Situs ini diskontinyu. Kami telah pindah ke Parstoday Indonesian
Kamis, 24 Desember 2015 10:42

Persatuan Dalam al-Quran dan Sunnah (1)

Persatuan Dalam al-Quran dan Sunnah (1)

Umat Islam di seluruh penjuru dunia bersuka cita menyambut maulid Nabi Muhammad Saw pada bulan Rabiul Awal. Muslim Sunni merayakan hari kelahiran Rasulullah pada tanggal 12 Rabiul Awal, sementara Muslim Syiah pada 17 Rabiul Awal. Pendiri Republik Islam Iran Imam Khomeini ra kemudian memanfaatkan rentang waktu itu untuk mendekatkan mazhab-mazbah Islam dan mengumumkan Pekan Persatuan di tengah kaum Muslim.

 

Pekan Persatuan merupakan sebuah momen istimewa untuk mengkaji lebih dalam lagi tentang pentingnya solidaritas dan persatuan Dunia Islam, khususnya di masa modern yang sarat dengan konflik dan pertikaian. Kaum Muslim dari berbagai mazhab memiliki perbedaan pandangan dalam beberapa perkara hukum. Namun mereka menyimpan banyak persamaan seperti, keyakinan kepada Allah Swt Yang Esa, al-Quran, Rasulullah Saw, dan kiblat yang sama. Mereka semua juga sepakat soal pelaksanaan ibadah-ibadah wajib seperti, shalat, puasa, haji, zakat, dan lain-lain.

 

Setelah mempelajari al-Quran dan sunnah Rasulullah Saw, kita akan memahami bahwa dua referensi utama Islam ini menekankan pada pokok persatuan kaum Muslim dan Allah Swt telah memberi banyak pedoman untuk merealisasikan perkara besar ini. Al-Quran di berbagai ayatnya menjelaskan masalah persatuan dan perilaku efektif untuk memperkuat persatuan umat dan menyebut persatuan sebagai nikmat.

 

Dalam surat Ali Imran ayat 103 Allah Swt berfirman, “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.”

 

Ayat tersebut berbicara tentang perihal berpegangan pada tali Allah Swt. Dalam kitab-kitab tafsir, realitas yang paling jelas dari simpul yang kokoh ini adalah al-Quran. Seorang ulama tafsir kontemporer, Allamah Sayid Muhammad Husein Thabathabai menulis, “Tali Allah tak lain adalah al-Quran yang turun dari sisi-Nya… Berpegang pada Allah adalah bersandar kepada ayat-ayat Tuhan dan Rasul-Nya yaitu kitab dan sunnah, di mana hidayah sudah dijamin di dalamnya.”

 

Posisi kaum Muslim dalam berpegang pada al-Quran dan persatuan antar sesama, dianalogikan sebagai sebuah situasi di mana mereka selalu diliputi rasa takut ketika akan menyeberangi jalur yang sangat berbahaya dan jurang yang menakutkan, tetapi dengan meraih seutas tali yang kokoh, mereka bisa melintasinya dengan tenang dan mencapai tempat tujuan. Untuk itu, al-Quran menyebut perpecahan sebagai jurang neraka.

 

Dalam surat Ali Imran ayat 103, Allah Swt mengajak manusia untuk mengingat kembali era pahit perpecahan dan berusaha untuk selalu menjaga persatuan, sebab persatuan di setiap masyarakat akan membawa perdamaian, ketentraman, dan keamanan serta menjauhi mereka dari perang dan konflik. Untuk itu, seluruh umat Islam mengemban tanggung jawab penting untuk mensyukuri nikmat Allah Swt berupa persatuan dan perlu diingat bahwa perpecahan dan permusuhan dapat menghapus nikmat besar itu dari umat.

 

Allah Swt dalam surat Ali Imran ayat 105 juga memberi peringatan lain kepada kaum Muslim dan berfirman, “Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.” Al-Quran juga menganggap seluruh kaum Muslim bersaudara, seperti tertuang dalam surat al-Hujurat ayat 10, “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.”

 

Ayat itu menggambarkan kaum Muslim sebagai saudara seiman dan menilai perbaikan hubungan di antara mereka yang bertikai sebagai satu cara untuk meraih rahmat Allah Swt. Dalam perspektif yang lebih luas, al-Quran pada akhirnya berusaha untuk mengumpulkan seluruh umat manusia dalam sebuah masyarakat global yang tunggal. Kitab suci ini mengajak semua Ahli Kitab dan pengikut ajaran langit untuk membangun persatuan dan solidaritas serta menyeru mereka untuk bersatu bersama kaum Muslim atas dasar persamaan akidah. Dalam surat Ali Imran ayat 64, Allah Swt berfirman, “Katakanlah! Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka; ‘Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri.”

