Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Jumat, 19 Juli 2013 17:36

Ramadhan, Musim Semi Penghambaan (10)

Ramadhan, Musim Semi Penghambaan (10)

Imam Sajjad as dalam lanjutan doa Makarimul Akhlaknya memohon kepada Allah Swt: "Ya Allah! Sampaikan salam kepada Muhammad dan keluarganya dan jangan Kau naikkan derajatku di antara masyarakat, kecuali jika telah Kau tetapkan diriku sesuai dengan kedudukan dan keutamaan yang itu untuk diriku sendiri."

Termasuk di antara masalah penting dalam kepribadian adalah keseimbangan yang harus tercipta antara jiwa dan raga serta antara kondisi batin dan perilaku lahiriyah, sehingga manusia dapat menjaga dirinya dalam menghadapi berbagai peristiwa baik dan buruk dalam hidupnya.

Imam Ali as berkata, "Nilai wujud dan kelayakan batin seseorang akan diketahui dalam perubahan kondisi." Seorang pegawai kantor atau pedagang yang memiliki pendapatan biasa dan rendah hati di hadapan masyarakat, jika karena satu sebab atau faktor mendadak posisinya meningkat misalnya menjadi ketua sebuah kantor atau berubah menjadi sebuah pengusaha kaya, dan perubahan kondisi ini berpengaruh pada jiwanya dan kemungkinan dia akan menjadi sombong. Orang seperti ini sebenarnya telah melupakan kerendahan hati yang selalu ia jaga sebelumnya dan setelah itu dia melihat orang lain dengan pandangan menghina dan merendahkan.

Jika manusia ingin terhindar dari penyakit akhlak, maka dia harus mencegahnya dengan meningkatkan kerendahan hatinya. Menghormati orang lain dan mengingat-ingat dosanya sehingga dia terjaga dari sifat takabur atau kesombongan yang sangat berbahaya. Ini berarti, semakin besar kekayaannya, seseorang harus semakin rendah hati. Dengan demikian, kedudukan dan harta tidak akan menyimpangkannya dari jalan dan tugas-tugasnya.

Jika seseorang realistis dan menggunakan akalnya dengan baik, maka dia akan memahami betapa harta dan kedudukan yang dimilikinya tidak lain kecuali tanggung jawab. Oleh karena itu pengkhidmatan kepada masyarakat merupakan tanggung jawab yang harus dilakukan tanpa pamrih serta melakukan tugas-tugas besar dan bernilai demi kemuliaan manusia dan kehormatan diri. Ini adalah pelajaran yang diberikan kepada Imam Ali as kepada para pengikutnya. Beliau mengatakan, "Amal baik yang kau lakukan untuk masyarakat tidak diragukan bahwa kau telah memuliakan dirimu dan dengan amal terpuji itu kau telah menghiasi kehormatan dirimu, maka terima kasih atas amal baik untuk dirimu itu jangan kau minta dari siapapun kecuali dari dirimu sendiri."

Hari kesepuluh Ramadhan adalah peringatan wafatnya Sayidah Khadijah sa, istri, sahabat dan pendukung Rasulullah Saw. Sayidah Khadijah sa merupakan manifestasi kebaikan, kesucian dan kesempurnaan seorang Muslimah. Dia adalah orang pertama yang beriman kepada Allah Swt dan risalah Muhammad Saw dan memeluk agama Islam. Dia membuktikan bahwa meski di lingkungan terbelakang dan jahiliyah, seseorang dapat tetap menjaga hidup bersih dan suci. Pesan Sayidah Khadijah sa adalah bahwa untuk mencapai kebahagiaan, maka harus ada tujuan penting yang diperhatikan dan harus ada pengorbanan dalam menghadapi kesulitan.

Sayidah Khadijah sa adalah pemberi kesejukan dalam kehidupan Rasulullah Saw dan dia selalu menyertai Nabi Muhammad Saw dalam setiap kondisi. Iman Sayidah Khadijah sa dan perannya dalam menyebarkan Islam sedemikian besar sehingga Rasulullah Saw menyebutnya salah satu dari empat perempuan termulia di dunia dan bahkan Allah Swt berulangkali menyampaikan salam sejahtera untuknya melalui lisan malaikat Jibril.

Rasulullah Saw bersabda, "Di malam Mi'raj, ketika aku kembali malaikat Jibril menghadapku. Aku berkata: Wahai Jibril! Apakah keperluanmu? Jibril menjawab: sampaikan salam dari Allah Swt dan dariku kepada Khadijah (sa)." Kemudian Rasulullah menyampaikan pesan Jibril itu kepada Khadijah sa, dan Khadijah menjawab, "Sesungguhnya salam untuk Allah, salam dari-Nya dan menuju kepada-Nya dan salam untuk Jibril."

