Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Senin, 28 Desember 2015 15:07

Persatuan Menurut Imam Khomeini dan Ayatullah Khamenei

Persatuan Menurut Imam Khomeini dan Ayatullah Khamenei

Islam menjadikan persatuan umat Islam sebagai kewajiban agama. Dengan menelusuri al-Quran dan Hadis, dapat ditemukan posisi persatuan dalam pemikiran Islam. Allah Swt dalam al-Quran berfirman, “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara…” (Ali Imran: 103)

 

 

Sekaitan dengan masalah persatuan ini, Imam Ali as berkata, “Lihatlah bagaimana Bani Israil sebelumnya,ketika pemikiran mereka sepakat, hati mereka sederhana, tangan mereka saling menolong, pedang mereka diniatkan untuk saling membantu, mata mereka tajam dan tujuan mereka sama. Tidakkan mereka menjadi majikan dari penjuru bumi dan penguasa atas leher semua yang di dunia?

 

Sesudah itu, lihat pula apa yang terjadi pada mereka menjelang akhir, ketika perpecahan menyusul mereka. Persatuan menjadi retak dan perbedaan antara kata-kata mereka dan hati mereka. Mereka terpecah menjadi kelompok-kelompok dan bertebaran serta saling berperang di antara sesamanya. Kemudian Allah mengambil dari mereka busana kehormatan-Nya dan merebut dari mereka kemakmuran yang dihasilkan oleh nikmat-nikmat-Nya. Hanya riwayat mereka yang tertinggal di antara Anda untuk menunjuki orang-orang yang dapat memperoleh pelajaran dari mereka.” (Nahjul Balaghah, Khutbah 192)

 

Sejarah Islam menunjukkan setiap kali umat Islam dari segala mazhab yang ada bersanding bersama dan dalam satu front, masyarakat Islam tetap jaya dan kuat. Sementara musuh dalam kondisi lemah. Sebaliknya, bila umat Islam melalaikan perintah Allah, mereka bakal tertimpa musibah. Musuh menguasai mereka. Generasi umat Islam terancam musuh.

 

Al-Quran menyebutkan, “Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah…” (Al-Anfal: 46)

 

Di abad ini, Revolusi Islam Iran mampu menunjukkan simbol dari kekuatan umat Islam. Kekuatan yang diraih berkat keimanan rakyat dan persatuan mereka. Dengan tangan kosong, tapi hati penuh dengan iman kepada Allah, mereka berdiri menghadapi rezim zalim yang dilengkapi dengan pelbagai senjata. Bahkan didukung penuh oleh kekuatan adidaya dan arogan waktu itu. Tapi pada akhirnya kemenangan dan kejayaan milik bangsa yang bersatu untuk mencerabut akar kezaliman dari negaranya.

 

Iran sebuah negara yang memiliki keragaman agama dan etnis. Sekalipun mayoritas berpenduduk muslim dengan mazhab Syiah, tapi beberapa persen dari warganya bermazhab Ahli Sunnah. Selain itu ada juga pengikut agama Yahudi dan Kristen. Tapi terlepas dari segala ideologi dan keyakinannya, yang patut dicermati adalah ternyata mereka semua terlibat aktif dalam seluruh periode perjuangan melawan kekuatan arogan.

 

Kini berkat persatuan yang telah menjadi budaya dan warisan Imam Khomeini ra membuat rakyat Iran hidup berdampingan secara damai. Selama perang 8 tahun yang dipaksakan rezim Saddam terhadap Iran, kembali rakyat Iran bahu-membahu berperang melawan para agresor. Warga Syiah dan Sunni bersama-sama mempersembahkan syuhada, begitu pula dari kalangan Yahudi dan Kristen. Semua terlibat dalam upaya membela negara.

 

Revolusi Islam Iran yang dipimpin oleh Imam Khomeini ra mendemonstrasikan mukjizat persatuan kepada seluruh dunia. Dengan mengikuti ajaran al-Quran, Imam Khomeini ra tidak hanya mengajak umat Islam untuk bersatu, tapi kepada siapa saja yang menyembah Allah yang Esa. Beliau menyampaikan seruan agar tercipta persatuan di antara mazhab-mazhab Islam, bahkan pengikut agama lainnya diterima dalam Revolusi Islam Iran.