 

Ayat tersebut memperkenalkan tauhid sebagai dasar persatuan dan kesatuan berbagai agama dan mengajak para pengikutnya untuk bersatu di bawah panji tauhid serta membentuk sebuah masyarakat yang damai dan jauh dari penindasan. Jelas bahwa kaum Muslim sebagai inti pertama dari konvergensi ini bisa memainkan peran penting untuk tujuan tersebut.

 

Persatuan juga akan menjaga keutuhan dan memperkokoh masyarakat. Hati manusia akan saling terpaut dan barisan mereka menjadi kokoh ketika mereka meninggalkan pertikaian dan konflik. Dengan demikian, sudah tidak ada lagi celah sehingga musuh dapat melakukan infiltrasi dan merusak keutuhan masyarakat. Kondisi seperti ini tentu saja akan terwujud dengan mengikuti pemimpin yang tunggal. Allah Swt dalam surat al-Anfal ayat 46 berfirman, “Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu…”

 

Allah Swt memperkenalkan Rasul-Nya sebagai poros persatuan praktis bagi kaum Muslim. Poros ini mencakup seluruh sabda dan perilaku beliau. Nabi Muhammad Saw – sebagai penyeru pertama persatuan – menanggung penderitaan yang sangat berat demi merealisasikan persatuan dan selalu mengingatkan umat Islam tentang bahaya yang mengancam mereka. Sejarah Islam merekam perjuangan Rasulullah Saw dalam menghentikan pertumpahan darah dan memperkokoh barisan kaum Muslim. Beliau kemudian memanfaatkan nilai-nilai positif persatuan untuk kepentingan Islam dan memperkuat landasan politik dan sosial umat.

 

Setelah hijrah ke Madinah, Rasulullah Saw memprakarsai beberapa perjanjian di antara kabilah-kabilah Arab. Perjanjian tersebut dapat dianggap sebagai salah satu solusi terbaik untuk persatuan di tengah umat pada masa itu. Perjanjian pertama dijalin antara Rasul Saw dengan kabilah-kabilah yang tinggal di Madinah. Strategi ini merupakan opsi terbaik untuk menumbuhkan persatuan nasional dan solidaritas keagamaan. Di antara inisiatif terpenting Rasul Saw di bidang persatuan adalah menciptakan ikatan sosial antara kaum Muslim dan jalinan persaudaraan di antara mereka.

 

Ikatan itu dibangun dengan menafikan sentimen kesukuan dan kabilah serta berpijak pada poros keimanan dan kerjasama sosial. Rasulullah Saw kemudian mengkekalkan persaudaraan antara kaum Muhajirin dari Makkah dan Anshar dari Madinah. Dengan lahirnya pakta persaudaraan di antara kaum Muslim, Rasulullah Saw berhasil menghapus permusuhan di era Jahiliyah dan menggantikannya dengan rahmat dan kasih sayang.

 

Pakta persaudaraan tidak muncul dengan dinar dan nilai-nilai materi, tapi perjanjian itu memiliki warna Ilahi sebagaimana disinggung al-Quran dalam surat al-Anfal ayat 63, “Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

 

Strategi Rasul Saw mempersatuan barisan kaum Muslim untuk melenyapkan setiap benih permusuhan di masa lalu yang berpotensi tumbuh kembali. Oleh karena itu, pakta persaudaraan telah melahirkan kasih sayang dan kedekatan di antara kaum Muslim. Beliau Saw menghapus parameter masa Jahiliyah yang memicu konflik dan menggantikannya dengan nilai-nilai Ilahi melalui ajaran-ajaran al-Quran. Dengan demikian, strategi lain Rasul Saw dalam merajut persatuan adalah memerangi fanatisme buta Jahiliyah dan menghapus tendensi rasial dan diskriminasi.

 

Rasul Saw mencela keras fanatisme kesukuan dan bahasa dan beliau bersabda, “Barang siapa yang menyimpan setitik fanatisme di hatinya, Allah akan membangkitkannya bersama orang-orang Arab masa Jahiliyah di hari kiamat.” (IRIB Indonesia/RM)

Add comment


Security code
Refresh