nabi dan auliya senantiasa memperingatkan manusia akan kematian dan mereka juga membangunkan orang-orang yang lalai, serta mengingatkan mereka untuk membawa bekal yang cukup, sebab di sana tidak ada sarana lagi untuk menyiapkan bekal dan juga tidak ada jalan kembali ke dunia. Sekelompok manusia meyakini nasehat para nabi, dan sebagian yang lain mengingkarinya. Penyesalan baru muncul setelah mereka benar-benar menemukan kebenaran nasehat tersebut. (IRIB Indonesia)

Add comment


Security code
Refresh