Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Selasa, 23 Juli 2013 16:11

Ramadhan, Musim Semi Penghambaan (14)

Ramadhan, Musim Semi Penghambaan (14)

Silaturahmi dan berbuat baik merupakan di antara hal yang dapat menarik perhatian Allah Swt kepada hamba-Nya di dunia maupun akhirat. Dalam sebuah hadis dari Imam Ja'far As-Shadiq as disebutkan, "Silaturahmi dan berbuat baik kepada saudara akan mempermudah penghisapan, dan keduanya akan menjaga manusia dari perbuatan dosa. Maka lakukanlah silaturahmi dan berbuat baiklah kepada saudara kalian, meski hanya sebatas mengucapkan atau menjawab salam."

Imam Sajjad as dalam doa Makarimul Akhlaknya mengatakan, "Ya Allah! Ubahlah permusuhan orang-orang dekat menjadi kecintaan dan perpisahan sanak saudara menjadi kebaikan dan hubungan!"

Seperti yang kita ketahui bersama, sebagian besar orang mengungkapkan kecintaan dan permusuhan dalam hatinya itu melalui berbagai reaksi termasuk pujian, kecaman, penerimaan atau penolakan dan terkadang dengan berbagai reaksi lebih ekstrim. Sebagian manusia, seperti Imam Sajjad as, berdoa kepada Allah Swt untuk mengubah permusuhan dengan orang-orang dekatnya menjadi kecintaan. Orang yang berdoa dan meminta kepada Allah Swt untuk mengubah permusuhan orang-orang terdekatnya menjadi kecintaan, dia harus merenungkan terlebih dahulu apakah permusuhannya dengan orang itu berasaskan kebenaran atau tidak. Jika orang yang berdoa itu, menghina orang-orang dekatnya, merendahkannya, berghibah atasnya atau mengoloknya, yang pada akhirnya menimbulkan kebencian dari orang itu, maka orang yang berdoa, selain memanjatkan doanya, dia juga harus terlebih dahulu mengubah perilaku dan ucapannya. Jadi dia harus melakukan apa yang setimpal dengan doanya.

Jika permusuhan pihak lain itu tidak benar dan sang pendoa telah bersikap sesuai dengan prinsip akhlak dan etika, maka dia tidak punya kewajiban syariat apapun dalam hal ini. Islah orang yang memusuhinya itu hanya bergantung pada perubahan hatinya sendiri dan ini hanya urusan Allah, karena hanya Allah Swt yang mampu mengubah hatinya dari kebencian dan permusuhan menjadi kecintaan dan persahabatan.

Imam Sajjad as dalam lanjutan doanya mengucapkan, "Ya Allah! Jadikan perpisahan sanak keluarga itu menjadi kebaikan dan hubungan." Termasuk di antara masalah yang sangat ditekankan dalam Islam adalah masalah silaturahami. Baik jarak mereka dengan sanak saudaranya itu mencapai satu tahun dalam perjalanan darat (di masa lalu) atau hanya perlu satu hari. Karena silaturahmi adalah masalah penting dalam agama.

Dalam hadis lain disebutkan, seorang lelaki menghadap Rasulullah Saw dan berkata, "Aku punya saudara yang aku kunjungi akan tetapi mereka menggangguku dan sekarang aku ingin meninggalkan mereka." Rasulullah Saw bersabda, "Maka ketika itu Allah Swt akan meninggalkan kalian semua."

Silaturahmi dan berbuat baik merupakan di antara hal yang dapat menarik perhatian Allah Swt kepada hamba-Nya di dunia maupun akhirat. Dalam sebuah hadis dari Imam Ja'far As-Shadiq as disebutkan, "Silaturahmi dan berbuat baik kepada saudara akan mempermudah penghisapan, dan keduanya akan menjaga manusia dari perbuatan dosa. Maka lakukanlah silaturahmi dan berbuat baiklah kepada saudara kalian, meski hanya sebatas mengucapkan atau menjawab salam."

Dikisahkan, Luqman Hakim adalah salah satu pembantu seorang saudara kaya Khajeh yang adil dan memiliki pembantu yang sangat banyak. Akan tetapi Luqman Hakim selalu diperhatikan majikannya karena kecerdasan dan kepiawaiannya. Pada suatu hari, seorang lelaki fakir datang menghadiahkan melon kepada sang Khajeh sebagai oleh-oleh. Khajeh memotong melon tersebut dan setelah mengambil satu potong untuknya sendiri, sisanya diberikan kepada Luqman Hakim. Satu persatu potongan melon itu dimakan Luqman Hakim dan setiap kali menyantapnya, Luqman Hakim selalu memuji betapa manisnya melon tersebut.

Akan tetapi ketika giliran sang Khajeh menyantap bagiannya, dan dia terkejut betapa pahitnya melon itu. Dengan nada heran, Khajeh itu bertanya kepada Luqman Hakim, "Bagaimana bisa kau melahap melon sepahit ini?" Menjawab pertanyaan itu, Luqman berkata, "Aku memakannya dengan dua alasan. Pertama, yang membawa hadiah ini untukmu adalah seorang fakir, yang memiliki ribuan harapan ketika memberikannya untukmu, aku tidak ingin menghancurkan harapannya. Kedua, aku telah menerima ribuan nikmat darimu dan semuanya kebaikan, aku malu untuk mengatakan bahwa melon ini pahit. Aku menilai manis, kepahitan dari tanganmu yang penuh kasih sayang dan kebaikan ini."

