Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Kamis, 01 Agustus 2013 16:16

Ramadhan, Musim Semi Penghambaan (23)

Ramadhan, Musim Semi Penghambaan (23)

Imam Ali Zainal Abidin as-Sajjad as di bagian lain doa Makarim al-Akhlaq, berkata, "Ya Allah, sampaikanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya, dan jadikan aku seimbang dalam mengambil manfaat dari (nikmat)."Bersikap seimbang dan jauh dari ekstrim kiri (ifrath) dan ekstrim kanan (tafrith) merupakan jalan yang ditunjukkan oleh para utusan Tuhan kepada masyarakat. Orang-orang yang menempuh jalan yang seimbang dalam seluruh dimensi kehidupannya, pada akhirnya mereka akan mencapai kebahagiaan. Sementara orang-orang yang meninggalkan jalan tersebut dan terjebak dalam sikap ifrath (berlebihan) dan tafrith (kurang) akan berakhir pada kerugian dan kebinasaan.

Imam Ali as dalam khutbah Hammam kitab Nahjul Balaghah menguraikan tentang sifat-sifat orang yang bertakwa dan salah satunya berkenaan dengan pakaian. Imam berkata, "Pakaian yang dikenakan oleh orang yang takwa sesuai dengan jalan tengah dan seimbang. Ia tidak memakai pakaian yang menyatukannya dengan golongan kaya yang pendosa sehingga membuat marah orang-orang miskin dan juga tidak memakai pakaian yang mengundang celaan masyarakat."

Sikap proporsional dalam membelanjakan harta berguna bagi semua lapisan masyarakat termasuk golongan kaya dan miskin. Mereka yang berpenghasilan terbatas dan tetap ingin menjaga martabat di tengah masyarakat, perlu membiasakan diri untuk qana'ah (merasa cukup) dalam menjalani kehidupan ini dan harus selalu menjaga keseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran. Kelompok ini meski hidup serba berkecukupan dan menghadapi banyak masalah, tapi mereka mulia dan terhormat di tengah masyarakat.

Orang-orang yang mampu secara finansial dan berpendapatan lebih tinggi dari pengeluaran mereka, jika mereka bersikap proporsional dan membiasakan diri hidup sederhana, maka harta yang lebih tadi dapat disumbangkan untuk membantu orang lain. Dengan cara itu, mereka memiliki jiwa besar dan hidup mulia dan juga mendapat pahala dari Allah Swt.

Oleh karena itu, bersikap proporsional dalam kehidupan akan mencegah manusia dari hidup berlebih-lebihan dan juga kikir. Hidup seimbang bagi keluarga miskin akan mendatangkan kemuliaan, sementara bagi keluarga kaya akan mencegah ketamakan. Masalah ini akan mendorong keseimbangan, melahirkan sikap tolong menolong, dan mengurangi angka kemiskinan di masyarakat.

Ketentuan dan ketetapan Tuhan biasanya keluar dari pemahaman kita, tapi selalu akan menguntungkan kita. Dalam sebuah kisah disebutkan, "Zaman dulu, hidup seorang raja yang memiliki seorang menteri. Menteri itu selalu berkata, ?apapun yang terjadi akan menguntungkan kita.'" Suatu hari, raja meminta sebuah pisau yang tajam untuk mengupas buah, namun ia mengiris jarinya saat mengupas. Menteri yang berada di sampingnya berkata, "Wahai tuan, engkau tak perlu khawatir, semua yang terjadi demi kebaikan dan keuntunganmu."

Mendengar perkataan itu, muka sang raja memerah dan ia memutuskan untuk memenjara menterinya. Selang beberapa hari kemudian, raja bersama para pengawalnya pergi ke hutan untuk berburu. Di sana, ia asyik menunggangi kudanya hingga tersesat ke tengah hutan dan terpisah dari para pengawalnya. Ketika raja sedang sibuk mencari jalan untuk pulang, tiba-tiba ia sampai ke tempat sebuah kabilah, di mana mereka tengah mempersiapkan upacara kurban untuk para tuhan. Pada saat kabilah itu menyaksikan seorang raja dengan paras tampan, mereka gembira dan menganggap raja itu sebagai persembahan terbaik untuk dikurbankan. Mereka kemudian mengikat raja di hadapan sebuah berhala untuk disembelih.

