Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Minggu, 21 Juli 2013 16:23

Ramadhan, Musim Semi Penghambaan (12)

Ramadhan, Musim Semi Penghambaan (12)

Imam Sajjad as dalam doa Makarimul Akhlaknya mengatakan, "Ya Allah! Jangan Kau tetapkan satu pun akhlak dan sifat buruk pada diriku kecuali Kau akan memperbaikinya, dan juga tidak satu pun cara yang buruk yang akan menjelekkan diriku kecuali Kau akan memperindahnya, dan jangan Kau tetapkan kemuliaan diri yang belum sempurna kecuali Kau akan menyempurnakannya."

Imam Sajjad as dalam penggalan doa ini berharap kepada Allah Swt untuk menjauhkan akhlak dan sifat buruk dari dirinya. Manusia, secara alami akan mencintai dirinya sendiri dan selalu memandang positif apa saja yang dilakukannya. Bahkan jika seandainya ada hal buruk dalam pekerjaannya, akan tetapi rasa cinta diri ini akan menghalanginya untuk mengakui sisi buruk tersebut. Akan tetapi jika seseorang sejak usia muda telah merasa bertanggung jawab di hadapan Allah Swt dan memahami ilmu-ilmu agama termasuk halal dan haramnya serta menjaga akhlak, maka dia akan mampu dengan baik memilah-milah kebaikan dan keburukan.

Manusia seperti ini lebih sedikit terjebak dalam kekhilafan dan aib. Jika dia melakukan kekeliruan, maka dia akan mampu mendeteksi keburukan tersebut dan mengakuinya. Rasulullah Saw dalam hal ini bersabda, "Ketika Allah Swt menginginkan kebaikan seseorang, maka Allah akan mengenalkannya pada agama, membuatnya tidak peduli pada hal-hal materi dan duniawi, serta menyadarkannya pada kekurangan dan aib dirinya sendiri."

Cara kedua untuk mengenali kekurangan akhlak adalah bahwa orang yang beriman dan penggali hakikat Al-Quran, sangat memperhatikan sikap dan ucapan masing-masing dan setiap orang menjadi cermin bagi orang lain untuk mengenali aib dan kekurangannya untuk kemudian membenahinya dan meningkatkan sisi positif pada diri mereka.

Imam Ali as kepada sahabat beliau Kumail bin Ziyad mengatakan, "Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya, karena dengan memperhatikannya (Mukmin lain) dia dapat memenuhi seluruh tuntutan batin dan kekurangan maknawinya serta memperindah kondisi jiwanya."

Cara lain untuk mengidentifikasi kekurangan dan aib akhlak adalah agar setiap orang mengimbau saudara seagamanya untuk memperhatikan perilaku dan ucapannya, agar memberikan peringatan jika saudaranya itu menyaksikan kekurangan dalam batinnya. Pada masa-masa awal kemunculan Islam, ini merupakan salah satu cara pembenahan diri dan setiap Muslim dapat dengan mudah mengetahui kekurangan akhlaknya dan memperbaikinya. Baik di masjid atau di tempat-tempat lain, umat Muslim ketika berpapasan berkata, "Semoga dilimpahi rahmat Allah orang yang peduli kepadaku dan memberikan hadiah kepadaku serta menjelaskan kekuranganku."

Manusia sepanjang sejarah menghadapi berbagai kesulitan dan masalah, akan tetapi reaksi mereka berbeda-beda. Sebagian orang dengan pikiran terbuka dan ketelitian, mereka mampu menyelesaikan masalah mereka dengan cara yang termudah dan cepat. Sementara sebagian lainnya menempuh jalur yang sangat jauh dan lama untuk menyelesaikan masalah mereka. Mudah dan sulitnya kehidupan itu sangat bergantung pada bagaimana kita memandang masalah di hadapan kita.

Berikut ini akan kami kutipkan sebuah kisah menaik. Dikisahkan seorang saudagar kaya raya menderita sakit mata, sampai-sampai dia tidak bisa tidur karena kesakitan. Orang kaya itu setelah berkonsultasi dengan banyak dokter memutuskan untuk  menanyakan penyakitnya itu kepada seorang biksu terkenal. Dia pun lantas merujuk pada biksu tersebut dan dia dianjurkan untuk tidak melihat warna lain kecuali warna hijau selama beberapa waktu.

Ketika dia sampai di rumah, dia menyuruh pembantunya untuk mengubah cat rumahnya dengan warna hijau. Mengganti semua perabotan rumahnya dengan warna hijau. Bahkan pakaian keluarga dan pembantu di rumahnya juga diganti dengan warna hijau. Secara perlahan, sakit mata saudagar itu mulai membaik.

