Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Rabu, 31 Juli 2013 16:14

Ramadhan, Musim Semi Penghambaan (22)

Ramadhan, Musim Semi Penghambaan (22)

Tak terasa kita telah memasuki sepuluh hari terakhir bulan puasa, bulan yang penuh rahmat, berkah, dan ampunan ini akan meninggalkan kita hanya dalam hitungan hari. 10 hari terakhir bulan Ramadhan adalah hari-hari yang memiliki kelebihan dan keistimewaan dibanding lainnya. Karunia dan rahmat Tuhan turun berlimpah menghampiri manusia dan Lailatul Qadar kemungkinan besar akan hadir di malam-malam terakhir bulan Ramadhan. Alangkah bahagianya jika manusia bisa merasakan belaian rahmat Tuhan dan mempersiapkan hatinya untuk menyambut kasih sayang-Nya. Di kesempatan yang tersisa ini, umat Islam berlomba-lomba untuk mencapai sifat takwa dan tidak menyia-nyiakan kapasitasnya sebagai tamu Allah Swt.

Di bulan yang agung ini, mereka berusaha untuk menghiasi pikiran dan tindakannya dengan kebaikan dan menjalani hidup seperti yang diinginkan oleh Tuhan. Diriwayatkan bahwa Rasul Saw di sepuluh terakhir bulan puasa melipat tempat tidurnya dan hanya tidur sedikit. Pada malam Lailatul Qadar, beliau membangunkan keluarganya untuk beribadah dan bersabda, "Siapa saja yang menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan penuh kejujuran, keikhlasan, dan kesadaran, Tuhan akan mengampuni seluruh dosanya."

Malam Lailatul Qadar adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan, pada saat itu akan turun para malaikat dan ruh yang mulia dengan izin Allah Swt. Malam Lailatul Qadar adalah malam di mana jiwa manusia bersiap-siap menerima hidangan langit. Pemilik jamuan di bulan Ramadhan ini telah menyiapkan banyak hadiah di malam ini. Penduduk langit turun ke bumi untuk menjamu para tamu Allah Swt dan mengucapkan salam sejahtera kepada mereka. Penyebutan malam Lailatul Qadar lebih baik dari seribu bulan pada dasarnya sudah menyiratkan pentingnya malam mulia ini. Allah Swt dalam al-Quran juga secara gamblang mengingatkan bahwa di malam mulia ini para malaikat turun ke bumi, mengucapkan salam kepada mereka yang menghidupkan malam mulia ini dengan membaca doa lalu duduk bersama mereka. Mereka mengamini doa orang-orang yang sibuk bermunajat kepada penciptanya.

Di malam Lailatul Qadar manusia dapat memaknai kembali kehidupannya dengan menyambungkan dirinya dengan sumber rahmat Ilahi. Ia dapat membersihkan ladang hatinya dari duri dan semak belukar agar kembang kebaikan dapat tumbuh dengan benar. Dokter Bagher Gobari, psikolog Iran mengatakan, "Satu dari keistimewaan Lailatul Qadar adalah turunnya para malaikat ke bumi. Secara psikologis, manusia dari sisi mental di malam mulia ini lebih siap untuk menyambungkan dirinya dengan alam Malakut. Persinggungan ini hanya akan terjadi pasca pensucian diri. Lailatul Qadar adalah malam di mana manusia dapat menjalin hubungan dengan Allah Swt dengan memanfaatkan energi positif yang ada pada jiwanya."

Kajian kali ini sebagaimana biasanya juga kami nukil penggalan doa Imam Ali Zainal Abidin as-Sajjad as di doaMakarim al-Akhlaq. Imam Sajjad as berkata, "Ya Allah, berilah aku karunia terhadap sesuatu yang suci dan berbuat sesuatu yang Engkau ridhai." Misi utama para nabi dan auliya Allah Swt adalah mensucikan jiwa manusia dari syirik dan mengajak mereka kepada pengesaan Tuhan.

Berkenaan dengan misi risalah Nabi Muhammad saaw, surat Ali Imran ayat 164 menyebutkan, "Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata."

