Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Selasa, 30 Juli 2013 16:29

Ramadhan, Musim Semi Penghambaan (21)

Ramadhan, Musim Semi Penghambaan (21)

Imam Sajjad dalam salah satu munajatnya berkata, "Ya Allah, berilah aku petunjuk dan ilhamkanlah ketakwaan untukku." Salah satu modal paling berharga yang dikaruniakan Allah swt kepada manusia adalah kemampuan berbicara. Karunia lisan dan juga tulisan merupakan dua faktor yang menyebabkan kesempurnaan manusia. Melalui dua faktor inilah manusia memperoleh pengalaman praktis dan ilmu teoritis dari satu generasi ke generasi lain hingga saat ini. Demikian pula generasi masa kini menyampaikan kepada generasi mendatang.

Islam memandang bohong, mengumpat dan berkhianat merupakan perbuatan dosa yang dilakukan melalui lisan dan juga tulisan. Selain itu, terdapat penyakit lisan lainnya yaitu berlebihan dalam berbicara atau banyak omong. Imam Sajjad di bagiankedua  munajat ini memohon kepada Allah swt supaya diilhamkan ketakwaan hingga terhindar dari berbagai dosa termasuk dosa lisan.

Pengertian Ilham dalam munajat Imam Sajjad adalah Allah mengaruniakan dalam diri manusia sebuah perintah atau larangan terhadap sebuah tindakan. Allah swt memberikan potensi terbaik dalam diri manusia berupa fitrah untuk membedakan antara baik dan buruk dalam kehidupannya. Dengan demikian secara fitrawi dan tanpa proses belajar di sekolah maupun guru, manusia memahami bahwa berkhianat, tidak menepati janji dan berbohong merupakan perbuatan buruk, sedangkan jujur, menepati janji dan amanah merupakan tindakan yang baik.

Terkait hal ini al-Quran surat Ash-Shams ayat 7 hingga 9, Allah swt berfirman, "Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,.."

Ilham umum ini dikaruniakan Allah swt kepada setiap manusia yang dalam psikologi disebut sebagai "Hati Nurani"(Conscience). Ilham umum ini mengawasi kebaikan dan keburukan moral. Maksud Imam Sajjad dalam doanya supaya diilhamkan ketakwaan adalah meliputi dimensi material dan spiritual, sehingga seluruh perbuatan dan pemikiran manusia sesuai dengan ridha Allah swt.

Hikayat kaliini kita mulai dengan memetik pelajaran dari potongan kehidupan Imam Ali di era kekhilafahannya. Suatu hari saudara Imam Ali, Aqil menghadapnya untuk meminta saham lebih besar dari Baitul Mal. Malam hari tiba. Kufah sepi senyap dan udara di luar sangat panas. Ali dan saudaranya berada di atap gedung pemerintahan. Aqil ingin segera menyampaikan maksudnya kepada Ali yang saat ini menjabat sebagai khalifah umat Islam.

Aqil berkata, "Saudaraku aku punya utang, dan tidak punya kemampuan untuk membayarnya. Berilah instruksi supaya aku secepatnya membayar utang itu dan bantulah saudaramu meringankan beban yang ditanggungnya sebelum pulang ke rumah."

Ali bertanya: "Berapa utangmu?"

Aqil menjawab: "Seratus ribu dirham."

Ali berkata: "Sayang sekali saudaraku, aku tidak punya uang sebesar itu untuk membayar utangmu saat ini. Tapi bersabarlah, jika aku telah mendapatkan gaji maka aku akan memberikan bagianku untukmu. Aku akan menunaikan hak persaudaraan kita."

Aqil menukas: "Aku harus bersabar hingga engkau mendapatkan gajimu ? Bukankah baitul mal dan kas negara ada di tanganmu. Berapapun yang engkau inginkan tentu bisa memperolehnya dari kas negara. Lalu mengapa aku harus menunggu hingga engkau gajian ?"

Imam Ali menjawab: "Aku heran dengan usulanmu. Aku dan kamu sama seperti muslim yang lainnya. Benar engkau adalah saudaraku, dan aku akan membantumu semampuku, tapi dari hartaku, bukan harta baitul mal milik umat Islam !"