Sayidah Khadijah sa sakit sejak tiga tahun sebelum hijrah Rasulullah Saw ke Madinah. Rasulullah Saw berkata kepada Sayidah Khadijah, "Wahai Khadijah, tahukah kau bahwa Allah telah menetapkanmu sebagai istriku di sorga?" Dengan cara ini Rasulullah Saw menghibur Sayidah Khadijah. Sakit Sayidah Khadijah sa semakin parah dan oleh karena itu, dia menyampaikan wasiat kepada Rasulullah Saw dan berkata, "Wahai Rasulullah! Aku punya beberapa wasiat, aku tidak melakukan yang terbaik untukmu maafkan aku." Rasulullah menjawab, "Aku tidak pernah melihat kekurangan darimu, kau telah mengerahkan seluruh upayamu. Kau keletihan di rumahku dan telah kau keluarkan semua hartamu di jalan Allah." Sayidah Khadijah berkata, "Wahai Rasulullah! Wasiat keduaku adalah jagalah putri ini (Fatimah Az-Zahra), karena setelahku nanti dia akan yatim. Maka jangan sampai ada di antara perempuan Quraisy yang mengganggunya. Jangan sampai ada orang yang menampar wajahnya. Jangan sampai ada orang yang membentaknya. Jangan sampai ada orang yang berbuat kasar terhadapnya."

Muslimah pertama pejuang Islam ini akhirnya meninggal dunia di usia 65 tahun di bulan Ramadhan tahun kesepuluh bi'tsah. Rasulullah Saw yang memandikan istri mulianya itu dan mengkafaninya dengan kain yang dibawakan oleh malaikat Jibril dari Allah Swt untuk Sayidah Khadijah sa. Rasulullah pula yang meletakkan jenazah istrinya ke dalam kubur, menguruk makamnya, menangis dan berdoa memohonkan ampunan untuk istrinya.

Dapat dikatakan bahwa ini merupakan saat-saat paling menyedihkan bagi Rasulullah Saw yang telah kehilangan istri tercintanya setelah baru saja ditinggal pamannya Abu Thalib. Oleh karena itu tahun kesepuluh pasca bi'tsah disebut dengan tahun kesedihan. Sejak saat itu, setiap kali nama Khadijah disebutkan, air mata mengalir dari mata Rasulullah Saw dan beliau menyampaikan salam untuk mendiang istrinya. Rasulullah berulangkali bersabda, "Ketika semua orang menolakku, dia (Khadijah) membantuku."

Pada bagian terakhir pembahasan ini, kita akan menyimak wasiat Imam Ali as kepada putranya Imam Hasan as. Beliau berkata, "Wahai putraku! Pahamilah dengan teliti wasiatku. Ketahuilah bahwa Pemilik kematian adalah Pemilik kehidupan dan Pencipta adalah Yang mematikan, dan Yang memfanakan adalah Yang menggerakkan kembali dunia, Yang memberikan penyakit adalah Yang menyembuhkannya, dan dunia tidak akan bertahan kecuali seperti yang telah ditetapkan Allah. Terkadang nikmat dan terkadang masalah dan pada akhirnya pahala di hari kiamat atau apa saja yang dikehendaki-Nya dan kau tidak mengetahuinya. Jika kau kesulitan memahami masalah-masalah ini (berbagai peristiwa di dunia) anggaplah itu sebagai ketidaktahuanmu (jangan kau mengeluh) karena pada awal penciptaanmu kau tidak mengetahui kemudian menjadi berpengetahuan."

Imam Ali as pada lanjutan wasiatnya kepada Imam Hasan as menekankan ketelitian dalam memahami wasiat beliau. Ini menunjukkan betapa pentingnya wasiat beliau ini. Imam Ali as menyebutkan sebuah hakikat bahwa apapun yang ada di dunia ini semuanya dari Allah Swt. Kehidupan, kematian, kesehatan, penyakit, nikmat dan masalah, semuanya dari Allah Swt dan jika manusia tidak mampu untuk memahami hikmahnya, maka itu semua adalah karena ketidaktahuannya dan agar dia berserah diri kepada Allah Swt.

Imam Ali as juga menyinggung perubahan konstan di dunia termasuk manis-pahitnya kehidupan, yang menurut beliau ini semua merupakan karakteristik dunia dan sesuai dengan hikmah Allah Swt. Karena jika manusia selalu dalam nikmat, maka dia akan tenggelam ditelan gelombang kealpaan. Sementara di sisi lain, jika manusia selalu menghadapi masalah, maka dia akan merasa putus asa dan dia akan menjauhkan diri dari Allah Swt.

Allah Swt telah menetapkan komposisi nikmat dan kesulitan yang sesuai agar manusia selalu terjaga dan selalu melangkah menuju Allah Swt. Namun mengingat watak manusia yang cenderung mengeluh ketika menghadapi masalah, Imam Ali as  mewasiatkan untuk tidak mengeluh ketika dihadapkan pada masalah karena manusia tidak tahu hikmah di baliknya. Betapa banyak masalah yang datang dan manusia tidak mengetahui apa hikmahnya. Namun setelah beberapa waktu berlalu, tabir hikmah dari masalah itu tersingkap. Lalu apakah manusia yang memiliki pengetahuan serba terbatas ini, apakah berhak mengeluh dengan mengandalkan keterbatasan pengetahuannya ini?" (IRIB Indonesia)

Add comment


Security code
Refresh