Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Minggu, 04 Agustus 2013 16:13

Ramadhan, Musim Semi Penghambaan (26)

Ramadhan, Musim Semi Penghambaan (26)

Imam Sajjad as dalam doa Makarimul Akhlaknya memohon kepada Allah Swt: Ya Allah dan jangan Kau uji aku dengan rejekimu."

Klaim seseorang bahwa dirinya telah beriman tidak cukup dan Allah Swt selalu mengujinya guna membedakan antara orang-orang jujur dan para pembohong. Dalam Al-Quran surat Al-Ankabut ayat dua dan tiga Allah Swt berfirman:

???????? ???????? ??? ?????????? ??? ????????? ??????? ?????? ??? ??????????? ??????????? ???????? ????????? ??? ?????????? ???????????????? ???????? ????????? ???????? ??????????????? ????????????? ??

Artinya: Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.

Salah satu ujian Allah Swt adalah dengan kekayaan. Imam Sajjad as dalam doanya berusaha menghindari ujian berat itu dan memohon kepada Allah Swt agar tidak memberinya harta dan kekayaan melimpah sehingga harus diuji. Doa ini sangat penting dan berharga untuk diresapi masyarakat. Imam Sajjad as, manusia maksum dan yang terjauhkan dari dosa itu, memanjatkan doa tersebut agar tidak terhimpit ujian sulit dengan kekayaan dan harta. Namun manusia awam dan kebanyakan orang mengatakan, "Jika Allah melimpahkan kekayaan padaku, maka aku akan menginfakkan dan melaksanakan kewajiban dengan baik."

Mungkin saja ketika mengucapkannya, manusia itu benar-benar ikhlas dan tulus, akan tetapi dia tidak tahu bahwa kemungkinan besar kekayaan akan mengubah pikiran dan pendapatnya. Kekayaan dan harta akan mengubah seseorang dan dia sangat rentan tergelincir karena ujian kekayaan tersebut dan pada akhirnya dia akan terjebak dalam kesengsaraan sepanjang hidupnya.

Tsa'labah bin Hatib, yang merupakan salah seorang sahabat Rasulullah Saw dari kaum Anshar, telah merasakan ujian tersebut dan dia gagal. Ketika miskin, dia menghadap Rasulullah Saw dan berkata: "Ya Rasulullah! Mintalah kepada Allah Swt untuk melimpahkan kekayaan kepadaku." Rasulullah Saw menjawab, "Wahai Tsa'labah! Sedikit harta yang dapat kau syukuri itu lebih baik dari kekayaan melimpah yang tidak dapat kau pikul." Tsa'labah kembali menghadap Rasulullah Saw dan mengulangi permintaannya dan berkata, "Demi Allah yang mengutusmu atas kebenaran, aku bersumpah bahwa jika Allah memberikanku kekayaan, aku akan memberikan kepada siapa pun yang berhak." Kemudian Rasulullah Saw mendoakan agar Allah Swt melimpahkan kekayaan kepada sahabatnya itu. Doa Rasulullah Saw terkabul. Jumlah kambing Tsa'labah meningkat sampai dia tidak bisa lagi tinggal di Madinah. Dia pun terpaksa keluar dari Madinah dan tinggal di pinggiran kota Madinah untuk beternak kambing.

Tidak berselang lama, Tsa'labah tidak dapat tinggal di pinggiran Madinah mengingat jumlah kambingnya terlalu banyak. Tsa'labah terpaksa tinggal di kawasan yang lebih jauh lagi. Setelah beberapa waktu, Rasulullah Saw mengutus sahabatnya ke rumah Tsa'labah untuk memungut zakat. Akan tetapi, Tsa'labah yang telah berubah menjadi orang kikir itu berkata, "Zakat tidak lebih dari tebusan (denda) dan yang membayar uang tebusan itu adalah non-Muslim. Karena itu aku tidak akan berzakat." Ketika ucapan Tsa'labah itu disampaikan kepada Rasulullah Saw, beliau berkata, "Celakalah Tsa'labah!"

