Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Senin, 28 Desember 2015 16:48

Persatuan, Kunci Kekuatan Dunia Islam

Persatuan, Kunci Kekuatan Dunia Islam

Umat Islam dunia tengah menghadapi serangan dan target konspirasi musuh, karena mereka tidak kompak dan sibuk bertengkar tentang perselisihan-perselisihan parsial. Timur Tengah sebagai pusat geografi agama Islam menghadapi gelombang ekstremisme, kekerasan, dan pembantaian. Zionis dan kelompok-kelompok ekstrim seperti, Al Qaeda dan ISIS memusatkan operasi mereka di Timur Tengah. Wilayah strategis ini tampaknya telah menjadi lahan genosida.

 

Terorisme negara Zionis sejak dulu melakukan aksi teror dan pembunuhan masyarakat Muslim Palestina. Di pihak lain, ideologi ekstrim dan takfiri – yang mengusung bendera Islam – juga sedang mempertontonkan kejahatan tragis dan tindakan barbar di Timur Tengah. Para ekstrimis memanfaatkan simbol-simbol agama dan menularkan ideologi takfiri kepada masyarakat awam untuk memuluskan aksi bejat mereka.

 

Rezim Wahabi Al Saud – sebagai guru spiritual dan bapak finansial kelompok ekstrim termasuk ISIS – juga mengobarkan gelombang baru pembantaian kaum Muslim di Yaman. Masyarakat Muslim dunia juga tidak akan pernah melupakan tragedi Mina dan pembunuhan hampir 8.000 jamaah haji di tanah haram selama musim haji tahun 2015.

 

Di Afrika, mayoritas kaum Muslim tidak aman dari bahaya kelompok-kelompok ekstrim seperti, Boko Haram dan Anti-Balaka. Pembantaian tragis Muslim Syiah di Nigeria baru-baru ini juga merupakan kasus lain dari brutalitas para penganut ideologi takfiri. Kegiatan kelompok ekstrim termasuk ISIS di negara-negara Barat seperti, Perancis juga telah memantik kekerasan dan diskriminasi terhadap komunitas Muslim Eropa. Sejumlah besar masjid dan pusat-pusat kegiatan Islam dan bahkan kuburan Muslim tidak luput dari amukan kelompok rasis dan ekstrimis Barat.

 

Di negara-negara Barat, harga diri dan kemuliaan insani masyarakat Muslim dinistakan, harta benda dan kehormatan mereka dirampas. Di ranah sosial, masyarakat Muslim dikriminalisasi dan sering menerima perlakuan diskriminatif.

 

Jika kita memperhatikan situasi kekinian Dunia Islam, kita menangkap sebuah realitas bahwa musuh telah berhasil mengkampanyekan pembunuhan terhadap kaum Muslim. Kubu Zionis menjadikan masyarakat Muslim sebagai sasaran aksi jahatnya dan gerakan-gerakan takfiri juga mendefinisikan Muslim berdasarkan ideologi racikan musuh. Kelompok bejat ISIS kini diperkenalkan sebagai wajah Muslim dan simbol pengikut agama Islam kepada dunia. Anehnya, ISIS – yang menampilkan dirinya sebagai Muslim – melakukan pembunuhan sadis di negara-negara Islam.

 

Di tingkat global, masyarakat Muslim dihadapkan pada gelombang Islamphobia dan Islam dicitrakan sebagai musuh. Akhirnya, semua teroris dan kubu ekstrim menyerang masyarakat Muslim dan tidak ada yang bangkit untuk menolong mereka. Perlu dicatat bahwa Islam adalah sebuah agama perdamaian dan persahabatan, dan sosok Rasulullah Saw merupakan manifestasi dari rahmat dan kasih sayang kepada seluruh alam. Sayangnya, agama Islam, prinsip-prinsip kemanusiaan dan hak-hak masyarakat telah menjadi sasaran teror oleh gerakan-gerakan pengobar kekerasan.