Kisah ini adalah untuk menyadarkan manusia-manusia yang tenggelam dalam nikmat Allah Swt dan bahkan nikmat yang terus bertambah setiap hari, namun ketika dia menghadapi sedikit masalah dan ujian, dia lantas bersedih dan mengeluh bahkan melupakan semua nikmat Allah. Hamba Allah yang hakiki adalah yang senantiasa bersyukur dalam kondisi apapun, baik itu senang atau susah, karena dia mensyukuri apa saja yang diridhoi oleh Allah Swt.

Imam Ali as dalam wasiatnya kepada putranya Imam Hasan as mengatakan, "Putraku! Ketahuilah bahwa yang memiliki semua hazanah langit dan bumi, telah memberimu ijin untuk berdoa dan meminta dan menjamin pengabulannya, Dia memerintahkanmu untuk meminta kepada-Nya agar Dia memberikannya kepadamu, agar kau memohon rahmat-Nya sehingga rahmat-Nya meliputimu. Allah tidak menetapkan seorang pun antara-Nya dan dirimu sehingga dia menjadi hijab antara dirimu dan Dia, dan Allah Swt tidak memaksamu untuk berlindung kepada pensyafaat lain."

Imam Ali as dalam wasiatnya mendorong Imam Hasan as untuk berdoa dengan menyebutkan beberapa poin penting. Pertama, memintalah kepada Yang Memiliki Segala Sesuatu. Allah Swt, adalah pemilik seluruh nikmat dan hazanah di langit maupun di bumi. Oleh karena itu yang pasti permintaan kepada Allah Swt  akan lebih dekat dengan kenyataan. Kemudian Imam Ali as menegaskan bahwa Allah Swt telah mengijinkanmu atau dengan kata lain mendorongmu untuk berdoa kepada-Nya, dan ini merupakan rahmat terbesar kepadamu.

Imam Ali dalam lanjutan wasiatnya menjelaskan bahwa Allah Swt telah menjamin terkabulkannya doa. Wasiat Imam Ali as itu pada hakikatnya menyinggung ayat yang berarti "Berdoalah kepada-Ku, maka Aku akan mengabulkannya untuk kalian." Meminta dan memohon kepada Allah Swt sedemikian penting bahkan derajatnya lebih penting dari ijin dan Imam Ali as berkata bahwa Allah Swt telah memerintahkan hamba-Nya untuk berdoa dan meminta rahmat-Nya.

Amirul Mukminin as kemudian menyinggung satu pondasi penting dalam Islam bahwa manusia dapat berhubungan langsung dengan Allah Swt sama seperti ketika setiap hari dalam shalat khususnya ketika membaca surat Al-Fatihah, manusia bercakap langsung dengan Allah Swt  dan dalam prosesnya, tidak ada perantara antara manusia dan Allah Swt. Islam telah membuka jalur langsung untuk berhubungan dengan Allah Swt dan buktinya dapat dirujuk pada ayat-ayat Al-Quran.

Muncul pertanyaan apakah masalah syafaat yang juga ditekankan dalam Islam yakni syafaat Rasulullah Saw dan para imam maksum as, bertentangan dengan hubungan langsung manusia dengan Allah Swt

Ayatullah Makarim Shirazi dalam menjawab pertanyaan tersebut mengatakan, "Pertama, hubungan langsung hamba dengan Allah Swt tetap ada, dan setiap Muslim melakukannya pada siang dan malam, sementara syafaat juga tetap berada di tempatnya sendiri. Dengan kata lain, keduanya berdampingan dan menjadi dua jalan yang sama-sama menuju rahmat Allah Swt. Kedua, disebutkan dalam ayat-ayat Al-Quran bahwa syafaat juga berdasarkan ijin Allah Swt, oleh karena itu, orang yang meminta disyafaati oleh Rasulullah Saw dan para imam maksum as, juga harus meminta Allah Swt agar mengijinkan mereka mensyafaatinya."

"Dengan penjelasan lain, manusia dapat memohon langsung kepada Allah Swt, akan tetapi terkadang permintaannya itu besar dan penting sekali atau dia telah berbuat banyak dosa sehingga dia merasa tidak akan berhasil jika berdoa sendirian. Oleh karena itu dia meminta pertolongan manusia-manusia mulia dan suci yang telah diberi ijin oleh Allah Swt untuk mensyafaati. Contohnya seperti kisah para saudara Nabi Yusuf as yang setelah sekian banyak perbuatan zalim, mereka merasa dosa-dosa mereka tidak akan diampuni dan oleh karena itu mereka meminta ayah mereka Nabi Yaqub as untuk memohonkan pengampunan bagi mereka kepada Allah Swt." (Surat Yusuf ayat 97). (IRIB Indonesia)

Add comment


Security code
Refresh