Kemudian turun wahyu yang berbunyi, "Mereka di antara orang-orang Muslim mengikat janji jika Allah melimpahkan rejeki kepada kami maka kami akan bersedekah dan menjadi hamba yang saleh, dan ketika rejeki Allah diterima, mereka kikir dan berpaling dari melaksanakan kewajiban."

Karena alasan inilah, Imam Sajjad as meminta kepada Allah Swt untuk tidak mengujinya dengan kekayaan dan harta.

Junaid Baghdadi, adalah seorang yang arif dan taat agama. Pada suatu hari, bersama dengan beberapa sahabatnya keluar kota Baghdad untuk bertamasya. Sahabatnya bercerita tentang Buhlul yang disebut gila. Mereka tidak tahu bahwa Buhlul adalah manusia terhormat yang diperintahkan oleh Imam Musa Al-Kadzim as untuk bertingkah seperti orang gila agar terhindar dari ancaman Harun Al-Rasyid, seorang khalifah Bani Abbasiyah.

Junaid yang sangat tertarik mendengar cerita sahabatnya itu berkata, "Temukan dia untukku, aku ada keperluan dengannya." Mereka pun mencari Buhlul dan menemukannya. Junaid pun pergi menemui Buhlul dan mengucapkan salam kepadanya. Buhlul menjawab salamnya dan bertanya, "Siapa kau?"

Junaid menjawab, "Aku adalah Syeikh Junaid Baghdadi."

Buhlul berkata, "Benarkah kau Syeikh Baghdadi yang membimbing masyarakat?"

Junaid menjawab, "Iya benar!"

Buhlul kembali bertanya, "Bagaimana kau makan?"

Junaid dengan cepat menjawab, "Pertama aku mengucapkan Bismillah, lalu aku mengambil suapan kecil dan aku meletakkannya di sebelah kanan mulutku. Aku mengunyahnya secara perlahan dan aku tidak melihat orang lain. Ketika aku makan, aku tidak melupakan Allah Swt, dan setiap suapan aku makan dengan terlebih dahulu mengucapkan Bismillah, serta sebelum dan sesudah makan, aku mencuci tangan."

Mendengar jawaban itu Buhlul berdiri dan berkata, "Kau ingin menjadi pembimbing masyarakat sementara kau sendiri tidak tahu bagaimana harus makan." Kemudian Buhlul meninggalkan tempat itu.

Junaid yang tahu bahwa Buhlul adalah orang yang arif dan bijaksana serta berpura-pura menjadi orang gila, hanya tersenyum dan berkata, "Ungkapan benar harus didengar dari orang gila." Kemudian dia pergi menyusul Buhlul.

Buhlul kembali bertanya, "Siapa kau?"

Kali ini Junaid menjawab, "Aku adalah Syeikh Baghdadi yang tidak tahu cara makan."

Buhlul berkata, "Apakah kau tahu cara berbicara?"

Junaid menjawab, "Iya."

Buhlul kembali bertanya, "Bagaimana kau berbicara?"

Junaid menjelaskan, "Aku berbicara secukupnya dan tidak berbicara seenaknya, aku berbicara sesuai dengan kadar pengetahuan pendengar dan aku menyeru masyarakat kepada Allah Swt dan Rasulullah, serta tidak berbicara sedemikian banyak sehingga masyarakat merasa jenuh."

Buhlul berkata, "Selain tidak tahu cara makan, kau juga tidak tahu cara berbicara." Kemudian Buhlul pergi.

Junaid kali ini pun tersenyum dan menyusul Buhlul.

Buhlul bertanya, "Apa yang kau inginkan dariku? Kau yang tidak tahu cara makan dan berbicara, apakah kau juga tahu cara tidur?"

Junaid menjawab, "Iya."