Tampaknya Aqil tidak puas dengan jawaban saudaranya itu. Ia terus memaksa Imam Ali. Ketika itu, Imam Ali berkata: " Jika tetap memaksaku untuk menerima usulanmu itu, akupun usulan untukmu. Jika dijalankan, maka utang-utangmu akan segera lunas."

"Apa itu ?" ujar Aqil heran.

Imam Ali berkata, "Di gedung pemerintahan, ada kotak yang berisi emas dan uang. Cepat rusak kuncinya dengan paksa dan ambillah uang sesuka hatimu !"

"Kotak itu milik siapa ? " tutur Aqil dengan nada semakin heran.

 Imam Ali menjawab, "Milik rakyat, uang mereka disimpan di sana."

Aqil menukas, "Aneh ! Engkau mengusulkanku untuk mengambil kotak uang milik orang lain yang diperoleh dengan susah payah dan mereka masukkan ke dalam kotak dan mereka bertawakal kepada Allah swt. Aku tidak datang ke sini untuk mencuri milik orang lain !"

Imam Ali menjawab, "Mengapa engkau mengusulkan kepadaku untuk membuka kotak baitul mal bagimu ? Kamu tahu harta baitul mal milik siapa ? Harta itu milik rakyat yang dikumpulkan dengan susah payah. Kamu mengira mencuri hanya dilakukan dengan menyerang milik orang lain, atau merampas harta orang lain dengan cara kekerasan? Pencurian yang paling tragis seperti usulanmu padaku !"

Imam Ali di bagian lain suratnya kepada Imam Hassan memberikan sejumlah nasehat kepada salah seorang putranya itu. "Perkataan orang yang banyak omong biasanya tidak bermakna dan keji. Orang yang menggunakan akalnya akan menyaksikan hakikat dan memilih jalan yang benar. Dekatilah orang-orang yang baik supaya kamu jauh dari orang-orang yang berperilaku buruk hingga terpisah dari mereka."

Salah satu keutamaan diam adalah tidak terjatuh dalam perkataan keji dan tidak bermakna. Kebanyakan orang yang banyak omong sering mengungkapkan perkataan yang tidak berkaitan sama sekali. Sebab perkataan yang terkendali dicapai dengan dipikirkan dan dikaji terlebih dahulu.

Imam Ali dalam buku "Gurarul Hikam" mengungkapkan kecenderunganbanyaknya kesalahan dari perkataan orang yang banyak omong. Imam Ali berkata, "Orang yang banyak omong seringkali banyak salahnya." Hal ini menyebabkan harga diri seseorang terjatuh dan jatuh terhina di hadapan orang lain. Namun sebaliknya orang yang sedikit berbicara dia bisa menjaga harga dirinya.

Imam Ali di bagian lain nasehatnya menegaskan pentingnya pemikiran. Beliau berkata,"Orang yang menggunakan akalnya akan menyaksikan hakikat dan memilih jalan yang benar." Pemikiran yang dimaksud oleh Imam Ali mencakup dimensi dunia dan akhirat, sehingga setiap orang mencapai kemenangan dalam hidupnya. Selain Ahlul Bait dan Rasulullah Saw, Allah swt sangat menegaskan umat manusia untuk berpikir sebelum bertindak supaya tidak menyesal di kemudian hari.

Melanjutkan nasehatnya, Imam Ali berkata, "Dekatilah orang-orang yang baik supaya kamu jauh dari orang-orang yang berperilaku buruk hingga terpisah dari mereka.".Tinggal bersama orang-orang yang berperilaku buruk dan keji akan mendapatkan keburukan darinya. Sebaliknya bersama orang yang baik akan mendapatkan kebaikan darinya. Dalam Al-Quran dengan jelas diterangkan bagaimana orang-orang yang lalim di hari kiamat menyesal mengapa di dunia bersama dengan orang-orang yang tersesat. Di bagian lain, Imam Ali berkata, " Jika kondisi seseorang samar bagimu dan agamanya tidak engkau ketahui, maka lihatlah siapa yang bersamanya; jika yang bersamanya ahli agama, maka agama ilahi bersamanya. Tapi jika tidak, maka ia tidak mendapatkan manfaat dari agama." (IRIB Indonesia/PH)

Add comment


Security code
Refresh