Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Rabu, 30 Desember 2015 09:55

9 Dey; Manifestasi Kekuatan Bangsa Iran

9 Dey; Manifestasi Kekuatan Bangsa Iran

Aksi spontan rakyat Iran dalam pawai akbar nasional pada tanggal 9 Dey 1388 (30 Desember 2009) merupakan sebuah aksi fenomenal dan bukan demonstrasi biasa.

 

Menurut ungkapan Rahbar, Ayatullah Sayid Ali Khamenei, gerakan serentak rakyat Iran pada 9 Dey merupakan sebuah aksi heroik, di mana ia menjadi momen yang tak terlupakan dan sebuah aksi yang lahir dari kearifan dan pengenalan situasi serta gerakan yang berlandaskan pada iman dan tekad rakyat dalam sejarah Revolusi Islam.

 

Bangsa Iran sejauh ini bangkit melawan semua fitnah dan konspirasi musuh mulai dari perang yang dipaksakan sampai sanksi ekonomi dan kejahatan kelompok teroris, tapi fitnah pasca pemilu periode kesepuluh Presiden Iran merupakan sebuah fenomena luar biasa, di mana ia dirancang dalam konsep perang lunak dan sebuah model dari Revolusi Beludru. Fitnah 88 muncul dari manuver kubu tertentu di dalam negeri dan di baliknya juga punya hubungan dengan para konspirator asing dan diseting dari luar Iran.

 

Rakyat Iran dalam sebuah aksi spontan memperlihatkan sikap dan kesadaran berpolitik mereka selama pawai akbar 9 Dey dan menunjukkan kewaspadaannya atas konspirasi dan skenario musuh terhadap sistem Republik Islam. Mereka tidak pernah ragu dalam membela sistem negara dan nilai-nilai agamanya.

 

Bangsa Iran mempertahankan persatuannya di semua peristiwa sepanjang 38 tahun dari kemenangan Revolusi Islam. Persatuan ini juga tampak menjelma selama pawai akbar 9 Dey dan peristiwa itu telah menjadi sebuah titik balik. Salah satu tujuan konspirasi tersebut adalah menunjukkan kecatatan partisipasi 85 persen rakyat dalam pilpres. Manuver politik oleh capres yang kalah dengan alasan pemilu curang telah memperbesar api fitnah dan gerakan itu mengarah pada aksi kudeta.

 

Sebelum fitnah 88, konspirasi terhadap sistem Republik Islam sudah dijalankan selama bertahun-tahun, namun rangkaian peristiwa yang terjadi pasca pilpres Juni 2009 berbeda dengan aksi-aksi di masa lalu. Fitnah 88 merupakan sebuah proyek sempurna yang telah lama dirancang oleh asing, tapi mungkin sampai sebelum tahun 1388, ia tidak terlaksana karena berbagai alasan.

 

Peristiwa yang muncul setelah pelaksanaan pilpres di Iran menyerang pilar-pilar sistem Republik Islam. Sejumlah dokumen menunjukkan bahwa manuver Barat dalam mendukung dan memperkeruh suasana didasarkan pada asumsi berikut yakni; sebuah aksi protes dengan dalih mengamankan suara rakyat bisa mempermulus penghapusan sistem pemerintahan Islam di Iran. Aksi ini tentu didukung dan diarahkan oleh Barat dengan embel-embel membela hak-hak dan suara rakyat Iran. Lembaga-lembaga yang disebut pembela hak-hak sipil juga melancarkan tekanan politik dan psikologis terhadap Iran.

 

Pada dasarnya, Barat membutuhkan kekacauan internal untuk memajukan tujuan-tujuan jahatnya terhadap sistem Republik Islam. Jadi dalam mengkaji peristiwa ini dan faktor-faktor pemicu fitnah 88, kita perlu memperhatikan semua potensi dan komponen-komponennya. Salah satu dimensi konspirasi itu adalah peran asing selama kerusuhan di Iran pada tahun 1388, di mana jejak asing dapat dilihat dari sikap resmi para pejabat Amerika Serikat dan Eropa. Terlepas dari unsur-unsur internal, faktor-faktor eksternal juga berperan dalam munculnya kerusuhan.

 

Dalam konspirasi itu, jejak kaki AS dan Inggris melalui kedutaan-kedutaan Barat, dinas-dinas intelijen Barat, dan lembaga think tank terlacak dengan cepat. Dalam sebuah statemen setelah fitnah tahun 2009 di Iran, mantan Menteri Luar Negeri AS Condoleezza Rice mengakui adanya intervensi terencana di Iran. Pada Maret 2009, ia mengkonfirmasi campur tangan itu dan mengatakan, “Kami sejauh ini melakukan investasi dalam bentuk yang berbeda di bidang pendidikan sehingga bisa membangun sebuah lapisan sosial dengan pemikiran sekuler di arena internasional.” Rice dalam komentarnya secara spesifik menyinggung Iran dan menandaskan kubu sekuler Iran sudah lebih kuat dari sebelumnya.