Buhlul balik bertanya, "Bagaimana?"

Junaid menjelaskan, "Setelah aku shalat Isya', aku memakai pakaian tidurku." Dan kemudian dia mulai menjelaskan tata cara tidur seperti yang dijelaskan Rasulullah Saw.

Buhlul berkata, "Aku tahu bahwa kau sama sekali tidak tahu cara tidur." Namun ketika dia hendak beranjak pergi meninggalkan tempat itu, Junaid mencegahnya dan berkata, "Wahai Buhlul! Aku tidak tahu apa-apa, demi Allah ajari aku!"

Buhlul berkata, "Karena kau telah mengakui ketidaktahuanmu, maka aku akan mengajarimu. Ketahuilah bahwa semua yang kau katakan itu adalah termasuk furu' karena inti cara makan adalah bahwa suapannya harus halal, karena jika haram, tata cara seperti itu tidak akan berguna dan hanya akan menggelapkan hati. Dalam berbicara, hati harus bersih dan niat yang benar serta berbicara demi keridhoan Allah Swt karena jika berbicara karena ada maksud dan tujuan duniawi, atau berbicara yang tidak berguna, melantur dan mengucapkan kalimat yang akan menyusahkanmu, maka diam lebih baik. Dan ketika tidur, semua yang kau ucapkan bukan yang utama, karena yang utama adalah agar ketika tidur hatimu harus bersih dari kebencian dan dendam kepada sesama serta agar kau tidur dengan hati yang jernih dan tanpa dendam."

Dalam segmen ini, kami akan mengetengahkan penggalan wasiat Imam Ali as kepada putranya Imam Hasan as. Imam Ali as berkata, "Apa yang kau miliki dari dunia ini adalah yang darinya kau dapat membangun akhiratmu dan jika kau harus bersedih dan gelisah karena sesuatu yang hilang, maka kau harus bersedih atas segala sesuatu yang tidak kau miliki."

Ucapan Imam Ali as ini menyinggung sebuah hakikat bahwa kekayaan dunia datang dan pergi, serta terkadang jatuh ke tangan orang lain. Kekayaan dunia sedemikian rupa sehingga, pemiliknya akan mempertanggungjawabkannya di akhirat kelak sementara yang menikmati kekayaan tersebut adalah pewarisnya. Tidak ada kekayaan yang benar-benar milik manusia. Kekayaan sejati adalah yang sekadar yang digunakan manusia untuk membangun akhiratnya.

Dalam sebuah hadis Rasulullah Saw bersabda, "Bukankah kekayaan hakikimu adalah yang kau makan dan lenyap, atau pakaian yang kau kenakan kemudian menjadi kuno dan rusak, atau yang kau sedekahkan dan yang kau jadikan simpanan untuk akhirat? Sementara yang lainnya adalah kekayaan pewarismu."

Kekayaan sejati manusia hanya ada dua: sebagiannya adalah yang digunakan di dunia dan sebagian lainnya adalah yang disimpan untuk hari kebangkitan kelak. Adapun kekayaan lainnya terkadang hilang dalam berbagai peristiwa atau jika tetap terjaga maka akan jatuh ke tangan pewaris.

Imam Ali as dalam wasiatnya juga menyinggung poin lain bahwa jika manusia harus bersedih dan gelisah atas apa yang hilang darinya, maka dia juga harus bersedih dan gelisah atas apa saja yang tidak dimilikinya. Banyak orang yang bersedih karena kehilangan harta atau kedudukan. Mereka bersedih selama berhari-hari, berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Namun pada saat yang sama, dia tidak terlalu bersedih karena kekayaan atau kedudukan yang tidak pernah dimilikinya. Padahal jika diperhatikan lebih teliti, kondisi keduanya mirip, yang manusia seperti ini harus senantiasa bersedih.(IRIB Indonesia) 

Add comment


Security code
Refresh