 

Tentu saja persatuan antarmazhab dan agama tidak berarti semua melebur dan menciptakan satu keyakinan baru. Tapi dengan segala perbedaan yang ada, hubungan mereka harus berlandaskan saling menghormati. Mengkaji masalah perbedaan tidak boleh dilakukan secara serampangan dan di tempat umum. Karena masalah ini harus dibahas oleh para pakarnya dan menjauhkan sikap menghina dan mengkafirkan. Dengan demikian, diharapkan terbuka ruang-ruang baru dari hakikat yang selama ini tersekat.

 

Ketika perbedaan mazhab dan etnis membuat dunia Islam menjadi lemah, Imam Khomeini ra berhasil menyadarkan bangsa Iran akan pentingnya persatuan. Pernyataan dan pesannya mampu mencegah terjadinya perpecahan di kalangan bangsa Iran. Beliau mengatakan, “Hari ini ketika semua kelompok umat Islam menghadapi kekuatan setan yang ingin melenyapkan pondasi Islam, kekuatan itu tahu yang membahayakan mereka adalah Islam dan persatuan bangsa-bangsa Islam. Kini seluruh umat Islam di seluruh Negara harus bersatu.”

 

Di bagian lain, Imam Khomeini ra mengatakan, “Dalam Islam tidak dikenal soal ras, bahasa, etnis dan tempat. Seluruh umat Islam, baik itu Syiah maupun Ahli Sunnah merupakan saudara dan setara. Semua memiliki hak yang sama di hadapan hukum Islam. Dalam Islam tidak dibicarakan mengenai Syiah dan Sunni atau Kurdi dan Persia. Semua bersaudara dan bersama.”

 

Ayatullah Khamenei yang memegang tanggung jawab sepeninggal Imam Khomeini ra, juga selalu menekankan persatuan umat Islam. Kebijakan makro Republik Islam Iran bahkan disusun berdasarkan prinsip penting ini. Beliau dalam salah satu pidatonya mewanti-wanti umat Islam bagaimana musuh senantiasa berusaha memecah-belah umat Islam.

 

Ayatullah Khamenei berkata, “Ada satu miliar manusia di dunia yang memiliki akidah yang sama terkait Allah, Nabi Muhammad Saw, shalat, haji, al-Quran, Ka’bah dan banyak masalah lain, tapi berbeda pendapat terkait beberapa masalah. Apakah rasional, bila mereka hanya melihat sejumlah perbedaan ini lalu berperang, sementara musuh yang tidak percaya akan Allah, Nabi Muhammad Saw, agama dan segalanya melaksanakan rencananya?”

 

Di bagian lain, Ayatullah Khamenei berkata, “Satu dari perintah al-Quran adalah mengajak umat Islam untuk bersatu dan saling membantu. Ketika Allah Swt berfirman agar umat Islam berpegangan dengan tali Allah dan jangan berselisih, perintah ini sebenarnya ditujukan kepada siapa? Itu ditujukan kepada kita, kepada bangsa Iran, kepada bangsa-bangsa muslim di negara-negara Islam dan kepada seluruh manusia yang percaya kepada Islam di seluruh dunia.

 

Apakah kita mengamalkan perintah tersebut? Sementara ajaran yang jelas-jelas bertolak belakang dengan perintah al-Quran itu adalah ajaran imperialisme. Karena mereka menginginkan terjadinya perselisihan di kalangan umat Islam. Sebagian dari mereka mengkafirkan yang lain dan sebagian melaknat yang lain. Kami berlepas tangan dari mereka. Saat ini, perselisihan yang diinginkan oleh imperialisme. Mereka ingin kita tidak bersama-sama dan bersatu.”

 

Hari ini dunia Islam lebih membutuhkan persatuan, lebih dari hari-hari sebelumnya. Perselisihan dan pengkafiran telah membunuh umat Islam yang sama-sama menghadap kiblat ketika melaksanakan shalat. Di sisi lain, musuh Islam begitu gigihnya menyebarkan kebencian di antara umat Islam agar senantiasa berselisih agar dapat menguasai kekayaan umat Islam. Dalam kondisi yang demikian, seruan al-Quran akan persatuan menjadi semakin urgen bagi umat Islam. (IRIB Indonesia)

Add comment


Security code
Refresh