 

Seorang pemikir tersohor Amerika, Samuel Huntington dalam teorinya, benturan peradaban menulis, “Di dunia modern, Islam merupakan sebuah ancaman strategis dan ia menggantikan imperium Komunis setelah Perang Dingin. Untuk itu, Barat memposisikan dirinya dalam sebuah situasi konfrontasi pre-emptive dengan Dunia Islam. Salah satu tindakan utama Barat dalam menghadapi kebangkitan Islam adalah menciptakan konflik etnis, sektarian, dan politik…”

 

Jelas bahwa berlanjutnya proses ini akan merugikan seluruh Muslim dunia dan pada akhirnya menghancurkan mereka. Satu-satu jalan untuk keselamatan dan kemuliaan kaum Muslim adalah memperkuat persatuan dan solidaritas. Oleh sebab itu, perkara persatuan tidak hanya menjadi kebutuhan yang paling urgen di tengah umat, tapi juga merupakan sebuah jaminan untuk keberlangsungan hidup mereka.

 

Saat ini, sensitivitas dunia Barat terhadap Muslim mencapai puncaknya dan umat Islam juga mulai tidak peduli dengan sesama. Belum lagi, konflik sektarian kian memanas dan serangan atas dasar kebencian semakin sering terjadi. Oleh karena itu, persatuan Dunia Islam merupakan sebuah keniscayaan dan perlu diingat bahwa keberlangsungan dan kemuliaan kaum Muslim sangat bergantung pada persatuan.

 

Allah Swt memerintahkan kaum Muslim untuk bersatu dan tidak tercerai-berai. Persatuan adalah sebuah nikmat Ilahi dan ia pernah membuat kaum Muslim kuat di era permulaan Islam. Mereka mampu mengalahkan musuh-musuh Islam dan menorehkan prestasi yang luar biasa. Dalam surat Ali Imran ayat 103 Allah Swt berfirman, “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.”

 

Seorang intelektual Muslim, Syahid Murtadha Muthahhari berkata, “Muslim adalah mereka yang menyembah Allah Yang Esa dan beriman kepada kenabian Rasulullah Saw. Kitab mereka semua adalah al-Quran dan kiblat mereka Ka’bah. Bersama-sama dan dalam bentuk yang sama melakukan haji, menunaikan shalat dalam bentuk yang sama, melakukan puasa bersama-sama dan juga membentuk keluarga dengan cara yang sama, saling terlibat transaksi, mendidik anak-anaknya, saling menguburkan jenazah mereka, dan… Semua Muslim memiliki pandangan dunia dan budaya yang sama, peradaban yang agung dan sejarah masa lampau yang gemilang.”

 

Kesamaan dalam pokok agama dapat menjadi peluang yang sangat baik untuk membangun landasan persatuan di tengah umat. Namun, persatuan sama sekali tidak ada hubungannya dengan peleburan mazhab. Arti dari persatuan Muslim adalah kesolidan para pengikut berbagai mazhab terhadap musuh meskipun ada perbedaan mazhab. Sementara maksud dari persatuan Islam bukan berarti membatasi mazhab-mazhab yang berbeda menjadi mazhab tunggal atau mengambil sisi kesamaan mazhab dan membuang perbedaannya, tapi maksudnya adalah merangkul seluruh kaum Muslim dalam satu barisan di hadapan musuh.

 

Persatuan dan kesatuan Muslim merupakan kunci kekuatan dan supremasi umat Islam. Persatuan akan meningkatkan kemampuan mereka di depan musuh sampai ratusan dan bahkan ribuan kali lipat. Persatuan ini juga akan mendatangkan kemuliaan, kejayaan, dan kekuatan. Pada akhirnya, persatuan mengantarkan kaum Muslim pada kemenangan. Dalam surat al-Anfal ayat 46, Allah Swt berfirman, “Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”

 

Mengenai pentingnya persatuan, Imam Khomeini ra berkata, “Wahai Muslim dunia! Dengan jumlah yang sedikit di permulaan Islam, kalian mampu mengalahkan kekuatan-kekuatan besar dan membangun umat Islam yang agung. Kini, jumlah kalian hampir satu miliar dan memiliki sumber daya berlimpah sebagai senjata utama di hadapan musuh. Lalu mengapa kalian sekarang jadi lemah? Apakah kalian tahu bahwa semua kesengsaraan kalian terletak pada perselisihan dan pertikaian antara para pemimpin negara-negara kalian dan pada ujungnya di antara kalian sendiri. Bangkitlah dari tempat kalian dan ambillah al-Quran dan patuhilah perintah Allah untuk mengembalikan kejayaan Islam…” (IRIB Indonesia/RM)

Add comment


Security code
Refresh