Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Jumat, 02 Agustus 2013 21:55

Ramadhan, Musim Semi Penghambaan (24)

Ramadhan, Musim Semi Penghambaan (24)

Dalam sebuah hadis Qudsi, Allah Swt berfirman, "Semua amal bani Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Puasa adalah untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya." Dalam hadis Qudsi lain, Allah Swt berfirman, "Setiap perbuatan anak Adam adalah untuk mereka, selain puasa. Maka puasa adalah untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya."

Imam Ali Zainal Abidin as-Sajjad as di bagian lain doa Makarim al-Akhlaq, berkata, "Ya Allah, jadikan aku sebagai orang yang teguh pendirian (Ahli as-Sidaad) di jalan kebenaran." Ahli as-Sidaad adalah orang yang melakukan seluruh amal perbuatannya sesuai denganparameter kebenaran dan juga selalu konsisten dalam ucapan dan tindakan. Dalam surat Fussilat ayat 30, Allah Swt berfirman, "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan,?Tuhan kami ialah Allah, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan, ?Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih, dan gembirakanlah mereka dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu."

Pada kenyataannya, Ahli as-Sidaad (orang yang konsisten dan teguh pendirian) memiliki dua kriteria mendasar yaitu, pertama adalah meniti jalan yang lurus dan kedua adalah konsistendi jalan itu. Tentu saja bersikap konsisten di jalan kebenaran tidak begitu sulit selama tidak ada ancaman yang membahayakan keselamatan dan harta benda.

Rasul Saw dan Ahlul Bait as adalah pengikut sejati kebenaran, tidak pernah berjalan bertentangan dengannya, dan juga tidak pernah melangkah di luar garis kebenaran, mereka bahkan rela terbunuh di jalan Allah Swt demi membela kebenaran. Peristiwa pembantaian Imam Husein as dan para sahabatnya di Padang Karbala merupakan teladan sempurna dari sikap konsisten dan teguh pendirian dalam membela kebenaran. Mereka dengan perjuangan dan pengorbanannya di jalan kebenaran berhasil mencapai derajat syahadah. Oleh sebab itu, Imam Sajjad as memohon kepada Allah Swt agar memiliki pendirian yang teguh di jalan kebenaran dan berbuat sesuai keinginan Tuhan.

Pada masa Nabi Musa as, Bani Israil menderita kekeringan parah akibat hujan tak kunjung turun. Warga memintaMusa as untuk mendirikan shalat minta hujan. Beliau bersama kaumnya kemudian bangkit untuk mendirikan shalat minta hujan. Sejumlah besar warga menyertai Nabi Musa as dalam momen itu. Mereka berkumpul di sebuah tempat, lalu berdoa meminta hujan. Diantara isi doanya itu ialah, "Tuhanku, siramlah kami dengan air hujan-Mu, taburkanlah kepada kami rahmat-Mu dan kasihanilah kami." Akan tetapi, hujan tetap tak kunjung datang.

Musa kembali berkata, "Tuhanku, jika seandainya Engkau tidak lagi menganggap kedudukanku sebagai Nabi-Mu, maka aku mengharapkan keberkahan Nabi yang ummi yaitu Muhammadyang akan Engkau utus di akhir zaman." Kepada Nabi Musa as, Allah Swt menurunkan wahyu-Nya yaitu, "Aku tidak pernah merendahkan kedudukanmu di sisi-Ku, sesungguhnya di sisi-Ku engkau mempunyai kedudukan yang tinggi. Akan tetapi, bersama denganmu ini ada orang yang secara terang-terangan melakukan perbuatan maksiat selama 40 tahun. Engkau harus menyerunya supaya ia keluar dari kumpulan orang-orang yang hadir di tempat ini. Orang itulah sebagai penyebab terhalangnya turun hujan untuk kalian semuanya."