Seorang pemuda dari kabilah itu tiba-tiba berteriak, "Bagaimana kalian memilih orang ini sebagai persembahan, sementara ia cacat, lihat saja jarinya." Oleh sebab itu, raja tersebut tidak jadi disembelih dan dibebaskan. Raja itu kemudian kembali ke istananya dan berkata kepada menterinya, "Sekarang aku mengerti makna dari ucapanmu yang selalu engkau ucapkan. Bekas luka di jariku telah menyelamatkan hidupku. Tapi apa makna perkataan itu bagimu? Engkau dipenjara dan apa kebaikannya?" Menteri menjawab, "Wahai tuan, apakah engkau tidak melihat bahwa jika aku tidak dipenjara, tentu aku sudah menemanimu di hutan. Di sana, kabilah tersebut akan menyembelihku sebagai gantimu. Sekarang engkau tahu bahwa penjara ini juga berguna bagiku."

Pada segmenini kembali kami nukilkan penggalan wasiat Imam Ali as kepada putranya Imam Hasan as tentang tugas-tugas terhadap sesama saudara seagama. Imam Ali berkata, "Wahai putraku, jika pemutusan tali silaturrahim terhadap saudara seagama disebabkan olehmu, maka engkau harus menyambungnya, dan pada saat ia marah dan menjauh, maka rangkullah ia, bersikaplah dermawan terhadap kekikirannya, dan pada saat ia menjauh, maka dekatilah ia, pada saat ia marah, bersikaplah lembut kepadanya, dan pada saat berbuat kesalahan, maka terimalah maafnya... tapi hati-hatilah jika engkau tidak melakukan itu pada tempatnya atau berbuat demikian terhadap orang yang tidak tepat." Imam Ali as melanjutkan, "Jangan menjadikan musuh saudaramu sebagai kawanmu, sebab tindakan itu akan memicu permusuhan dengan saudaramu. Nasihatilah saudaramu dengan tulus, baik nasehat itu indah dan menyenangkan (baginya) atau buruk dan tidak menyenangkan."

Di bagian lain wasiatnya, Imam Ali as memerintahkan untuk membalas keburukan dengan kebaikan. Dengan cara itu, saudara kita akan memahami kesalahannya dan memperbaiki sikapnya di masa mendatang. Cara seperti ini juga akan memperkuat landasan pertemanan. Ungkapan Imam Ali as pada dasarnya merupakan kandungan al-Quran surat Fussilat ayat 34, Allah Swt berfirman, "Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia."

Islam mengajarkan kepada kita untuk meminta maaf saat bersalah dan memaafkan kesalahan orang lain. Imam Ali as berkata, "Salah satu sifat yang paling mulia adalah memaafkan kesalahan orang lain." Dalam riwayat yang lain beliau berkata, "Orang yang paling buruk adalah yang tidak mau memaafkan kesalahan orang." Orang yang meminta maaf adalah orang yang, pertama, mengakui kesalahan. Lalu dengan menghilangkan kesombongan diri dia mau meminta maaf kepada sahabatnya. Perbuatan ini jelas layak dipuji dan penghargaan terbaik untuknya adalah memberinya maaf dengan tangan terbuka. Imam Ali as berkata, "Orang yang paling banyak memaafkan berarti dia memiliki makrifat yang besar kepada Allah."

Salah satu riwayat yang terbaik dalam hal ini adalah hadis Imam Sajjad as. Beliau berkata, "Anakku, cermatilah lima kelompok manusia yang tidak layak bagimu untuk bersahabat dengan mereka, berbicara dengan mereka dan berjalan bersama mereka. Hindari persahabatan dengan orang pendusta. Sebab dia ibarat fatamorgana yang menampakkan hal yang dekat seakan jauh dan hal yang jauh seakan dekat. Jangan kau berkawan dengan orang pendosa sebab dia siap menjualmu dengan imbalan sesuap makanan atau lebih sedikit dari itu. Jangan berkawan dengan orang yang kikir, sebab dia akan meninggalkanmu ketika engkau memerlukannya. Jauhi persahabatan dengan orang yang bodoh sebab dia akan merugikan dirimu ketika berniat melakukan kebaikan untukmu. Jauhilah pula orang yang memutuskan tali kekerabatan sebab aku dapatkan al-Quran telah mengutuknya." (IRIB Indonesia)

Add comment


Security code
Refresh