Imam Sajjad as di bait selanjutnya berkata, "Ya Allah, jadikan kekuatanku untuk aku gunakan di jalan yang memperbesar keridhaan-Mu." Semua amal perbuatan yang dikategorikan baik oleh agama tentu saja sudah diridhai oleh Tuhan dan orang-orang yang mengerjakankannya pasti akan mendapat pahala dari Allah Swt sesuai dengan kadar keikhlasan. Namun, nilai spiritual semua perbuatan baik itu tidak sama. Manusia kadang dihadapkan pada dua pilihan antara mengerjakan perbuatan baik atau perbuatan yang lebih baik. Dalam kondisi seperti ini, sudah seharusnya seseorang memprioritaskan perbuatan yang lebih baik karena nilai spiritualnya lebih besar dan Tuhan juga akan lebih ridha terhadap pelakunya. Dalam doa tersebut, Imam Sajjad as memohon karunia agar bisa mengerjakan perbuatan-perbuatan yang paling baik.

Dikisahkan bahwa Nabi Musa as dalam sebuah munajatnya, memohon kepada Tuhan agar diperkenalkan dengan orang yang akan bersamanya di surga kelak. Tuhan menjawab bahwa seorang pemuda yang tinggal di sebuah sudut kota akan menjadi sahabatmu di surga. Nabi Musa as kemudian pergi mencari pemuda tersebut dan ternyata ia adalah seorang tukang jagal. Dari kejauhan, Nabi Musa as mengawasi pemuda itu dan ia ingin mengetahui perbuatan istimewa yang dilakukan tukang jagal tersebut sehingga mendapat kedudukan mulia di surga. Namun, setelah sekian lama mengawasinya, Nabi Musa as belum juga mengetahui rahasia kebaikan pemuda tersebut.

Ketika malam tiba, pemuda itu pulang ke rumahnya dan Nabi Musa as tanpa memperkenalkan identitasnya, meminta agar ia diizinkan bermalam di rumahnya. Musa ingin mengetahui keintiman tukang jagal itu dengan Tuhan dan rahasia kedudukannya yang tinggi di surga. Pemuda itu menerima permintaan Nabi Musa as untuk bermalam di rumahnya. Ketika mereka tiba di rumah, pemuda itu bergegas menyiapkan makanan dan kemudian menemui seorang perempuan tua yang lumpuh total di sebuah kamar rumahnya. Dengan penuh sabar dan semangat, ia menyuapi makanan kepada perempuan tua itu, lalu memakaikan pakaian yang bersih kepadanya dan mengantarkannya ke tempat duduknya.

Nabi Musa as tetap mengawasi pemuda itu dan menyaksikannya tidak melakukan perbuatan lain kecuali menunaikan kewajiban agama. Pemuda tersebut juga tidak larut dalam doa di tengah malam, tidak bermunajat sambil menangis, dan tidak ada ibadah istimewa yang ia kerjakan. Di pagi hari, sebelum keluar rumah pemuda itu kembali menyiapkan segala keperluan perempuan tua tersebut. Pada saat itu, Nabi Musa as sebelum pamit pulang, bertanya kepada pemuda itu, "Aku melihat perempuan tua itu menengadahkan wajahnya ke langit dan mengucapkan sesuatu setelah engkau memberinya makan."

Pemuda itu menjawab, "Perempuan itu adalah ibuku dan setiap kali aku memberinya makan, ia selalu berdoa untukku dan ia berkata, ?Ya Tuhan, sebagai balasan atas pengabdian putraku, jadikan ia sebagai sahabat Musa bin Imran di surga." Ketika Nabi Musa as mendengar jawaban itu, ia mengatakan bahwa Tuhan telah mengabulkan doa ibumu.

Pada segmenini kembali kami nukilkan penggalan wasiat Imam Imam Ali as kepada putranya Imam Hasan as. Imam Ali berkata as, "Berbuat aniaya terhadap orang yang lemah termasuk kezaliman yang paling buruk." Mengapa? karena orang yang lemah tidak mampu membela diri dan doanya terhadap sang penindas kemungkinan besar akan dikabulkan. Dalam kitab al-Kafi, Imam Muhammad al-Baqir as berkata, "Janganlah engkau menganiaya orang yang tidak memiliki penolong selain Tuhan."

Di bagian lain wasiatnya, Imam Ali as berkata, "Janganlah engkau bersikap toleran dengan orang yang justru akan menambah kebengisannya." Tentu saja, lslam mengedepankan kelembutan dan toleransi, tapi kadang ada orang-orang yang menyalahgunakan perbuatan manusiawi tersebut dan mendorong mereka untuk bersikap lebih keras. Menghadapi orang-orang seperti itu, maka ketegasan adalah satu-satunya jalan menuju perbaikan. (IRIB Indonesia)

Add comment


Security code
Refresh