Setelah benar-benar pulih, dia mengundang biksu itu ke rumahnya sebagai bentuk terima kasih kepadanya. Sang biksu ketika sampai ke rumah saudagar itu terkejut melihat perubahan di rumah itu. Biksu bertanya, "Bagaimana dengan sakit mata Anda? Saudagar berterima kasih dan menjawab, "Sudah sembuh, akan tetapi ini adalah pengobatan termahal yang pernah saya lakukan." Sang biksu berkata, "Justru ini adalah resep termurah yang pernah saya berikan. Untuk mengobati sakit mata Anda itu, Anda cukup membeli kacamata dengan kaca berwarna hijau dan tidak perlu Anda mengeluarkan uang sebanyak ini. Untuk mengobati sakit matamu, Anda tidak bisa mengubah semua warna di dunia ini menjadi hijau. Namun dengan mengubah cara pandang, maka Anda dapat menyesuaikan dunia dengan selera Anda. Menantikan perubahan dunia adalah kebodohan, akan tetapi mengubah cara pandang kita, adalah cara termudah dan termurah. Berpikirlah mudah dan hiduplah dengan tenang."

Pada bagian ketiga pembahasan ini, akan diulas tentang wasiat Imam Imam Ali as kepada putranya Imam Hasan as sebagai berikut, "Putraku! Aku telah menyadarkanmu tentang kondisi dunia, perubahan dan kefanaannya, dan memberitahumu tentang akhirat dan apa saja yang telah disediakan untuk para penghuninya, dan aku telah mencontohkan keduanya kepadamu sehingga kau dapat mengambil pelajaran dan melangkah di jalan yang benar. Manusia yang telah teruji di dunia bak musafir yang berada di tempat pemberhentian yang kering dan gersang, dia akan bergerak menuju tempat yang penuh nikmat dan kesejahteraan. Oleh karena itu dia bersabar menghadapi berbagai kesulitan dalam perjalanan, perpisahan dengan semua yang dicintainya, serta seluruh kesulitan yang dihadapinya, demi sampai pada tempat yang nyaman."

"Akan tetapi orang yang menyombongkan dunia, sama seperti musafir yang berada di tempat yang penuh kenikmatan kemudian dikatakan kepada mereka agar pindah ke tempat yang kering dan gersang. Bagi mereka tidak ada yang lebih buruk dan menyakitkan dibanding berpisah dengan apa yang di dalamnya (dunia) serta bergerak menuju tempat dan nasib yang akan dijelangnya."

Imam Ali as pada bagian wasiat ini menjelaskan posisi dunia dan akhirat di mata orang-orang beragama dan di mata manusia-manusia pemuja dunia dengan menyebutkan dua contoh yang sangat indah. Contoh selalu memainkan peran penting dalam memahamkan pendengar baik berkaitan dengan masalah-masalah logika maupun afeksi. Dengan memberikan contoh, pendengar akan memahami inti dari pokok pembahasan. Dalam Nahjul Balaghah, terdapat berbagai contoh penuh makna yang itu semua juga membuktikan kefasihan dan ketinggian derajat balaghah Imam Ali as.

Apa yang dimaksud Imam Ali as dalam wasiat beliau adalah bahwa orang-orang yang beriman dan beragama, akan memanfaatkan nikmat-nikmat dunia ini, akan tetapi mereka tidak akan terpesona akan gemerlap dunia dan materi. Iman pada hari kiamat dan nikmat-nikmat di dalamnya serta keyakinan pada janji-janji Allah Swt akan menciptakan sebuah kepastian tak tergoyahkan pada jiwa mereka bahwa ada ketenangan dan kesejahteraan sejati dan berbagai nikmat materi dan maknawi di akhirat kelak. Oleh sebab itu, mereka mampu bersabar menghadapi semua kesulitan di dunia demi  kenikmatan abadi.

Akan tetapi para pemuja dunia yang lupa akan Allah Swt dan hanya sibuk menikmati kelezatan dosa, mereka tahu bahwa nasib mereka adalah neraka dan oleh karena itu mereka sangat takut akan kematian dan takut akan apa yang akan menimpa mereka. Sama seperti ketika harus meninggalkan tempat yang nyaman dan penuh nikmat menuju tempat yang gersang dan kering.  

Rasulullah Saw bersabda, "Dunia adalah penjara Mukmin dan sorga kafir dan kematian adalah jembatan untuk orang-orang yang beriman menuju sorga mereka dan jembatan untuk orang-orang kafir menuju neraka mereka." (Biharul Anwar jilid 6 hal.154)

Disebutkan ada seseorang yang bertanya kepada Imam Hasan as, "Mengapa kami takut pada kematian dan tidak menyukainya?" Imam Hasan menjawab, "Karena kalian telah merusak akhirat kalian dan membangun dunia kalian, kalian benci karena kalian akan pergi dari  kesejahteraan menuju kerusakan." (Maani Al-Akhbar hal.390).(IRIB Indonesia)

Add comment


Security code
Refresh