Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Sabtu, 20 Juli 2013 16:09

Ramadhan, Musim Semi Penghambaan (11)

Ramadhan, Musim Semi Penghambaan (11)

Di bagian doa Makarim al-Akhlaq, Imam Sajjad bermunajat, "Tuhanku, anugerahkan umur panjang selama usiaku menjadi pakaian ketaatan kepada-Mu. Dan akhirilah usiaku, ketika jadi ladang setan, sebelum rahmat-Mu menjauh dariku atau murka-Mu menimpaku." Dalam munajat ini, Imam Sajjad memohon agar hidupnya senantiasa berada dalam ketaatan kepada Allah swt.

Dalam munajat Imam Sajjad ini terdapat poin penting tentang penggunaan kata "pakaian" sebagai permisalan. Biasanya, pakaian kerja digunakan dari awal hingga akhir masa kerja. Seorang pekerja tidak akan melepaskan pakaian kerjanya sebelum masa tugasnya berakhir. Usia manusia dalam munajat Imam Sajjad diibaratkan seperti pakaian kerja yang memiliki masa akhir. Usia manusia senantiasa melekat dan tidak bisa dipisahkan selama dua puluh empat jam dari pagi hingga malam hari. Di munajat ini Imam Ali Zainal Abidin memohon dianugerahkan usia yang seluruhnya dipenuhi ketaatan kepada Allah swt.

Imam Sajjad dalam kelanjutan munajatnya berkata, "Tuhanku ! akhirilah usiaku ketika jadi ladang setan...". Kata ladang biasanya digunakan untuk menunjukkan tempat hewan digembalakan. Dahulu kala, hewan di bawa ke ladang sebagai tempat khusus menggembalakan binatang seperti padang ilalang yang banyak ditumbuhi pohon-pohon liar. Setan menjadikan umur sebagai ladang untuk menyelewengkan manusia ke lembah dosa. Dengan anggota badan seperti tangan, kaki, mulut hingga mata, setan berupaya menjauhkan manusia dari ketaatan kepada Allah swt dan mengarahkannya ke arah dosa. Selain anggota badan sebagai ladangnya, setan juga memanfaatkan pikiran dan perasaan manusia sebagai lahannya. Misalnya, dalam diri manusia dibisikkan perasaan takabur, sombong, riya serta berbagai sifat buruk lainnya.

Al-Quran menyebutkan berulang kali kata ?Iblis' dan ?Setan'. Iblis adalah makhluk dari jenis Jin yang pernah beberapa waktu lamanya berada dalam barisan para malaikat yang beribadah kepada Allah swt. Ketika Allah swt memerintahkan jin dan malaikat untuk sujud kepada Adam, malaikat mematuhi perintah tersebut. Namun iblis menolak perintah Allah swt dengan alasan dirinya lebih mulia dari Adam. Iblis takabur dan sombong, karena dirinya yang diciptakan dari api merasa lebih mulia dari Adam yang diciptakan oleh Allah swt dari tanah. Pembangkangan yang dilakukan iblis membuat Allah murka dan melaknatnya. Lalu iblis memohon kepada Allah supaya diberi izin untuk menyelewengkan anak-anak Adam.

Setan adalah nama seluruh sesuatu yang menyelewengkan dari jalan Allah, termasuk iblis. Sebagian riwayat menyebutkan bahwa hawa nafsu setiap manusia juga merupakan setan yang bersemayam dalam diri manusia. Hawa nafsu menggoda manusia supaya berbuat dosa dan menentang perintah Allah swt.

Bahasa merupakan sarana utama bagi manusia untuk berinteraksi dengan sesamanya. Untuk itulah bahasa memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Bahasa juga menjadi sarana untuk manusia dalam mencapai kesempurnaan dan kebahagiaan. Namun sebaliknya, bahasa kadang menyebabkan kerugian bagi manusia baik di dunia maupun akhirat. Jika bahasa tidak dikendalikan secara benar, maka banyak sekali terjadi kerusakan akibat penggunaannya yang keliru.

Bahasa bisa mendamaikan manusia yang bertikai, tapi juga sebaliknya menyebabkan terjadinya pertikaian bahkan perang yang menelan korban begitu banyak. Makanya ada istilah "bahasa fitnah", yang menyebarluaskan kebohongan demi memecah belah, sebagaimana yang dilakukan kaum imperialis dengan politik adu domba, devide et impera yang menggunakan sarana bahasa.