Menuruti apa yang diperintahkan Allah Swt, Nabi Musa as berseru kepada kaumnya,

"Wahai seorang hamba yang durhaka yang secara terang-terangan melakukan maksiat sampai 40 tahun, keluarlah kamu dari barisan ini, karena engkaulah penyebab tidak turunnya hujan." Mendengar seruan dari Nabi Musa as itu, maka orang yang durhaka itu melihat kekanan ke kiri. Akan tetapi, ia tidak melihat seorangpun yang keluar dari rombongan itu. Di dalam hatinya ia berkata, "Jika aku keluar dari rombongan ini, niscaya akan terbukalah semua aibku, tapi bila aku tetap di sini bersama mereka, pasti hujan tidak akan diturunkan oleh Allah."

Setelah berkata demikian dalam hatinya, lelaki itu lalu menyembunyikan kepalanya di balik bajunya dan menyesali segala perbuatan yang telah dilakukansambil berdoa, "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah durhaka kepada-Mu selama 40 tahun, walaupun demikian Engkau masih memberikan kesempatan kepadaku dan sekarang aku datang kepada-Mu dengan ketaatan maka terimalah taubatku ini." Beberapa saat kemudian, awan gelap terlihat berkumpul di langit dan seiring dengan itu hujan pun turun dengan lebatnya.

Melihat keadaan demikian maka Nabi Musa as berkata, "Tuhanku, mengapa Engkau menurunkan hujan kepada kami, bukankah di antara kami tidak ada seorangpun yang keluar serta mengakui akan dosa-dosanya?" Allah berfirman, "Wahai Musa, aku menurunkan hujan ini juga di sebabkan oleh orang yang dahulunya sebagai sebab Aku tidak menurunkan hujan kepada kalian." Nabi Musa berkata, "Tuhanku, perlihatkanlah dia kepadaku siapa sebenarnya hamba-Mu itu?" Allah berfirman, "Wahai Musa, dulu ketika ia durhaka kepada-Ku, Aku tidak pernah membuka aibnya. Apakah sekarang. Aku akan membuka aibnya itu sementara ia telah taat kepada-Ku

Pada segmenini kembali kami nukilkan penggalan wasiat Imam Imam Ali as kepada putranya Imam Hasan as. Dalam surat ke-31 kitab Nahjul Balaghah, Imam Ali as berkata, "Redamlah amarahmu karena aku tak mendapatkan sesuatu yang lebih manis dari itu pada kesudahannya, dan tak ada akibat yang lebih menyenangkan dari itu. Berlaku lembutlah kepada orang yang kasar kepadamu karena boleh jadi ia akan segera menjadi lembut kepada engkau. Perlakukanlah musuhmu dengan kebaikan, karena ini lebih manis di antara dua kemenangan (kemenangan melalui kekerasan dan kemenangan melalui kelembutan). Jika engkau berniat untuk memutuskan hubungan dengan seorang teman, tinggalkan suatu bidang baginya dari sisimu, yang dengan itu ia mungkin melanjutkan persahabatan."

Menurut Imam Ali as, meredam amarah akan berbuah manis dan menyenangkan, sebab manusia akan selamat dari rasa malu, penyesalan, dan kerugian-kerugian yang diakibatkan oleh rasa marah. Jelas sangat sulit berlaku lembut kepada orang yang berbuat kasar kepada kita. Manusia yang mampu mengendalikan hawa nafsunya dan memiliki tekad yang kuat, tentu ia akan bisa mengontrol amarahnya. Orang seperti ini tidak hanya mengakhiri ketegangan, tapi juga telah membuka ruang untuk sebuah persahabatan.

Imam Ali as menyarankan kita untuk bersikap proporsional dalam pertemanan dan tidak membuka semua rahasia kita kepada orang-orang dekat. Karena, jika suatu hari persahabatan berubah menjadi permusuhan, maka hal itu akan menjadi sebuah tantangan besar buat kita. Begitu juga ketika seseorang ingin memutus tali pertemanan, ia tidak seharusnya merusak semua ruang persahabatan, sebab mungkin saja pihak lain menyesali hal itu dan ingin kembali berteman, namun sayang semua jalan sudah tertutup untuknya. (IRIB Indonesia)

Add comment


Security code
Refresh