 

Presiden AS Barack Obama meskipun berusaha menghindari sikap terbuka selama fitnah 88, tapi beberapa bulan setelahnya dalam sebuah laporan kepada ketua DPR dan Senat, ia mengakui bahwa AS menggunakan jaringan televisi satelit dan jejaring sosial termasuk Twitter dan Facebook untuk memprovokasi kerusuhan dan mengarahkan para perusuh pasca pemilu 1388 dan meliput kekacauan itu secara luas. Obama pada kesempatan lain menganalisa gerakan fitnah di Iran dan menandaskan, “Warga Iran harus memiliki keberanian yang diperlukan untuk mengekspresikan kebebasan dan melanjutkan protes mereka.”

 

Menteri Luar Negeri AS waktu itu, Hillary Clinton dalam sebuah komentarnya tentang fitnah 88 juga mengatakan, “Pemerintah AS selain mengeluarkan statemen terbuka, juga melakukan banyak tindakan terselubung untuk mendukung kelompok hijau di Iran.”

 

Terbongkarnya lapisan-lapisan konspirasi itu tidak lagi menyisakan keraguan bahwa gerakan fitnah merupakan sebuah lingkaran lain dari proyek kudeta di Iran, yang dikemas lewat protes terhadap kecurangan pilpres. Akan tetapi, konspirasi itu tidak berjalan mulus dan alasan kegagalannya dikarenakan kearifan dan kewaspadaan rakyat Iran.

 

Rakyat Iran telah memadamkan api fitnah Barat terhadap Republik Islam lewat aksi heroiknya pada 9 Dey dan menunjukkan bahwa skenario Barat untuk mengotori atmosfir politik dan sosial Iran sudah terbaca oleh bangsa ini meskipun ia sangat rapi. Untuk itu, para analis percaya bahwa aksi spontan rakyat Iran dalam pawai akbar pada 30 Desember 2009 adalah bukan sebuah pekerjaan biasa.

 

Lewat pawai akbar 9 Dey, rakyat Iran mengecam gerakan-gerakan menyimpang dan menyatakan berlepas tangan dari para perusak tatanan sosial. Aksi tersebut merupakan sebuah jawaban tegas dan kecaman terhadap para pengobar fitnah, yang telah memilih jalan keliru dengan dalih kecurangan pemilu. Dampak dari aksi heroik ini langsung terasa dan setelah masyarakat mengambil jarak dari gerakan fitnah, topeng para perancang fitnah tersingkap lebar.

 

Soal potensi kecurangan pemilu, kalau pun tuduhan ini benar, tentu harus ditindaklanjuti lewat jalur hukum dan kerangka yang tersedia untuk menyelesaikan sengketa dalam konstitusi Republik Islam Iran. Setelah gerakan fitnah ditangani, tuduhan kecurangan pemilu kemudian diusut dan hasilnya disampaikan kepada rakyat Iran.

 

Dalam rangkaian peristiwa setelah pilpres 1388, ada skenario yang dipersiapkan untuk kudeta lunak dan dijalankan lewat aksi protes. Para perusuh mengangkat isu kecurangan pemilu selama proses penghitungan suara capres yang kalah, Hossein Mousavi. Kerusuhan dan pelecehan terhadap peringatan hari Asyura pada bulan Muharram tentu saja berbeda jauh dengan apa yang disebut protes terhadap hasil pemilu. Oleh sebab itu, pawai akbar 9 Dey mengecam gerakan menyimpang serta menyatakan berlepas tangan dari para perusak tatanan sosial dan para penista nilai-nilai agama. Epik ini membuat skenario musuh sia-sia dan gagal.

 

Pawai akbar rakyat Iran pada 9 Dey sekali lagi membuktikan ketajaman wawasan politik dan kearifan mereka dalam proses identifikasi musuh dan pelacakan gerakan yang melenceng dari tuntutan publik. Kesadaran dan kearifan ini merupakan sebuah benteng yang kokoh untuk menghalau konspirasi dan serangan asing terhadap Revolusi Islam. Pawai akbar 9 Dey juga menyingkap sebuah realitas bahwa sistem Republik Islam menyimpan modal besar berupa persatuan rakyat dalam melawan perang lunak dan konspirasi licik musuh.

 

Epik 9 Dey sejatinya mengingatkan peran masyarakat dalam melawan segala bentuk penyimpangan dan godaan musuh. Dari sudut pandang ini, momen bersejarah 9 Dey merupakan manifestasi dari kekuatan bangsa Iran melawan konspirasi kubu arogan dunia. (IRIB Indonesia/RM)

Add comment


Security code
Refresh