Tentang bahaya bahasa yang tidak dikendalikan dengan benar, ada cerita tentang Luqmanul Hakim dengan seorang tokoh. Luqmanul Hakim merasa risih dan kecewa dengan sikap berbahasa seorang tokoh terkemuka ketika itu, dan dia ingin memberikan pelajaran baginya. Suatu hari tokoh terkemuka itu mengundang para tamu. Ia memerintahkan Luqman untuk memotong kambing dan menyajikan bagian yang terbaik untuknya. Luqman membuat makanan yang dibuat dari hati dan lidah kambing.

Suatu hari, orang yang sama juga menyuruh Luqman untuk memotong kambing dan menyajikan bagian yang terburuk. Kali ini Luqman tetap menyajikan hati dan lidah. Orang itu bertanya, bagaimana bisa dua anggota badan, lidah dan hati menjadi yang terbaik sekaligus terburuk ? Luqman menjawab, "Wahai tuan, hati dan lidah merupakan dua anggota badan yang paling berpengaruh bagi kebahagiaan maupun penderitaan manusia. Hati sebagai tempat cahaya dan lidah menjadi alat untuk menyebarkan pengetahuan dan perbaikan masyarakat. Untuk itulah hati dan lidah menjadi dua anggota badan yang terbaik. Tapi sebaliknya hati menjadi tempat bersemayamnya kedengkian, dan lidah menjadi alat untuk memfitnah orang lain. Untuk itulah hati dan lidah menjadi dua anggota badan yang terburuk. Lelaki itu memahami pesan yang dibawa Luqman, dan dia memperbaiki sikap dan perbuatannya terutama dalam berbahasa.

Imam Ali memberikan nasehat mulia kepada anak-anaknya. Salah satunya mari kita simak bersama. Imam Ali berkata, "Anakku ! Tidak ada seorangpun yang memberikan penjelasan tentang Allah seperti Rasulullah Saw. Maka, jadikan beliau sebagai panutan dan teladan terbaikmu. Jadikan beliau sebagai penyelamat dan pijakan  kehidupanmu. Aku tidak pernah mengabaikanmu sekalipun, dan engkaupun berupaya untuk melakukan perbaikan dan kemaslahatan yang tidak sampai sebagaimana aku memandangnya."Dalam hal ini, Imam Ali mewasiatkan dua hal penting kepada putranya, Imam Hassan. Pertama menjadikan Rasulullah Saw panutan dan teladan terbaik. Kedua, ayahnya sebagai Amirul Mukminin tidak pernah menyerah untuk terus-menerus memberikan petunjuk bagi anaknya.

Wahyu Allah yang diturunkan kepada Rasulullah Saw menjadi penutup seluruh wahyu yang diturunkan kepada para Nabi Allah swt sebelumnya. Wahyu diturunkan sesuai dengan potensi manusia ketika itu, dan berakhir di zaman Nabi Muhammad Saw. Perbandingan antara al-Quran dan Taurat serta Injil saat ini menunjukkan adanya perbedaan besar. Al-Quran menjelaskan mengenai ketauhidan dan sifat Allah swt yang tidak terdapat dalam kitab sebelumnya. Al-Quran juga memiliki pandangan khusus terkait masalah akhlak, sosial, politik dan sejarah. Untuk itulah Imam Ali berkata, "Tidak ada seorangpun yang memberikan penjelasan tentang Allah seperti Rasulullah. Maka, jadikan beliau sebagai panutan dan teladan terbaikmu.."

Imam Ali dalam nasehat lain kepada putranya berkata, "Aku tidak pernah mengabaikanmu sekalipun, dan engkaupun berupaya untuk melakukan perbaikan dan kemaslahatan yang tidak sampai sebagaimana aku memandangnya..." Tujuan dari perkatan ini, Imam Ali mendukung anaknya untuk berkomitmen terhadap dua hal penting. Pertama, kecintaan dan kasih sayang Imam Ali sebagai ayah tidak akan pernah sirna oleh apapun. Kedua, putranya tidak akan mengetahui dan menyaksikan apa yang dialami oleh Imam Ali.(IRIBIndonesia)

Add comment


Security code
Refresh